Tampilkan postingan dengan label MA'RIFATULLAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MA'RIFATULLAH. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 September 2013

:: ILMU PEMBERSIH HATI



Ada sebait do’a yang pernah diajarkan Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam dan disunnahkan untuk dipanjatkan kepada Allah Azza wa Jalla sebelum seseorang hendak belajar. do’a tersebut berbunyi : Allaahummanfa’nii bimaa allamtanii wa’allimnii maa yanfa’uni wa zidnii ilman maa yanfa’unii.

Dengan do’a ini seorang hamba berharap dikaruniai oleh-Nya ilmu yang bermanfaat.

Apakah hakikat ilmu yang bermanfaat itu? Secara syariat, suatu ilmu disebut bermanfaat apabila mengandung mashlahat – memiliki nilai-nilai kebaikan bagi sesama manusia ataupun alam. Akan tetapi, manfaat tersebut menjadi kecil artinya bila ternyata tidak membuat pemiliknya semakin merasakan kedekatan kepada Dzat Maha Pemberi Ilmu, Allah Azza wa Jalla. Dengan ilmunya ia mungkin meningkat derajat kemuliaannya di mata manusia, tetapi belum tentu meningkat pula di hadapan-Nya.

Oleh karena itu, dalam kacamata ma’rifat, gambaran ilmu yang bermanfaat itu sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh seorang ahli hikmah. “Ilmu yang berguna,” ungkapnya, “ialah yang meluas di dalam dada sinar cahayanya dan membuka penutup hati.” seakan memperjelas ungkapan ahli hikmah tersebut, Imam Malik bin Anas r.a. berkata,

“Yang bernama ilmu itu bukanlah kepandaian atau banyak meriwayatkan (sesuatu), melainkan hanyalah nuur yang diturunkan Allah ke dalam hati manusia. Adapun bergunanya ilmu itu adalah untuk mendekatkan manusia kepada Allah dan menjauhkannya dari kesombongan diri.”

Ilmu itu hakikatnya adalah kalimat-kalimat Allah Azza wa Jalla. Terhadap ilmunya sungguh tidak akan pernah ada satu pun makhluk di jagat raya ini yang bisa mengukur Kemahaluasan-Nya. sesuai dengan firman-Nya, “Katakanlah : Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menuliskan) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (dituliskan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (QS. Al Kahfi [18] : 109).

Adapun ilmu yang dititipkan kepada manusia mungkin tidak lebih dari setitik air di tengah samudera luas. Kendatipun demikian, barangsiapa yang dikaruniai ilmu oleh Allah, yang dengan ilmu tersebut semakin bertambah dekat dan kian takutlah ia kepada-Nya, niscaya “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al Mujadilah [58] : 11).

Sungguh janji Allah itu tidak akan pernah meleset sedikit pun.
Akan tetapi, walaupun hanya “setetes” ilmu Allah yang dititipkan kepada manusia, namun sangat banyak ragamnya. ilmu itu baik kita kaji sepanjang membuat kita semakin takut kepada Allah. Inilah ilmu yang paling berkah yang harus kita cari. sepanjang kita menuntut ilmu itu jelas (benar) niat maupun caranya, niscaya kita akan mendapatkan manfaat darinya.

Hal lain yang hendaknya kita kaji dengan seksama adalah bagaimana caranya agar kita dapat memperoleh ilmu yang sinar cahayanya dapat meluas di dalam dada serta dapat membuka penutup hati? Imam Syafii ketika masih menuntut ilmu, pernah mengeluh kepada gurunya. “Wahai, Guru. Mengapa ilmu yang sedang kukaji ini susah sekali memahaminya dan bahkan cepat lupa?” Sang guru menjawab, “Ilmu itu ibarat cahaya. Ia hanya dapat menerangi gelas yang bening dan bersih.” Artinya, ilmu itu tidak akan menerangi hati yang keruh dan banyak maksiatnya.

Karenanya, jangan heran kalau kita dapati ada orang yang rajin mendatangi majelis-majelis ta’lim dan pengajian, tetapi akhlak dan perilakunya tetap buruk. Mengapa demikian? itu dikarenakan hatinya tidak dapat terterangi oleh ilmu. Laksana air kopi yang kental dalam gelas yang kotor.

Kendati diterangi dengan cahaya sekuat apapun, sinarnya tidak akan bisa menembus dan menerangi isi gelas. Begitulah kalau kita sudah tamak dan rakus kepada dunia serta gemar pada keburukan , maka sang ilmu tidak akan pernah menerangi hati.

Padahal kalau hati kita bersih, ia ibarat gelas yang bersih diisi dengan air yang bening. Setitik cahaya pun akan mampu menerangi seisi gelas. Walhasil, bila kita menginginkan ilmu yang bisa menjadi ladang amal shalih, maka usahakanlah ketika menimbanya, hati kita selalu dalam keadaan bersih. hati yang bersih adalah hati yang terbebas dari ketamakan terhadap urusan dunia dan tidak digunakan untuk menzhalimi sesama.




Semakin hati bersih, kita akan semakin dipekakan oleh Allah untuk bisa mendapatkan ilmu yang bermanfaat. darimana pun ilmu itu datangnya. Disamping itu, kita pun akan diberi kesanggupan untuk menolak segala sesuatu yang akan membawa mudharat.

Sebaik-baik ilmu adalah yang bisa membuat hati kita bercahaya. Karenanya, kita wajib menuntut ilmu sekuat-kuatnya yang membuat hati kita menjadi bersih, sehingga ilmu-ilmu yang lain (yang telah ada dalam diri kita) menjadi bermanfaat.

Bila mendapat air yang kita timba dari sumur tampak keruh, kita akan mencari tawas (kaporit) untuk menjernihkannya. Demikian pun dalam mencari ilmu. Kita harus mencari ilmu yang bisa menjadi “tawas”-nya supaya kalau hati sudah bening, ilmu-ilmu lain yang kita kaji bisa diserap seraya membawa manfaat.

Mengapa demikian? Sebab dalam mengkaji ilmu apapun kalau kita sebagai penampungnya dalam keadaan kotor dan keruh, maka tidak bisa tidak ilmu yang didapatkan hanya akan menjadi alat pemuas nafsu belaka. Sibuk mengkaji ilmu fikih, hanya akan membuat kita ingin menang sendiri, gemar menyalahkan pendapat orang lain, sekaligus aniaya dan suka menyakiti hati sesama.


Dunia memang Allah halalkan bagi hamba-hamba Nya yang beriman. Namun janganlah berlebih-lebihan dan membuat hati terlalu cinta kepadanya. Bila pada zaman Nabi Ibrahim as , menyembah patung sebagai berhala , maka pada zaman sekarang  bila tidak berhati-hati mengekang nafsu, cinta dunia akan menjadikan tumbuhnya  berhala-berhala penghijab hati kita kepada Allah. 

Demikian juga bila mendalami ilmu ma’rifat. Sekiranya dalam keadan hati kotor , akan membuat diri kita takabur, merasa diri paling shalih, dan menganggap orang lain sesat. Oleh karena itu, tampaknya menjadi fardhu ain hukumnya untuk mengkaji ilmu kesucian hati dalam rangka ma’rifat, mengenal Allah. Datangilah majelis pengajian yang di dalamnya kita dibimbing untuk riyadhah, berlatih mengenal dan berdekat-dekat dengan Allah Azza wa Jalla.


Begitu luasnya rahmat serta kasih sayang Allah , dan jalan -jalan yang luas untuk meraih rahmat Nya , tidak menjadikan setiap golongan menjadi mengecilkan golongan lainnya.

Di sana kita selalu dibimbing untuk banyak berdzikir, mengingat Allah dan mengenal kebesaran-Nya, sehingga sadar betapa teramat kecilnya kita ini di hadapan-Nya.
Kita lahir ke dunia tidak membawa apa-apa dan bila datang saat ajal pun pastilah tidak membawa apa-apa. Mengapa harus ujub, riya, takabur, dan sum’ah. Merasa diri besar, sedangkan yang lain kecil. Merasa diri lebih pintar sedangkan yang lain bodoh. Itu semua hanya karena sepersekian dari setetes ilmu yang kita miliki? Padahal, bukankah ilmu yang kita miliki pada hakikatnya adalah titipan Allah jua, yang sama sekali tidak sulit bagi-Nya untuk mengambilnya kembali dari kita?

Subhanallaah,  Mudah-mudahan kita dimudahkan oleh-Nya untuk semakin mampu mengenali kekurangan diri dan mendapatkan ilmu yang bisa menjadi penerang dalam kegelapan guna menjadi jalan untuk dapat lebih bertaqarub kepada-Nya


. اَمِيـْنْ يَـارَبَّ الْعَـالَمِيْــ
 


 Wallahu a'lam bishawab
(KH. Abdullah Gymnastiar

:: 10 SAMPAH JIWA MENURUT IBNUL QAYYIM



“Ada sepuluh hal yang tidak bermanfaat, layaknya sampah buangan bagi seorang insan”:

(1)
علم لا يعمل به

Ilmu yang mengendap lantas mati, tidak terhidupkan dalam wujud amal yang shalih.

(2)
وعمل لا إخلاص فيه ولا اقتداء

Amal yang kosong dari ruh keikhlasan dan sunyi dari spirit mutaaba’ah kepada sunnah.

(3)
ومال لا ينفق منه فلا يستمتع به جامعه في الدنيا ولا يقدمه أمامه في الآخرة

Harta yang tidak di-infaq-kan di jalan Allaah, tidak pula mampu dinikmati oleh para penimbunnya di dunia, dan tidak juga akan dihadirkan di hadapannya kelak di akhirat.

(4)
وقلب فارغ من محبة الله والشوق إليه والأنس به

Hati yang kosong dari Mahabbatullaah (cinta pada Allaah), melompong dari rasa kerinduan dan kesukaan pada-Nya.

(5)
وبدن معطل من طاعته وخدمته

Badan yang kosong dari ketaatan dan pengkhidmatan pada-Nya subhaanahu wata’aalaa.

(6)
ومحبة لا تتقيد برضاء المحبوب وامتثال أوامره

Rasa cinta pada Allaah yang tidak terikat dengan keridhaan dan kepatuhan pada perintah-Nya.

(7)
ووقت معطل عن استدراك فارط أواغتنام به وقربة

Waktu yang kosong dari koreksi terhadap kealpaan diri, hampa dari amalan yang bermanfaat, dan sunyi dari ibadah yang bisa mendekatkan pada Ilahi.

(8)
وفكر يجول فيما لا ينفع

Pikiran yang berkelana, lalu singgah pada hal-hal yang tidak bermanfaat

(9)
وخدمة من لا تقربك خدمته إلى الله ولا تعود عليك بصلاح دنياك

Pengkhidmatan kepada mereka yang tidak bisa mendekatkan dirimu pada Allaah, dan tidak pula pengkhidmatan tersebut kembali padamu dalam wujud kemaslahatan dunia bagimu.

