Jumat, 19 Juli 2013

:: HAL - HAL YANG MEMBATALKAN PUASA DAN YANG TIDAK


بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

A. Hal-hal yang membatalkan puasa ada dua macam

1. Yang membatalkan puasa dan hanya wajib mengqodho-nya saja, yaitu :

a. Makan, minum dan merokok secara sengaja (dan wajib atas pelakunya bertaubat). Muntah dengan sengaja, sebagaimana sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam:

مَنْ اسْتَقَاءَ فَعَلَيْهِ القَضَاء

”Barangsiapa yang muntah dengan sengaja maka wajib atasnya qodho’.” (Shahih, HR Hakim dan selainnya).

b. Wanita haidh atau nifas, walaupun ia berada pada waktu akhir menjelang terbenamnya matahari.

2. Yang membatalkan puasa dan wajib mengqodho’ serta membayar kafarat, yaitu: Jima’ (bersetubuh) dan tidak ada selainnya menurut mayoritas ulama.

Kafarat-nya yaitu membebaskan budak, apabila tidak ada budak maka berpuasa dua bulan berturut-turut, apabila tidak mampu maka memberi makan enam puluh orang miskin.

Sebagian ulama tidak mensyaratkan harus berurutan di dalam kafarat (maksudnya boleh memilih salah satu diantara tiga)


B. Hal-Hal Yang Tidak Membatalkan Puasa

1. Makan dan minum karena lupa, keliru (maksudnya, mengira sudah waktunya buka ternyata belum) atau terpaksa. Tidak wajib mengqodho’-nya ataupun membayar kafarat, sebagaimana sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam

”Barangsiapa yang lupa sedangkan ia berpuasa, lalu ia makan dan minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya. Sesungguhnya Allah telah memberinya makan dan minum.” (Muttafaq ’alayhi).

Dan sabda beliau, ”Sesungguhnya Allah mengangkat (beban taklif) dari umatku (dengan sebab) kekeliruan, lupa dan keterpaksaan.” (Shahih, HR Thabrani).


2. Muntah tanpa disengaja, sebagaimana sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam,

”Barangsiapa yang mengalami muntah sedangkan ia dalam keadaan puasa maka tidak wajib atasnya mengqodho’.” (Shahih, HR Hakim).


3. Mencium isteri, baik untuk orang yang telah tua maupun pemuda selama tidak sampai menyebabkan terjadinya jima’.

Dari ’Aisyah Radhiyallahu Anha beliau berkata, ”Rasulullah pernah menciumi (isteri-isteri beliau) sedangkan beliau dalam keadaan berpuasa, beliau juga pernah bermesraan sedangkan beliau dalam keadaan berpuasa. Namun beliau adalah orang yang paling mampu menahan hasratnya,” (muttafaq ’alayhi).


4. Mimpi basah di siang hari walaupun keluar air mani.

5. Keluarnya air mani tanpa sengaja seperti orang yang sedang berkhayal lalu keluar (air mani).

6. Mengakhirkan mandi janabat, haidh atau nifas dari malam hari hingga terbitnya fajar. Namun yang wajib adalah menyegerakannya untuk menunaikan shalat.

7. Berkumur dan istinsyaq (menghirup air ke dalam rongga hidung) secara tidak berlebihan, sebagaimana sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam kepada Laqith bin Shabrah,
أَسْبِغْ الْوُضُوءَ وَخَلِّلْ بَيْنَ الْأَصَابِعِ وَبَالِغْ فِي الِاسْتِنْشَاقِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ صَائِمًا

”Sempurnakan wudhu’ dan sela-selailah jari jemari serta hiruplah air dengan kuat (istinsyaq) kecuali apabila engkau sedang berpuasa.” (Shahih, HR ahlus sunan).


8. Menggunakan siwak kapan saja, dan yang semisal dengan siwak adalah sikat gigi dan pasta gigi, dengan syarat selama tidak masuk ke dalam perut.

9. Mencicipi makanan dengan syarat selama tidak ada sedikitpun yang masuk ke dalam perut.

10. Bercelak dan meneteskan obat mata ke dalam mata atau telinga walaupun ia merasakan rasanya di tenggorokan.

11. Suntikan (injeksi) selain injeksi nutrisi dalam berbagai jenisnya. Karena sesungguhnya, sekiranya injeksi tersebut sampai ke lambung, namun sampainya tidak melalui jalur (pencernaan) yang lazim/biasa.

12. Menelan air ludah yang berlendir (dahak), dan segala (benda) yang tidak mungkin menghindar darinya, seperti debu, tepung atau selainnya (partikel-partikel kecil yang terhirup hingga masuk tenggorokan dan sampai perut, pent.).

13. Menggunakan obat-obatan yang tidak masuk ke dalam pencernaan seperti salep, celak mata, atau obat semprot (inhaler) bagi penderita asma.

