Tampilkan postingan dengan label RENUNGAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RENUNGAN. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Oktober 2013

:: TEMAN YANG SATU AKAN SALING BERMUSUHAN DI AKHIRAT..... KECUALI YANG BERTAKWA



ALLAH Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (Az-Zukhruf: 67)

Teman adalah cermin bagi pribadi seseorang....
Seseorang itu tidak akan jauh dari pribadi teman dekatnya.....Bersabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam: “Kebiasaan orang itu sama dengan tabiat sahabat-sahabatnya. Maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat siapa yang menjadi sahabatnya.” (HR. Ahmad)

Teman dan lingkungan memang memiliki pengaruh yang kuat terhadap sikap dan perilaku seseorang. Bahkan kualitas agama seseorang itu dapat dinilai dari teman-teman pergaulannya. Banyak bergaul dengan orang-orang yang shalih tentu akan mengantarkan kita kepada kebaikan.
Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Orang itu mengikuti agama temannya, maka setiap orang dari kamu hendaklah melihat siapa yang menjadi temannya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Semua pertemanan dan persahabatan yang tidak dilandasi karena ALLAH, kelak pada hari Kiamat akan berbalik menjadi permusuhan dan kebencian. Mereka saling menyalahkan satu sama lain. Mereka saling berkata kepada sahabatnya: engkaulah yang telah menyesatkan dan membuatku sesat. Mengajak pada kelalaian. Masing-masing mencela yang lain, dan satu orang melaknat temannya yang lain, serta mereka saling membebaskan diri dari masing-masing di hadapan Allah. Begitulah keadaan mereka kelak.

Berbeda dengan pertemanan yang dijalin karena ALLAH, mereka akan menjadi saudara yang saling mengasihi dan saling membantu, dan persaudaraan itu tetap akan berlanjut hingga di akhirat. Sebab pertemanan yang dijalin karena ALLAH adalah pertemanan yang kekal abadi.

Al-Hafidz Ibnu Asakir meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Jika antara dua orang saling mencintai karena ALLAH, yang seorang di Timur dan yang seorang lagi di Barat, maka pada hari Kiamat ALLAH pasti akan mempersatukan keduanya sambil berfirman : “Inilah orang yang kau cintai karena-Ku…”.

Subhanallah, Jelaslah bagi kita bahwa jika kita memiliki teman dekat atau sahabat, ternyata hakikat itu tidak lama kecuali kita bersama mengerjakan kebaikan dan ketakwaan serta mengingatkan antara satu dengan yang lainnya.

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Perumpamaan teman yang shalih dengan yang buruk itu seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Berkawan dengan penjual minyak wangi akan membuatmu harum, karena kamu bisa membeli minyak wangi darinya, atau sekurang-kurangnya kamu mencium bau wanginya. Sementara berteman dengan pandai besi, akan membakar badan dan bajumu, atau kamu hanya mendapatkan bau yang tidak sedap.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: ‘Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia’.” (Al Furqaan: 27-29)

Semoga Allah senantiasa mendekatkan kita pada lingkungan orang-orang yang shalih , yang senantiasa mengingatkan kita pada kebaikan dan ketaatan, saling mencintai karena Allah. Dan menyampaikan kita pada rahmat , ridha serta cinta Nya. اَمِيـْنْ يَـارَبَّ الْعَـالَمِيْــ

 


Wallahu a'lam bishawab

:: APABILA ENGKAU MEMINTA MAKA MINTALAH KEPADA ALLAH, DAN BILA ENGKAU MINTA TOLONG MAKA MINTA TOLONGLAH KEPADA ALLAH *



Siapa yang ingin kebutuhannya terpenuhi tanpa harus berutang budi kepada seseorang selain Allah saja dan tanpa beroleh kesulitan, hendaknya ia memohon kepada Allah Subhanahu wata’ala, minta keutamaan, dan bersandar hanya kepada-Nya.

Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam telah membaiat (mengambil janji) sejumlah sahabat beliau agar tidak meminta apapun kepada manusia. Sampai-sampai ada salah seorang dari mereka yang cambuk atau tali kekang untanya jatuh, namun ia tidak meminta seorang pun untuk mengambilkannya. (HR. Muslim)

Kalaupun kita terpaksa minta tolong kepada makhluk dalam hal yang makhluk mampu melakukannya, yakinlah bahwa itu hanyalah sebab. Adapun yang menetapkannya dan menolong secara hakiki adalah Dia Yang di Atas. Maka dari itu, jangan lupakan Dia ketika Dia menolongmu lewat perantara seseorang dari kalangan hamba-Nya.

Di akhir sabdanya (dari hadits tersebut diatas), Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam menerangkan bahwa umat ini tidak akan mampu memberikan kemanfaatan kepadamu atau memudaratkanmu selain apa yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wata’ala bagimu. Apa yang telah ditetapkan oleh Allah atasmu, pasti akan menimpamu karena ketentuan takdir telah selesai. Semuanya telah tercatat.

Setelahnya, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada sepupunya (Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu) agar ia tahu bahwa pertolongan itu datang bersama kesabaran. Siapa yang bersabar, ia akan menang dan mencapai tujuannya. Kelapangan itu bersama kesulitan. Kapan saja kesulitan itu semakin besar menimpamu dan urusannya terasa sempit bagimu, menghadaplah kepada Rabbmu. Nantikanlah kelapangan dari-Nya karena sungguh kelapangan itu sangat dekat. Dan kesulitan itu bersama kemudahan. Kesulitan itu dilingkupi oleh dua kemudahan, kemudahan yang telah lewat dan kemudahan yang akan datang.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

“Maka sungguh bersama kesulitan ada kemudahan. Sungguh bersama kesulitan ada kemudahan.” (al-Insyirah: 5—6)

Oleh karena itu, satu kesulitan tidak mungkin mengalahkan dua kemudahan, kata Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu.

Demikianlah wasiat Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam kepada anak pamannya. Hafalkan, realisasikan dan amalkanlah, mudah-mudahan kita termasuk orang yang beruntung.

* Suatu hari Abdullah ibnu Abbas Radhiyallahu anhu yang masih belia beroleh wasiat dari sepupunya yang mulia, Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam:

“Wahai anak , sungguh aku ingin mengajarkan kepadamu beberapa kalimat; Jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya engkau akan dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau meminta (suatu keperluan) maka mintalah kepada Allah dan jika engkau meminta pertolongan maka minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah, andai umat ini berkumpul untuk memberikan suatu kemanfaatan kepadamu, niscaya mereka tidak akan bisa memberikannya selain sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah bagimu. Sebaliknya, jika mereka berkumpul untuk menimpakan suatu kemudaratan kepadamu niscaya mereka tidak akan bisa melakukannya, selain sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah atasmu. Telah diangkat pena dan telah kering lembaran catatan.”

Dalam riwayat lain, Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalambersabda kepadanya:

“Jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya engkau akan dapati Dia di hadapanmu. Kenalilah Allah dalam keadaan engkau lapang niscaya Dia akan mengenalimu saat engkau dalam kesempitan. Ketahuilah, apa yang telah ditetapkan luput darimu niscaya tidak akan menimpamu dan apa yang ditetapkan menimpamu niscaya tidak akan luput darimu. Ketahuilah, pertolongan itu bersama kesabaran, kelapangan itu bersama kesulitan, dan bersama kesulitan itu ada kemudahan.”




 


Barakallahufikum ,,
SUMBER : Wasiat Nabi Kepada Anak Pamannya (ditulis oleh: Al-
Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah)

Sabtu, 14 September 2013

:: SUKSES MENDIDIK PUTRA PUTRI BAHAGIA DUNIA DAN AKHIRAT



Saudaraku yang dirahmati Allah.


Ketahuilah, bahwa orangtua yang sukses mendididk putra putrinya adalah mereka yang telah berhasil membimbing anaknya menjadi anak yang shalih...
 


Keberhasilan seorang anak di dunia tidak bisa diukur oleh sesuatu yang hebat di dunia...


Bahkan anak yang bersekolah dan bergelar tinggi terkadang tak bisa menjamin keshalihannya ...

Anak yang shalih tentu bisa menempatkan kedua orangtuanya pada kedudukan yang tinggi; dengan mendoakannya, menghormatinya, menjaga perasaannya dan selalu berusaha membahagikan hatinya serta senantiasa memberikan yang terbaik kepadanya...

Membahagiakan orangtua tidak selalu harus dengan materi...

Anak yang shalih sangat mengerti apa yang terbaik bagi orang tuanya, bahkan ia selalu memberi yang terbaik bagi orang tua yang dicintainya tanpa harus diminta...

Bukankah ia selalu mendoakan kedua orangtuanya dengan doa yang sangat dahsyat....

"Wahai Rabbku, ampunilah dosaku dan dosa kedua orangtuaku."
"Wahai Rabbku, rahmatilah keduanya sebagaimana mereka telah mendidikku sejak kecil."
 

 Ia selalu berdoa siang dan malam untuk kedua orangtuanya...

Baginya apa yang terbaik menurut orangtuanya juga terbaik bagi dirinya...

Apa yang membuat bahagia atau sedih mereka, maka perasaan yang sama juga dapat ia rasakan.

Sungguh kebaikan anak yang shalih tidak hanya mengalir selama di Dunia, bahkan diakhirat pun tetap tercurah kepada kedua orangtuanya...

Simak hadist berikut ini...

Rasul shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Dikatakan kepada anak-anak shalih pada hari kiamat, "Masuklah kalian ke dalam Syurga, seraya mereka berkata, "Wahai Rabb, kami tidak akan memasukinya sampai orangtua kami pun turut masuk Syurga bersama kami, lalu mereka hanya mendekati Syurga, dan Allah berkata, "Kenapa mereka belum juga masuk ke Syurga, masuklah ke dalam SyurgaKu" mereka pun berkata," Wahai Rabb, kami tidak mau memasukinya kecuali bersama orangtua kami, akhirnya Allah pun berfirman,"Masuklah kalian ke dalam Syurga bersama orangtua kalian." (HR Ahmad dengan sanad yang hasan)

Ya Allah, karuniakanlah kami putra putri yang saleh salehah mendirikan shalat, penyejuk hati bagi kami dunia dan akhirat serta bermanfaat bagi keluarga, lingkungan serta agama MU.