(10)
وخوفك ورجاؤك لمن ناصيته بيد الله وهو أسير في قبضته ولا يملك لنفسه ضرا ولا نفعا ولا موتا ولا حياة ولا نشورا.

Rasa takut dan harapmu yang engkau peruntukkan bagi selain Allaah, padahal Allaah adalah Dzat yang memegang ubun-ubun mereka yang memiliki dan menguasai mereka secara mutlak.

Sementara mereka, adalah tawanan dalam kekuasaan-Nya.
Sementara mereka, tidak mampu mendatangkan manfaat bagi diri mereka sendiri sekalipun, tidak juga mampu menolak mudharat, tidak sanggup menolak maut, kehidupan dan kebangkitan.

(Nukilan dari kitab Mausuu’atul Akhlaaq waz Zuhdi war Raqaa-iq: 1/10-11, Yaasir Abdurrahmaan, cet.-1 Mu-assasah Iqraa’, tahun 1428).

***

Semoga Allaah senatiasa mengampuni kita, memberi berkah kemampuaan dalam taat dan membersihkan sampah-sampah jiwa kita, yang menyampaikan kita pada ridha rahmat serta cinta Nya. اَمِيـْنْ يَـارَبَّ الْعَـالَمِيْــ

Jumat, 19 Juli 2013

:: HATI YANG KERAS AKAN JAUH DARI ALLAH



Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:


أَفَمَن شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَى نُورٍ مِّن رَّبِّهِ فَوَيْلٌ لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ اللَّهِ أُوْلَئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
 

“Maka celakalah bagi mereka yang keras qalbunya dari berdzikir kepada Allah. Mereka berada dalam kesesatan yang nyata.” (Az-Zumar: 22)

Tidaklah Allah memberikan hukuman yang lebih besar kepada seorang hamba selain dari kerasnya qalbu dan jauhnya dari Allah subhanahu wa ta’ala. An-Naar (neraka) adalah diciptakan untuk melunakkan qalbu yang keras. Qalbu yang paling jauh dari Allah adalah qalbu yang keras, dan jika qalbu sudah keras mata pun terasa gersang. Qalbu yang keras ditimbulkan oleh empat hal yang dilakukan melebihi kebutuhan: makan, tidur, bicara, dan pergaulan.

Sebagaimana jasmani jika dalam keadaan sakit tidak akan bermanfaat baginya makanan dan minuman, demikian pula qalbu jika terjangkiti penyakit-penyakit hawa nafsu dan keinginan-keinginan jiwa, maka tidak akan mempan padanya nasehat.

Barangsiapa hendak mensucikan qalbunya maka ia harus mengutamakan Allah dibanding keinginan dan nafsu jiwanya.

Karena qalbu yang tergantung dengan hawa nafsu akan tertutup dari Allah subhanahu wa ta’ala, sekadar tergantungnya jiwa dengan hawa nafsunya.

Banyak orang menyibukkan qalbu dengan gemerlapnya dunia. Seandainya mereka sibukkan dengan mengingat Allah subhanahu wa ta’ala dan negeri akhirat tentu qalbunya akan berkelana mengarungi makna-makna Kalamullah dan ayat-ayat-Nya yang nampak ini, dan ia pun akan menuai hikmah-hikmah yang langka dan faedah-faedah yang indah. Jika qalbu disuapi dengan berdzikir dan disirami dengan berfikir serta dibersihkan dari kerusakan, ia pasti akan melihat keajaiban dan diilhami hikmah.

Tidak setiap orang yang berhias dengan ilmu dan hikmah serta memeganginya akan masuk dalam golongannya. Kecuali jika mereka menghidupkan qalbu dan mematikan hawa nafsunya.

Adapun mereka yang membunuh qalbunya dengan menghidupkan hawa nafsunya, maka tak akan muncul hikmah dari lisannya.

Rapuhnya qalbu adalah karena lalai dan merasa aman, sedang makmurnya qalbu karena takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan dzikir. Maka jika sebuah qalbu merasa zuhud dari hidangan-hidangan dunia, dia akan duduk menghadap hidangan-hidangan akhirat. Sebaliknya jika ia ridha dengan hidangan-hidangan dunia, ia akan terlewatkan dari hidangan akhirat.

Kerinduan bertemu Allah subhanahu wa ta’ala adalah angin semilir yang menerpa qalbu, membuatnya sejuk dengan menjauhi gemerlapnya dunia. Siapapun yang menempatkan qalbunya disisi Rabb-nya, ia akan merasa tenang dan tentram. Dan siapapun yang melepaskan qalbunya di antara manusia, ia akan semakin gundah gulana.

Ingatlah! Kecintaan terhadap Allah tidaklah akan masuk ke dalam qalbu yang mencintai dunia kecuali seperti masuknya unta ke lubang jarum (sesuatu yang sangat mustahil).

Jika Allah subhanahu wa ta’ala cinta kepada seorang hamba, maka Allah subhanahu wa ta’ala akan memilih dia untuk diri-Nya sebagai tempat pemberian nikmat-nikmat-Nya, dan Ia akan memilihnya di antara hamba-hamba-Nya, sehingga hamba itu pun akan menyibukkan harapannya hanya kepada Allah. Lisannya senantiasa basah dengan berdzikir kepada-Nya, anggota badannya selalu dipakai untuk berkhidmat kepada-Nya.

Qalbu bisa sakit sebagaimana sakitnya jasmani, dan kesembuhannya adalah dengan bertaubat. Qalbu pun bisa berkarat sebagaimana cermin, dan cemerlangnya adalah dengan berdzikir. Qalbu bisa pula telanjang sebagaimana badan, dan pakaian keindahannya adalah taqwa. Qalbu pun bisa lapar dan dahaga sebagaimana badan, maka makanan dan minumannya adalah mengenal Allah subhanahu wa ta’ala, cinta, tawakkal, bertaubat dan berkhidmat untuk-Nya.

(Diterjemahkan dan diringkas dari kitab Al-Fawaid karya Ibnul Qayyim rahimahullah hal 111-112)



Wallahu a'lam bishawab
Barakallahufikum

Sabtu, 06 Juli 2013

:: MEREKA YANG DIINGINKAN KEBAIKAN (DITINGGIKAN DERAJAT AKHIRATNYA) OLEH ALLAH



بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Siapakah diantara kita yang tidak ingin diberikan kebaikan oleh Allah? Semoga kita termasuk dari mereka:

1. Dibukanya pintu amal (dikaryakan) sebelum kematian menjelang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إذا أراد الله بعبد خيرا استعمله قيل : ما يستعمله ؟ قال : يفتح له عملا صالحا بين يدي موته حتى يرضي عليه من حوله

“Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada seorang hamba, Allah akan jadikan ia beramal.” Dikatakan, “Apakah dijadikan beramal itu?” Beliau bersabda, “Allah bukakan untuknya pintu beramal shalih sebelum meninggalnya, sehingga orang-orang yang berada di sekitarnya ridla kepadanya.” (HR Ahmad dan Al Hakim dari Amru bin Al Hamq).

2. Dipercepat Hukuman/Sanksinya di Dunia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إذا أراد الله بعبده الخير عجل له العقوبة في الدنيا و إذا أراد بعبده الشر أمسك عنه بذنبه حتى يوافي به يوم القيامة

“Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada hambaNya, Allah akan segerakan sanksi untuknya di dunia. Dan apabila Allah menginginkan keburukan kepada hambaNya, Allah akan membiarkan dosanya (di dunia) sampai Allah membalasnya pada hari kiamat.” (HR At Tirmidzi dan Al Hakim dari Anas bin Malik).

Namun kita tidak diperkenankan untuk meminta kepada Allah agar dipercepat sanksi kita di dunia, karena kita belum tentu mampu menghadapinya.

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَادَ رَجُلاً مِنَ الْمُسْلِمِينَ قَدْ خَفَتَ فَصَارَ مِثْلَ الْفَرْخِ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « هَلْ كُنْتَ تَدْعُو بِشَىْءٍ أَوْ تَسْأَلُهُ إِيَّاهُ ». قَالَ نَعَمْ كُنْتُ أَقُولُ اللَّهُمَّ مَا كُنْتَ مُعَاقِبِى بِهِ فِى الآخِرَةِ فَعَجِّلْهُ لِى فِى الدُّنْيَا. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « سُبْحَانَ اللَّهِ لاَ تُطِيقُهُ – أَوْ لاَ تَسْتَطِيعُهُ – أَفَلاَ قُلْتَ اللَّهُمَّ آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ». قَالَ فَدَعَا اللَّهَ لَهُ فَشَفَاهُ.

“Dari Anas, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menjenguk seseorang dari kaum muslimin yang telah kurus bagaikan anak burung. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apakah kamu berdo’a dengan sesuatu atau kamu memintanya?” Ia berkata, “Ya, aku berdo’a, “Ya Allah siksa yang kelak Engkau berikan kepadaku di akhirat segerakanlah untukku di dunia.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Subhanallah, kamu tidak akan mampu itu. Mengapa kamu tidak berkata, “Ya Allah berikan kepada kami di dunia kebaikan dan di akhirat kebaikan dan peliharalah kami dari adzab Neraka.” Maka orang itupun berdo’a dengannya. Allah pun menyembuhkannya.” (HR Muslim).

3. Diberikan Cobaan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

من يرد الله به خيرا يصب منه

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan, Allah akan memberinya musibah.” (HR Ahmad dan Al Bukhari dari Abu Hurairah).

Cobaan pasti akan menerpa kehidupan mukmin, karena itu janji Allah:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ

“Sungguh, Kami akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.” (QS Al Baqarah: 155).

Cobaan itu untuk menggugurkan dosa dan mengangkat derajat.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ أَوْ الْمُؤْمِنَةِ فِي جَسَدِهِ وَفِي مَالِهِ وَفِي وَلَدِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ مِنْ خَطِيئَةٍ

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Senantiasa ujian itu menerpa mukmin atau mukminah pada jasadnya, harta dan anaknya sampai ia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak mempunyai dosa.” (HR Ahmad dengan sanad yang hasan).

4. Difaqihkan (difahamkan) Dalam Agama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam agama.” HR Al Bukhari dan Muslim).