14. Gigi putus, atau keluarnya darah dari hidung (mimisan), mulut atau tempat lainnya.

15. Mandi pada siang hari untuk menyejukkan diri dari kehausan, kepanasan atau selainnya.

16. Menggunakan wewangian di siang hari pada bulan Ramadhan, baik dengan dupa, minyak maupun parfum.

17. Apabila fajar telah terbit sedangkan gelas ada di tangannya, maka janganlah ia meletakkan-nya melainkan setelah ia menyelesaikan hajat-nya, sebagaimana sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam,
إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمْ النِّدَاءَ وَالْإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلَا يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ

”Apabila salah seorang dari kalian telah mendengar adzan dikumandangkan sedangkan gelas masih berada di tangannya, maka janganlah ia meletakkannya sampai ia menyelesaikan hajat­-nya tersebut.” (Shahih, HR Abu Dawud).

18. Berbekam, “karena Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam pernah berbekam sedangkan beliau dalam keadaan berpuasa.” (muttafaq ’alayhi).


Wallahu’alam bish shawwab.
Oleh Sheikh Muhammad Jamil Zainu

Semoga bermanfaat dan berkah Allah menyertai , amin.

Sabtu, 06 Juli 2013

:: KISAH TERHINDAR DARI SIKSA KUBUR KARENA MENJAGA WUDHU

Bismillahirrahmanirrahim,



Berita Alam Kubur malam sebagai renungan semoga kita bisa tetap suci dengan seringnya berwudhu. Juga selain menambah keindahan wajah, wudhu juga dapat menghindarkan diri dari siksa kubur nantinya. seperti halnya kisah di bawah ini.

Kisahnya. Ada seorang insan yang bernama Sulaiman bin Mihrain Al-A'masy. Beliau ini selalu menjaga kesucian dirinya dari hal-hal yang membatalkan wudhu. Ketika ia batal dari wudhunya, cepat-cepat ia mengambil air wudhu lagi.

Pakaiannya terlihat begitu sederhana saja, bahkan teramat sederhana. Ketika seorang tabi'in menghadiri majelis, penampilannya menjadi perhatian banyak orang. Dialah Sulaiman bin Mihram, seorang uama yang tak begitu memperhatikan penampilannya.

Sosok Sulaiman ini unik hingga sering kali membuat orang lain bingung, bahkan tidak sedikit pula yang meremehkannya. Pernah pada suatu ketika Sulaiman menghadiri majelis bersama Ibnu Abi Laila, semua pandangan orang tertuju kepada Sulaiman yang pakaiannya lusuh tak bernilai.

Salah seorang yang hadir di majelis itu bertanya kepada Ibnu Abi, "Wahai Ibnu Abi, kamu menghadiri majelis fikih dan membawa seorang yang seperti ini (berpakaian gembel)?" Ibnu Abi menjawab, "Inilah guru kita, Sulaiman Al A'masy."

Sulaiman sang Ahli Hadits. Setelah mendapatkan penjelasan dari Ibnu Abi Laila, seluruh peserta majelis menjadi tertunduk malu. Mereka merasa bersalah karena telah meremehkan sosok Sulaiman yang merupakan ahli hadits, yang telah menghafal kurang lebih 4 ribu hadits.

Sulaiman ini hampir tujuh tahun lamanya tidak pernah ketinggalan takbiratul ikhram rakaat pertama dalam shalat berjamaah. Juga beliau ini ada pada posisi terdepan alias shaf pertama dalam shalat berjamaah.

Begitu pula dalam hal berwudhu, hampir tak pernah Sulaiman melupakan wudhu jika telah batal wudhunya. Bahkan kalau ia tiba-tiba terbangun dari tidurnya dan tidak sempat mengambil air wudhu, beliau selalu bertayamum. (Diriwayatkan ulama Fudhail bin Iyadh).

Nikmat Kubur. Ulama kelahiran Thabaristan ini meninggal dunia pada usia 87 tahun, bulan Rabi'ul Awal tahun 148 hijriyah.

Diriwayatkan oleh Jarir. Dia berkata, Setelah kematian SUlaiman, aku pernah melihatnya dalam mimpi, lalu aku bertanya kepadanya, "Wahai Abu Muhammad, bagaimanakah keadaanmu?"

Beliau mengatakan, "Kami selamat dengan pengampunan Allah SWT dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam."

Rupanya Sulaiman Al A'masy telah mendapatkan nikmat kubur karena sejumlah amal ibadahnya semasa hidupnya. Dan salah satunya adalah beliau selalu mempertahankan diri dalam keadaan suci.

Subhanallah, Allahu Akbar ..



Wallahu a'lam bishawab
Barakallahufikum ..