 اَمِيـْنْ يَـارَبَّ الْعَـالَمِيْــ

Jumat, 13 September 2013

:: ILMU PEMBERSIH HATI



Ada sebait do’a yang pernah diajarkan Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam dan disunnahkan untuk dipanjatkan kepada Allah Azza wa Jalla sebelum seseorang hendak belajar. do’a tersebut berbunyi : Allaahummanfa’nii bimaa allamtanii wa’allimnii maa yanfa’uni wa zidnii ilman maa yanfa’unii.

Dengan do’a ini seorang hamba berharap dikaruniai oleh-Nya ilmu yang bermanfaat.

Apakah hakikat ilmu yang bermanfaat itu? Secara syariat, suatu ilmu disebut bermanfaat apabila mengandung mashlahat – memiliki nilai-nilai kebaikan bagi sesama manusia ataupun alam. Akan tetapi, manfaat tersebut menjadi kecil artinya bila ternyata tidak membuat pemiliknya semakin merasakan kedekatan kepada Dzat Maha Pemberi Ilmu, Allah Azza wa Jalla. Dengan ilmunya ia mungkin meningkat derajat kemuliaannya di mata manusia, tetapi belum tentu meningkat pula di hadapan-Nya.

Oleh karena itu, dalam kacamata ma’rifat, gambaran ilmu yang bermanfaat itu sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh seorang ahli hikmah. “Ilmu yang berguna,” ungkapnya, “ialah yang meluas di dalam dada sinar cahayanya dan membuka penutup hati.” seakan memperjelas ungkapan ahli hikmah tersebut, Imam Malik bin Anas r.a. berkata,

“Yang bernama ilmu itu bukanlah kepandaian atau banyak meriwayatkan (sesuatu), melainkan hanyalah nuur yang diturunkan Allah ke dalam hati manusia. Adapun bergunanya ilmu itu adalah untuk mendekatkan manusia kepada Allah dan menjauhkannya dari kesombongan diri.”

Ilmu itu hakikatnya adalah kalimat-kalimat Allah Azza wa Jalla. Terhadap ilmunya sungguh tidak akan pernah ada satu pun makhluk di jagat raya ini yang bisa mengukur Kemahaluasan-Nya. sesuai dengan firman-Nya, “Katakanlah : Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menuliskan) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (dituliskan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (QS. Al Kahfi [18] : 109).

Adapun ilmu yang dititipkan kepada manusia mungkin tidak lebih dari setitik air di tengah samudera luas. Kendatipun demikian, barangsiapa yang dikaruniai ilmu oleh Allah, yang dengan ilmu tersebut semakin bertambah dekat dan kian takutlah ia kepada-Nya, niscaya “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al Mujadilah [58] : 11).

Sungguh janji Allah itu tidak akan pernah meleset sedikit pun.
Akan tetapi, walaupun hanya “setetes” ilmu Allah yang dititipkan kepada manusia, namun sangat banyak ragamnya. ilmu itu baik kita kaji sepanjang membuat kita semakin takut kepada Allah. Inilah ilmu yang paling berkah yang harus kita cari. sepanjang kita menuntut ilmu itu jelas (benar) niat maupun caranya, niscaya kita akan mendapatkan manfaat darinya.

Hal lain yang hendaknya kita kaji dengan seksama adalah bagaimana caranya agar kita dapat memperoleh ilmu yang sinar cahayanya dapat meluas di dalam dada serta dapat membuka penutup hati? Imam Syafii ketika masih menuntut ilmu, pernah mengeluh kepada gurunya. “Wahai, Guru. Mengapa ilmu yang sedang kukaji ini susah sekali memahaminya dan bahkan cepat lupa?” Sang guru menjawab, “Ilmu itu ibarat cahaya. Ia hanya dapat menerangi gelas yang bening dan bersih.” Artinya, ilmu itu tidak akan menerangi hati yang keruh dan banyak maksiatnya.

Karenanya, jangan heran kalau kita dapati ada orang yang rajin mendatangi majelis-majelis ta’lim dan pengajian, tetapi akhlak dan perilakunya tetap buruk. Mengapa demikian? itu dikarenakan hatinya tidak dapat terterangi oleh ilmu. Laksana air kopi yang kental dalam gelas yang kotor.

Kendati diterangi dengan cahaya sekuat apapun, sinarnya tidak akan bisa menembus dan menerangi isi gelas. Begitulah kalau kita sudah tamak dan rakus kepada dunia serta gemar pada keburukan , maka sang ilmu tidak akan pernah menerangi hati.

Padahal kalau hati kita bersih, ia ibarat gelas yang bersih diisi dengan air yang bening. Setitik cahaya pun akan mampu menerangi seisi gelas. Walhasil, bila kita menginginkan ilmu yang bisa menjadi ladang amal shalih, maka usahakanlah ketika menimbanya, hati kita selalu dalam keadaan bersih. hati yang bersih adalah hati yang terbebas dari ketamakan terhadap urusan dunia dan tidak digunakan untuk menzhalimi sesama.




Semakin hati bersih, kita akan semakin dipekakan oleh Allah untuk bisa mendapatkan ilmu yang bermanfaat. darimana pun ilmu itu datangnya. Disamping itu, kita pun akan diberi kesanggupan untuk menolak segala sesuatu yang akan membawa mudharat.

Sebaik-baik ilmu adalah yang bisa membuat hati kita bercahaya. Karenanya, kita wajib menuntut ilmu sekuat-kuatnya yang membuat hati kita menjadi bersih, sehingga ilmu-ilmu yang lain (yang telah ada dalam diri kita) menjadi bermanfaat.

Bila mendapat air yang kita timba dari sumur tampak keruh, kita akan mencari tawas (kaporit) untuk menjernihkannya. Demikian pun dalam mencari ilmu. Kita harus mencari ilmu yang bisa menjadi “tawas”-nya supaya kalau hati sudah bening, ilmu-ilmu lain yang kita kaji bisa diserap seraya membawa manfaat.

Mengapa demikian? Sebab dalam mengkaji ilmu apapun kalau kita sebagai penampungnya dalam keadaan kotor dan keruh, maka tidak bisa tidak ilmu yang didapatkan hanya akan menjadi alat pemuas nafsu belaka. Sibuk mengkaji ilmu fikih, hanya akan membuat kita ingin menang sendiri, gemar menyalahkan pendapat orang lain, sekaligus aniaya dan suka menyakiti hati sesama.


Dunia memang Allah halalkan bagi hamba-hamba Nya yang beriman. Namun janganlah berlebih-lebihan dan membuat hati terlalu cinta kepadanya. Bila pada zaman Nabi Ibrahim as , menyembah patung sebagai berhala , maka pada zaman sekarang  bila tidak berhati-hati mengekang nafsu, cinta dunia akan menjadikan tumbuhnya  berhala-berhala penghijab hati kita kepada Allah. 

Demikian juga bila mendalami ilmu ma’rifat. Sekiranya dalam keadan hati kotor , akan membuat diri kita takabur, merasa diri paling shalih, dan menganggap orang lain sesat. Oleh karena itu, tampaknya menjadi fardhu ain hukumnya untuk mengkaji ilmu kesucian hati dalam rangka ma’rifat, mengenal Allah. Datangilah majelis pengajian yang di dalamnya kita dibimbing untuk riyadhah, berlatih mengenal dan berdekat-dekat dengan Allah Azza wa Jalla.


Begitu luasnya rahmat serta kasih sayang Allah , dan jalan -jalan yang luas untuk meraih rahmat Nya , tidak menjadikan setiap golongan menjadi mengecilkan golongan lainnya.

Di sana kita selalu dibimbing untuk banyak berdzikir, mengingat Allah dan mengenal kebesaran-Nya, sehingga sadar betapa teramat kecilnya kita ini di hadapan-Nya.
Kita lahir ke dunia tidak membawa apa-apa dan bila datang saat ajal pun pastilah tidak membawa apa-apa. Mengapa harus ujub, riya, takabur, dan sum’ah. Merasa diri besar, sedangkan yang lain kecil. Merasa diri lebih pintar sedangkan yang lain bodoh. Itu semua hanya karena sepersekian dari setetes ilmu yang kita miliki? Padahal, bukankah ilmu yang kita miliki pada hakikatnya adalah titipan Allah jua, yang sama sekali tidak sulit bagi-Nya untuk mengambilnya kembali dari kita?

Subhanallaah,  Mudah-mudahan kita dimudahkan oleh-Nya untuk semakin mampu mengenali kekurangan diri dan mendapatkan ilmu yang bisa menjadi penerang dalam kegelapan guna menjadi jalan untuk dapat lebih bertaqarub kepada-Nya


. اَمِيـْنْ يَـارَبَّ الْعَـالَمِيْــ
 


 Wallahu a'lam bishawab
(KH. Abdullah Gymnastiar

:: SESUNGGUHNYA UJIAN ALLAH ADAKAN SEBAGAI JALAN UNTUK MENGENAL ALLAH



Untuk meringankan kepedihan ujian yang menimpa, hendak kita mengenal Allah yang memberi ujian itu. Kenallah sifat ilmu, kasih-sayang dan belas ihsan Allah yang Maha hebat. Sebagai hamba ilmu kita terbatas, ilmu Allah yang Maha Luas. Kasih sayang kita cuma seraut, kasih sayang Allah selaut. Orang yang mengenal Allah, akan mencintaiNya. Bila sudah cinta, kuranglah derita diuji. Bukankah cinta itu buta?