Kefaqihan adalah pemahaman yang Allah berikan kepada seorang hamba. Pemahaman yang lurus terhadap Al Qur’an dan hadits berasal dari kebeningan hati dan aqidah yang shahih. Karena hati yang dipenuhi oleh hawa nafsu tidak akan dapat memahami Al Qur’an dan hadits dengan benar. Sebagaimana yang dikabarkan oleh nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kaum khawarij yang membaca Al Qur’an:

يَخْرُجُ قَوْمٌ مِنْ أُمَّتِى يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَيْسَ قِرَاءَتُكُمْ إِلَى قِرَاءَتِهِمْ بِشَىْءٍ وَلاَ صَلاَتُكُمْ إِلَى صَلاَتِهِمْ بِشَىْءٍ وَلاَ صِيَامُكُمْ إِلَى صِيَامِهِمْ بِشَىْءٍ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ يَحْسِبُونَ أَنَّهُ لَهُمْ وَهُوَ عَلَيْهِمْ

“Akan keluar suatu kaum dari umatku, mereka membaca Al Qur’an. Bacaan kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bacaan Al Qur’an mereka, shalat dan puasa kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan shalat dan puasa mereka. Mereka membaca Al Qur’an dan menyangka bahwa Al Qur’an mendukung mereka padahal Al Qur’an tidak mendukung mereka.” (HR Muslim).

Itu semua akibat kedangkalan ilmu dan mengikuti hawa nafsu, sehingga mereka tidak diberikan pemahaman yang benar terhadap Al Qur’an dan hadits. Mereka mengira bahwa ayat Al Qur’am mendukung perbuatan mereka, padahal tidak demikian. Tentu yang memahaminya adalah orang-orang yang Allah faqihkan dalam agama dan selamatkan dari hawa nafsu.

5. Diberikan Kesabaran.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
و ما أعطي أحد عطاء خيرا و أوسع من الصبر

“Tidaklah seseorang diberikan dengan sesuatu yang lebih baik dan lebih luas dari kesabaran.” (HR Al Bukhari dan Muslim).

Kesabaran dalam keimanan bagaikan kepala untuk badan. Badan tak akan hidup tanpa kepala, demikian pula iman tak akan hidup tanpa kesabaran. Untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya amat membutuhkan kesabaran. Karena Iblis dan balatentaranya tak pernah diam untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah.

وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

“Tidak ada yang diberikan (sifat-sifat yang terpuji ini) kecuali orang-orang yang sabar, dan tidak ada yang diberikannya kecuali orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS Fushilat: 35).

Semoga Allah Ta'ala senantiasa membimbing kita dan menyampaikan kita pada ampunan, rahmat , ridha serta Cinta Nya. اَمِيـْنْ يَـارَبَّ الْعَـالَمِيْــ



 



Wallahu a'lam bishawab
Oleh: Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc

Sabtu, 20 April 2013

:: JALAN PENUMBUH CINTA KEPADA ALLAH



Bismillahirrahmanirrahim ..

Ibnul Qayyim rahimahullâh menyebutkan sepuluh sebab yang akan menumbuhkan dan menambah rasa cinta seorang hamba kepada Rabb-nya.

Berikut sepuluh sebab tersebut.:


1. Membaca Al-Qur`ân dengan tadabbur dan memahami maknanya.

2. Memperbanyak ibadah nafilah (sunnah) setelah menunaikan ibadah-ibadah wajib. 


3. Memperbanyak dzikir kepada Allah dalam segala keadaan.

4. Lebih mendahulukan pelaksanaan dari apa yang dicintai oleh Allah, walaupun hal tersebut menyelisihi hawa nafsunya.

5. Membawa hati untuk mencermati nama-nama dan sifat-sifat Allah dan menelusuri taman-tamannya.

6. Menyaksikan kebaikan, kebajikan dan nikmat-nikmat Allah kepada makhluk-Nya.

7. Menundukkan diri di hadapan Allah Subhânahu wa Ta’âla.

8. Berkhalwat dan bermunajad kepada-Nya di waktu malam, terkhusus pada sepertiga malam terakhir.

9. Duduk dengan orang-orang shalih.

10. Menghindari segala sebab yang bisa memisahkan antara hatinya dengan Allah ‘Azza wa Jalla.

Tentunya sepuluh sebab di atas bersumber dan dari berbagai keterangan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Semoga Allah Ta'ala membukakan rahmatNYA bagi kita dan menjadikan kita semua sebagai orang-orang yang senantiasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya dan dicintai NYA ...
اَمِيـْنْ يَـارَبَّ الْعَـالَمِيْــ

 

Wallâhu Ta’âla A’lam.
Barakallahufikum ...

Minggu, 10 Maret 2013

:: HIKMAH KEHIDUPAN ..



Bismillahirrahmannirrahim,

• Jika melihat kehidupan dengan mata optimisme, maka akan engkau dapati keindahan di setiap sudutnya. Bahkan termasuk di dalam keburukan sekalipun (engkau tetap bisa menemukan keindahan disana)

• Jika Dia membuatmu sakit , dan karenanya engkau jadi lebih mengingat-Nya, maka sungguh berarti Dia telah menyehatkanmu. Dan bila Dia membuatmu sehat, namun karenanya engkau justru berpaling dari-Nya, maka hakekatnya Dia telah men-sakit-kanmu

• Saat tawakkal berkata: aku akan berangkat untuk bekerja, maka kesuksesanpun langsung menimpali : dan aku akan selalu bersamamu. Sedang ketika kemalasan berujar: aku akan duduk untuk bersantai, maka kemalanganpun (kegagalanpun) serta merta menyahut : dan aku selalu setia menyertaimu

• Rahasia kesuksesan dalam hidup adalah saat engkau bisa menghadapi/menyikapi ujian-ujiannya seperti cara burung bertahan di dalam pusaran badai

• Hidup akan panjang jika diisi dengan hal-hal besar, dan (sebaliknya) menjadi pendek sekali bila dipenuhi dengan masalah-masalah remeh

• Dunia ini bak si jelita. Jika engkau mengejarnya, ia justru enggan. Akan tetapi saat engkau enggan terhadapnya, ia malah (berbalik) mengejarmu

• Dunia ini: awalnya tangis (dan tawa), tengahnya lara, akhirnya fana, dan setelahnya: nikmat abadi atau adzab pedih tak henti

• Jika orang-orang baik tidak tahu tentang cara/manajemen kerja, maka Allah akan membiarkan orang-orang jahat memimpin/menguasai mereka

• Kondisi sakit adalah sebuah “sekolah” penempaan diri. Dimana jika pasien mampu memanfaatkannya denga sebaik-baiknya, niscaya akan menjadi nikmat tiada tara

• Posisikanlah dirimu dalam hidup ini sebagaimana hidup itu sendiri telah “menempatkanmu”, seraya tak henti berupaya terus meningkat dan meningkat dalam kebaikan dan takwa





• Jika ingin tahu derajatmu disisi-Nya, maka lihatlah dimana Dia menempatkanmu, dan dalam hal apa Dia memberdayakanmu

• Terbanglah menuju Allah dengan dua sayap: (sayap) kecintaan kepada-Nya dan (sayap) keyakinan akan rahmat dan janji-Nya.

• Ilmu itu bukanlah apa yang telah engkau ketahui dari yang semula tidak engkau tahu. Melainkan manfaat apa yang telah engkau ambil dan dapatkan dengan mengetahuinya?

• Akhlak baik bisa mentabiri banyak keburukan. Sedangkan moral buruk akan menutupi banyak kebaikan

• Kebenaran itu memiliki “pasukan” yang senantiasa membela dan memperjuangkannya, termasuk diantaranya kebatilan itu sendiri

• Istiqamah adalah jalan, dimana awalnya kemuliaan, tengahnya keselamatan, dan akhirnya Surga penuh kenikmatan

• Derita merupakan jalan keabadian bagi para pemilik jiwa besar, tapi sebaliknya menjadi jalan “kebinasaan” bagi yang berjiwa kerdil

• Siapa yang dicinta oleh orang-orang saleh diantara hamba-hamba Allah, akan bisa mencium aroma Surga

• Demi mengetahui bahwa, engkau tak sepenuhnya untuk-Nya, maka Dia-pun ”memaksamu” butuh kepada-Nya, agar total dalam menghadap-Nya

 



Semoga Mutiara Hikmah ini Bermanfaat buat kita semua,
( Untaian Mutiara Hikmah DR. Musthafa As-Siba’i)

Jumat, 04 Januari 2013

:: ALLAH TIDAK MENJADIKAN SESEORANG 2 HATI DALAM RONGGANYA ..





Bismillahirrahmanirrahim,

" Allah tidak menjadikan bagi seseorang dua hati dalam rongganya; ...."
(QS. Al Ahzaab 33:4)

Bagaimana satu hati akan mencintai dua hal secara bersamaan ? Bagaimana dunia dan akhirat ada bersamaan didalamnya ? Bagaimana makhluk dan Khaliq bisa berkumpul didalamnya ? Bagaimana keduanya dapat beriringan didalam satu hati?

Setiap wadah akan penuh dengan apa yang ada didalamnya. Amal-amal adalah gambaran dari 'itikad, lahiriah adalah cerminan bathin. Lahir itu gambaran pertanda bagi bathin. Dan bathin akan terlihat jelas dihadapan Rabb nya .

Hati yang mencintai Khaliq , akan lebih mengutamakan Nya dari selain Nya .. hati yang didalamnya dipenuhi dunia, maka ia tidak akan menerima adanya akhirat.
Apabila hati diperuntukkan bagi Khaliq, sedang wajahnya menghadap makhluk, maka ia dapat memandang mereka demi kemashlahatan mereka sebagai bentuk kasih sayang terhadap mereka.

 


Wallahu a'lam ....
'Fathur Rabbani' - Syaikh Abdul Qadir al Jilany.


Pengingat untuk jiwaku .. 
Rabb, karuniakan istiqomah sampai akhir hayatku , dalam puncak kerinduanku kepada MU .. aamiin.

Kamis, 15 November 2012

:: PERUMPAMAAN HATI …





Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah berkata, “Apabila badan sakit tidak bermanfaat lagi padanya makanan dan minuman. begitu juga apabila hati sakit karena syahwat, tidak bermanfaat lagi padanya nasehat-nasehat.

Barangsiapa yang menginginkan kebeningan hati, hendaklah ia mengedepankan Allah atas syahwatnya (nafsu ubud dunia).




Kemudahan dan kesenangan dunia..,akan menjauhkan diri dari pintu pintu kedekatan dengan ALLAH....,
ALLAH SWT sembunyikan pintu pintu Hidayah.., dibalik kehidupan yang Mujahadah

Hati yang terikat oleh syahwat akan ter-hijab dari Allah sesuai kadar keterikatannya dengan syahwatnya tersebut.

Hati itu ibarat bejana-bejana Allah di muka bumi, yang paling dicintai-Nya adalah yang paling lembut, paling tegar dan yang paling bening”. (Kitab Al-Fawaid)

 
 
KH. Abdullah Gymnastiar

Jumat, 19 Oktober 2012

:: AR RAQIB (YANG MAHA MENGAWASI)



Bismillahirrahmannirahim,

Allah yang bersifat Raqib adalah : DIA yang mengawasi atau yang menyaksikan atau mengamati makluk Nya dari saat ke saat.
Allah Raqib terhadap segala sesuatu . Mengawasi, menyaksikan dan mengamati segala yang dilihat dengan pandangan Nya, segala yang didengar dengan Pendengaran Nya serta segala yang wujud dengan Ilmu Nya.