:: SUBHANALLAH, KEUTAMAAN SAYYIDUL ISTIGHFAR



 
Bismillahirrahmanirrahiim,
 
SAYYIDUL ISTIGHFAR

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي, لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ, خَلَقْتَنِي, وَأَنَا عَبْدُكَ, وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اِسْتَطَعْتُ, أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ, أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ, وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي, فَاغْفِرْ لِي; فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ اَلذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ

(Allahumma Anta Robbi, Laa Ilaaha Illa Anta, Kholaqtani wa ana abduKa, wa ana ‘alaa ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu, Audzubika min syarri maa shona’tu, Abu’u laka bi ni’matiKa ‘alaiyya wa abu’u laKa bidzanbi faghfirlii fainnahu laa yaghfiru dzunuuba illa Anta )

”Ya Allah Engkau adalah Tuhanku, Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Engkau, Engkau yang menciptakanku sedang aku adalah hamba-Mu dan aku diatas ikatan janji -Mu (yaitu selalu menjalankan perjanjian-Mu untuk beriman dan ikhlas dalam menjalankan amal ketaatan kepada-Mu) dengan semampuku, aku berlindung kepadamu dari segala kejahatan yang telah aku perbuat, aku mengakui-Mu atas nikmat-Mu terhadap diriku dan aku mengakui dosaku pada-Mu, maka ampunilah aku, sesungguhnya tiada yang boleh mengampuni segala dosa kecuali Engkau”.


Keutamaan dan Kapan membacanya?

Barangsiapa mengucapkannya disiang hari dalam keadaan yakin dengannya kemudian dia mati pada hari itu sebelum petang hari, maka dia termasuk penduduk syurga dan siapa yang mengucapkannya di waktu malam hari dalam keadaan dia yakin dengannya, kemudian dia mati sebelum shubuh maka dia termasuk penduduk syurga.” (HR. Al-Bukhari – Fathul Baari 11/97)


Kandungan maknanya?

Ini adalah doa agung yang mencakup banyak makna : taubat, merendahkan diri kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala dan kembali menghadap kepada-Nya. Nabi Shalallahu ‘alahi wa Sallam menamainya sebagai Sayyidul Istighfar (penghulu istighfar), yang demikian itu karena melebihi seluruh bentuk istighfar dalam hal keutamaan. Dan lebih tinggi dalam hal kedudukan.
Diantara makna sayyid adalah orang yang melebihi kaumnya dalam hal kebaikan dan yang berkedudukan tinggi dikalangan mereka.


Keutamaan doa ini dibanding bentuk istighfar yang lain adalah :

- Nabi Shallalahu ‘alahi wasallam mengawalinya dengan pujian kepada Allah dan pengakuan bahwa dirinya adalah hamba Allah sebagai makhluk ciptaan-Nya (penetapan Tauhid Ar Rububiyyah), Dan bahwa Allah adalah Al Ma’buud (sesembahan) yang haq dan tidak ada sesembahan yang haq selainNya. Maka Dia adalah satu-satunya yang berhak diibadahi dan ini merupakan realisasi Tauhid Al Uluhiyyah.

- Pernyataannya bahwa ia senantiasa tegak diatas janji dan kokoh diatas ikatan berupa iman kepada Allah, kitab-kitab-Nya, seluruh nabi dan rasul-Nya. Menjalankan segenap ketaatan kepada Allah dan perintah-Nya. Ia akan menjalaninya sesuai kemampuan dan kesanggupannya.

- Kemudian dia berlindung kepada Allah Subhanahu Wa Ta’alaa dari seluruh kejelekan apa yang telah dia perbuat, baik sikap kurang dalam menjalani apa yang Allah wajibkan baginya yaitu mensyukuri nikmat-Nya ataupun berupa perbuatan dosa. Dalam hal ini Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menisbatkan keburukan kepada diri beliau sendiri, bukan kepada Allah Ta’alaa dan ini merupakan bentuk cara beradab kepada Allah, meskipun kita yakin bahwa segala sesuatu baik yang baik maupun yang buruk semuanya berasal dari Allah dan karena takdirNya.

- Kemudian ia mengakui akan nikmat Allah yang terus datang beruntun dan anugerah-Nya serta pemberian -Nya yang tiada pernah berhenti.

- Dan dia mengakui atas dosa-dosanya, sehingga iapun lantas memohon ampunan kepada Allah Suhhanahu wa Ta’ala dari itu semua dengan segenap pengakuannya bahwa tidak ada yang bisa mengampuni segala dosa kecuali Allah Suhhanahu wa Ta’ala.

Ini adalah paling sempurna apa yang ada pada sebuah doa. Kerana itu ia menjadi seagung-agungnya bentuk istighfar dan yang paling utama dan paling luas kandungan maknanya yang mesti akan mendatangkan ampunan bagi dosa-dosa.