Orang yang mengenal kasih-sayang Allah punya keyakinan bahwa keputusan (takdir) Allah itu akan memberikan yang terbaik. Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, tidak akan memberi sesuatu yang buruk untuk hamba-Nya. Justeru, hamba yang baik tidak akan berburuk sangka terhadap Allah dengan merasakan apa yang ditakdirkanNya (ujian) itu ialah sesuatu yang tidak baik.

Yakinlah bahawa semua ketentuan Allah itu adalah baik. Ujian itu pasti ada kemuslihatan yang tersembunyi untuk setiap kita. Pilihan Allah untuk kita adalah yang terbaik, cuma kita tidak atau belum mengetahuinya. Bila berlaku nanti, barulah kita tersedar, " .. ya Allah beruntung Kau takdirkan begitu." Kata arifbillah (orang yang mengenal Allah), “sekiranya kita merasakan kasih sayang Allah itu terpisah apabila DIA menguji kita, itu petanda tumpulnya akal, butanya mata hati.”

Ujian juga menimbulkan rasa taat kepada Allah. Hati tidak dapat tidak mesti bersabar. Hati akan terdidik untuk redha dan tawakal, karena Qada dan Qadar-Nya mesti berlaku. Manusia akan lebih dekat dengan agama, kepentingan akhirat, cinta kepada Allah. Hikmah ini walaupun sebesar zarah tetapi apabila melekat di hati kebaikannya lebih tinggi dari amal lahiriah walaupun sebesar gunung. Inilah kebaikan di balik kepahitan ujian. Justeru, Allah berfirman:

“… Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu sedangkan sesuatu itu merosakkan kamu. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak tahu.” (Surah Al Baqarah : 216)

Dengan ujian juga, Allah ‘membersihkan’ kotoran hati manusia. Ujian itu menghapuskan dosa dan kesalahan terhadap Allah seperti bahan pencuci membersihkan kain yang kotor.

Bila kita benci dengan ujian, artinya kita belum kenal Allah dan (karena ) tidak faham itulah cara (kaedah) Allah mengampunkan dan membersihkan dosa-dosa kita. Ya, seolah-olah orang yang yang benci diuji itu tidak suka dibersihkan daripada dosa-dosa atau apakah dia merasa tidak berdosa? Sebaliknya, apabila kita gembira (menerima dengan baik) ujian itu, karena yakin bahwa yang datangkan ujian itu juga daripada Allah. Kita bukan saja berikhtiar (berusaha) untuk menghilangnya tetapi juga berusaha untuk mendapatkan hikmahnya.

Rasulullah sallallahu ‘alaihiwasallam bersabda,

“Barang siapa yang dikehendaki Allah pada orang itu kebaikan, maka Allah akan coba dengan ujian-Nya.”

Tidak ada takdir Allah yang tidak ada hikmahnya. Orang soleh bila diuji, hikmah-hikmah ujian akan semakin terbuka, membawa diri pada muhasabah dan mendekatkan mereka kepada Allah.

Semoga Allah Ta'ala membukakan hikmah dan mengkaruniakan berkah kekuatan, kesabaran serta kasih sayang perlindungan Nya. Aamiin ya Robbal alamin

:: 10 SAMPAH JIWA MENURUT IBNUL QAYYIM



“Ada sepuluh hal yang tidak bermanfaat, layaknya sampah buangan bagi seorang insan”:

(1)
علم لا يعمل به

Ilmu yang mengendap lantas mati, tidak terhidupkan dalam wujud amal yang shalih.

(2)
وعمل لا إخلاص فيه ولا اقتداء

Amal yang kosong dari ruh keikhlasan dan sunyi dari spirit mutaaba’ah kepada sunnah.

(3)
ومال لا ينفق منه فلا يستمتع به جامعه في الدنيا ولا يقدمه أمامه في الآخرة

Harta yang tidak di-infaq-kan di jalan Allaah, tidak pula mampu dinikmati oleh para penimbunnya di dunia, dan tidak juga akan dihadirkan di hadapannya kelak di akhirat.

(4)
وقلب فارغ من محبة الله والشوق إليه والأنس به

Hati yang kosong dari Mahabbatullaah (cinta pada Allaah), melompong dari rasa kerinduan dan kesukaan pada-Nya.

(5)
وبدن معطل من طاعته وخدمته

Badan yang kosong dari ketaatan dan pengkhidmatan pada-Nya subhaanahu wata’aalaa.

(6)
ومحبة لا تتقيد برضاء المحبوب وامتثال أوامره

Rasa cinta pada Allaah yang tidak terikat dengan keridhaan dan kepatuhan pada perintah-Nya.

(7)
ووقت معطل عن استدراك فارط أواغتنام به وقربة

Waktu yang kosong dari koreksi terhadap kealpaan diri, hampa dari amalan yang bermanfaat, dan sunyi dari ibadah yang bisa mendekatkan pada Ilahi.

(8)
وفكر يجول فيما لا ينفع

Pikiran yang berkelana, lalu singgah pada hal-hal yang tidak bermanfaat

(9)
وخدمة من لا تقربك خدمته إلى الله ولا تعود عليك بصلاح دنياك

Pengkhidmatan kepada mereka yang tidak bisa mendekatkan dirimu pada Allaah, dan tidak pula pengkhidmatan tersebut kembali padamu dalam wujud kemaslahatan dunia bagimu.

(10)
وخوفك ورجاؤك لمن ناصيته بيد الله وهو أسير في قبضته ولا يملك لنفسه ضرا ولا نفعا ولا موتا ولا حياة ولا نشورا.

Rasa takut dan harapmu yang engkau peruntukkan bagi selain Allaah, padahal Allaah adalah Dzat yang memegang ubun-ubun mereka yang memiliki dan menguasai mereka secara mutlak.

Sementara mereka, adalah tawanan dalam kekuasaan-Nya.
Sementara mereka, tidak mampu mendatangkan manfaat bagi diri mereka sendiri sekalipun, tidak juga mampu menolak mudharat, tidak sanggup menolak maut, kehidupan dan kebangkitan.

(Nukilan dari kitab Mausuu’atul Akhlaaq waz Zuhdi war Raqaa-iq: 1/10-11, Yaasir Abdurrahmaan, cet.-1 Mu-assasah Iqraa’, tahun 1428).

***

Semoga Allaah senatiasa mengampuni kita, memberi berkah kemampuaan dalam taat dan membersihkan sampah-sampah jiwa kita, yang menyampaikan kita pada ridha rahmat serta cinta Nya. اَمِيـْنْ يَـارَبَّ الْعَـالَمِيْــ

Sabtu, 06 Juli 2013

:: ALLAH MEMBERSIHKAN HAMBA-NYA DENGAN TIGA TANDA






Bismillahirrahmanirrahim ,


Tipu daya syaitan dan bisikan hawa nafsu sentiasa mempermain-mainkan kehidupan seorang insan, setiap saat kedua-duanya bersatu tenaga merancang untuk merobohkan benteng iman di hati manusia. Namun begitu tidaklah Allah Taala menyerahkan sebulat-bulatnya diri orang mukmin untuk menjadi hidangan syaitan dan hawa nafsu mereka, bahkan Allah Taala membersih jiwa orang mukmin itu setiap saat hingga mereka kembali kepada-Nya dalam keadaan sebersih-bersihnya.

APAKAH TANDA-TANDA ALLAH MENSUCIKAN DIRI SEORANG HAMBA?

1. Diturunkan musibah kepadanya lalu dia redha.
2. Dihidupkan jiwanya lalu dia bertaubat.
3. Dituntun hatinya lalu dia suka beribadat

Tiga perkara yang amat besar fungsinya untuk memastikan hamba yang beriman tetap terjaga dan terlindung dari jenayah hawa nafsu dan tipu daya syaitan. Sehingga dia bertemu Allah dalam keadaan suci, bersih lagi diredai.

•☆.•*´¨`*••♥ ۞ ⋆ ۞ ⋆ ۞ ⋆ ۞ ♥••*´¨*•.☆•

|| DITURUNKAN MUSIBAH KEPADANYA LALU DIA REDHA

Sesunggguhnya musibah akan membentuk tiga karakter manusia.

1. Jiwa yang unggul, teruji dan benar cintanya kepada Allah Taala.

Musibah amat berkait rapat dengan perasaan kejiwaan manusia,

• Apakah dia redha dan akur atas kehendak Allah kemudian percaya dengan ganjaran bagi orang yang sabar?

• Apakah dia menerima musibah itu sebagai hadiah terindah dari kekasih Yang Maha mengasihani?

• Apakah musibah itu mampu melonjakkan imannya ke tahap yang lebih tinggi sehingga dia sentiasa meneliti kekurangan diri? Kemudian bertanya: “Mengapakah Allah memilih diriku?

• Apakah dosa-dosaku yang harus disucikan dengan datangnya musibah ini, bagaimanakah aku harus memperbaiki diri dan amalku?”

Akhirnya, lahir satu keyakinan bahawa Allah akan mengganti musibah itu dengan kebaikan yang akan datang selepasnya. Sesuai dengan Firman-Nya:

☆ ☆ ☆ ☆ “Sesungguhnya bersama kesusahan itu ada kemudahan.” (Surah Al-Insyirah ayat 5)


2. JIWA YANG MEMBERONTAK.

Apabila seseorang menerima musibah dengan hati yang berprasangka buruk kepada Allah. Dia berkata:

“Tuhan telah menghinakan aku", menyerahkan aku kepada orang-orang yang jahat lalu mereka menzalimiku. Tuhan menolak doa-doaku, mencampakkan ibadatku sehingga empat puluh hari, Dia tidak menerima amal salehku. Dia menghukum, menutup pintu langit, menahan rezeki dan mengazabku dengan musibah ini. Nauzu billahimin dzalik, betapa bijaknya syaitan meniupkan penyakit putus harapan yang mematikan jiwa redha seorang hamba. Hal ini amat bertentangan dengan suruhan Allah kepada orang yang berdosa didalam surah al-Zumar ayat: 53.

☆ ☆ ☆ ☆ “Katakanlah: “Wahai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”


3. JIWA YANG MUDAH BERPALING.

Kesetiaan menjadi faktor terpenting dalam perhubungan, sebagaimana seorang hamba mesti membuktikan setianya kepada Allah dalam setiap keadaan. Susah atau senang, sibuk atau lengang, kaya atau miskin, terkenal atau terlupakan, diatas atau dibawah, disanjung atau dijatuhkan. Bagaimanapun situasi yang terjadi, hubungan hati dengan Allah Taala tetap terjaga. Tidak pernah melupakan Allah saat senang sebagaimana dia mengingati-Nya di kala susah. Tetapi Al-Quran telah merakamkan keadaan orang yang mudah berpaling ketika dilanda musibah dalam hidupnya. Sebagaimana firman-Nya:

☆ ☆ ☆ ☆ “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi. Maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (Surah al-Hajj ayat: 11)

Sudah selayaknya setiap hamba Allah memandang musibah sebagai satu tanda bahawa Allah Taala mahu membersihkan dirinya, memberi jaminan kafarah atas segala dosanya sehingga dia bertemu Allah dengan jiwa yang redha lagi diredai. Sebagaimana sabda Rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam:

☆ ☆ ☆ ☆ “Tiada seorang muslim yang menderita kelelahan, atau penyakit atau kesusahan hati bahkan gangguan berupa duri yang menyakitinya melainkan semua itu menjadi penebus dosa-dosanya.” (Hadis riwayat al-Bukhari Muslim)

•☆.•*´¨`*••♥ ۞ ⋆ ۞ ⋆ ۞ ⋆ ۞ ♥••*´¨*•.☆•

|| KEMUDIAN TANDA YANG KEDUA, IALAH: DIHIDUPKAN JIWANYA LALU DIA BERTAUBAT

Setiap kali berbuat dosa hati akan tersiksa, takut, sedih dan putus asa mengingati kejahatan diri. Disitulah rahmat bagi orang beriman yang melakukan dosa, dia sentiasa ingat untuk bertaubat, merayu dan memohon maaf kepada Allah, merintih dan menangis, sesal yang tidak terperi sakitnya, lalu dia mendekat serapat-rapatnya kepada Allah dan mengetuk pintu taubat setiap kali melakukan kesilapan.

Kemudian hatinya berbisik: “Siapakah yang berkuasa membuka relung hatiku dan membersihkannya dari karat dan noda maksiat? Siapakah yang memberi cahaya ke jiwaku dan menggetarkan perasaan dengan ilmu-Nya sehingga menitislah airmata penyesalanku? Engkaulah Tuhan Yang Maha Menerima Taubat yang telah berfirman:

☆ ☆ ☆ ☆ “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku katakanlah bahawa Aku adalah dekat.” (Surah al-Baqarah ayat: 186)

Bagaikan mati hidup semula, begitulah perumpamaan tentang jiwa orang mukmin yang kembali kepada Allah, sebagaimana perumpamaan Al-Quran:

☆ ☆ ☆ ☆ “Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia kami hidupkan dan kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya?” (Surah Al-An’am ayat: 122)

Selain menghidupkan jiwa orang mukmin, taubat juga menjadi cara dan kaedah termudah untuk diterima kembali oleh Allah Taala dalam pelukan rahmat-Nya. Namun kadang-kadang jiwa manusia bersikap angkuh, merasa diri telah sempurna dan tidak pernah terseleweng walau sesaat, memandang orang lain dengan pandangan kehinaan, seolah-olah aib dan kelemahan itu hanya milik orang sedang dirinya tiada cela.

Beristighfarlah untuk masa yang dibuang percuma tanpa mengingati Allah. Beristighfarlah untuk diri yang kurang amanah terhadap keluarga dan kerjaya. Beristighfarlah untuk membersihkan hati dari sangka buruk, riya, tamak, dengki, cemburu dan lidah yang menyengat perasaan orang lain. Beristighfarlah kerana rela menjadi sahabat syaitan angkara kejahilan diri dan ketandusan ilmu. Beristighfarlah untuk diri yang tidak merasa perlu untuk beristighfar. Lakukanlah sepanjang masa hingga bertemu Allah dalam keadaan bersih lagi diredai.

•☆.•*´¨`*••♥ ۞ ⋆ ۞ ⋆ ۞ ⋆ ۞ ♥••*´¨*•.☆•

|| YANG KETIGA, TANDA ALLAH MENSUCIKAN SEORANG HAMBA IALAH DITUNTUN HATINYA LALU DIA SUKA BERIBADAT

Sepatutnya para ahli ibadat bersyukur kepada Allah kerana mereka telah dipilih sebagai orang-orang yang dekat di sisi-NYa. Roh ibadah itu telah menjadi darah dan daging mereka, kemana saja mereka melangkah semuanya diniatkan untuk ibadah kepada Allah. Tetapi berhati-hatilah dengan tipu daya syaitan yang suka memuji diri kita kerana ibadah kita itu sehingga membuat diri lupa bahawa semua itu atas sebab pertolongan Allah Taala. Syaitan juga memujuk diri manusia supaya cepat berpuas hati dengan ibadahnya . Sehingga roh ibadat itu hilang dalam diri nya.

Ya, apabila ibadat yang dilakukan tidak ditujukan untuk mengubat diri, memperbaiki akhlak, meluruskan moral, membangkitkan kekuatan supaya cemerlang sebagai mukmin berjaya di arena dunia yang mencabar dan ibadah itu tidak mampu memaparkan gambaran hidup tentang siksa kubur dan nikmatnya, syurga dan neraka, peristiwa hari kebangkitan. Apabila ibadat hanya dianggap sekadar melunaskan hutang, membayar kewajipan, mendirikan rukun dan syaratnya saja tanpa diselami dengan penghayatan.

Bagaimanakah ibadah Rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam? Aisyah radhiallahuanha berkata,

☆ ☆ ☆ ☆ “Rasulullah bangun sembahyang di waktu malam, sehingga pecah-pecah kaki baginda. Saya bertanya: Mengapakah kamu berbuat begini Ya Rasulullah, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang kemudian? Rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang bersyukur (atas nikmat Allah tersebut).” (Hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Tergeraknya hati untuk melakukan ibadah merupakan tuntunan Allah kepada hamba-Nya semata-mata mahu mensucikan kita dan memberi ganjaran yang baik di sisi-Nya. Bukankah sembahyang menjadi pengapus dosa-dosa kecil selama tidak dilakukan dosa besar? Jummat ke Jumaat, Ramadhan ke Ramadhan merupakan proses pergiliran penghapusan dosa yang sepatutnya disyukuri. Jauh sekali melahirkan jiwa yang sombong dan suka memuji diri sendiri dengan ibadah yang masih masin lagi (tidak sedap untuk dinikmati)

Ya Allah , bimbinglah kami agar dapat senantiasa bersyukur kepadaMu dan untuk beribadah lebih baik lagi. Sampaikan kami pada rahmat serta ridha Mu. Aamiin.



Wallahu a'lam bishawab

Djuanda.com

:: HIKMAH ATAS UJIAN DARI ALLAH YANG DATANG BERTUBI-TUBI



بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Orang-orang yang sungguh-sungguh ingin kembali kepada Allâh SWT akan menghargai masalah-masalah kehidupan yang diberikan-Nya bukan lagi sebagai bencana atau musibah. Tetapi mereka memandangnya sebagai ujian-ujian yang perlu disikapi dengan sebaik-baiknya.

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. Al Mulk [67]:2)

Manakala seseorang benar-benar ingin kembali kepada Allâh, maka bertubi-tubi akan dihadapi olehnya ujian-ujian dari sisi Allâh. Karena sesungguhnya dengan ujian-ujian ini akan terlihat siapa orang-orang yang sungguh-sungguh merindukan Allâh dan siapa yang tidak.

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:"Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? (QS. Al Ankabut [29]:2)

Dan tidakkah mereka memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran? (QS. At Taubah [9]:126)

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (QS. Al Baqarah [2]:155)

Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran). (QS. Al A’raaf [7]:168)

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. (QS. Al Anbiya [21]:35)

Bahkan lebih lanjut mereka akan merasakan masalah-masalah kehidupan ini sebagai anugerah dari Allâh SWT, karena ia sadar sepenuhnya bahwa masalah-masalah tersebut merupakan cermin-cermin yang diberikan oleh-Nya untuk menunjukkan keburukan-keburukan yang tersembunyi dan tidak disadari.

Dan Allâh (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allâh Maha Mengetahui segala isi hati. (QS. Aali Imraan [3]:154)

Dengan masalah-masalah kehidupan itulah Allâh membersihkan seseorang dari dosa-dosa dan kesalahan. Dengan masalah-masalah kehidupan itu pula Allâh membentuk orang per orang untuk menjadi sesuai dengan untuk apa ia dihadirkan ke dunia. Bagaikan besi yang ditempa, karat-karat luruh dibakar api, dan dengan api itu pula besi menjadi lunak sehingga dapat dibentuk menjadi pedang, tombang dan lain sebagainya. Proses pendidikan Allâh Subhana wa Ta'ala ini berlaku sepanjang hayat masih dikandung badan. Bukanlah hanya sekali atau dua kali.

Semoga Allah Ta'ala senantiasa membimbing kita dan menyampaikan kita pada ampunan, rahmat serta ridha Nya. Aamiin.



Wallahu a'lam bishawab
Barakallahufikum

:: AYAT - AYAT ALLAH



بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Walaupun manusia hidup dalam kegelapan hati, tetapi Allâh Subhana wa Ta'ala Yang Maha Adil, selalu memanggil manusia untuk kembali kepada-Nya dengan ayat-ayat-Nya.
Ayat-ayat Allâh umumnya terbagi atas dua jenis, yaitu Ayat-ayat Qauliyah (firman-firman-Nya) dan Ayat-ayat Kauniyah (ciptaan-ciptaan-Nya), yang semua bertujuan agar manusia kembali (bertaubat) kepada Allâh.

... al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil) ... (QS. Al Baqarah [2]:185)

... dan Kami telah mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami berulang-ulang supaya mereka kembali (bertaubat). (QS. Al Ahqaf [46]:27)

Ayat-ayat Kauniyah ini melingkupi seluruh alam semesta. Bahkan segala hal dalam kehidupan kita, apakah masalah-masalah kehidupan yang sering kita bahasakan sebagai bencana atau musibah, ataupun segala bentuk kesenangan. Semuanya merupakan bagian dari ayat-ayat Kauniyah ini.
Allâh memberikan ini dengan adil kepada siapapun. Tidak memandang apakah mereka memeluk agama Islam atau tidak, apakah mereka mempercayai-Nya atau tidak. Hal ini berkali-kali Allâh hadapkan kepada kita, namun karena terlampau mencintai kehidupan duniawi sehingga tetap saja kita berpaling dari ayat-ayat itu.

Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika Allâh mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah ilah selain Allâh yang kuasa mengembalikannya kepadamu" Perhatikanlah, bagaimana Kami berkali-kali memperlihatkan tanda-tanda kebesaran (Kami), kemudian mereka tetap berpaling (juga). (QS. Al An’aam [6]:46)

Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allâh) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling daripadanya. (QS. Yusuf [12]:105)

Dengan ayat-ayat Allâh itu, ada orang yang sadar, kemudian ingin kembali (taubat) kepada Allâh. Namun kebanyakan manusia mengabaikannya. orang-orang yang tidak mau bertaubat inilah orang-orang yang zalim yang sesat, dan lambat laun masuk ke dalam golongan yang dimurkai Allâh SWT.


PETUNJUK LANGSUNG KE HATI

Apabila seseorang dianugerahkan oleh Allâh SWT cahaya iman ke hatinya, maka hatinya akan dapat menerima petunjuk langsung dari Allâh SWT. Petunjuk ini berlaku individual, langsung ke hatinya. Untuk menuntun seorang manusia kepada jalan yang lurus

… Dan barang siapa yang beriman kepada Allâh, niscaya Dia akan memberi petunjuk langsung kepada hatinya. (QS. At Taghaabun [64]:11).

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh, mereka diberi petunjuk oleh Rabb mereka karena keimanannya, … (QS. Yunus [10]:9).

Dari Ummu Salamah r.ha, Rasulullah saw bersabda: “Apabila dikehendaki oleh Allâh kebajikan pada seorang hamba, niscaya dijadikan-Nya orang itu memperoleh pelajaran dari hatinya.” (HR. Abu Manshur Ad-Dailamy)


Semoga Allah semakin membukakan mata hati kita , menjauhkan kita dari segala sebab keburukan iman, dan memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hamba Nya yang beruntung. Aamiin.


Wallahu a'lam bishawab
Barakallahufikum ..

:: MEREKA YANG DIINGINKAN KEBAIKAN (DITINGGIKAN DERAJAT AKHIRATNYA) OLEH ALLAH



بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Siapakah diantara kita yang tidak ingin diberikan kebaikan oleh Allah? Semoga kita termasuk dari mereka:

1. Dibukanya pintu amal (dikaryakan) sebelum kematian menjelang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إذا أراد الله بعبد خيرا استعمله قيل : ما يستعمله ؟ قال : يفتح له عملا صالحا بين يدي موته حتى يرضي عليه من حوله

“Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada seorang hamba, Allah akan jadikan ia beramal.” Dikatakan, “Apakah dijadikan beramal itu?” Beliau bersabda, “Allah bukakan untuknya pintu beramal shalih sebelum meninggalnya, sehingga orang-orang yang berada di sekitarnya ridla kepadanya.” (HR Ahmad dan Al Hakim dari Amru bin Al Hamq).

2. Dipercepat Hukuman/Sanksinya di Dunia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إذا أراد الله بعبده الخير عجل له العقوبة في الدنيا و إذا أراد بعبده الشر أمسك عنه بذنبه حتى يوافي به يوم القيامة

“Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada hambaNya, Allah akan segerakan sanksi untuknya di dunia. Dan apabila Allah menginginkan keburukan kepada hambaNya, Allah akan membiarkan dosanya (di dunia) sampai Allah membalasnya pada hari kiamat.” (HR At Tirmidzi dan Al Hakim dari Anas bin Malik).

Namun kita tidak diperkenankan untuk meminta kepada Allah agar dipercepat sanksi kita di dunia, karena kita belum tentu mampu menghadapinya.

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَادَ رَجُلاً مِنَ الْمُسْلِمِينَ قَدْ خَفَتَ فَصَارَ مِثْلَ الْفَرْخِ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « هَلْ كُنْتَ تَدْعُو بِشَىْءٍ أَوْ تَسْأَلُهُ إِيَّاهُ ». قَالَ نَعَمْ كُنْتُ أَقُولُ اللَّهُمَّ مَا كُنْتَ مُعَاقِبِى بِهِ فِى الآخِرَةِ فَعَجِّلْهُ لِى فِى الدُّنْيَا. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « سُبْحَانَ اللَّهِ لاَ تُطِيقُهُ – أَوْ لاَ تَسْتَطِيعُهُ – أَفَلاَ قُلْتَ اللَّهُمَّ آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ». قَالَ فَدَعَا اللَّهَ لَهُ فَشَفَاهُ.

“Dari Anas, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menjenguk seseorang dari kaum muslimin yang telah kurus bagaikan anak burung. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apakah kamu berdo’a dengan sesuatu atau kamu memintanya?” Ia berkata, “Ya, aku berdo’a, “Ya Allah siksa yang kelak Engkau berikan kepadaku di akhirat segerakanlah untukku di dunia.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Subhanallah, kamu tidak akan mampu itu. Mengapa kamu tidak berkata, “Ya Allah berikan kepada kami di dunia kebaikan dan di akhirat kebaikan dan peliharalah kami dari adzab Neraka.” Maka orang itupun berdo’a dengannya. Allah pun menyembuhkannya.” (HR Muslim).

3. Diberikan Cobaan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

من يرد الله به خيرا يصب منه

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan, Allah akan memberinya musibah.” (HR Ahmad dan Al Bukhari dari Abu Hurairah).

Cobaan pasti akan menerpa kehidupan mukmin, karena itu janji Allah:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ

“Sungguh, Kami akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.” (QS Al Baqarah: 155).

Cobaan itu untuk menggugurkan dosa dan mengangkat derajat.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ أَوْ الْمُؤْمِنَةِ فِي جَسَدِهِ وَفِي مَالِهِ وَفِي وَلَدِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ مِنْ خَطِيئَةٍ

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Senantiasa ujian itu menerpa mukmin atau mukminah pada jasadnya, harta dan anaknya sampai ia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak mempunyai dosa.” (HR Ahmad dengan sanad yang hasan).

4. Difaqihkan (difahamkan) Dalam Agama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam agama.” HR Al Bukhari dan Muslim).

Kefaqihan adalah pemahaman yang Allah berikan kepada seorang hamba. Pemahaman yang lurus terhadap Al Qur’an dan hadits berasal dari kebeningan hati dan aqidah yang shahih. Karena hati yang dipenuhi oleh hawa nafsu tidak akan dapat memahami Al Qur’an dan hadits dengan benar. Sebagaimana yang dikabarkan oleh nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kaum khawarij yang membaca Al Qur’an:

يَخْرُجُ قَوْمٌ مِنْ أُمَّتِى يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَيْسَ قِرَاءَتُكُمْ إِلَى قِرَاءَتِهِمْ بِشَىْءٍ وَلاَ صَلاَتُكُمْ إِلَى صَلاَتِهِمْ بِشَىْءٍ وَلاَ صِيَامُكُمْ إِلَى صِيَامِهِمْ بِشَىْءٍ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ يَحْسِبُونَ أَنَّهُ لَهُمْ وَهُوَ عَلَيْهِمْ

“Akan keluar suatu kaum dari umatku, mereka membaca Al Qur’an. Bacaan kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bacaan Al Qur’an mereka, shalat dan puasa kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan shalat dan puasa mereka. Mereka membaca Al Qur’an dan menyangka bahwa Al Qur’an mendukung mereka padahal Al Qur’an tidak mendukung mereka.” (HR Muslim).

Itu semua akibat kedangkalan ilmu dan mengikuti hawa nafsu, sehingga mereka tidak diberikan pemahaman yang benar terhadap Al Qur’an dan hadits. Mereka mengira bahwa ayat Al Qur’am mendukung perbuatan mereka, padahal tidak demikian. Tentu yang memahaminya adalah orang-orang yang Allah faqihkan dalam agama dan selamatkan dari hawa nafsu.

5. Diberikan Kesabaran.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
و ما أعطي أحد عطاء خيرا و أوسع من الصبر

“Tidaklah seseorang diberikan dengan sesuatu yang lebih baik dan lebih luas dari kesabaran.” (HR Al Bukhari dan Muslim).

Kesabaran dalam keimanan bagaikan kepala untuk badan. Badan tak akan hidup tanpa kepala, demikian pula iman tak akan hidup tanpa kesabaran. Untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya amat membutuhkan kesabaran. Karena Iblis dan balatentaranya tak pernah diam untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah.

وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

“Tidak ada yang diberikan (sifat-sifat yang terpuji ini) kecuali orang-orang yang sabar, dan tidak ada yang diberikannya kecuali orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS Fushilat: 35).

Semoga Allah Ta'ala senantiasa membimbing kita dan menyampaikan kita pada ampunan, rahmat , ridha serta Cinta Nya. اَمِيـْنْ يَـارَبَّ الْعَـالَمِيْــ



 



Wallahu a'lam bishawab
Oleh: Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc

Sabtu, 04 Mei 2013

:: 10 PESAN INSPIRASI USTAD JEFFRY AL BUCHORI DALAM TWITTERNYA


 
Bismillahirrahmanirrahim ..

" Pada akhirnya ... Semua akan menemukan yang namanya titik jenuh.. Dan pada saat itu.. Kembali adalah yang terbaik.. Kembali pada siapa ...??? Kepada "DIA" pastinya .. Bismi_KA Allohumma ahya waamuut.."

" Yang paling banyak aku sembunyikan adalah keburukanku .. Dan yang paling banyak aku tampakkan adalah kebaikanku ..."

" Diri ini selalu ingin kelihatan baik di mata manusia yang lain ... Padahal begitu jelas keburukannya di mataMU .. Ampuni aku.. Ampuni aku ya Allah .."

" Kenapa manusia nggak boleh berlama-lama menanam kebencian, dendam dan kemarahan, khawatir nggak ada umur, kemudian mati membawa itu semua, na'udzu billah "

" Kemarahan bisa membuat seseorang menjadi hina ....Hina dalam perbuatan ... Kemarahan bisa membuat seseorang menjadi buruk .. Buruk dalam sangkaan ..."

" Tak ada satupun manusia yang tak pernah berbuat salah .... Lalu kenapa jadi sulit untuk memaafkan orang yang telah berbuat salah kepada dirinya ..."

" Pada dasarnya manusia itu makhluk yang memiliki sifat lemah lembut & cerdas, hanya saja dalam perjalanannya nafsu yang tidak baik telah mengotorinya .... "

" Kebenaran itu mengajak bukan menginjak, merangkul bukan memukul, memeluk bukan menekuk, munculkan harapan bukan mupuskan harapan, dan tidak merasa lebih baik"

" Berhati-hatilah kepada orang dengki, apapun akan menjadi salah di hadapannya, orang dengki tidak pernah menyadari kedengkiannya, kecuali ada hidayah dan keinginan untuk tetap bersih hati "

" Memberi maaf tidak harus menunggu yang salah meminta maaf ... itulah Kemuliaannya ..."


Barakallahufikum ....

Selamat jalan Bang Uje , selamat beristirahat dengan tenang di haribaan Nya . Semoga Allah memuliakan selalu dan memberikan tempat terbaik di sisi Nya . Aamin. Al Fatihah ..

:: SESUNGGUHNYA NIKMAT DAN REZEKI BUKAN UNTUK MEMULIAKAN MANUSIA



“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik amalannya.” (Al-Kahf(i): 7)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
 

♥ ♥ “Sesungguhnya bagi tiap umat ada fitnah (ujian yang menyesatkan), dan fitnah umatku adalah harta.” (Shahih Sunan At-Tirmdzi no. 2336)


DUA JENIS NIKMAT


Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullahu membagi nikmat ke dalam dua bagian.

• PERTAMA, AN-NI’MAH AL-MUTHLAQAH

Yaitu kenikmatan yang bisa menghantarkan kepada kebahagiaan abadi. Seperti nikmat dalam berislam dan mengikuti As-Sunnah. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan untuk memohon meraup nikmat ini. Memohon agar mendapat hidayah untuk menempuh jalan orang-orang yang meraih nikmat ini:

  ♥ ♥ “Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (An-Nisa`: 69)

• KEDUA, AN-NI’MAH AL-MUQAYYADAH

Yaitu kenikmatan yang digambarkan seperti nikmat memperoleh kesehatan, kekayaan, kekuatan jasad, kedudukan, banyak anak dan memiliki para istri yang baik, serta nikmat-nikmat yang sejenis.

Kenikmatan semacam ini diberikan kepada orang yang berbuat kebaikan, juga kepada orang yang berbuat kemaksiatan, mukmin maupun kafir. Kenikmatan seperti di atas, bila diberikan kepada orang kafir, merupakan bentuk istidraj (dalam bahasa Jawa: dilulu) dengan kenikmatan itu, mengarahkan dirinya kepada azab, petaka. Hakikatnya dia tidak memperoleh nikmat, tapi sesungguhnya dirinya memperoleh bala (sesuatu yang bisa menyusahkan). 


Sekiranya nikmat semakin bertambah , namun hati semakin jauh dari Allah dan tidak diiringi dengan pertambahan iman, amal /ibadah serta syukur, maka semoga nikmat yang ada bukanlah merupakan istidraj (menghabiskan pahala untuk kebaikan dunia, sehingga pahala untuk akhirat semakin menipis dan lama-lama habis).

************

NIKMAT DAN REZEKI BUKAN UNTUK MEMULIAKAN MANUSIA

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

  ♥ ♥ “Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: ‘Rabbku telah memuliakanku’. Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: ‘Rabbku menghinakanku’.” (Al-Fajr: 15-16) [Ijtima’ Al-Juyusy Al-Islamiyyah, hal. 33]

|| Kata Ibnu Katsir rahimahullahu bahwa firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (dalam ayat di atas) sebagai bentuk pengingkaran terhadap orang yang berkeyakinan apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala meluaskan rezkinya berarti dirinya mendapat kemuliaan. Padahal tidak demikian. Bahkan hal itu merupakan bentuk bala dan ujian. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala firmankan:

  ♥ ♥ “Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Sekali-kali Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (Al-Mu`minun: 55-56)

Demikian pula sebaliknya, apabila mengalami bala, ujian dan kesempitan rezki, dirinya berkeyakinan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menghinakannya. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: كَلاَّ (Sekali-kali tidak demikian). Permasalahannya tidaklah seperti yang dia yakini. Karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan harta kepada siapa yang Dia suka dan yang tidak Dia suka, serta menyempitkan harta kepada yang Dia suka dan yang tidak Dia suka.




Allah subhana wa Ta'ala berfirman dalam surah Al Qashash :


78. Qarun berkata: "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku". Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? .......

79. Maka tatkala Qarun keluar kepada kaumnya dalam kemegahannya . Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: "Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar".

80. Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: "Kecelakaan yang besarlah bagimu wahai Qarun, (sesungguhnya) pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali bagi orang-orang yang sabar".

Begitulah dalam kehidupan ketika ada kesempitan rezeki /ujian/sakit/musibah, tanamkan ikhas dan bersabarlah wahai saudaraku, karena sesungguhnya Allah sedang menabungkan pahala atas buah kesabaran tersebut
***********
 

BERSYUKUR KARENA NIKMAT

Sesungguhnya titik pijak dari itu semua adalah ketaatan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam (menyikapi) dua keadaan: apabila dia sebagai orang yang berkecukupan (kaya), hendaknya dia BERSYUKUR kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas yang demikian ini. Apabila dia fakir, hendaknya menyikapinya dengan SABAR.” (‘Umdatut Tafsir ‘an Al-Hafizh Ibni Katsir, Asy-Syaikh Ahmad Syakir rahimahullahu, 3/683)

Karenanya, seseorang yang telah dikaruniai nikmat (harta, anak dan sebagainya) hendaknya memanfaatkan nikmat tersebut di jalan yang diridhoi Allah agar tidak menghadirkan bala dan malapetaka. Kehadiran nikmat agar tidak menjadi fitnah (ujian) yang menyeret penerima kenikmatan tersebut kepada sesuatu yang dimurkai Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan bahwa harta dan anak adalah fitnah (ujian).

 ♥ ♥ “Sesungguhnya harta dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (At-Taghabun: 15)




Wallahu a'lam bishawab
Barakallahufikum ..


Rujukan (disusun dari berbagai sumber dibawah ini):
- “Menyikapi Nikmat Dunia Sebagai Ujian”, Penulis : Al-Ustadz Abu Muhammad AbdulMu’thi, Lc
- “Anak, Antara Harapan dan Impian”, tulisan Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin.



Sabtu, 27 April 2013

:: DAHSYATNYA PROSES SAKARATUL MAUT



Bismillahirrahmannirrahim ..

“Demi Allah, seandainya jenazah yang sedang kalian tangisi bisa berbicara sekejap, lalu menceritakan (pengalaman sakaratul mautnya) pada kalian, niscaya kalian akan melupakan jenazah tersebut, dan mulai menangisi diri kalian sendiri”. (Imam Ghozali mengutip atsar Al-Hasan).

Datangnya Kematian Menurut Al Qur’an :

1. Kematian bersifat memaksa dan siap menghampiri manusia walaupun kita berusaha menghindarkan resiko-resiko kematian.

Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu ke luar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. Dan ALLAH (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. ALLAH Maha Mengetahui isi hati”. (QS. Ali ‘Imran [3]: 154)


2. Kematian akan mengejar siapapun meskipun ia berlindung di balik benteng yang kokoh atau berlindung di balik teknologi kedokteran yang canggih serta ratusan dokter terbaik yang ada di muka bumi ini.

" Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan:“ Ini adalah dari sisi ALLAH”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi ALLAH”. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun? (QS. An-Nisaa’ [4]: 78)


3. Kematian akan mengejar siapapun walaupun ia lari menghindar.

Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan". (QS Al Jumuah : 8)


4. Kematian datang secara tiba-tiba.

Sesungguhnya ALLAH, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya ALLAH Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Luqman [31]: 34)


5. Kematian telah ditentukan waktunya, tidak dapat ditunda atau dipercepat.

Dan ALLAH sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan ALLAH Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Munaafiquun [63]: 11)


DAHSYATNYA RASA SAKIT SAKARATUL MAUT

Sabda Rasulullah SAW :
“Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang” (HR Tirmidzi)

“ Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang tersobek ?” (HR Bukhari)


Atsar (pendapat) para sahabat Rasulullah SAW.

Ka’b al-Ahbar berpendapat : “Sakaratul maut ibarat sebatang pohon berduri yang dimasukkan kedalam perut seseorang. Lalu, seorang lelaki menariknya dengan sekuat-kuatnya sehingga ranting itupun membawa semua bagian tubuh yang menyangkut padanya dan meninggalkan yang tersisa”.

Imam Ghozali berpendapat : “Rasa sakit yang dirasakan selama sakaratul maut menghujam jiwa dan menyebar ke seluruh anggota tubuh sehingga bagian orang yang sedang sekarat merasakan dirinya ditarik-tarik dan dicerabut dari setiap urat nadi, urat syaraf, persendian, dari setiap akar rambut dan kulit kepala hingga kaki”.

Imam Ghozali juga mengutip suatu riwayat ketika sekelompok Bani Israil yang sedang melewati sebuah pekuburan berdoa pada ALLAH SWT agar Ia menghidupkan satu mayat dari pekuburan itu sehingga mereka bisa mengetahui gambaran sakaratul maut. Dengan izin ALLAH melalui suatu cara tiba-tiba mereka dihadapkan pada seorang pria yang muncul dari salah satu kuburan.

“Wahai manusia !”, kata pria tersebut. “Apa yang kalian kehendaki dariku? Limapuluh tahun yang lalu aku mengalami kematian, namun hingga kini rasa perih bekas sakaratul maut itu belum juga hilang dariku.”


Apakah Rasulullah saw. Merasakan Sakitnya Sakaratul Maut?

Kematian itu sangat menyakitkan, apalagi bagi orang yang tidak beriman. Orang seperti nabi saja merasakan sakit saat nyawanya dicabut oleh Malaikat Izrail. “Jibril, betapa sakitnya sakaratul maut ini” ujar Nabi penuh lirih kepada jibril yang ada di sampingnya.

Melihat nyawa ayahnya dicabut, mata Fatimah terpejam. Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan jibril membuang muka. “Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu, jibril?” tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.

“ Siapakah yang tega melihat Kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril.

Kemudian terdengar suara Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahan lagi. “ Ya Allah, dahsyat sekali maut ini. Timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.”
Badan Rasulullah SAW mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanukum” (peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah diantaramu).

Diluar pintu, tangis mulai terdengan bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii!?” (“ummatku, ummatku, ummatku!?”). dan kembalilah Rasulullah SAW ke haribaan Allah SWT..

Demikian rasa sakit saat nyawa kita dicabut. Jika nabi saja merasakan sakit saat nyawanya dicabut, apalagi kita sebagai manusia biasa. Setiap orang yang beriman akan merasakan kengerian dan sakitnya sakaratul maut sesuai dengan kadar keimanan mereka. Terlebih lagi orang kafir, sungguh sangat dahsyat sekali rasa sakitnya. Subhanallah!

Semoga Allah SWT senantiasa mengampuni dan merahmati kita semua. Aamin ya Rabb.



Wallahu a’lam bisshawab.
Barakallahufikum ..

Minggu, 10 Maret 2013

:: SESUNGGUHNYA RENCANA ALLAH ITU BEGITU SEMPURNA

 
Bismillahirrahmanirrahiim ..

" SESUNGGUHNYA RENCANA ALLAH ITU BEGITU SEMPURNA "

Yaitu adakalanya ALLAH tidak memberikan karunia terindah NYA pada saat hamba-hamba NYA dalam kelapangan kecuali pada saat hamba-hamba NYA dalam kesempitan..

❥ Adakalanya ALLAH tidak menunjukan tanda kasih sayang NYA dalam bentuk kesenangan..

❥ Tapi adakalanya ALLAH menunjukan tanda kasih sayang NYA dengan memberikan pada hamba-hamba NYA dalam bentuk kedukaan..

❥ Dan adakalanya ALLAH tidak selalu mengbulkan do'a hamba-hamba NYA sesuai yang diinginkan hamba NYA..

❥ Tapi adakalanya ALLAH menunda pengabulan do'a hamba-hamba NYA sesuai kehendak NYA..

❥ Maka Semua yang ALLAH lakukan itu bukanlah karena ALLAH tidak sayang pada hamba NYA atau hendak menyusahkan hamba-hamba NYA..

❥ Tapi semata karena ALLAH memiliki rencana yang lebih tepat dan lebih sempurna untuk hamba NYA..

❥ Karena sesungguhnya ALLAH Maha Tahu apa yang terbaik untuk hamba NYA..

❥ Dan Lebih Tahu saat yang tepat untuk diberikan pada hamba NYA yaitu bukan pada saat hamba NYA menginginkannya..

❥ Tapi pada saat hamba-hamba NYA membutuhkannya sehingga semua indah pada waktunya..

SUBHANALLAH , Maha Suci Allah atas segala Kesempurnaan rencana NYA....

Jumat, 01 Februari 2013

:: AIR MATA : SEBUAH TULISAN PEPENG SOEBARDI



Oleh : Pepeng Soebardi

Berikut adalah kutipan dari buku "that's all' tulisan istriku. Dik Uta:
............... suatu hari saya merenung. Telah berubahkah suami saya, tidak setegar dulu lagi kah dia? Betul, Peng telah berubah menjadi laki-laki yang mudah tersentuh hatinya. Saya baru mengetahui hal itu ketika dia menulis sebuah artikel di Harian Republika tentang ‘airmata’.

..............Subhanallah betapa Allah swt selalu mempunyai tujuan ketika menciptakan sesuatu. Sama halnya dengan airmata. Seringkali airmata diidentikkan dengan rasa lemah, cengeng, dan ketidakberdayaan. Terkadang orang menilai menangis tidak menyelesaikan masalah. Itu jelas tidak benar. Dengan menangis saya merasakan sebagian beban terlepas. Menangis adalah suatu bentuk ketundukan kepada Allah. Menangis membuat kita mengenal betapa lemahnya diri ini.................

................ini adalah tulisan Peng yang saya ceritakan di atas. Membuat saya bahagia dan bernafas lega.

========================

AIR MATA

Saudaraku, banyak orang berpendapat mengalirkan air mata, identik dengan perempuan. Juga, identik dengan kelemahan, cengeng dan banyak label yang mengacu pada kerapuhan. Benarkah begitu? Sejak dulu saya tidak sependapat!

Dua tahun belakangan ini pendapat saya menguat. Hari ini saya semakin yakin mengalirkan air mata adalah signal, anugerah yang tiada duanya. Signal dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Menangis adalah manifestasi dari kemahalembutan Allah Sang Khalik.

Saudaraku, insya Allah setiap orang pernah merasakan aliran aneh yg membuat air mata kita mengalir. Penyebabnya bisa apa saja. Membaca kisah hidup seseorang, mendengar pernyataan orang, atau melihat penderitaan orang. Bahkan, tanpa sebab yang jelas tiba-tiba air mata kita mengalir. Bahkan, mendengar sebuah kabar yang sangat menyenangkan pun, kadang air mata bergulir menetes.

Berbahagialah mereka yang selalu menyebut asma Allah setiap mengalirnya air mata. Karena, kita selalu ingat dari mana sumber kelembutan yang kita miliki itu.

Mungkin kita pernah mengalami masa di mana kita tidak sempat mengalirkan air mata. Ketika cobaan datang dan menyesakkan dada, kita tidak menangis. Melihat kepedihan orang--lalu mencoba berempati seolah kitalah yang menanggung kepedihan itu--air mata tak setitik pun menetes. Benarkah itu hebat?

Mungkin ya, tergantung dari mana kita melihatnya. Walau saya tidak menolak bahwa siapa pun boleh mengalirkan air mata, tapi pernah saya berpikir: ''Menangis? Tak sempatlah bagi saya untuk menangis.'' Namun, hari ini saya sadar, berarti saya adalah orang yang tidak sempat melembutkan hati.


Ya Allah, maafkan keangkuhan hamba. Ya Latief, lembutkan hati hamba untuk bisa merasakan semua takdir-Mu tanpa harus bersedih. Kuatkan signal hati hamba ya Rahman, ya Rahim, agar hamba selalu bisa menangkap dengan cerdas semua tanda-tanda kebesaran-Mu tanpa harus merasa kecil hati, lemah, dan ketakutan. Jadikanlah air mata hamba sebagai tanda kedekatan hamba dengan-Mu.

Akhirnya mendung di mata tak terbendung lagi. Meringankan semua rasa yang berbaur menjadi satu, melihat begitu banyak bencana datang silih berganti di muka bumi ini. Peliharalah kami ya Muhaimin. Amin yaa mujibass saailiin.


Wallahu a’alam bisshowab
Barokallah fikum wa ahlikum
Di Cinere, hari ini 4 Desember 2006

========================

Masya Allah alangkah indahnya jika kita memiliki hati lembut yang sanggup bermesraan dengan Kekasih kita yang Haqiqi Allah Subhanahuwwat’ala…

Pernahkah kita meneteskan Air Mata karna merindukan Allah?

Pernahkah kita meneteskan Air Mata saat mendengarkan Ayat-ayat Allah?

Pernahkah kita meneteskan air Mata saat sholat?

Pernahkah kita meneteskan Air Mata saat merenung bagaimana gelapnya alam kubur?

Pernahkah kita meneteskan Air Mata saat mengingat Alam Mahsyar dan Hari Hisab?

Jika pernah, maka Air mata itu adalah Air Mata termahal yang ada di Muka bumi ini, karena dengan air mata akan kita peroleh banyak imbalan dari Sang Maha Lembut.

Seperti sebagian hadits Rosul, tentang air mata, yang saya kutip dari artikel ustadz Abi Makki salah seorang sahabat dan teman Peng berdiskusi masalah iman dan Islam.

“…..Ada tujuh orang/golongan yang Alloh Subhanahuwwata’ala lindungi dimana pada hari itu tidak ada yang bisa melindungi kecuali hanya perlindungan Alloh saja,(dan salah satunya di sebutkan disana adalah)seseorang yang mengingat Alloh dalam kesendiriannya lalu berlinanglah Air matanya…..” Saya semakin bersyukur akan keadaan Peng sekarang. Dan semakin kagum akan peran air mata dalam kehidupan kita setelah membaca dalil-dalil pendukung baik hadits maupun al-Qur’an.

Berikut ini salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Attarmidzi. Disusun ustadz Abi Makki setelah membaca artikel Peng dan dijadikan bahan dalam setiap pengajian-pengajiannya.

“……Dua mata yang tidak akan pernah tersentuh api neraka. mata yang menangis karna takut pada Alloh dan mata yang selalu berjaga di Jalan Alloh….”

Saudaraku, jika kita sulit meneteskan air mata atau belum pernah meneteskan air mata. Rasanya pantaslah jika mulai sekarang kita pertanyakan.

Ada apa gerangan dengan nurani kita … ?

...............

:: MERINDING : TERNYATA MALAIKAT MAUT MENGINTAI KITA 70X SEHARI

Bismillaahirr Rahmanirr Rahim ...

Ternyata Malaikat Maut Mengintai Kita 70 Kali Sehari ...

Alangkah baiknya kita istighfar dulu...AstagfirullohAl'adzim...

Memang tidak ada yang pernah tahu kapan seseorang akan menghadapi kematian, itulah sebabnya banyak orang tidak mempersiapkan diri menghadapi kedatangannya.

Maut dan kematian, Allah berfirman yang bermaksud :
Setiap yang hidup akan merasai mati, dan Kami menguji kamu dgn kesusahan dan kesenangan sebagai cobaan; dan kepada Kamilah kamu akan kembali. (Surah al-Anbiyak ayat 35)

Tahukah kita bahwa malaikat maut sentiasa memperhatikan serta
melihat wajah kita sebanyak 70 kali dalam sehari?

Seandainya manusia bisa melihat dengan kasat mata seperti apa
tingkah laku malaikat pengintai itu,niscaya kaki mereka akan lemas
jika mengetahuinya.

Oleh kerana malaikat maut adalah makhluk ghaib, manusia tidak
dapat melihat kehadirannya, itu sebabnya manusia tidak menyadari apa yang dilakukan malaikat Izrail di sekelilingnya.

Hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas r.a bahwa Rasulullah s.a.w bersabda:
Bahwa malaikat maut memperhatikan wajah manusia di muka bumi ini 70 kali dalam sehari. Ketika Izrail datang merenungi wajah seseorang, didapati orang itu sedang bergelak-ketawa .

Maka berkata Izrail: Alangkah herannya aku melihat orang ini, padahal aku diutus oleh Allah untuk mencabut nyawanya kapan saja, tetapi dia masih terlihat bodoh dan bergelak ketawa.

Jika takdirnya hingga esok hari terakhir Allah pinjamkan nyawa untuk bernafas di muka bumi ini, apakah kita sudah cukup bekal menghadapi dua fase berikutnya yaitu ALAM BARZAH dan ALAM AKHIRAT ?

Nah...
Berdoa dan pastikan ketika kita di jemput, kita dalam keadaan berbuat kebaikan yang terbaik agar kelak dikumpulkan bersama manusia2 terbaik di tempat terbaik disisi Allah SWT...
Aamiin yaa Robbal alamin ...

Semoga bermanfaat,
Barakallaahu fiykum wa jazzakumullah khair....

Jumat, 04 Januari 2013

:: BERHARGANYA 1 TARIKAN NAFAS



Pada saat akan meninggal, dalam keadaan kritis, Raja terkenal dari Macedonia, yaitu Alexander the Great atau Iskandar Agung... berkata pada para dokter yang merawatnya :

"Ambillah 1/2 dari kekayaanku, jika kamu dapat mengantarkan aku untuk menemui ibuku sebentar saja "

Dokter menjawab :
"Jangankan separuh, bahkan seluruh kekayaan Baginda diberikan kepada hamba semuanya, hamba pun tidak akan mampu menambah 1 tarikan nafas"

Mendengar jawaban tersebut , air mata pun berlinang di pipi sang Raja, dia berkata :
" Seandainya aku tahu begitu berharganya 1 tarikan nafas, maka aku tidak akan pernah menyia-nyiakan waktu hanya untuk mengejar kekuasaan "

Kemudian sang Raja pun berpesan, agar nanti sewaktu diarak dalam peti mati menuju peristirahatannya yang terakhir, ia minta agar kedua tangannya dikeluarkan, agar setiap rakyatnya dapat melihat bahwa Alexander Agung yang hebat dan mampu menguasai wilayah terbesar sepanjang sejarah kehidupan manusia ini ternyata harus berpulang dengan tangan kosong...

Tidak memiliki apa-apa dan tidak membawa apa-apa ...

Kelahiran & kematian adalah awal & akhir, ..
Dan yang terpenting dari hidup ini adalah bagaimana kita mengisi kehidupan yang ada diantara ke duanya, ..

Begitu berharganya sebuah tarikan nafas ..

:: KETIKA KITA BERSUJUD..

Bismillahirrahmanirrahiim,,



SUJUD adalah saat paling dekat dengan Allah...

Karena ketika bersujud, jiwa dan raga tunduk berserah dihadapanNya,dengan menyadari bahwa diri begitu lemah dan hina tiada daya dan upaya dalam hidup ini kecuali dengan kekuasaan dan pertolongan Allah ...

Menyerahkan hidup , mati , dan segala urusan kepada Nya . Dengan sujud inilah hati yang gelisah, kering, dan berat akan terasa lebih ringan , tenang, dan dekat dengan Allah.

Dan dengan bersujud ini pulalah sebagai hakikat dari penciptaan kita, bahwa kita tiadalah diciptakan oleh Allah kecuali untuk beribadah serta tunduk patuh kepadaNya ...

Hanya kepada Allah-lah SUJUD (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan SUJUD pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari. (Q.S. Ar Ra’d :15)

Sesungguhnya orang yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu mereka segera BERSUJUD seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong. (Q.S As Sajdah : 15)

Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku', yang SUJUD yang menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.
(Q.S. At Taubah : 112)

Sungguh... , tidaklah kamu BERSUJUD kepada Allah sekali SUJUD kecuali dengannya Allah menaikkanmu satu derajat, dan menghapus darimu satu kesalahan..." (HR. Muslim)

:: PUISI BAPAK HABIBIE UNTUK IBU AINUN ...


Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ...

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu ...

Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya ...

Dan kematian adalah sesuatu yang pasti ...
Dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu ...

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat ...

Adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi ...

Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang ...

Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang ...

Pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada ...

Aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau di sini ...

Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang ...
tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik ...

Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini ...

Selamat jalan ...
Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya ...

kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada ...

selamat jalan sayang ...
cahaya mataku, penyejuk jiwaku ...

selamat jalan ...
calon bidadari surgaku ...


*** Subhanallah, alangkah indah Cinta yang tumbuh karena iman, amal sholeh dan akhlak yang mulia .., akan senantiasa bersemi, tak lekang oleh sinar matahari , tak luntur oleh hujan dan tak akan putus karenanya walaupun ajal menjemput ...

:: TERNYATA USIA KITA HANYA 1,5 JAM SAJA ...



Allah subhana wa Ta'ala berfirman :

"Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu menurut perhitunganmu." (Al Qur'an, 22:47)

"Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu." (Al Qur'an, 32:5)

Dari Saad ibn Waqas telah bersabda Nabi SAW : “ Sesungguhnya aku berharap ummatku tidak lemah dalam menghadap Allah dengan diakhirkan selama setengah hari.” Kemudian orang-orang bertanya kepada Saad : “ Berapakah lamanya setengah hari tersebut ?” ia menjawab :” Lima ratus tahun” (HR Ahmad, Abu Dawud,Hakim,Abu Na’im)

Berdasarkan keterangan Al Quran dan Hadist di atas 1 hari disisi Allah SWT bernilai 1.000 tahun manusia, dan 1/2 harinya setara dengan 500 tahun.

Maka , Bila 1 hari di akhirat = 1000 tahun kita di dunia ,
24 jam akhirat = 1000 tahun.
3 jam akhirat = 125 tahun.
1,5 jam akhirat = 62,5 tahun.

Dan umur manusia itu rata-rata 60-70 tahun (bila dikaruniai panjang usia), maka hidup manusia ini hanyalah setara dengan 1,5 jam saja bila dibandingkan dengan akhirat yang kekal.

Karenanyalah, Allah Ta'ala selalu mengingatkan kita tentang masalah waktu ..

Ternyata hanya satu setengah jam saja yang akan menentukan kehidupan abadi kita kelak, hendak di Surga atau Neraka..

Cuma satu setengah jam saja cobaan hidup, maka bersabarlah. (QS. 74:7, 52:48, 39:10)

Demikian juga hanya satu setengah jam saja kita harus menahan nafsu dan mengganti dengan sunnahNya.

"Satu Setengah Jam" sebuah perjuangan yang teramat singkat dan Allah akan mengganti dengan surga Ridha Allah. (QS. 9:72, 98:8, 4:114)

Maka berjuanglah untuk mencari bekal perjalanan panjang nanti. (QS. 59:18, 42:20, 3:148, 28:77)

Allah berfirman: "Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui." (QS. 23:114)


Janganlah merugi oleh waktu .. marilah berlomba-lombalah dalam kebaikan dan takwa ..

Semua yang ada di bumi tidak akan abadi ... Yang abadi hanyalah wajah Tuhanmu yang memiliki Kebesaran & Kemuliaan. (Q.S. Ar-Rahman: 26-27)


Wallahu a'lam bishawab
Barakallahufikum ...