Pengawasan bukan bertujuan mencari kesalahan yang diawasi, namun sebaliknya pengawasan Allah beriringan dengan kasih sayangNYA , kebaikanNYA serta penjagaan dan pemeliharaanNYA.


@@@@

Ya Allah, anugerahilah kami petunjuk sebagaimanan mereka yang telah Engkau anugerahi petunjuk.
Jadikanlah kami selalu berada di HadiratMu dan PemeliharaanMU dengan Pengawasan Mu yang tak pernah lena ...
Wahai Allah yang Maha Memelihara dan Maha Mengetahui,
Yang Maha Melihat dan Maha Mengawasi ...
Wahai Tuhan Yang Maha Penyayang dari seluruh yang Penyayang.
Lindungilah kami dengan Cahaya perlindungan Mu yang tak pernah padam ...

Wa Shalallahu ala Sayyidina Muhammad wa ala alihi wa shahbihi wa sallam

Sabtu, 13 Oktober 2012

:: AL QUDDUS (MAHA SUCI)



Bismillahirrahmannirahim,

" Dialah Allah Yang Maha Tiada Tuhan selain Dia, Raja Yang Maha Suci, Maha Sejahtera, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Memiliki Segala Keagungan , Maha Su

ci Allah dari apa yang mereka persekutukan"   (QS Al Hasyr : 23)

Maha Suci atas Nya,
yang tiada cela, tanpa cacat, lemah atau lalai ,
Miliknyalah segala Kesucian, Kemutlakan atas Kejernihan dan hakikat dari semua kebaikan..

Segala yang suci akan menuai berkah, begitu pula ketika dengan Asma Nya, Al Quddus, kita selalu berusaha mensucikan diri dan jiwa. Fitrah manusia adalah mencintai segala yang bersih dan indah.

Maha Suci Allah yang tidak terikat ruang dan waktu.
Maha Suci Allah yang tidak terbelenggu oleh batas ukuran. Kesucian Nya selalu melimpah. luas dan dalam. Siapapun dari makhluk Nya yang berharap kesucian tak akan pernah kekurangan. Siapapun makhluk Nya yang mendamba kesucian tak akan pernah kehabisan.


" Senantiasa bertasbih kepada Allah, apa yang di langit dan dan apa yang di bumi . Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana . " (QS Al Jumu'ah : 1)


Seluruh yang ada di langit bertasbih kepada Allah SWT. Seluruh yang ada di bumi mengagungkan nama Nya yang Maha Suci. Angin dan awan bertasbih. Burung dan dahan bertasbih. Air dan angin bertasbih. Gelombang dan lautan juga bertasbih. Bahkan jantung dan nafas kita , nadi dan denyut otak kita, selalu mensucikan Nama Nya. Menurut cara yang tidak kita dipahami.


Saudaraku fillah,
Bacalah Al Quddus, di saat ramai, dikala sunyi . Semoga Allah senantiasa mengingat kita di setiap waktu . Jadikan nama Al Quddus menjadi hiasan dzikir lidah dan hati kita. Insya Allah, Allah Yang Maha Suci akan mencabut pikiran yang membuat kita khawatir. Dia akan menjaga kita dari kesulitan dan penderitaan yang tanpa sadar telah kita hasilkan sendiri.




Wallahu a'lam bishawab,

Jumat, 05 Oktober 2012

:: TERBENAM DALAM KASIH ALLAH



Bismillahirrahmannirahim ..

Terpujilah Allah Yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih .. Terpujilah Dia yang menutup semua celah hidup manusia dengan Rahmat dan Kasih sayang Nya..

Bayangkanlah puluhan ribu lebah yang menyelimuti tubuh seor
ang pengumpul madu hingga tak ada bagian tubuhnya yang kelihatan lagi ..

Bayangkan seorang pencari mutiara yang menyelam ke lautan hingga seluruh tubuhnya terlingkup oleh lautan biru yang megah ..

Seperti itulah Allah subhana wa Ta'ala menyelimuti diri dan kehidupan hamba-hamba Nya dengan nikmat dan kasih sayang Nya ..

Nikmatnya sangatlah banyak seperti titik-titik kecil yang rapat, tak bercelah ,..

“ …Dia jadikan bumi terhampar.”

Bahwa dengan bumi yang terhampar, Allah mudahkan manusia berkelana di atas permukaannya dan bekerja mengais rezeki ..

“…Dia jadikan langit sebagai atap”.

Atap kubah raksasa yang dahsyat, yang luasnya sulit dibayangkan, mengandung bintang-bintang yang tak terhingga jumlahnya..


" Dan jika engkau menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghinggakannya .. ( QS Ibrahim : 34)


Tak terhingganya kasih Allah bagi manusia sejatinya bukan hanya kasih itu tak bisa dihitung oleh siapapun melainkan juga tak akan mampu dibayar dengan rasa syukur paling dalam sekalipun ...

Manusia sendiri barangkali tak akan pernah bisa membayangkan seperti apa syukur yang tak berhingga itu , apalagi mempraktekkannya dalam amal keseharian ..

Hanya karena kasih sayang Nya , Allah subhana wa Ta'ala memberi keringanan bagi hamba-hamba Nya .. bertaubat di pagi dan petang .. serta senantiasa bertakwa dengan menurut kadar kesanggupannya ..


Rasulullah sendiri bersabda :
" Ya Allah , milik MU segala pujian yang tidak pernah mencukupi, tidak tersisa dan tidak pernah terabaikan.. Wahai Allah Tuhan kami ..


" Allah lah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan menurunkan air hujan dari langit. Kemudian dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan sebagai rezeki bagimu. Dia telah menaklukkan bagimu bahtera supaya ia berlayar di samudera dengan perintah Nya. Dan Dia telah menundukkan bagimu sungai-sungai . dan Dia telah menundukkan bagimu matahari dan bulan terus menerus beredar. Dan Dia telah menaklukkan bagimu siang dan malam . Dan dia telah memberikan segala apa yang kamu mohonkan kepada Nya ..
Dan jika engkau menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghinggakannya ... (QS Ibrahim : 32-34)


Terpujilah Allah Yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih .. Terpujilah Dia yang menutup semua celah hidup manusia dengan Rahmat dan Kasih sayang Nya..

Segala puji bagi Mu , Dzat Yang Maha Tinggi ..
Segala puji bagi Mu Wahai Pemilik Segala Kebesaran dan Kemuliaan ..

Ya Rabbi , kami tak mampu memuji untukMu ,
sebagaimana Engkau memuji atas Kebesaran Mu ...

Ya Allah, sampaikanlah selawat dan salam serta berkatilah
penghulu kami, Nabi SAW yang ummi, seluruh keluarga dan para sahabat- sahabat Baginda SAW yang baik lagi mulia ..

:: KETIKA ALLAH MENCINTAI HAMBANYA



Bismillahirrahmannirahim,

Rasulullah saw bersabda:

“Allah subhana wa Ta'ala itu Maha Penyantun dan Maha Pemurah.. , Dia merasa malu pada hamba-Nya, jika hamba-Nya mengangkat kedua tangannya, memohon kepada-Nya, kemudian membiarkan kedua tangan hamba itu kosong (tidak dikabulkan).”

“Wahai saudaraku, berdirilah di hadapan Tuhan-mu seperti anak kecil di hadapan ibunya. Setiap kali ia dipukul oleh ibunya, ia malah bergerak ke arahnya dan setiap kali ia diusir ia malah mendekatinya. Keadaannya tetap seperti itu sampai sang ibu mendekapnya " ..

Jadilah kamu (dihadapan Allah) seperti anak kecil dihadapan orang tuanya yang apabila ia menginginkan sesuatu dari mereka akan tetapi mereka tidak mengabulkan keinginannya maka ia akan merengek dihadapan keduanya. Demikian pulalah sebaiknya keadaanmu dihadapan Allah, apabila kamu telah memohon sesuatu kepada-Nya dan Allah belum juga mengabulkan permohonanmu, maka bersimpuhlah dan menangislah dihadapan-Nya ...


“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang didalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilang dari kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? .” (QS. An Naml: 62)


“Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku terhadap diri-Ku.
Aku bersamanya ketika berdzikir(mengingat atau menyebut-Ku.
Jika dia berdzikir di dalam hatinya, maka Aku mengingatnya di dalam hati-Ku.
Jika dia mengingat-Ku dalam suatu jamaah, maka Aku akan mengingatnya didalam jamaah yang lebih baik dari jamaahnya(di dunia).
Jika dia mendekat pada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta.
Jika dia mendekat pada-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya selengan.
Jika dia mendekat pada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendekatinya dengan berlari.”

Nabi saw bersabda:
“Sesungguhnya Jibril diberi tugas untuk mengurus segala keperluan anak Adam.
Jika seorang hamba yang kafir berdoa, Allah SWT berfirman kepada Jibril,
“Hai Jibril tunaikanlah keperluannya, Sesungguhnya Aku tidak suka mendengar permintaannya”.
Dan jika seorang hamba yang mukmin berdoa, Allah SWT berfirman kepada Jibril,
“Hai Jibril, jangan kau tunaikan dulu keperluannya, sebab Aku senang mendengar permohonannya”.” (HR. Ibnu An Najjar dari Jabir ra)


Allah subhana wa Ta'ala pun berfirman :

" Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu .. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.’” (QS. Al Mukmin: 60)

“ Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat...
Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku), agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al Baqarah:186)

Jumat, 14 September 2012

:: BERAKHLAK DENGAN AKHLAK DARI ASMA ALLAH



Bismillahirrahmannirahim,
Secara sempurna sifat-sifat Allah terkumpul dalam keseluruhan nama-nama yang disebut al-Asma al-Husna (nama-nama baik) sebanyak 99. Kalau kita uraikan semua al-Asma Al-Husna

berarti Allah mempunyai seluruh kelayakan. Maka hayatilah Allah dengan seluruh kelayakan-NYA itu dan rasakannya di dalam hati ..


Firman Allah dalam surah al-A'raaf, ayat 180, yang bermaksud:

“ Dan Allah mempunyai nama-nama baik (yang mulia) maka bermohonlah kepada-NYA dengan menyebut nama-nama itu , dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dalam (menyebut) nama-nama Nya. ”


Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

" Berakhlaklah engkau dengan akhlak Allah, yaitu sifat yang mahmudah saja. Adapun sifat seperti kibriyaa (takabur) atau azamah (kemegahan) yang khusus bagi-NYA amatlah dilarang dan dimurkai-NYA,

sebagaimana sabda Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam :

“ Sifat kibriyaa adalah pakaian-Ku dan sifat azamah adalah selendang-Ku. Siapa yang coba merebut kedua-dua sifat tersebut daripada-Ku akan Aku lemparkan ke dalam neraka-Ku.”