Hanyalah yang mengucapkan doa ini dan menjaganya yang akan memperoleh janji yang mulia dan pahala serta ganjaran besar ini, karena ia telah membuka harinya dan menutupnya dengan penetapan Tauhidullah baik Rububiyyah-Nya dan Ululhiyyah-Nya. Dan pengakuan dirinya sebagai hamba yang siap menghamba dan persaksiannya terhadap anugerah dan nikmat Allah. Pengakuannya dan kesadarannya akan kekurangan-kekurangan dirinya dan permohonan maaf dan ampunan dari Dzat yang Maha Pengampun, diiringi dengan rasa tunduk dan rendah dihadapan-Nya untuk senantiasa patuh dan taat kepada-Nya. Ini semua merupakan cakupan makna yang utama dan sifat yang mulia yang ia buka dan tutup lembaran siangnya. Yang pantas bagi orang yang mengucapkan dan menjaganya mendapat maaf dan ampunan, terbebas dari neraka dan masuk syurga.

Wallahu a’lam bisshowab.

Semoga Allah senantiasa memberi karunia dan menyampaikan kita pada ampunan, rahmat serta ridha Cinta Nya . Aamiin.

(Lihat kitab Fiqhul Ad’iyyah wal adzkar II/17-20. As Syaikh Abdur Rozaq bin abdil Muhsin Al Badr. )

:: ALLAH MEMBERSIHKAN HAMBA-NYA DENGAN TIGA TANDA






Bismillahirrahmanirrahim ,


Tipu daya syaitan dan bisikan hawa nafsu sentiasa mempermain-mainkan kehidupan seorang insan, setiap saat kedua-duanya bersatu tenaga merancang untuk merobohkan benteng iman di hati manusia. Namun begitu tidaklah Allah Taala menyerahkan sebulat-bulatnya diri orang mukmin untuk menjadi hidangan syaitan dan hawa nafsu mereka, bahkan Allah Taala membersih jiwa orang mukmin itu setiap saat hingga mereka kembali kepada-Nya dalam keadaan sebersih-bersihnya.

APAKAH TANDA-TANDA ALLAH MENSUCIKAN DIRI SEORANG HAMBA?

1. Diturunkan musibah kepadanya lalu dia redha.
2. Dihidupkan jiwanya lalu dia bertaubat.
3. Dituntun hatinya lalu dia suka beribadat

Tiga perkara yang amat besar fungsinya untuk memastikan hamba yang beriman tetap terjaga dan terlindung dari jenayah hawa nafsu dan tipu daya syaitan. Sehingga dia bertemu Allah dalam keadaan suci, bersih lagi diredai.

•☆.•*´¨`*••♥ ۞ ⋆ ۞ ⋆ ۞ ⋆ ۞ ♥••*´¨*•.☆•

|| DITURUNKAN MUSIBAH KEPADANYA LALU DIA REDHA

Sesunggguhnya musibah akan membentuk tiga karakter manusia.

1. Jiwa yang unggul, teruji dan benar cintanya kepada Allah Taala.

Musibah amat berkait rapat dengan perasaan kejiwaan manusia,

• Apakah dia redha dan akur atas kehendak Allah kemudian percaya dengan ganjaran bagi orang yang sabar?

• Apakah dia menerima musibah itu sebagai hadiah terindah dari kekasih Yang Maha mengasihani?

• Apakah musibah itu mampu melonjakkan imannya ke tahap yang lebih tinggi sehingga dia sentiasa meneliti kekurangan diri? Kemudian bertanya: “Mengapakah Allah memilih diriku?

• Apakah dosa-dosaku yang harus disucikan dengan datangnya musibah ini, bagaimanakah aku harus memperbaiki diri dan amalku?”

Akhirnya, lahir satu keyakinan bahawa Allah akan mengganti musibah itu dengan kebaikan yang akan datang selepasnya. Sesuai dengan Firman-Nya:

☆ ☆ ☆ ☆ “Sesungguhnya bersama kesusahan itu ada kemudahan.” (Surah Al-Insyirah ayat 5)


2. JIWA YANG MEMBERONTAK.

Apabila seseorang menerima musibah dengan hati yang berprasangka buruk kepada Allah. Dia berkata:

“Tuhan telah menghinakan aku", menyerahkan aku kepada orang-orang yang jahat lalu mereka menzalimiku. Tuhan menolak doa-doaku, mencampakkan ibadatku sehingga empat puluh hari, Dia tidak menerima amal salehku. Dia menghukum, menutup pintu langit, menahan rezeki dan mengazabku dengan musibah ini. Nauzu billahimin dzalik, betapa bijaknya syaitan meniupkan penyakit putus harapan yang mematikan jiwa redha seorang hamba. Hal ini amat bertentangan dengan suruhan Allah kepada orang yang berdosa didalam surah al-Zumar ayat: 53.