Dan jika kita mengalami kesulitan untuk menghayati keseluruhan sifat Allah, maka pilih lah sifat Allah yaitu sifat Penyabar, Pemaaf, Lembut, penuh Rahmat , Pengasih dan Penyayang


“ Katakanlah (wahai Muhammad), Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri (dengan perbuatan-perbuatan maksiat), janganlah kamu berputus asa daripada rahmat Allah, karena sesungguhnya Allah mengampunkan segala dosa; sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihi.” (QS Az Zumar : 53)


Begitu sabarnya Allah memanggil para pendosa dengan panggilan yang sangat mesra : "Ya ibadi," - wahai hamba-hamba-Ku, Allah masih berkenan memanggil orang-orang yang berbuat dosa .. Salah satu nama Allah al-Shabur – Yang Paling Sabar meskipun ditentang dan dimaksiati .., Allah tetap memanggil dengan panggilan "ya ibadi" – wahai hamba-hamba-Ku.


Hadis riwayat Aisyah ra. istri Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam :

" Rasulullah saw. bersabda: Wahai Aisyah , Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut yang menyukai kelembutan. Allah akan memberikan kepada orang yang bersikap lembut sesuatu yang tidak diberikan kepada orang yang bersikap keras dan kepada yang lainnya

“ Orang-orang yang menunjukkan cinta kasih kepada sesamanya itu akan dicintai oleh DIA Yang Maha Kasih. Cintailah mereka yang di bumi, maka Allah dan penghuni yang langit pun akan mencintaimu .. ” (Riwayat Tirmizi)


Subhanallah , Maha Suci Engkau Yaa Allah ... dan segala Puji bagi Mu ...




Wallahu a'lam bishawab

Senin, 16 Juli 2012

:: INDAHNYA MENGGAPAI CINTA ALLAH ..



Bismillahirrahmannirahim,

Rasulullah s.a.w. bersabda: "Allah, Yang Maha Agung dan Mulia menjumpaiku - yakni dalam tidurku - kemudian berfirman kepadaku, "Wahai Muhammad, katakanlah : "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mencintai-Mu, mencintai siapa saja yang mencintai-Mu, serta mencintai perbuatan yang mengantarkan aku untuk mencintai-Mu."


Dalam amal ubudiyah, cinta (mahbbah) menempati derajat yang paling tinggi. Mencintai Allah dan rasul-Nya berarti melaksanakan seluruh amanat dan ajaran Al-Qur'an dan Sunnah Rasul, disertai luapan kalbu yang dipenuhi rasa cinta.


Pada mulanya, perjalanan cinta seorang hamba menapaki derajat mencintai Allah. Namun pada akhir perjalanan ruhaninya, sang hamba mendapatkan derajat wahana yang dicintaiNya. Rasulullah s.a.w. bersabda: "Allah, Yang Maha Agung dan Mulia menjumpaiku - yakni dalam tidurku - kemudian berfirman kepadaku, "Wahai Muhammad, katakanlah : Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mencintai-Mu, mencintai siapa saja yang mencintai-Mu, serta mencintai perbuatan yang mengantarkan aku untuk mencintai-Mu."


Dalam buku "Mahabbatullah" (mencintai Allah), Imum Ibnu Qayyim menuturkan tahapan-tahapan menuju wahana cinta Allah. Bahwasanya cinta senantiasa berkaitan dengan amal. Dan amal sangat tergantung pada keikhlasan kalbu, disanalah cinta Allah berlabuh. Itu karena Cinta Allah merupakan refleksi dari disiplin keimanan dan kecintaan yang terpuji, bukan kecintaan yagn tercela yang menjerumuskan kepada cinta selain Allah.


Tahapan-tahapan menuju wahana cinta kepada Allah adalah sebagai berikut:

1. Membaca al-Qur'an dengan merenung dan memahami kandungan maknanya sesuai dengan maksudnya yang benar. Itu tidaklain adalah renungan seorang hamba Allah yang hafal dan mampu menjelaskan al-Qur'an agar dipahami maksudnya sesuai dengan kehendak Allah swt. Al-Qur'an merupakan kemuliaan bagi manusia yang tidak bisa ditandingi dengan kemuliaan apapun. Ibnu Sholah mengatakan "Membaca Al-Qur'an merupakan kemuliaan, dengan kemuliaan itu Allah ingin memuliakan manusia di atas mahluk lainnya. Bahkan malaikat pun tidak pernah diberi kemuliaan semacam itu, malah mereka selalu berusaha mendengarkannya dari manusia".


2. Taqarub kepada Allah swt, melalui ibadah-ibadah sunnah setalah melakukan ibadah-ibadah fardlu. Orang yang menunaikan ibadah-ibadah fardlu dengan sempurna mereka itu adalah yang mencintai Allah. Sementara orang yang menunaikannya kemudian menambahnya dengan ibadah-ibadah sunnah, mereka itu adalah orang yang dicintai Allah. Ibadah-ibadah sunnah untuk mendekatkan diri kepada Allah, diantaranya adalah: shalat-shalat sunnah, puasa-puasa sunnah,sedekah sunnah dan amalan-amalan sunnah dalam Haji dan Umrah.


3. Melanggengkan dzikir kepada Allah dalam segala tingkah laku, melaui lisan, kalbu, amal dan perilaku. Kadar kecintaan seseorang terhadap Allah tergantung kepada kadar dzikirnya kepadaNya. Dzikir kepada Allah merupakan syiar bagi mereka yang mencintai Allah dan orang yang dicintai Allah.

Rasulullah s.a.w. pernah bersabda: "Sesungguhnya Allah Azza Wajalla berfirman :"Aku bersama hambaKu, selama ia mengingatKu dan kedua bibirnya bergerak (untuk berdzikir) kepadaKu".


4. Cinta kepada Allah melebihi cinta kepada diri sendiri. Memprioritaskan cinta kepada Allah di atas cinta kepada diri sendiri, meskipun dibayang-bayangi oleh hawa nafsu yang selalu mengajak lebih mencintai diri sendiri. Artinya ia rela mencintai Allah meskipun beresiko tidak dicintai oleh makhluk. Inilah derajat para Nabi, diatas itu derajat para Rasul dan diatasnya lagi derajat para rasulul Ulul Azmi, lalu yang paling tinggi adalah derajat Rasulullah Muhammad s.a.w. sebab beliau mampu melawan kehendak dunia seisinya demi cintanya kepada Allah.


5. Kontinuitas musyahadah (menyaksikan) dan ma'rifat (mengenal) Allah s.w.t. Penglihatan kalbunya terarah kepada nama-nama Allah dan sifat-sifatNya. Kesadaran dan penglihatan kalbunya berkelana di taman ma'rifatullah (pengenalan Allah yang paling tinggi). Barang siapa ma'rifat kepada asma-asma Allah, sifat-sifat dan af'al-af'al Allah dengan penyaksian dan kesadaran yang mendalam, niscaya akan dicintai Allah.


6. Menghayati kebaikan, kebesaran dan nikmat Allah lahir dan batin akan mengantarkan kepada cinta hakiki kepadaNya. Tidak ada pemberi nikmat dan kebaikan yang hakiki selain Allah. Oleh sebab itu, tidak ada satu pun kekasih yang hakiki bagi seorang hamba yang mampu melihat dengan mata batinnya, kecuali Allah s.w.t. Sudah menjadi sifat manusia, ia akan mencintai orang baik, lembut dan suka menolongnya dan bahkan tidak mustahil ia akan menjadikannya sebagai kekasih. Siapa yang memberi kita semua nikmat ini? Dengan menghayati kebaikan dan kebesaran Allah secara lahir dan batin, akan mengantarkan kepada rasa cinta yang mendalam kepadaNya.


7. Ketertundukan hati secara total di hadapan Allah, inilah yang disebut dengan khusyu'. Hati yang khusyu' tidak hanya dalam melakukan sholat tetapi dalam semua aspek kehidupan ini, akan mengantarkan kepada cinta Allah yang hakiki.


8. Menyendiri bersama Allah ketika Dia turun. Kapankan itu? Yaitu saat sepertiga terakhir malam. Di saat itulah Allah s.w.t. turun ke dunia dan di saat itulah saat yang paling berharga bagi seorang hamba untuk mendekatkan diri kepadaNya dengan melaksanakan sholat malam agar mendapatkan cinta Allah.


9. Bergaul dengan orang-orang yang mencintai Allah, maka iapun akan mendapatkan cinta Allah s.w.t.


10. Menjaga dan menjauhi sebab-sebab yang menghalangi komunikasi hati/qalbu kita dengan Al-Khaliq, Allah subhanahu wataala.


Ya Allah, Wahai Dzat yang Maha Agung ..
Kami memohon karunia kepada-Mu untuk mencintai-Mu, mencintai orang-orang yang mencintai-Mu, serta mencintai perbuatan yang mengantarkan kami menggapai Cinta Mu ..
Aamiin Ya Mujibasailin.. Aamiin Allahumma amin..



Wallahu a'lam bishawab
Ditulis oleh Dewan Asatidz
Disarikan oleh Muhammad Dzaki Ismail

Sabtu, 09 Juni 2012

::: TUJUH PULUH RIBU HIJAB ,,


Betapa jauh perjalanan
tujuhpuluhribu hijab ini ya Allah
betapa tebalnya mega tujuh puluh ribu hijab
menerawangi cahaya-Mu ya Allah

Betapa tak terdaya
untuk menempuh satu makam nafsu ke satu makam nafsu
selaksa tujuhpuluhribu hijab ya Allah
di tengah gurun pasir kafilah
kamilah unta-unta yang bebal dan tersesat
memikul beban dosa, mencari-Mu ya Allah

Di tengah lautan perjuangan
kamilah armada yang tewas
dikeroyok nafsu maha dahsyat maha gelora ya Allah
di manakah tersimpan kunci ajaib
untuk membuka tujuhpuluhribu peti laduni
di dasar langit-Mu ya Allah

Dimanakah taman-taman cahaya
yang bersemadi para kekasih bertasbih memuji-Mu
dalam setiap detik dalam setiap titik
dalam setiap fana dalam setiap syuhud
di sebalik kami yang igau
dalam tembok-tembok penjara dunia
sesempit tujuhpuluhribu hijab ini ya Allah

Ya Allah, betapa rindunya kami kepada-Mu
terasing siang dan malam
tanpa bicara tanpa pendengaran tanpa penglihatan
terkambus asyik di syurga kencana
lepaskan kami ya Allah
dari tujuhpuluhribu pintu gerbang
yang menutupi mata hati kami

Ya Allah, betapa jahilnya kami tidak mengenal-Mu
dalam pernafasan tujuhpuluhribu hijab
yang kami sedut yang kami hembuskan
dari setiap denyutan nadi

Ya Allah, betapa kami ini buta huruf
kami sebenarnya tak mampu mengeja
tujuhpuluhribu huruf maknawi
yang terhijab pada nama-nama-Mu

Ya Allah, betapa dekatnya Kau
lebih dekat dari urat leher kami
namun kami masih engkar mencari-Mu
di luar diri kami yang tujuhpuluhribu hijab

::: MERAYU ALLAH MELALUI TASBIH, TAHMID, DAN TAKBIR



Bismillahirrahmannirahim,

ALLAH sangat menyukai ucapan tasbih, tahmid, tahlil dan takbir yang keluar dari bibir hamba-hamba-Nya. Tasbih adalah ekspresi pengkudusan yang mengandung penafian semua kejelekan yang tidak mungkin ada pada Allah yang tidak sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya. Tahmid merupakan bentuk pujian yang sempurna kepada Allah. Rasulullah pernah bersabda:

"Sesungguhnya sebaik-baik doa adalah “Alhamdulillah”
(HR. Tirmiddzi)

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah bersabda :
Dua kalimat yang ringan dilidah, berat di timbangan, dicintai oleh Allah Yang Maha Pengasih adalah : Subhanallah wa bihamdihi subhanallah hil adzhim - Maha suci Allah dan segala puji bagi Nya, Maha suci Allah yang Maha Agung ( HR Bukhari - Muslim)

Rasulullah saw juga bersabda :
Bagiku mengucapkan : Subhanallah walhamdulillah walaa 'ilaahailallah Allahuakbar (Maha suci Allah dan segala puji bagi Nya, dan tiada Ilah yang berhak disembah melainkan Allah yang Maha Besar), lebih aku cintai daripada tempat yang matahari terbit dan tenggelam disana ( HR Muslim)


Dalam hadits yang lain keutamaan takbir, tasbih dan tahmid :

“Alhamdulillah" memenuhi Mizan, dan "Subhanallah" serta "al-hamdulillah" keduanya memenuhi apa yang ada diantara langit dan bumi.“ (HR. Muslim)


Dari Jabir ra , Rasulullah saw bersabda :
Sebaik-baik dzikir adalah : Laa ilaahailallah . Barangsiapa mengucapkan Laa ilaahailallah , maka ditanamlah baginya sebatang pohon kurma di surga (HR Turmudzi)


Dari Ibnu Mas'ud ra, Rasulullah bersabda :
Aku bertemu dengan Ibrahim pada malam aku diangkat ke langit, lalu ia berkata : Wahai Muhammad, sampaikanlah salamku pada umatmu, dan beritahukan pada mereka sesungguhnya surga itu tanahnya bagus, airnya jernih dan ia adalah tanah datar yang luas yang tanamannya adalah " Subhanallah walhamdulillah walaa 'ilaahailallah Allahuakbar (Maha suci Allah dan segala puji bagi Nya, dan tiada Ilah yang berhak disembah melainkan Allah yang Maha Besar), ( HR Turmudzi)

Subhanallah ...

Hendaknya kita senantiasa menggemuruhkan kalimat-kalimat agung itu dalam detak jantung kita, mengkristalkannya dalam relung hati kita, melantunkannya lewat bibir-bibir kita, memekarkannya dalam perilaku kita semua dan menancapkannya dalam sujud panjang kita.


Rasulullah pernah bersabda:

“Ucapan yang paling Allah sukai itu adalah empat, “Subhanallah, al-Hamdulillah, Laa Ilaaha Illa Allah, Allahu Akbar. Tidak ada bahaya darimanapun kamu mulai.” (HR. Muslim)


Sahabat fillah,
Tak ada aktivitas yang akan menenteramkan hati dan melembutkan jiwa selain senantiasa ingat dan berdzikir kepada Allah. Tak ada aktivitas yang melegakan jiwa dan menyejukkan nurani selain dzikir kepada Allah. Karena itulah Allah menyeru kepada kita agar kita senantiasa berdzikir pada-Nya.

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat) -Ku.” (Al-Baqarah : 152)


• Dzikir kepada Allah adalah syurga Allah di dunia. Dia indah dan penuh pesona, menakjubkan dan menentramkan. Di dalamnya ada bunga-bunga wangi yang bisa dihirup jiwa. Maka barang siapa yang tidak pernah menginjakkan kakinya di surga Allah di dunia dia tidak akan pernah menginjakkan kakinya di surga Allah di akhirat. Dzikir adalah penolong yang melenyapkan kelelahan dan keletihan jiwa dan kehampaan nurani. Dzikir adalah jalan pintas untuk meraih kebahagiaan dan merengkuh kemenangan. Dzikir adalah balsem yang senantiasa memberikan kehangatan ruhani dan sekaligus memberikan kesembuhan jiwa.

• Dalam dzikir jiwa menjadi terasa dekat dengan Sangat Mahakasih, merasa teduh dalam naungan cinta-Nya, hangat dalam dekapan kasih-Nya. Para ahli dzikir akan merasa getaran ilahiyah yang mengalir dalam seluruh organ tubuhnya.

• Dzikir menyingkirkan awan ketakutan menepiskan kegundahan dan menghadirkan kebahagiaan dan rasa damai. Problema hidup akan ringan terasa. Guncangan jiwa akan luluh sirna.

• Dzikir adalah penerang, dzikir adalah penenang, dzikir adalah penyadar dan senjata ampuh pemusnah kesuntukan pikiran, pelenyap tumpukan duka lara. Orang yang berdzikir kepada Allah akan senantiasa bersinar jiwanya, bercahaya tingkah lakunya.

• Ketenangan batin tersimpan dalam gema dzikir yang bertalu-talu, dalam denting tahmid yang mendayu-dayu. Dalam kalimat tauhid yang menggebu dan dalam tasbih yang bergelora menghangatkan jiwa.


• Dzikir itu makanan jiwa yang harus menjadi konsumsi rutin keseharian kita. Tanpanya jiwa kita akan melemah, semangat kita akan mengendur, cita-cita kita hanya menjadi cita pendek dan rendah. Ada kelezatan dalam dzikir yang tidak dimiliki oleh amal-amalnya lainnya. Cicipi dan rasakanlah.

• Dzikir adalah penawar racun orang berdosa, sahabat setia orang yang terputus, harta simpanan orang-orang yang bertawakkal, makanan orang-orang yang penuh yakin, hiasan orang-orang yang menyambungkan diri kepada Allah, prinsip orang-orang yang memiliki ma’rifat, hamparan orang-orang yang mendekat dan minuman segar orang-orang yang mencinta.

• Dzikir adalah energi hidup seorang muslim dan turbin yang menggerakkan jiwa mereka.


Ibnu Taimiyah pernah mengatakan kepada muridnya, Ibnul Qayyim tentang dzikir ini:

“Ini adalah makananku, jika aku tidak makan maka habislah kekuatanku.”

Hasan Al-Bashri memberikan nasehat kepada kita:

“Carilah kenikmatan itu dalam tiga perkara : Dalam salat, dalam dzikir, dalam membaca Al-Quran.”

• Dzikir akan membuka kelapangan dada kita. Dalam dzikir terdapat makna-makan sabar dan tawakkal, terkandung makna ridha dan menyerah. Hanya dengan mengingat Allah jiwa kita menjadi jernih dan pikiran kita akan menjadi bersih. Dengan dzikir kepada Allah langkah ke depan menjadi pasti.

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Ar-Ra’d: 28)


Ada waktu untuk merayu Allah di saat malam menjelang fajar akan menjelang .., di saat manusia-manusia terlelap tidur.
Saat itu ucapan cinta kepada Sang Maha Pencinta baiknya diungkapkan.. Karena cinta kita akan menarik cinta-Nya ...
dan rayuan kita akan membangkitkan cinta-Nya...




Wallahu a'lam bishawab,

Jumat, 18 Mei 2012

::: MENYEMPURNAKAN BUDI PEKERTI - MENELADANI AL HALIIM (MAHA PENYANTUN)



Kita sudah sangat faham tentang konsep bahwa orang Islam itu harus memenuhi Hablum minallah dan Hablum minannas. Perjalanan menuju Allah Ta’ala di atas jalan tol ash-Shirathal Mustaqim harus memenuhi dengan baik kualitas ibadah langsung kepada Allah dan harus memenuhi dengan baik kulitas hubungan dengan makhluk Allah Ta’ala yang lain. Kedua komponen ini yang akan mengantarkan manusia kepada kedekatan kepada Allah Ta’ala. Bukankah Islam adalah rahmatan lil ‘alamin, menyeluruh untuk seluruh ciptaan Allah?

Kebanyakan orang mengejar hablum minallah-nya tanpa memperhatikan hamblum minannas, orang yang demikian dikatagorikan sebagai orang yang fasik. Orang fasik itu adalah orang yang sudah mapan ritual ibadahnya tetapi masih ada keburukan di dalam perilaku atau budi pekertinya,. Shalatnya, zakatnya, puasanya, hajinya, sudah dijalankan dengan baik bahkan sudah mengerjakan amalan-amalan sunnahnya, namun dia belum bisa mengendalikan emosinya, mudah marah, mau menang sendiri, menganggap dirinya paling baik, berbicaranya kasar dan meninggi. Orang yang demikian masih kotor jiwanya, karena masih mengotori hatinya dengan budi pekerti yang buruk.

Perhatikanlah firman Allah Ta’ala berikut:
dan nafs (jiwa) serta penyempurnaannya (ciptaannya),
maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya,
sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu,
dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. [1]
Di ayat ini, Allah Ta’ala telah bersumpah dengan sumpah kepada anfus (jiwa-jiwa) manusia yang bercahaya bahwa Dia Ta’ala telah memberikan ilham kepada masing-masing nafs (jiwa) manusia ilham, yaitu ilham kefasikan dan ilham penyucian jiwa. Kemudian jiwa manusia diberikan hak otonomi untuk memilih, bila dia memilih jalan kefasikan, maka dia mengotori (mendzalimi) jiwanya, hal yang demikian disebut manusia yang merugi. Bila manusia memilih jalan ketakwaan, maka dia memilih jalan yang menyucikan (tidak mengotori sedikit pun) jiwanya, hal demikian disebut manusia yang beruntung atau yang memperoleh kemenangan.

Perhatikan pula sabda Nabi s.a.w. yang menerangkan untuk apakah beliau s.a.w. itu diutus sebagai Rasulullah di muka bumi, “Diutusnya aku adalah untuk menyempurnakan budi pekerti.” Jelaslah di sini tugas Rasulullah s.a.w. bukan memperbaiki budi pekerti tetapi menyempurnakan budi pekerti. Ada seseorang yang suka berderma, membantu keuangan kegiatan masjid, memberikan shadaqah kepada orang miskin, tetapi mudah tersinggung dan gampang marah-marah, maka orang itu masih belum beruntung alias masih mengotori jiwanya.

Bagaimanakah orang rajin shalat, puasa, zakat tapi masih belum menyempurnakan budi pekertinya? Orang ini masih belum suci jiwanya atau masih belum bersih dari dosa, seandainya dia meninggal dunia belum juga mampu menyempurnakan budi pekertinya, maka dipastikan dia masuk neraka Jahannam. Perhatikanlah firman Allah Ta’ala mengenai orang yang dating kepada-Nya tetapi masih membawa dosa, “Sesungguhnya barang siapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya baginya neraka Jahanam. Ia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup.” [2]
Kemudian perhatikan hadits Nabi s.a.w. melalui sabdanya, “Yang terbanyak manusia masuk surga, adalah taqwa kepada Allah dan budi pekerti yang baik…” [3]
Rasulullah s.a.w. ditanya oleh sahabat, “Wahai Rasulullah! Apakah yang terbaik diberikan kepada manusia?” Nabi s.a.w. menjawab, ”Budi pekerti yang baik...” [4]
Nabi s.a.w. bersabda, ”Yang terberat dari apa yang diletakkan dalam al-Mizan (timbangan amal), ialah budi pekerti yang baik.” [5]
Budi pekerti yang buruk di dunia akan menjadi bahan bakar api neraka yang membakar dirnya, perhatikan sabda Nabi s.a.w. ini, ”Tiada dibaguskan (disempurnakan) oleh Allah akan kejadian dan budi pekerti seseorang manusia, lalu dia itu dijadikannya menjadi makanan neraka.” [6]

Nabi s.a.w. menyuruh sahabatnya berbudi pekerti yang baik, ”Hai Abu Hurairah! Engkau harus berbudi pekerti yang baik.” Lalu Abu Hurairah r.a. bertanya, ”Bagaimana budi pekerti yang baik itu, ya Rasulullah?” Nabi s.a.w. pun menjawab, ”Engkau menyambung silaturahmi dengan orang-orang yang memutuskannya denganmu, engkau memaafkan orang yang berbuat dzalim kepadamu, dan engkau berbagi memberikan sesuatu yang baik kepada orang tidak mau memberikan kepadamu.” [7]
Nasihat Rasulullah s.a.w. yang demikian lumayan ekstrim sulit, tetapi ini adalah sebuah terapi dan pelatihan sehingga apabila berhasil, maka budi pekerti yang lain akan mudah ditata dan disempurnakan. Semoga saja kita adalah orang-orang yang mudah menerima ajaran ketakwaan.
_________________
[1] QS Asy-Syam 91:7-10
[2] QS ThaaHaa 20:74
[3] HR At-Tirmidzi & al-Hakim dari Abu Hurairah
[4] HR Ibdnu Majah
[5] HR Abu Dawud & At-turmidzi dari Abu Darda’
[6] HR At-Thabrani dari Abu Hurairah
[7] HR Al-Baihaqi & Al-Hasan dari abu Hurairah.



Gemuruh Tasbih Alam

::: MENGHADIRKAN HATI KETIKA SHALAT


Bismillahirahmannirahim,

Ibnul Qayyim – rahimahullah – menguraikan wasiat Nabi Yahya bin Zakariya – ‘alaihimassalam – yang berbunyi :

وآمركم بالصلاة، فإذا صليتم، فلا تلتفتوا فإن الله ينصب وجهه لوجه عبده في صلاته ما لم يلتفت , رواه البخاري

♥ ♥ ♥ ♥ “Dan aku memerintahkan kamu untuk shalat, jika kamu shalat maka janganlah kamu berpaling (menoleh) karena sesungguhnya Allah menghadapkan wajah-Nya kewajah hamba tersebut dalam shalat selama dia tidak berpaling.” (HR. Bukhari)

Beliau (Ibnul Qayyim) berkata: Berpaling (iltifat) yang dilarang dalam shalat ada dua macam:

• PERTAMA: Berpalingnya hati dari Allah - azza wa jalla – kepada selain-Nya.

• KEDUA: Berpalingnya pandangan mata.

Kedua-duanya dilarang dalam shalat. Allah senantiasa menghadap ke hamba-Nya selama hamba tersebut menghadap kepada-Nya, maka tatkala dia berpaling dengan hati ataupun pandangannya, maka Allah pun akan berpaling darinya. Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang iltifat (berpaling) nya seorang laki-laki dalam shalat, maka beliau bersabda:

♥ ♥ ♥ ♥ “(iltifat) merupakan pencurian yang dilakukan oleh syaithan dalam shalat seseorang.” (HR. Bukhari)

Dalam sebuah atsar disebutkan, Allah Subhanahu wata’ala berfirman (dalam hadits qudsi):

|| “(apakah kamu berpaling) kepada yang lebih baik dari-Ku?”


||||||||||||||||||||||||||||||||||||

NILAI SHALAT ORANG YANG KHUSYU’

Perumpamaan orang yang berpaling (iltifat) dalam shalatnya dengan pandangan ataupun hati sama seperti orang yang dipanggil oleh penguasa, kemudian dia berdiri di hadapan penguasa tersebut dan berbicara dengannya, ketika sedang berbicara orang tersebut menoleh (berpaling) ke kiri dan ke kanan, hatinya tidak sedang bersama penguasa tersebut sehingga dia tidak paham apa yang dibicarakan. Kira-kira tindakan apa yang akan dilakukan oleh penguasa tersebut menghadapi laki-laki ini?

Paling tidak penguasa tadi akan pergi meniggalkannya dalam keadaan marah, dan harga diri laki-laki tadi menjadi hilang di hadapan penguasa tersebut.

Tidaklah sama nilainya orang yang shalat seperti itu dengan orang yang shalat dengan hati yang hadir (khusyu’) menghadap Allah Subhanahu wata’ala, hatinya diselimuti dengan pengagungan kepada Allah ketika dia berdiri di hadapan-Nya, hatinya dipenuhi dengan rasa sungkan (BiHi: menaruh hormat; segan) dan tunduk kepada Allah, dia malu kepada Allah ketika berpaling kepada selain-Nya. Sungguh sangat jauh perbedaan diantara shalat kedua orang tersebut sebagaimana dikatakan oleh Hassan bin ‘Athiyah. [1]

Beliau (Hassan bin ‘Athiyah) mengatakan:

|| “Dua orang laki-laki bisa saja sama-sama melakukan shalat, tetapi nilai keduanya sangat jauh berbeda sebagaimana perbedaan antara langit dan bumi, ini disebabkan karena salah seorang diantara mereka shalat dengan hati yang khusu’ menghadap Allah ‘Azza wa Jalla, sementara hati yang satunya lagi lupa dan lalai. Seseorang apabila menghadap makhluk lain dan diantara mereka ada hijab (penghalang) maka itu tidaklah dinamakan menghadapnya, dan juga tidak dikatakan mendekatinya, apalagi kalau itu dilakukan pada Pencipta (Allah) ‘Azza wa Jalla. Apabila seseorang menghadap kepada Allah ‘Azza wa Jalla sementara antara dia dan Allah terdapat penghalang berupa hawa nafsu dan was-was (godaan), jiwanya sibuk dan penuh dengan hawa nafsu dan was-was tersebut, bagaimana mungkin itu dikatakan menghadap (Allah) padahal dia dipermainkan oleh godaan dan bermacam fikiran yang membawanya kesana kemari.”


||||||||||||||||||||||||||||||||||||

GELISAHNYA SYAITHAN

Seorang hamba apabila sudah berdiri untuk shalat, maka syaithan akan gelisah karena dia berdiri di tempat yang paling mulia dan paling dekat (kepada Allah) yang sangat tidak disukai syaithan. Makanya syaithan berusaha semaksimal mungkin untuk menghalanginya, dia senantiasa menggoda hamba tersebut, membuatnya berangan-angan, dan lupa. Syaithan akan berusaha mengerahkan semua kemampuan yang dimilikinya untuk menjadikan hamba tadi menganggap enteng shalat tersebut, sehingga akhirnya dia meninggalkannya.

Kalau dia (syaithan tersebut) gagal dalam usahanya, maka dia akan berusaha menjadi penghalang bagi hamba tersebut dalam shalat, menjadi penghalang dalam hatinya, dia mengingatkan hamba tersebut dalam shalat dengan berbagai macam persoalan yang terlupakan sebelum shalat.

Bisa jadi hamba tadi lupa sesuatu hal, atau lupa sesuatu yang sangat penting yang membuat dia telah putus asa, maka syaithan datang mengingatkannya ketika dia sedang shalat, sehingga hatinya menjadi sibuk, tidak lagi menghadap Allah, maka diapun (hamba tadi) berdiri di hadapan Allah tidak dengan hatinya. Dia tidak akan mendapatkan kemuliaan dan kedekatan dari Allah sebagaimana yang didapatkan oleh orang yang melakukan shalat dengan sepenuh hati. Shalat bisa menghapuskan kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan kalau dikerjakan dengan sempurna, khusyu’ dan berdiri di hadapan Allah dengan sepenuh hati.


||||||||||||||||||||||||||||||||||||

KETENTRAMANKU DICIPTAKAN DALAM SHALAT

Ketika seseorang sudah bisa menghindari godaan syaithan tadi, maka dia akan merasakan keringanan dalam dirinya, seolah-oleh dia telah meletakkan beban berat yang dipikulnya, dia akan merasakan semangat dan ketenangan sehingga dia berharap untuk tidak selesai dari shalat tersebut, karena shalat itu sudah menjadi harapannya, kenikmatan jiwanya, sorga hatinya dan tempat peristirahatannya dari kesibukan dunia. Dia akan merasakan dirinya dalam penjara dan kesempitan sehingga dia melaksanakan shalat, dia menjadi tentram dengan shalat tersebut. Orang-orang yang cinta dengan shalat akan mengatakan: mari kita shalat sehingga kita bisa merasakan ketentraman dengan shalat tersebut, sebagaimana dikatakan oleh panutan dan Nabi mereka:

يا بلال أرحنا بالصلاة

“Wahai Bilal, tentramkanlah kami dengan Shalat ”. (HR. Imam Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Bani)

Dan Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam TIDAK mengatakan: "Tentramkan kami dengan menjauhkan shalat tersebut dari kami."

Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

جُعلت قرة عيني في الصلاة

“Ketentramanku diciptakan dalam shalat.” (HR. Ahmad dan disahihkan oleh al-Bani)

Kalau ketentraman itu diciptakan di dalam shalat, bagaimana mungkin dia bisa tentram tanpa shalat tersebut? Bagaimana mungkin dia sanggup meninggalkannya? Shalat orang yang menghadirkan hatinya inilah yang akan naik (menuju Allah), shalat itulah yang punya cahaya dan bukti, sehingga diterima oleh Allah ‘azza wa jalla. Shalat itu akan bicara: Allah akan menjagamu sebagaimana kamu menjagaku.