☆ ☆ ☆ ☆ “Katakanlah: “Wahai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”


3. JIWA YANG MUDAH BERPALING.

Kesetiaan menjadi faktor terpenting dalam perhubungan, sebagaimana seorang hamba mesti membuktikan setianya kepada Allah dalam setiap keadaan. Susah atau senang, sibuk atau lengang, kaya atau miskin, terkenal atau terlupakan, diatas atau dibawah, disanjung atau dijatuhkan. Bagaimanapun situasi yang terjadi, hubungan hati dengan Allah Taala tetap terjaga. Tidak pernah melupakan Allah saat senang sebagaimana dia mengingati-Nya di kala susah. Tetapi Al-Quran telah merakamkan keadaan orang yang mudah berpaling ketika dilanda musibah dalam hidupnya. Sebagaimana firman-Nya:

☆ ☆ ☆ ☆ “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi. Maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (Surah al-Hajj ayat: 11)

Sudah selayaknya setiap hamba Allah memandang musibah sebagai satu tanda bahawa Allah Taala mahu membersihkan dirinya, memberi jaminan kafarah atas segala dosanya sehingga dia bertemu Allah dengan jiwa yang redha lagi diredai. Sebagaimana sabda Rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam:

☆ ☆ ☆ ☆ “Tiada seorang muslim yang menderita kelelahan, atau penyakit atau kesusahan hati bahkan gangguan berupa duri yang menyakitinya melainkan semua itu menjadi penebus dosa-dosanya.” (Hadis riwayat al-Bukhari Muslim)

•☆.•*´¨`*••♥ ۞ ⋆ ۞ ⋆ ۞ ⋆ ۞ ♥••*´¨*•.☆•

|| KEMUDIAN TANDA YANG KEDUA, IALAH: DIHIDUPKAN JIWANYA LALU DIA BERTAUBAT

Setiap kali berbuat dosa hati akan tersiksa, takut, sedih dan putus asa mengingati kejahatan diri. Disitulah rahmat bagi orang beriman yang melakukan dosa, dia sentiasa ingat untuk bertaubat, merayu dan memohon maaf kepada Allah, merintih dan menangis, sesal yang tidak terperi sakitnya, lalu dia mendekat serapat-rapatnya kepada Allah dan mengetuk pintu taubat setiap kali melakukan kesilapan.

Kemudian hatinya berbisik: “Siapakah yang berkuasa membuka relung hatiku dan membersihkannya dari karat dan noda maksiat? Siapakah yang memberi cahaya ke jiwaku dan menggetarkan perasaan dengan ilmu-Nya sehingga menitislah airmata penyesalanku? Engkaulah Tuhan Yang Maha Menerima Taubat yang telah berfirman:

☆ ☆ ☆ ☆ “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku katakanlah bahawa Aku adalah dekat.” (Surah al-Baqarah ayat: 186)

Bagaikan mati hidup semula, begitulah perumpamaan tentang jiwa orang mukmin yang kembali kepada Allah, sebagaimana perumpamaan Al-Quran:

☆ ☆ ☆ ☆ “Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia kami hidupkan dan kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya?” (Surah Al-An’am ayat: 122)

Selain menghidupkan jiwa orang mukmin, taubat juga menjadi cara dan kaedah termudah untuk diterima kembali oleh Allah Taala dalam pelukan rahmat-Nya. Namun kadang-kadang jiwa manusia bersikap angkuh, merasa diri telah sempurna dan tidak pernah terseleweng walau sesaat, memandang orang lain dengan pandangan kehinaan, seolah-olah aib dan kelemahan itu hanya milik orang sedang dirinya tiada cela.

Beristighfarlah untuk masa yang dibuang percuma tanpa mengingati Allah. Beristighfarlah untuk diri yang kurang amanah terhadap keluarga dan kerjaya. Beristighfarlah untuk membersihkan hati dari sangka buruk, riya, tamak, dengki, cemburu dan lidah yang menyengat perasaan orang lain. Beristighfarlah kerana rela menjadi sahabat syaitan angkara kejahilan diri dan ketandusan ilmu. Beristighfarlah untuk diri yang tidak merasa perlu untuk beristighfar. Lakukanlah sepanjang masa hingga bertemu Allah dalam keadaan bersih lagi diredai.

•☆.•*´¨`*••♥ ۞ ⋆ ۞ ⋆ ۞ ⋆ ۞ ♥••*´¨*•.☆•

|| YANG KETIGA, TANDA ALLAH MENSUCIKAN SEORANG HAMBA IALAH DITUNTUN HATINYA LALU DIA SUKA BERIBADAT

Sepatutnya para ahli ibadat bersyukur kepada Allah kerana mereka telah dipilih sebagai orang-orang yang dekat di sisi-NYa. Roh ibadah itu telah menjadi darah dan daging mereka, kemana saja mereka melangkah semuanya diniatkan untuk ibadah kepada Allah. Tetapi berhati-hatilah dengan tipu daya syaitan yang suka memuji diri kita kerana ibadah kita itu sehingga membuat diri lupa bahawa semua itu atas sebab pertolongan Allah Taala. Syaitan juga memujuk diri manusia supaya cepat berpuas hati dengan ibadahnya . Sehingga roh ibadat itu hilang dalam diri nya.