Adapun shalat orang yang lalai, tidak melaksanakannya sebagaimana mestinya dan tidak khusyu’ di dalamnya, maka shalat itu akan dilipat sebagaimana dilipatnya kain yang sudah lusuh dan dipukulkan kepada orang tersebut, kemudian dia berkata: Allah akan menyia-nyiakanmu sebagaimana kamu menyia-nyiakanku.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radiyallahu ‘anhuma berkata:

“Tidaklah seorang mukmin menyempurnakan wudhu’nya kemudian dia melaksanakan shalat pada waktunya, dia laksanakan dengan ikhlas kepada Allah, tanpa ada kekurangan pada waktunya, rukuknya, sujudnya dan sunnah-sunnahnya melainkan dia akan mendapatkan cahanya antara barat dan timur sampai akhirnya berakhir di sisi Allah ‘azza wajalla. Dan siapa saja yang melaksanakan shalat, dia tidak menyempurnakan wudhu’nya, mengakhirkan waktunya, tidak menyempurnakan rukuk, sujud dan sunnah-sunnahnya maka diangkatkan darinya benda hitam gelap dan langsung mengatakan kepadanya: Allah akan menyia-nyiakanmu sebagaimana kamu menyia-nyiakanku … Allah akan menyia-nyiakanmu sebagaimana kamu menyia-nyiakanku ... “ (Haditsnya Lemah/Dha’if)


||||||||||||||||||||||||||||||||||||

AMALAN YANG MAKBUL

Shalat dan amalan yang maqbul (yang akan diterima Allah) adalah apabila dilakukan dengan cara yang sesuai dengan kebesaran Allah ‘Azza wajalla, kalau shalat tersebut dilakukan dengan benar dan pantas maka pasti akan diterima.

Amalan yang Maqbul (diterima di sisi Allah) ada dua macam :

• PERTAMA: Shalat dan amalan lainnya yang dilakukan seorang hamba dengan sepenuh hati kepada Allah ‘azza wajalla, ia senantiasa ingat (zikir) kepada Allah ‘azza wajalla. Maka amalan ini akan dibawa kehadapan Allah, diletakkan di depan-NYa, kemudian Allah memandang amalan tersebut, kalau Allah melihat amalan tersebut dilakukan dengan ikhlas mengharapkan ridha-Nya, timbul dari hati yang selamat (bersih), ikhlas dan cinta serta bertaqarrub kepada-Nya, maka Allah akan mencintai amalan tersebut, meridhainya dan menerimanya.

• KEDUA: Amalan yang dilakukan karena sekedar kebiasaan dan dilakukan dengan lalai, meskipun niatnya untuk ketaatan dan taqarrub kepada Allah, anggota tubuhnya melakukan gerakan-gerakan ketaatan, tetapi hatinya lalai dari mengingat Allah. Ketika amalan tersebut diangkat menghadap Allah, dia tidak diletakkan di hadapan-Nya, dan Allah tidak memperhatikannya, tapi amalan tersebut langsung di letakkan di tempat catatan amal, sehingga nanti ditampilkan pada hari kiamat. Allah akan memberikan balasan sesuai dengan bagian yang dikerjakan karena mengharapkan ridha-Nya, sementara yang dikerjakan bukan karena mengharapkan ridha-Nya akan ditolak. Itulah bentuk penerimaan-Nya terhadap amalan ini. Balasan yang akan diberikan untuk amalan seperti ini adalah berupa ciptaan-Nya seperti istana (di syurga), makanan, minuman dan bidadari.

Adapun balasan untuk yang pertama tadi maka Allah ridha dengan amalan tersebut, ridha dengan cara hamba tersebut melakukannya, ridha dengan taqarrub yang dilakukannya, Allah akan meninggikan derajat dan tempatnya, yang diberikan tanpa dihitung lagi. Jadi ada perbedaan antara amalan pertama dan kedua.


||||||||||||||||||||||||||||||||||||

LIMA TINGKATAN SHALAT

Manusia dalam melaksanakan shalat dikelompokkan menjadi lima tingkatan:

• PERTAMA: tingkatan orang-orang yang zhalim terhadap dirinya, yaitu orang-orang yang tidak menyempurnakan wudhu’nya, waktunya, batasan-batasannya dan rukun-rukunnya.

• KEDUA: orang yang menjaga waktu shalatnya, batasan-batasannya, rukun-rukunnya dan wudhu’nya, tetapi dia tidak berusaha melepaskan dirinya dari godaan, sehingga dia hanyut dalam godaan dan berbagai macam fikiran yang timbul.

• KETIGA: orang yang menjaga batasan-batasan shalat, rukun-rukunnya dan berusaha untuk melawan godaan dan pemikiran yang muncul, akhirnya dia larut dalam usaha melawan syaithan supaya tidak mencuri shalatnya, maka berarti dia berada dalam shalat dan jihad.

• KEEMPAT: orang yang melaksanakan shalat dengan menyempurnakan hak-haknya, rukun dan batasan-batasannya, hatinya larut menjaga batasan-batasan dan hak-hak shalat tersebut sehingga tidak ada yang luput, semua perhatiannya tercurah untuk mendirikan dan menyempurnakan shalat sebagaimana mestinya , berarti hatinya larut dalam shalat dan beribadah kepada Allah tabaaraka wata’ala.

• KELIMA: orang yang melaksanakan shalat seperti tingkatan ke empat tadi, ditambah lagi dia meletakkan hatinya sepenuhnya di hadapan Allah ‘azza wajalla, dia melihat kepada Allah dengan hatinya dan mengawasi-Nya, hatinya dipenuhi dengan rasa cinta dan pengagungan kepada Allah, seolah-olah dia melihat dan menyaksikan-Nya. Godaan-godaan sudah hilang darinya, sudah tidak ada lagi godaan yang jadi penghalang antara dia dengan Tuhannya. Orang yang seperti ini dibanding dengan yang lainnya jelas lebih utama sebagaimana perbedaan antara langit dan bumi, karena dia dalam shalatnya sibuk dengan Tuhannya ‘azza wajalla, dia tentram bersama-Nya.

Orang-orang di tingkat pertama akan mendapat ‘iqab, yang kedua akan dihisab, yang ketiga (shalatnya) jadi penghapus dosa-dosanya, yang ke empat mendapatkan balasan dan yang kelima menjadi orang yang akan di dekatkan kepada Allah, karena dia menjadikan ketentraman bersama Allah dalam shalatnya. Siapa saja yang tentram hatinya dengan shalat di dunia ini, maka dia akan tentram juga di akhirat karena dekat dengan Allah. Orang yang tentram hatinya bersama Allah di dunia, maka hati-hati yang lainpun akan merasa tentram karenanya, sedangkan orang yang tidak tentram hatinya bersama Allah maka jiwanya akan terpecah belah mengikuti dunia dengan penuh kerugian.

Diriwayatkan bahwa seorang hamba tatkala berdiri untuk melaksanakan shalat maka Allah ‘azza wajalla berfirman:

♥ ♥ ♥ ♥ “Angkat hijab (pembatas) antara Aku dengan hamba-Ku, namun tatkala ia berpaling maka Allah berfirman: turunkan hijab (kembali).”

Berpaling (iltifat) di sini ditafsirkan dengan berpalingnya hati orang tersebut dari Allah ‘azza wajalla kepada selain-Nya, maka ketika dia berpaling kepada selain-Nya diturunkanlah hijab antara Dia dan hamba-Nya, ketika itulah syaitan datang dengan urusan dunia, dia memperlihatkan kepada orang tersebut godaan dunia di cermin (sehingga kelihatan nyata). Jadi ketika seorang hamba menghadap Allah dengan hatinya dan dia tidak berpaling, maka syaithan tidak sanggup menghalangi antara hati tersebut dan Allah, syaithan hanya akan masuk ketika ada hijab. Ketika hamba tersebut kembali kepada Allah dan menghadirkan hatinya maka syaithan akan lari, jika dia berpaling lagi (dari Allah) maka syaithan akan datang. Demikian seterusnya antara hamba dan syaithan selama dalam shalat.

Manusia hanya akan sanggup untuk menghadirkan hatinya dalam shalat dan menyibukkan hati tersebut dalam shalat bersama dengan Tuhannya ketika dia bisa menguasai syahwat dan hawa nafsunya, kalau tidak maka hatinya akan dikuasai oleh syahwat dan dipenjara oleh nafsu, ketika itulah syaithan mendapatkan tempat untuk duduk dengan nyaman di dalamnya sehingga dengan mudah dia menggoda dengan was-was dan berbagai macam fikiran (dunia).


||||||||||||||||||||||||||||||||||||

HATI MANUSIA ADA TIGA MACAM:

• PERTAMA: Hati yang kosong dari keimanan dan kebaikan, ini adalah hati yang sudah hitam penuh dengan kegelapan, syaithan dengan tenang bisa menggodanya, karena dia telah mendapatkan tempat yang nyaman untuk rumah tempat tinggalnya, sehingga dia bisa berbuat sekehendaknya dengan sangat leluasa.

• KEDUA: Hati yang mendapat cahaya keimanan dan menyalakan lampu didalamnya, tapi masih ada bekas-bekas kegelapan syahwat dan gelombang hawa nafsu di dalamnya, maka di sini syaithan mondar-mandir tergantung situasi, di sinilah terjadi perang antara hati dan syaithan. Kondisinya berbeda antara seorang hamba dengan yang lainnya tergantung porsi kegelapan tersebut, ada orang yang waktu kemenangannya lebih banyak dibanding kekalahannya, dan sebaliknya ada juga orang yang waktu kekalahannya lebih banyak dibanding waktu kemenangannya, dan ada juga yang seimbang.

• KETIGA: HATI yang sudah dipenuhi dengan keimanan, diterangi dengan cahayanya, tirai syahwat telah menjauh dari dirinya, kegelapan sudah pergi meninggalkannya, cahaya di dalam hatinya bersinar cemerlang, sehingga ketika ada godaan syahwat yang datang maka dia (godaan tersebut) akan langsung terbakar, dia ibaratkan langit yang dijaga dengan bintang-bintang, ketika ada syaithan yang mendekat akan langsung dilemparnya hingga terbakar.

Semoga Shalawat dan Salam selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

________
[1] Ibnu Hibban menyebutkan dalam Masyahir Atba’it tabi’in bisy syam bahwa Hassan bin ‘Athiyah termasuk ulama yang paling mulia di zamannya, dari segi keterpercayaannya (ke tsiqahannya), keprofesionalannya, keutamaan dan kebaikannya. Lihat kitab Masyahir Ulama al-amshar nomor 1433. Atsar ini diriwayatkan oleh Abdullah bin al-Mubarak dalam kitab Az-Zuhdu wa ar-Raqaaiq



 

Islamhouse.com
Penyusun: Ibnul Qayyim Al-Jauziyah
Terjemah: Abu Mushlih Muhammad Thalib MZ
Editor: Eko Haryanto Abu Ziyad
________________________________________

Shared By: bicara.hidayah 2