Ya, apabila ibadat yang dilakukan tidak ditujukan untuk mengubat diri, memperbaiki akhlak, meluruskan moral, membangkitkan kekuatan supaya cemerlang sebagai mukmin berjaya di arena dunia yang mencabar dan ibadah itu tidak mampu memaparkan gambaran hidup tentang siksa kubur dan nikmatnya, syurga dan neraka, peristiwa hari kebangkitan. Apabila ibadat hanya dianggap sekadar melunaskan hutang, membayar kewajipan, mendirikan rukun dan syaratnya saja tanpa diselami dengan penghayatan.

Bagaimanakah ibadah Rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam? Aisyah radhiallahuanha berkata,

☆ ☆ ☆ ☆ “Rasulullah bangun sembahyang di waktu malam, sehingga pecah-pecah kaki baginda. Saya bertanya: Mengapakah kamu berbuat begini Ya Rasulullah, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang kemudian? Rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang bersyukur (atas nikmat Allah tersebut).” (Hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Tergeraknya hati untuk melakukan ibadah merupakan tuntunan Allah kepada hamba-Nya semata-mata mahu mensucikan kita dan memberi ganjaran yang baik di sisi-Nya. Bukankah sembahyang menjadi pengapus dosa-dosa kecil selama tidak dilakukan dosa besar? Jummat ke Jumaat, Ramadhan ke Ramadhan merupakan proses pergiliran penghapusan dosa yang sepatutnya disyukuri. Jauh sekali melahirkan jiwa yang sombong dan suka memuji diri sendiri dengan ibadah yang masih masin lagi (tidak sedap untuk dinikmati)

Ya Allah , bimbinglah kami agar dapat senantiasa bersyukur kepadaMu dan untuk beribadah lebih baik lagi. Sampaikan kami pada rahmat serta ridha Mu. Aamiin.



Wallahu a'lam bishawab

Djuanda.com

:: HIKMAH ATAS UJIAN DARI ALLAH YANG DATANG BERTUBI-TUBI



بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Orang-orang yang sungguh-sungguh ingin kembali kepada Allâh SWT akan menghargai masalah-masalah kehidupan yang diberikan-Nya bukan lagi sebagai bencana atau musibah. Tetapi mereka memandangnya sebagai ujian-ujian yang perlu disikapi dengan sebaik-baiknya.

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. Al Mulk [67]:2)

Manakala seseorang benar-benar ingin kembali kepada Allâh, maka bertubi-tubi akan dihadapi olehnya ujian-ujian dari sisi Allâh. Karena sesungguhnya dengan ujian-ujian ini akan terlihat siapa orang-orang yang sungguh-sungguh merindukan Allâh dan siapa yang tidak.

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:"Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? (QS. Al Ankabut [29]:2)

Dan tidakkah mereka memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran? (QS. At Taubah [9]:126)

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (QS. Al Baqarah [2]:155)

Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran). (QS. Al A’raaf [7]:168)

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. (QS. Al Anbiya [21]:35)

Bahkan lebih lanjut mereka akan merasakan masalah-masalah kehidupan ini sebagai anugerah dari Allâh SWT, karena ia sadar sepenuhnya bahwa masalah-masalah tersebut merupakan cermin-cermin yang diberikan oleh-Nya untuk menunjukkan keburukan-keburukan yang tersembunyi dan tidak disadari.

Dan Allâh (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allâh Maha Mengetahui segala isi hati. (QS. Aali Imraan [3]:154)

Dengan masalah-masalah kehidupan itulah Allâh membersihkan seseorang dari dosa-dosa dan kesalahan. Dengan masalah-masalah kehidupan itu pula Allâh membentuk orang per orang untuk menjadi sesuai dengan untuk apa ia dihadirkan ke dunia. Bagaikan besi yang ditempa, karat-karat luruh dibakar api, dan dengan api itu pula besi menjadi lunak sehingga dapat dibentuk menjadi pedang, tombang dan lain sebagainya. Proses pendidikan Allâh Subhana wa Ta'ala ini berlaku sepanjang hayat masih dikandung badan. Bukanlah hanya sekali atau dua kali.

Semoga Allah Ta'ala senantiasa membimbing kita dan menyampaikan kita pada ampunan, rahmat serta ridha Nya. Aamiin.



Wallahu a'lam bishawab
Barakallahufikum

:: AYAT - AYAT ALLAH



بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Walaupun manusia hidup dalam kegelapan hati, tetapi Allâh Subhana wa Ta'ala Yang Maha Adil, selalu memanggil manusia untuk kembali kepada-Nya dengan ayat-ayat-Nya.
Ayat-ayat Allâh umumnya terbagi atas dua jenis, yaitu Ayat-ayat Qauliyah (firman-firman-Nya) dan Ayat-ayat Kauniyah (ciptaan-ciptaan-Nya), yang semua bertujuan agar manusia kembali (bertaubat) kepada Allâh.

... al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil) ... (QS. Al Baqarah [2]:185)

... dan Kami telah mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami berulang-ulang supaya mereka kembali (bertaubat). (QS. Al Ahqaf [46]:27)

Ayat-ayat Kauniyah ini melingkupi seluruh alam semesta. Bahkan segala hal dalam kehidupan kita, apakah masalah-masalah kehidupan yang sering kita bahasakan sebagai bencana atau musibah, ataupun segala bentuk kesenangan. Semuanya merupakan bagian dari ayat-ayat Kauniyah ini.
Allâh memberikan ini dengan adil kepada siapapun. Tidak memandang apakah mereka memeluk agama Islam atau tidak, apakah mereka mempercayai-Nya atau tidak. Hal ini berkali-kali Allâh hadapkan kepada kita, namun karena terlampau mencintai kehidupan duniawi sehingga tetap saja kita berpaling dari ayat-ayat itu.

Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika Allâh mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah ilah selain Allâh yang kuasa mengembalikannya kepadamu" Perhatikanlah, bagaimana Kami berkali-kali memperlihatkan tanda-tanda kebesaran (Kami), kemudian mereka tetap berpaling (juga). (QS. Al An’aam [6]:46)

Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allâh) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling daripadanya. (QS. Yusuf [12]:105)

Dengan ayat-ayat Allâh itu, ada orang yang sadar, kemudian ingin kembali (taubat) kepada Allâh. Namun kebanyakan manusia mengabaikannya. orang-orang yang tidak mau bertaubat inilah orang-orang yang zalim yang sesat, dan lambat laun masuk ke dalam golongan yang dimurkai Allâh SWT.


PETUNJUK LANGSUNG KE HATI

Apabila seseorang dianugerahkan oleh Allâh SWT cahaya iman ke hatinya, maka hatinya akan dapat menerima petunjuk langsung dari Allâh SWT. Petunjuk ini berlaku individual, langsung ke hatinya. Untuk menuntun seorang manusia kepada jalan yang lurus

… Dan barang siapa yang beriman kepada Allâh, niscaya Dia akan memberi petunjuk langsung kepada hatinya. (QS. At Taghaabun [64]:11).

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh, mereka diberi petunjuk oleh Rabb mereka karena keimanannya, … (QS. Yunus [10]:9).

Dari Ummu Salamah r.ha, Rasulullah saw bersabda: “Apabila dikehendaki oleh Allâh kebajikan pada seorang hamba, niscaya dijadikan-Nya orang itu memperoleh pelajaran dari hatinya.” (HR. Abu Manshur Ad-Dailamy)


Semoga Allah semakin membukakan mata hati kita , menjauhkan kita dari segala sebab keburukan iman, dan memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hamba Nya yang beruntung. Aamiin.


Wallahu a'lam bishawab
Barakallahufikum ..

:: MEREKA YANG DIINGINKAN KEBAIKAN (DITINGGIKAN DERAJAT AKHIRATNYA) OLEH ALLAH



بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Siapakah diantara kita yang tidak ingin diberikan kebaikan oleh Allah? Semoga kita termasuk dari mereka:

1. Dibukanya pintu amal (dikaryakan) sebelum kematian menjelang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إذا أراد الله بعبد خيرا استعمله قيل : ما يستعمله ؟ قال : يفتح له عملا صالحا بين يدي موته حتى يرضي عليه من حوله

“Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada seorang hamba, Allah akan jadikan ia beramal.” Dikatakan, “Apakah dijadikan beramal itu?” Beliau bersabda, “Allah bukakan untuknya pintu beramal shalih sebelum meninggalnya, sehingga orang-orang yang berada di sekitarnya ridla kepadanya.” (HR Ahmad dan Al Hakim dari Amru bin Al Hamq).

2. Dipercepat Hukuman/Sanksinya di Dunia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إذا أراد الله بعبده الخير عجل له العقوبة في الدنيا و إذا أراد بعبده الشر أمسك عنه بذنبه حتى يوافي به يوم القيامة

“Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada hambaNya, Allah akan segerakan sanksi untuknya di dunia. Dan apabila Allah menginginkan keburukan kepada hambaNya, Allah akan membiarkan dosanya (di dunia) sampai Allah membalasnya pada hari kiamat.” (HR At Tirmidzi dan Al Hakim dari Anas bin Malik).

Namun kita tidak diperkenankan untuk meminta kepada Allah agar dipercepat sanksi kita di dunia, karena kita belum tentu mampu menghadapinya.

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَادَ رَجُلاً مِنَ الْمُسْلِمِينَ قَدْ خَفَتَ فَصَارَ مِثْلَ الْفَرْخِ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « هَلْ كُنْتَ تَدْعُو بِشَىْءٍ أَوْ تَسْأَلُهُ إِيَّاهُ ». قَالَ نَعَمْ كُنْتُ أَقُولُ اللَّهُمَّ مَا كُنْتَ مُعَاقِبِى بِهِ فِى الآخِرَةِ فَعَجِّلْهُ لِى فِى الدُّنْيَا. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « سُبْحَانَ اللَّهِ لاَ تُطِيقُهُ – أَوْ لاَ تَسْتَطِيعُهُ – أَفَلاَ قُلْتَ اللَّهُمَّ آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ». قَالَ فَدَعَا اللَّهَ لَهُ فَشَفَاهُ.

“Dari Anas, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menjenguk seseorang dari kaum muslimin yang telah kurus bagaikan anak burung. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apakah kamu berdo’a dengan sesuatu atau kamu memintanya?” Ia berkata, “Ya, aku berdo’a, “Ya Allah siksa yang kelak Engkau berikan kepadaku di akhirat segerakanlah untukku di dunia.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Subhanallah, kamu tidak akan mampu itu. Mengapa kamu tidak berkata, “Ya Allah berikan kepada kami di dunia kebaikan dan di akhirat kebaikan dan peliharalah kami dari adzab Neraka.” Maka orang itupun berdo’a dengannya. Allah pun menyembuhkannya.” (HR Muslim).

3. Diberikan Cobaan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

من يرد الله به خيرا يصب منه

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan, Allah akan memberinya musibah.” (HR Ahmad dan Al Bukhari dari Abu Hurairah).

Cobaan pasti akan menerpa kehidupan mukmin, karena itu janji Allah:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ

“Sungguh, Kami akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.” (QS Al Baqarah: 155).

Cobaan itu untuk menggugurkan dosa dan mengangkat derajat.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ أَوْ الْمُؤْمِنَةِ فِي جَسَدِهِ وَفِي مَالِهِ وَفِي وَلَدِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ مِنْ خَطِيئَةٍ

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Senantiasa ujian itu menerpa mukmin atau mukminah pada jasadnya, harta dan anaknya sampai ia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak mempunyai dosa.” (HR Ahmad dengan sanad yang hasan).

4. Difaqihkan (difahamkan) Dalam Agama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam agama.” HR Al Bukhari dan Muslim).

Kefaqihan adalah pemahaman yang Allah berikan kepada seorang hamba. Pemahaman yang lurus terhadap Al Qur’an dan hadits berasal dari kebeningan hati dan aqidah yang shahih. Karena hati yang dipenuhi oleh hawa nafsu tidak akan dapat memahami Al Qur’an dan hadits dengan benar. Sebagaimana yang dikabarkan oleh nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kaum khawarij yang membaca Al Qur’an:

يَخْرُجُ قَوْمٌ مِنْ أُمَّتِى يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَيْسَ قِرَاءَتُكُمْ إِلَى قِرَاءَتِهِمْ بِشَىْءٍ وَلاَ صَلاَتُكُمْ إِلَى صَلاَتِهِمْ بِشَىْءٍ وَلاَ صِيَامُكُمْ إِلَى صِيَامِهِمْ بِشَىْءٍ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ يَحْسِبُونَ أَنَّهُ لَهُمْ وَهُوَ عَلَيْهِمْ

“Akan keluar suatu kaum dari umatku, mereka membaca Al Qur’an. Bacaan kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bacaan Al Qur’an mereka, shalat dan puasa kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan shalat dan puasa mereka. Mereka membaca Al Qur’an dan menyangka bahwa Al Qur’an mendukung mereka padahal Al Qur’an tidak mendukung mereka.” (HR Muslim).

Itu semua akibat kedangkalan ilmu dan mengikuti hawa nafsu, sehingga mereka tidak diberikan pemahaman yang benar terhadap Al Qur’an dan hadits. Mereka mengira bahwa ayat Al Qur’am mendukung perbuatan mereka, padahal tidak demikian. Tentu yang memahaminya adalah orang-orang yang Allah faqihkan dalam agama dan selamatkan dari hawa nafsu.

5. Diberikan Kesabaran.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
و ما أعطي أحد عطاء خيرا و أوسع من الصبر

“Tidaklah seseorang diberikan dengan sesuatu yang lebih baik dan lebih luas dari kesabaran.” (HR Al Bukhari dan Muslim).

Kesabaran dalam keimanan bagaikan kepala untuk badan. Badan tak akan hidup tanpa kepala, demikian pula iman tak akan hidup tanpa kesabaran. Untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya amat membutuhkan kesabaran. Karena Iblis dan balatentaranya tak pernah diam untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah.

وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

“Tidak ada yang diberikan (sifat-sifat yang terpuji ini) kecuali orang-orang yang sabar, dan tidak ada yang diberikannya kecuali orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS Fushilat: 35).

Semoga Allah Ta'ala senantiasa membimbing kita dan menyampaikan kita pada ampunan, rahmat , ridha serta Cinta Nya. اَمِيـْنْ يَـارَبَّ الْعَـالَمِيْــ



 



Wallahu a'lam bishawab
Oleh: Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc