Minggu, 19 Juni 2011
::: BUNDA :::
Bunda...
Engkau adalah Sumber kasih sayang
dan mata air rahmat
Engkau Bayangan yang selalu memberikan keteduhan
Serta melahirkan sosok yang dicintai
Yang selalu berikan cinta tanpa pamrih
Kapanpun datang rasa gelisah
Engkau mencoba membuatku bahagia
Kau seperti lentera penerang dalam kegelapan
Kau mempunyai akal yang menyegarkan
Ketika diriku berada dalam kesedihan
Membuatku lupa akan segala penderitaan
Kau hapus semua duka derita
Kau sembuhkan semua nyeri luka
Engkau adalah Oase tempat beristirahat
Tempat menemukan air yang dingin dan jernih
Yang akan menyirnakan rasa gelisah dan cemas
Engkau adalah sosok kekasih
Dan tempat perlindungan
Engkau juga yang mampu mengobati hatiku
Ketika diriku berada dalam kesedihan
Engkau mengulurkan tanganmu,
Menyiramiku dengan hiburan
Sebagai naungan tempat berlindung
Engkaulah sang Cinta sumber kehidupan ini
Laksana matahari yang selalu menerangi
Dan menghangatkan bumi tanpa pamrih
Engkau selalu membuatku tersenyum
Yang bersumber dari cinta dan kasihmu
Engkau ibarat tanah yang subur
Yang akan melahirkan para ksatria
Ibarat bunga yang tumbuh diladang Islam
Disirami dengan air wahyu
Dan diberi wangi-wangian sunnah yang penuh berkah,
Maka tersebarlah semerbak wanginya
Hingga meliputi seluruh alam
"Ya Tuhanku Bangunkan untuk bundaku sebuah rumah disisi-Mu di surga”
Engkau bagaikan embun
Yang tercipta dari sentuhan lembut-Nya.
Penuntun dalam gelap seakan tak berujung
Mempertaruhkan nyawa demi sebuah kehidupan
Yang terlahir dari rahimmu...
Ibunda...
Selimut kasih ini belum mampu
Menghangatkan dinginnya kerinduan
untuk membahagiakanmu,
Ibunda...
Seribu satu teori kebijakan belum pernah mampu Membuat kami menyadari bahwa engkau ada.
Kami terlalu sibuk untuk menjadi anak-anak berbakti
Meskipun yg engkau tuntut hanya
Agar kami tidak celaka.,………………
Ibunda engkau adalah
Sesosok raga dengan segala kelembutan dan kekerasan hati yang di milikinya..
Ada air mata tercipta di persimpangan asa
Saat aku terhempas dalam ketidak pastian impian
Wahai ibunda....
Ku ingin memetik satu bintang ranum disana
Akan ku persembahkan padamu,
Namun apa daya jasamu tak mampu ku jangkau
Kau adalah sumber segala Keberkahan yang ada di dunia
Ada resah hadir di hatimu ketika melihatku hampir sekarat dalam kesendirian.
Namun Dalam dekap hangat kasihmu.Aku tetap akan mampu bertahan di kelamnya dunia.
Ya Allah...
"Ya Tuhanku Bangunkan untuk Bundaku sebuah rumah disisi-Mu di surga"
Bidadari yang diciptakan oleh Tuhan pada seluruh makhlukNya
(by : Kelelawar Hitam (Alm), Helena Lucya , GinaSheilla Pujangga , Chintya Martha Helena dan Bulan Cahaya )
With love...,
::: SAAT KU BERWUDHU :::
Saat kubersihkan MULUTKU, seharusnya KUSADAR bahwa kubersihkan dan kujaga MULUTKU dari OMONGAN yang memfitnah, menggunjing, membuka aib orang lain, mengumpat dan memanggil seseorang dengan perkataan buruk.
Saat kucuci LUBANG HIDUNGKU, seharusnya KUSADAR bahwa kubersihkan dan kujaga LUBANG HIDUNGKU dari setiap NAFAS yg melupakan NIKMAT ; SYUKUR akan kehidupanku kepada Allah SWT.
Saat kubasuh MUKAKU, seharusnya KUSADAR bahwa kubersihkan dan kujaga MATAKU dari PANDANGAN yang MAKSIAT dan NAFSU, dan kubersihkan WAJAHKU dari SENTUHAN yang bukan muhrimku.
Saat kubasuh TANGANKU, seharusnya KUSADAR bahwa kubersihkan dan kujaga TANGANKU dari perbuatan MENGAMBIL dan MEMEGANG yang BUKAN hak ku, menyalahkan orang lain, dan MEMUKUL seseorang dg dzalim.
Saat kubasuh KEPALAKU, seharusnya KUSADAR bahwa kubersihkan dan kujaga OTAKKU dari PIKIRAN KOTOR dan MAKSIAT, ANGAN-ANGAN kosong, PRASANGKA BURUK terhadap manusia dan Allah,
Saat kubasuh TELINGAKU, seharusnya KUSADAR bahwa kubersihkan dan kujaga TELINGAKU dari PENDENGARAN OMONGAN BURUK dan TIDAK BERMANFAAT, dan SUARA yang MENGAJAK pada KESESATAN.
Saat kubasih KAKIKU, seharusnya KUSADAR bahwa kubersihkan dan kujaga KAKIKU dari LANGKAH-LANGKAH yang MENUJU ke tempat-tempat MAKSIAT, MENGINJAK dan MENENDANG seseorang dengan DZALIM.
Berdoalah disetiap sentuhan WUDHU yang dilakukan, agar Allah senantiasa membersihkan dosa-dosa perbuatan fisik kita, dan selalau menjaga kesucian wudhu kita.
“Ya Allah jadikanlah aku termasuk orang-orang yg bertaubat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang bersuci”.
Semoga aku dapat "BERWUDHU" dengan sebenar-benarnya, Amin. Wallahu'alam
Saat kucuci LUBANG HIDUNGKU, seharusnya KUSADAR bahwa kubersihkan dan kujaga LUBANG HIDUNGKU dari setiap NAFAS yg melupakan NIKMAT ; SYUKUR akan kehidupanku kepada Allah SWT.
Saat kubasuh MUKAKU, seharusnya KUSADAR bahwa kubersihkan dan kujaga MATAKU dari PANDANGAN yang MAKSIAT dan NAFSU, dan kubersihkan WAJAHKU dari SENTUHAN yang bukan muhrimku.
Saat kubasuh TANGANKU, seharusnya KUSADAR bahwa kubersihkan dan kujaga TANGANKU dari perbuatan MENGAMBIL dan MEMEGANG yang BUKAN hak ku, menyalahkan orang lain, dan MEMUKUL seseorang dg dzalim.
Saat kubasuh KEPALAKU, seharusnya KUSADAR bahwa kubersihkan dan kujaga OTAKKU dari PIKIRAN KOTOR dan MAKSIAT, ANGAN-ANGAN kosong, PRASANGKA BURUK terhadap manusia dan Allah,
Saat kubasuh TELINGAKU, seharusnya KUSADAR bahwa kubersihkan dan kujaga TELINGAKU dari PENDENGARAN OMONGAN BURUK dan TIDAK BERMANFAAT, dan SUARA yang MENGAJAK pada KESESATAN.
Saat kubasih KAKIKU, seharusnya KUSADAR bahwa kubersihkan dan kujaga KAKIKU dari LANGKAH-LANGKAH yang MENUJU ke tempat-tempat MAKSIAT, MENGINJAK dan MENENDANG seseorang dengan DZALIM.
Berdoalah disetiap sentuhan WUDHU yang dilakukan, agar Allah senantiasa membersihkan dosa-dosa perbuatan fisik kita, dan selalau menjaga kesucian wudhu kita.
“Ya Allah jadikanlah aku termasuk orang-orang yg bertaubat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang bersuci”.
Semoga aku dapat "BERWUDHU" dengan sebenar-benarnya, Amin. Wallahu'alam
WASIAT TERAKHIR IMAM AL-GHAZALI
Imam Ghazali terbangun pada dini hari dan sebagaimana biasanya melakukan shalat dan kemudian beliau bertanya pada adiknya, “Hari apakah sekarang ini?”
Adiknya pun menjawab, “Hari senin.”
Beliau kemudian memintanya untuk mengambilkan sajadah putihnya, lalu beliau menciumnya, Menggelarnya dan kemudian berbaring diatasnya sambil berkata lirih, “Ya Allah, hamba mematuhi perintahMu,”
dan beliau pun menghembuskan nafas terakhirnya.Di bawah bantalnya mereka menemukan bait-bait berikut, ditulis oleh Al-Ghazali ra., barangkali pada malam sebelumnya.
“Katakan pada para sahabatku, ketika mereka melihatku, mati Menangis untukku dan berduka bagiku
Janganlah mengira bahwa jasad yang kau lihat ini adalah aku
Dengan nama Allah, kukatakan padamu, ini bukanlah aku,
Aku adalah jiwa, sedangkan ini hanyalah seonggok daging
Ini hanyalah rumah dan pakaian ku sementara waktu.
Aku adalah harta karun, jimat yang tersembunyi,
Dibentuk oleh debu ,yang menjadi singgasanaku,
Aku adalah mutiara, yang telah meninggalkan rumahnya,
Aku adalah burung, dan badan ini hanyalah sangkar ku
Dan kini aku lanjut terbang dan badan ini kutinggal sbg kenangan
Puji Tuhan, yang telah membebaskan aku
Dan menyiapkan aku tempat di surga tertinggi,
Hingga hari ini , aku sebelumnya mati, meskipun hidup diantara mu.
Kini aku hidup dalam kebenaran, dan pakaian kubur ku telah ditanggalkan.
Kini aku berbicara dengan para malaikat diatas,
Tanpa hijab, aku bertemu muka dengan Tuhanku.
Aku melihat Lauh Mahfuz, dan didalamnya ku membaca
Apa yang telah, sedang dan akan terjadi.
Biarlah rumahku runtuh, baringkan sangkarku di tanah,
Buanglah sang jimat, itu hanyalah sebuah kenang2an, tidak lebih
Sampingkan jubahku, itu hanyalah baju luar ku,
Letakkan semua itu dalam kubur, biarkanlah terlupakan
Aku telah melanjutkan perjalananku dan kalian semua tertinggal.
Rumah kalian bukanlah tempat ku lagi.
Janganlah berpikir bahwa mati adalah kematian, tapi itu adalah kehidupan,
Kehidupan yang melampaui semua mimpi kita disini,
Di kehidupan ini, kita diberikan tidur,
Kematian adalah tidur, tidur yang diperpanjang
Janganlah takut ketika mati itu mendekat,
Itu hanyalah keberangkatan menuju rumah yang terberkati ini
Ingatlah akan ampunan dan cinta Tuhanmu,
Bersyukurlah pada KaruniaNya dan datanglah tanpa takut.
Aku yang sekarang ini, kau pun dapat menjadi
Karena aku tahu kau dan aku adalah sama
Jiwa-jiwa yang datang dari Tuhannya
Badan badan yang berasal sama
Baik atapun jahat, semua adalah milik kita
Aku sampaikan pada kalian sekarang pesan yang menggembirakan
Semoga kedamaian dan kegembiraan Allah menjadi milikmu selamanya.
sumber : http://virouz007.wordpress.com/2011/02/22/wasiat-terakhir-imam-al-ghazali/
Adiknya pun menjawab, “Hari senin.”
Beliau kemudian memintanya untuk mengambilkan sajadah putihnya, lalu beliau menciumnya, Menggelarnya dan kemudian berbaring diatasnya sambil berkata lirih, “Ya Allah, hamba mematuhi perintahMu,”
dan beliau pun menghembuskan nafas terakhirnya.Di bawah bantalnya mereka menemukan bait-bait berikut, ditulis oleh Al-Ghazali ra., barangkali pada malam sebelumnya.
“Katakan pada para sahabatku, ketika mereka melihatku, mati Menangis untukku dan berduka bagiku
Janganlah mengira bahwa jasad yang kau lihat ini adalah aku
Dengan nama Allah, kukatakan padamu, ini bukanlah aku,
Aku adalah jiwa, sedangkan ini hanyalah seonggok daging
Ini hanyalah rumah dan pakaian ku sementara waktu.
Aku adalah harta karun, jimat yang tersembunyi,
Dibentuk oleh debu ,yang menjadi singgasanaku,
Aku adalah mutiara, yang telah meninggalkan rumahnya,
Aku adalah burung, dan badan ini hanyalah sangkar ku
Dan kini aku lanjut terbang dan badan ini kutinggal sbg kenangan
Puji Tuhan, yang telah membebaskan aku
Dan menyiapkan aku tempat di surga tertinggi,
Hingga hari ini , aku sebelumnya mati, meskipun hidup diantara mu.
Kini aku hidup dalam kebenaran, dan pakaian kubur ku telah ditanggalkan.
Kini aku berbicara dengan para malaikat diatas,
Tanpa hijab, aku bertemu muka dengan Tuhanku.
Aku melihat Lauh Mahfuz, dan didalamnya ku membaca
Apa yang telah, sedang dan akan terjadi.
Biarlah rumahku runtuh, baringkan sangkarku di tanah,
Buanglah sang jimat, itu hanyalah sebuah kenang2an, tidak lebih
Sampingkan jubahku, itu hanyalah baju luar ku,
Letakkan semua itu dalam kubur, biarkanlah terlupakan
Aku telah melanjutkan perjalananku dan kalian semua tertinggal.
Rumah kalian bukanlah tempat ku lagi.
Janganlah berpikir bahwa mati adalah kematian, tapi itu adalah kehidupan,
Kehidupan yang melampaui semua mimpi kita disini,
Di kehidupan ini, kita diberikan tidur,
Kematian adalah tidur, tidur yang diperpanjang
Janganlah takut ketika mati itu mendekat,
Itu hanyalah keberangkatan menuju rumah yang terberkati ini
Ingatlah akan ampunan dan cinta Tuhanmu,
Bersyukurlah pada KaruniaNya dan datanglah tanpa takut.
Aku yang sekarang ini, kau pun dapat menjadi
Karena aku tahu kau dan aku adalah sama
Jiwa-jiwa yang datang dari Tuhannya
Badan badan yang berasal sama
Baik atapun jahat, semua adalah milik kita
Aku sampaikan pada kalian sekarang pesan yang menggembirakan
Semoga kedamaian dan kegembiraan Allah menjadi milikmu selamanya.
sumber : http://virouz007.wordpress.com/2011/02/22/wasiat-terakhir-imam-al-ghazali/
WUJUD BARU DI PADANG MAHSYAR
Nanti kita dibangkitkan di padang Mahsyar dengan wujud yang sama sekali baru, bukan yang seperti sekarang ini sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan, ” karena sesungguhnya mereka kafir kepada ayat-ayat Kami dan (karena mereka) berkata: "Apakah bila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk baru?" (QS Al-Isra’ 17:98)
Namun yang bagi mereka yang mengingkari ayat-ayat Allah itu tidaklah percaya bahwa mereka akan diciptakan sebagai ciptaan yang baru, ”Dan mereka berkata: "Apakah bila kami telah lenyap (hancur) di dalam tanah, kami benar-benar akan berada dalam ciptaan yang baru. Bahkan (sebenarnya) mereka ingkar akan menemui Rabb-nya.” (QS As-Sajdah 32:10)
Sekali lagi Allah menegaskan bahwa manusia diciptakan dalam ciptaan yang baru, ”Maka apakah Kami letih dengan penciptaan yang pertama? Sebenarnya mereka dalam keadaan ragu-ragu tentang penciptaan yang baru.” (QS Qaaf 50:15)
Dan yang lebih mengenaskan lagi, bagi orang-orang yang ingkar dengan ayat-ayat Allah, mereka akan dikumpulkan dalam wujud binatang liar, ”dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan,” (QS At-Takwir 81:5)
SEPULUH WUJUD DARI KALANGAN UMATKU…
Rasulullah Muhammad saw telah berkata bahwa umat manusia kelak dibangkitkan di padang Mahsyar akan terbagi kedalam tiga golongan: satu golongan berkendaraan, satu golongan berjalan kaki, dan satu golongan lagi berjalan dengan kepalanya sendiri.
Kemudian Rasulullah saw berkata: “Sesungguhnya Dia yang telah menjadikan manusia berjalan dengan kaki, berkuasa pula untuk menjadikan manusia berjalan dengan kepalanya sendiri” (HR. Tirmidzi).
Pada suatu hari Muadz bin Jabal ra bertanya kepada Rasulullah saw, “Ya Rasulullah, apakah gerangan maksud dari Firman Allah, ‘Yauma yunfakhu fiish-shuuri fata’tuuna afwaajaa’ (‘Pada hari ketika ditiup sangkakala, lalu kalian datang dengan berkelompok-kelompok’)?” (An-Naba [78]:18)
Maka jawab Rasulullah saw, “Wahai Mu’adz! Sesungguhnya engkau telah bertanya tentang persoalan yang amat besar!”, lalu berlinanglah air mata Rasulullah saw karena menangis. Kemudian Beliau saw bersabda: “Ada sepuluh golongan dari kalangan umatku yang mereka akan dibangkitkan secara terpisah, mereka ini telah dipisahkan oleh Allah dari kumpulan kaum muslimin yang lain dan Allah telah mengubah wajah-wajah mereka ...
Saat dibangkitkan ada yang wujudnya seperti monyet, ada yang seperti babi, ada yang tubuhnya terbalik (kakinya di atas) dan diseret atas muka mereka, ada yang buta tersungkur, ada yang bisu tuli dan tidak berakal, ada yang mengunyah-ngunyah lidahnya sendiri yang terjulur hingga ke dada, dari mulut mereka mengalir nanah laksana air liur berbau busuk yang membuat semua orang merasa jijik kepadanya, ada yang terpotong tangan dan kakinya, ada yang disalib di atas palang-palang api, ada yang bau tubuhnya lebih busuk daripada bangkai, dan ada pula yang memakai jubah-jubah panjang yang terbuat dari timah-timah panas yang meleleh ...
Adapun yang berwajah monyet adalah umatku yang suka menyebarkan fitnah di antara manusia. Yang seperti babi adalah mereka yang suka memakan harta yang haram dan merampas hak orang lain. Yang tertelungkup, kepalanya di bawah sementara kakinya di atas, adalah kaum pemakan riba. Yang dalam keadaan buta adalah mereka yang bertindak dzalim dalam pemerintahan. Yang buta tuli adalah mereka yang suka ujub (bangga diri) dalam amalannya. Yang mengunyah-ngunyah lidahnya sendiri adalah para alim ulama dan para hakim yang kata-katanya berlawanan dengan perbuatannya. Yang terpotong-potong tangan dan kakinya adalah orang yang selalu mengganggu tetangganya. Yang tersalib pada palang-palang api adalah mereka yang suka memfitnah orang lain kepada penguasa. Yang bau badannya lebih busuk daripada bangkai adalah mereka yang selalu memuaskan hawa nafsunya, bergelimang dalam dosa syahwat serta menolak menunaikan Hak Allah dalam harta kekayaannya. Adapun yang memakai baju-baju panjang dari timah yang meleleh adalah mereka yang selalu takabur, suka bermegah dan memuji diri sendiri!”
Diambil dari buku “Renungan Tentang Umur Manusia” (Penerbit MIZAN, 1985) , karya Allamah Sayyid Abdullah Haddad, seorang ulama besar Yaman abad ke-16
Gemuruh Tasbih Alam
SYAIR CINTA RABIAH AL -ADAWIYAH TOKOH SUFI WANITA
Tuhanku, tenggelamkan aku dalam cintaMu
Hingga tak ada sesuatupun yang menggangguku dalam jumpaMu
Tuhanku, bintang-gemintang berkelap-kelip
Manusia terlena dalam buai tidur lelap
Pintu-pintu istana pun telah rapat tertutup
Tuhanku, demikian malampun berlalu
Dan inilah siang datang menjelang
Aku menjadi resah gelisah
Apakah persembahan malamku Kau Terima
Hingga aku berhak mereguk bahagia
Ataukah itu Kau Tolak, hingga aku dihimpit duka,
Demi kemahakuasaan-Mua
Inilah yang akan selalu ku lakukan
Selama Kau Beri aku kehidupan
Demi kemanusiaan-Mu,
Andai Kau Usir aku dari pintuMu
Aku tak akan pergi berlalu
Karena cintaku padaMu sepenuh kalbu
Ya Allah, apa pun yang akan Engkau
Karuniakan kepadaku di dunia ini,
Berikanlah kepada musuh-musuhMu
Dan apa pun yang akan Engkau
Karuniakan kepadaku di akhirat nanti,
Berikanlah kepada sahabat-sahabatMu
Karena Engkau sendiri, cukuplah bagiku
Aku mengabdi kepada Tuhan
Bukan karena takut neraka
Bukan pula karena mengharap masuk surga
Tetapi aku mengabdi,
Karena cintaku padaNya
Ya Allah, jika aku menyembahMu
Karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya
Dan jika aku menyembahMu
Karena mengharap surga, campakkanlah aku darinya
Tetapi, jika aku menyembahMu
Demi Engkau semata,
Janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajahMu
Yang abadi padaku
Ya Allah
Semua jerih payahku
Dan semua hasratku di antara segala
Kesenangan-kesenangan
Di dunia ini, adalah untuk mengingat Engkau
Dan di akhirat nanti, diantara segala kesenangan
Adalah untuk berjumpa denganMu
Begitu halnya dengan diriku
Seperti yang telah Kau katakana
Kini, perbuatlah seperti yang Engkau Kehendaki
Aku mencintaiMu dengan dua cinta
Cinta karena diriku dan cinta karena diriMu
Cinta karena diriku, adalah keadaan senantiasa mengingatMu
Cinta karena diriMu, adalah keadaanMu mengungkapkan tabir
Hingga Engkau ku lihat
Baik untuk ini maupun untuk itu
Pujian bukanlah bagiku
BagiMu pujian untuk semua itu
Buah hatiku, hanya Engkau yang kukasihi
Beri ampunlah pembuat dosa yang datang kehadiratMu
Engkaulah harapanku, kebahagiaan dan kesenanganku
Hatiku telah enggan mencintai selain dari Engkau
Hatiku tenteram dan damai jika aku diam sendiri
Ketika Kekasih bersamaku
CintaNya padaku tak pernah terbagi
Dan dengan benda yang fana selalu mengujiku
Kapan dapat kurenungi keindahanNya
Dia akan menjadi mihrabku
Dan rahasiaNya menjadi kiblatku
Bila aku mati karena cinta, sebelum terpuaskan
Akan tersiksa dan lukalah aku di dunia ini
O, penawar jiwaku
Hatiku adalah santapan yang tersaji bagi mauMu
Barulah jiwaku pulih jika telah bersatu dengan Mu
O, sukacita dan nyawaku, semoga kekallah
Jiwaku, Kaulah sumber hidupku
Dan dariMu jua birahiku berasal
Dari semua benda fana di dunia ini
Dariku telah tercerah
Hasratku adalah bersatu denganMu
Melabuhkan rindu
Sendiri daku bersama Cintaku
Waktu rahasia yang lebih lembut dari udara petang
Lintas dan penglihatan batin
Melimpahkan karunia atas doaku
Memahkotaiku, hingga enyahlah yang lain, sirna
Antara takjub atas keindahan dan keagunganNya
Dalam semerbak tiada tara
Aku berdiri dalam asyik-masyuk yang bisu
Ku saksikan yang datang dan pergi dalam kalbu
Lihat, dalam wajahNya
Tercampur segenap pesona dan karunia
Seluruh keindahan menyatu
Dalam wajahNya yang sempurna
Lihat Dia, yang akan berkata
“Tiada Tuhan selain Dia, dan Dialah Yang maha Mulia.”
Rasa riangku, rinduku, lindunganku,
Teman, penolong dan tujuanku,
Kaulah karibku, dan rindu padaMu
Meneguhkan daku
Apa bukan padaMu aku ini merindu
O, nyawa dan sahabatku
Aku remuk di rongga bumi ini
Telah banyak karunia Kau berikan
Telah banyak..
Namun tak ku butuh pahala
Pemberian ataupun pertolongan
CintaMu semata meliput
Rindu dan bahagiaku
Ia mengalir di mata kalbuku yang dahaga
Adapun di sisiMu aku telah tiada
Kau bikin dada kerontang ini meluas hijau
Kau adalah rasa riangku
Kau tegak dalam diriku
Jika akku telah memenuhiMu
O, rindu hatiku, aku pun bahagia
Ya Ilahi Rabbi ... tenggelamkan aku dalam cintaMu
Hingga tak ada sesuatupun yang menggangguku dalam jumpaMu
Sabtu, 21 Mei 2011
DIA BUKAN CINTA NOMOR SATU
BAYANGKAN setiap 15 minit berlaku perceraian. Begitulah rapuhnya rumah tangga umat Islam sekarang ini . Rumah tangga adalah benteng terakhir ummah, tempat bermulanya tapak generasi. Jika di situ sudah bermasaalah, di tempat lain tidak dapat dibayangkan lagi. Ada sahaja kisah suami yang curang, isteri yang beralih cinta. Kekadang anak telah dua, tiga dan empat tetapi masih ingin memburu cinta. Ada yang memburu di alam nyata (menjejak semula kekasih lama atau terjumpa kekasih baru), ada yang memburu cinta di alam siber – bencinta lewat laman sosial internet yang serba maya.
Entah apa yang diburu oleh manusia ini yang hidup di dunia tanpa menyedari hari kembalinya yang pasti ke akhirat. Di mana diletakkan Allah dalam peta cintanya sesama manusia. Suami yang ada dipersia, lelaki lain pula dicari sebagai ganti. Konon suaminya tidak bertanggung jawab, tidak romantik, tidak pandai membelai atau apa sahaja. Berikan nama yang buruk pada anjing dan bunuh saja! Begitu kata pepatah Inggeris. Apabila hati sudah berubah, segala kebaikan dahulu dilupakan. Ada pula, isteri yang di sisi sudah setia, perempuan baru pula diburu kononnya demi cinta sejati. Segala yang buruk-buruk dibongkar, dijadikan justifikasi untuk menghalalkan cinta baru yang digilai siang dan malam.
Manusia-manusia itu seperti kelkatu yang terbang menuju sumber cahaya. Sudah ramai yang terhantuk lalu jatuh bergelimpanagan di lantai namun kelkatu yang lain masih terus terbang menuju tempat yang sama. Tidak pernah ada yang mengambil iktibar daripada korban-korban yang telah bergelimpangan. Maka begitulah suami atau isteri yang tertipu ini, memburu cinta bagaikan kelkatu memburu cahaya.
Percayalah, tujuanmu tidak akan tercapai, bahkan akan terjadi kebinasaan. Namun dia degil, dia pergi jua. Percayalah, tidak akan ada ketenangan dan kebahagiaan di atas kesusahan, kezaliman dan penindasan terhadap orang lain (apatah lagi yang dizalimi itu isteri atau suami atau anak-anak mu sendiri). Allah benci orang zalim! Dan kebencian itu sudah cukup untuk menyebabkan penderitaan seumur hidup.
Mengapa kau zalimi anak mu, isteri atau suami mu? Apakah dosa mereka terlalu besar hingga kau tidak sudi lagi memaafkan? Apakah kau tidak menyedari bahawa pasangan mu adalah cermin kepada diri mu sendiri? Maksudnya, siapa pasangan kita ditentukan juga oleh siapa kita yang sebenarnya? Dirimu dan pasanganmu saling mencorakkan. Ketika palitan hitam kau katakan ada pada wajahnya, sedarkah engkau bahawa kau juga yang pernah melakarkannya? Jadi, bertanggung jawablah. Jangan lari. Binalah semula rumah tangga mu kerana cinta yang ada di tanganmu kini adalah nyata, manakala yang kau buru itu mungkin hanya fotomorgana.
Bagi suami atau isteri yang ditinggalkan, sedarkan dia. Doakan dia. Berusahalah sedaya mungkin untuk ‘mengembalikan’ dia kepada cinta yang nyata. Namun kalau dia berdegil, biarlah dia pergi. Hidupmu terlalu singkat untuk ‘dirosakkan’ oleh dia seorang. Ingat dia itu bukan cinta nombor SATU!
Nombor SATU - Allah. Nombor DUA - Rasulullah. Nombor TIGA - suami. Itulah turutan cinta seorang wanita bernama isteri, (jika pada lelaki, nombor TIGA itu ibu, no EMPAT itu apa, no LIMA baru isteri). Agar tidak menderita, jagalah turutan cinta ini. Yang dahulu, wajar didahulukan. Yang kemudian, mesti dikemudiankan. Jangan disusun cinta itu begini - Nombor 1 suami. Nombor 2 suami. Nombor 3 pun suami. Ini tindakan yang bakal mengundang kecewa.
Jangan pinggirkan Allah kerana Dia yang mengurniakan rasa cinta. Jangan dilupakan Rasulullah kerana dia yang memberi panduan untuk bercinta. Ingat pesan Rasulullah melalui sabda Baginda dalam hadis riwayat al-Tirmizi yang bermaksud:
♥ ♥ ♥ ♥ “Jika aku hendak menyuruh seseorang supaya sujud kepada seseorang, tentulah aku perintahkan isteri supaya sujud kepada suaminya.”
“Jika” hanya “jika”. “Jika” akan kekal sebagai “jika”. Ia tidak pernah berlaku. Seorang wanita tidak boleh menyembah manusia lain sekalipun suaminya sendiri. Sebaiknya, cintailah suami dengan cara yang ditunjukkan oleh Rasulullah kerana Allah. Itulah resepi untuk bahagia dalam bercinta!
Betapa ramai isteri yang kecewa akibat ditinggalkan suami yang dicintai. Sama ada dipisahkan oleh mati atau oleh sikap suami yang tidak mencintainya lagi. Bayangkan apabila segala-galanya untuk dan kerana suami, apabila suami tidak ada lagi, putus harapan dan berserabutlah fikiran. Ramai yang sudah menerima nasib begini. Bayangkan setiap 15 minit, berlaku satu perceraian. Siapakah yang menempuh gerbang perkahwinan dengan harapan untuk bercerai? Tidak mungkin ada!
MUKADIMAH PENENTU NATIJAH
Perkahwinan dibina dengan harapan. Untuk mencapai harapan, tidak cukup dengan rasa cinta. Ia perlukan tanggungjawab. Kata bijak pandai, sesuatu akan berakhir mengikut bagaimana ia bermula. Mukadimah banyak menentukan natijah. Untuk mengekalkan cinta sampai ke hujung (hujungnya di syurga), mesti diperkukuh dari pangkalnya. Perkahwinan dimulakan dengan percintaan, tetapi disempurnakan dengan tanggungjawab. Dan sebaik-baik cinta ialah cinta yang didasarkan oleh tanggungjawab. Sebab itu ahli bijaksana mendefinisikan cinta sebagai “rasa ingin bertanggungjawab kepada seseorang”.
Janganlah hendaknya cinta dan rumah tangga dibina hanya sekadar untuk memenuhi kehendak fisiologi dan biologi. Itulah cinta yang diilhamkan oleh Tuhan untuk haiwan (demikian kata al-Farabi). Juga bukan untuk mengejar status sosial. Jika rumah tangga hanya dibina untuk makan minum, perlindungan (rumah), pengangkutan (kereta), berkelamin (seks), kawan (sosial), kesihatan dan penghargaan diri (ego), apa bezanya cinta kita dengan cinta haiwan. Itu cinta kelas kedua.
Jika itulah bentuk cinta kita, itu hanya cinta alat bukan matlamat. Cinta kelas kedua mesti dibawa kepada cinta kelas pertama. Pandang wajah suami kita, bolehkah dia membawa kita kepada cinta Allah? Renung mata isteri kita, apakah dia teman kita menuju Allah? Jika ya, alhamdulillah, syukur. Kita sudah berada di jalan yang betul. Maka melangkahlah dengan yakin walau terpaksa menempuh pelbagai kesusahan.
Jika belum, berusahalah, berdoalah agar dia mampu juga. Jika tidak hari ini, esok. Jika tidak esok, lusa. Teruskan berusaha dan berdoa.
114 AYAT CINTA
Tidak kira di tahap manapun rumah tangga kita; di permulaan, pertengahan atau pengakhiran, marilah bermuhasabah. Apakah rumah tangga kita benar-benar diasaskan oleh cinta kelas pertama atau masih dibelenggu oleh cinta kelas kedua? Jika kelas pertama, syukurlah. Insya-Allah cinta itu akan kekal selama-lamanya. Bagaimana kita boleh memastikan bahawa rumah tangga kita benar-benar diasaskan kepada cinta ini?
Jawapannya mudah. Cuba nilai, apakah seluruh isi keluarga lalai atau taatkan perintah Allah? Bagaimana dengan solat kita dan anak-anak semua? Bagaimana dengan al-Quran? Sudahkah kedengaran suara kita (ayah ibu) dan anak-anak membaca al-Quran? Jangan jadikan rumah kita kuburan kerana Rasulullah s.a.w. menyatakan bahawa rumah yang penghuninya tidak membaca al-Quran umpama sebuah kubur!
Padahal semasa kita mula membinanya dahulu kita katakan membina masjid. Jika suami atau isteri payah hendak diajak membaca al-Quran, kenapa kita tidak memulakannya dahulu? Ironinya, kita kekadang lebih banyak menatap surat-surat lama pasangan kita semasa hangat bercinta dahulu, konon untuk memperbaharui rasa cinta. Malangnya, ramai yang mengalir air mata, sedih, sayu, pilu apabila mengenangkan kata-kata mesra dan rindu dahulu kini sudah tiada.
Mengapa menanti sesuatu yang tidak tiba? Mengapa merajuk pada yang tidak kasih? Tinggalkan dahulu surat cinta yang lama, carilah semula 114 surat cinta daripada Allah (al-Quran). Siapakah yang dapat menandingi kemesraan, kasih sayang dan cinta Allah buat hamba-Nya yang terpapar dalam 114 surah al-Quran? Bacalah ayat Manzil, al-Ma’thurat, Yasin, al-Mulk atau apa-apa sahaja. Sama ada yang diambil secara bersanad daripada guru-guru yang thiqah ilmunya ataupun sekadar diambil daripada kitab-kitab atau buku-buku yang dipercayai kesahihannya.
Jika tidak mampu baca banyak, bacalah sekadar satu muka surat atau paling lekeh sekadar lima ayat. Tetapi istiqamahkan amalan ini. Barulah syaitan akan kecut untuk menggoda hati ahli keluarga kita supaya terlibat maksiat. Atau mengacah-acah kita dengan prasangka sehingga sering berbalah walaupun dalam soal-soal yang kecil. Bayangkan hanya kerana hendak masak apa hari ini, berebut saluran televisyen atau hanya tersilap istilah atau cakap, sudah bergaduh sampai tinggi-tinggi suara atau pukul-memukul. Ini angkara siapa? Tentu syaitan.
BENTUK CINTA KELAS PERTAMA
Mengapa syaitan begitu berkeliaran dalam rumah kita? Kerana rumah kita jadi kuburan, bukan jadi masjid. Banyak perkara-perkara mungkar dalam rumah kita yang menyebabkan syaitan suka bertandang. Tapi ingat, syaitan bukan dihalau dengan membaca al-Quran sekali-sekala seperti yang kita lihat “Pak Ustaz” halau hantu dalam drama mistik dan tahyul. Tetapi syaitan dihalau dengan bacaan al-Quran berserta niat zikrullah, hendak diamalkan kehendaknya dan ditinggalkan larangannya.
Jika sekali-sekala terjadi pertembungan antara kehendak Allah dan kehendak isteri atau suami serta anak-anak, yang mana satu didahulukan? Jika didahulukan kehendak mereka, sah itu petanda cinta telah tersasar. Hakikatnya, inilah yang banyak berlaku dalam alam berumah tangga kini. Dan inilah punca mengapa ramai suami isteri berpisah sekalipun mereka saling mencintai. Berpisah bukan kerana mereka tidak cinta, tetapi cinta terpisah kerana mereka memisahkan cinta Allah.
Cinta yang meminggirkan cinta Allah adalah rendah mutunya dan tidak tahan uji. Cinta kelas kedua itu ialah cinta kelas bawahan. Apabila wajah kendur, cinta luntur. Apabila kemudaan hilang, sayang terus melayang. Sebaliknya cinta Allah mampu mengekalkan, malah boleh meningkat lagi rasa cinta walaupun perubahan fizikal berlaku kerana tapak cinta itu di hati, bukan di mata. Cinta di mata boleh dipisahkan oleh jarak dan usia tetapi cinta di hati tidak ada sesiapa yang mampu menjarakkannya, apatah lagi memisahkannya!
Cinta yang dibina atas dasar cinta Allah akan menjadikan perkahwinan sebagai taman atau kebun percintaan. Mungkin sekali-sekala bergolak juga, tetapi atas dasar ibadah dan tanggungjawab, cinta dapat dibina semula terbentur tetapi tidak patah. Genting tetapi tidak putus. Justeru bajailah cinta itu selalu dengan solat, zikir, membaca al-Quran dan sedekah.
Marilah kita saling berpesan demi kebenaran dan kesabaran- jangan membina cinta di dalam kuburan!
Pahrol Mohd Juoi
genta-rasa.com
________________
http://www.one-ummah.net/renungan/kisah-kehidupan/597-dia-bukan-cinta-nombor-1.html
Shared By ⓑⓘⓒⓐⓡⓐ ღ ⓗⓘⓓⓐⓨⓐⓗ
Entah apa yang diburu oleh manusia ini yang hidup di dunia tanpa menyedari hari kembalinya yang pasti ke akhirat. Di mana diletakkan Allah dalam peta cintanya sesama manusia. Suami yang ada dipersia, lelaki lain pula dicari sebagai ganti. Konon suaminya tidak bertanggung jawab, tidak romantik, tidak pandai membelai atau apa sahaja. Berikan nama yang buruk pada anjing dan bunuh saja! Begitu kata pepatah Inggeris. Apabila hati sudah berubah, segala kebaikan dahulu dilupakan. Ada pula, isteri yang di sisi sudah setia, perempuan baru pula diburu kononnya demi cinta sejati. Segala yang buruk-buruk dibongkar, dijadikan justifikasi untuk menghalalkan cinta baru yang digilai siang dan malam.
Manusia-manusia itu seperti kelkatu yang terbang menuju sumber cahaya. Sudah ramai yang terhantuk lalu jatuh bergelimpanagan di lantai namun kelkatu yang lain masih terus terbang menuju tempat yang sama. Tidak pernah ada yang mengambil iktibar daripada korban-korban yang telah bergelimpangan. Maka begitulah suami atau isteri yang tertipu ini, memburu cinta bagaikan kelkatu memburu cahaya.
Percayalah, tujuanmu tidak akan tercapai, bahkan akan terjadi kebinasaan. Namun dia degil, dia pergi jua. Percayalah, tidak akan ada ketenangan dan kebahagiaan di atas kesusahan, kezaliman dan penindasan terhadap orang lain (apatah lagi yang dizalimi itu isteri atau suami atau anak-anak mu sendiri). Allah benci orang zalim! Dan kebencian itu sudah cukup untuk menyebabkan penderitaan seumur hidup.
Mengapa kau zalimi anak mu, isteri atau suami mu? Apakah dosa mereka terlalu besar hingga kau tidak sudi lagi memaafkan? Apakah kau tidak menyedari bahawa pasangan mu adalah cermin kepada diri mu sendiri? Maksudnya, siapa pasangan kita ditentukan juga oleh siapa kita yang sebenarnya? Dirimu dan pasanganmu saling mencorakkan. Ketika palitan hitam kau katakan ada pada wajahnya, sedarkah engkau bahawa kau juga yang pernah melakarkannya? Jadi, bertanggung jawablah. Jangan lari. Binalah semula rumah tangga mu kerana cinta yang ada di tanganmu kini adalah nyata, manakala yang kau buru itu mungkin hanya fotomorgana.
Bagi suami atau isteri yang ditinggalkan, sedarkan dia. Doakan dia. Berusahalah sedaya mungkin untuk ‘mengembalikan’ dia kepada cinta yang nyata. Namun kalau dia berdegil, biarlah dia pergi. Hidupmu terlalu singkat untuk ‘dirosakkan’ oleh dia seorang. Ingat dia itu bukan cinta nombor SATU!
Nombor SATU - Allah. Nombor DUA - Rasulullah. Nombor TIGA - suami. Itulah turutan cinta seorang wanita bernama isteri, (jika pada lelaki, nombor TIGA itu ibu, no EMPAT itu apa, no LIMA baru isteri). Agar tidak menderita, jagalah turutan cinta ini. Yang dahulu, wajar didahulukan. Yang kemudian, mesti dikemudiankan. Jangan disusun cinta itu begini - Nombor 1 suami. Nombor 2 suami. Nombor 3 pun suami. Ini tindakan yang bakal mengundang kecewa.
Jangan pinggirkan Allah kerana Dia yang mengurniakan rasa cinta. Jangan dilupakan Rasulullah kerana dia yang memberi panduan untuk bercinta. Ingat pesan Rasulullah melalui sabda Baginda dalam hadis riwayat al-Tirmizi yang bermaksud:
♥ ♥ ♥ ♥ “Jika aku hendak menyuruh seseorang supaya sujud kepada seseorang, tentulah aku perintahkan isteri supaya sujud kepada suaminya.”
“Jika” hanya “jika”. “Jika” akan kekal sebagai “jika”. Ia tidak pernah berlaku. Seorang wanita tidak boleh menyembah manusia lain sekalipun suaminya sendiri. Sebaiknya, cintailah suami dengan cara yang ditunjukkan oleh Rasulullah kerana Allah. Itulah resepi untuk bahagia dalam bercinta!
Betapa ramai isteri yang kecewa akibat ditinggalkan suami yang dicintai. Sama ada dipisahkan oleh mati atau oleh sikap suami yang tidak mencintainya lagi. Bayangkan apabila segala-galanya untuk dan kerana suami, apabila suami tidak ada lagi, putus harapan dan berserabutlah fikiran. Ramai yang sudah menerima nasib begini. Bayangkan setiap 15 minit, berlaku satu perceraian. Siapakah yang menempuh gerbang perkahwinan dengan harapan untuk bercerai? Tidak mungkin ada!
MUKADIMAH PENENTU NATIJAH
Perkahwinan dibina dengan harapan. Untuk mencapai harapan, tidak cukup dengan rasa cinta. Ia perlukan tanggungjawab. Kata bijak pandai, sesuatu akan berakhir mengikut bagaimana ia bermula. Mukadimah banyak menentukan natijah. Untuk mengekalkan cinta sampai ke hujung (hujungnya di syurga), mesti diperkukuh dari pangkalnya. Perkahwinan dimulakan dengan percintaan, tetapi disempurnakan dengan tanggungjawab. Dan sebaik-baik cinta ialah cinta yang didasarkan oleh tanggungjawab. Sebab itu ahli bijaksana mendefinisikan cinta sebagai “rasa ingin bertanggungjawab kepada seseorang”.
Janganlah hendaknya cinta dan rumah tangga dibina hanya sekadar untuk memenuhi kehendak fisiologi dan biologi. Itulah cinta yang diilhamkan oleh Tuhan untuk haiwan (demikian kata al-Farabi). Juga bukan untuk mengejar status sosial. Jika rumah tangga hanya dibina untuk makan minum, perlindungan (rumah), pengangkutan (kereta), berkelamin (seks), kawan (sosial), kesihatan dan penghargaan diri (ego), apa bezanya cinta kita dengan cinta haiwan. Itu cinta kelas kedua.
Jika itulah bentuk cinta kita, itu hanya cinta alat bukan matlamat. Cinta kelas kedua mesti dibawa kepada cinta kelas pertama. Pandang wajah suami kita, bolehkah dia membawa kita kepada cinta Allah? Renung mata isteri kita, apakah dia teman kita menuju Allah? Jika ya, alhamdulillah, syukur. Kita sudah berada di jalan yang betul. Maka melangkahlah dengan yakin walau terpaksa menempuh pelbagai kesusahan.
Jika belum, berusahalah, berdoalah agar dia mampu juga. Jika tidak hari ini, esok. Jika tidak esok, lusa. Teruskan berusaha dan berdoa.
114 AYAT CINTA
Tidak kira di tahap manapun rumah tangga kita; di permulaan, pertengahan atau pengakhiran, marilah bermuhasabah. Apakah rumah tangga kita benar-benar diasaskan oleh cinta kelas pertama atau masih dibelenggu oleh cinta kelas kedua? Jika kelas pertama, syukurlah. Insya-Allah cinta itu akan kekal selama-lamanya. Bagaimana kita boleh memastikan bahawa rumah tangga kita benar-benar diasaskan kepada cinta ini?
Jawapannya mudah. Cuba nilai, apakah seluruh isi keluarga lalai atau taatkan perintah Allah? Bagaimana dengan solat kita dan anak-anak semua? Bagaimana dengan al-Quran? Sudahkah kedengaran suara kita (ayah ibu) dan anak-anak membaca al-Quran? Jangan jadikan rumah kita kuburan kerana Rasulullah s.a.w. menyatakan bahawa rumah yang penghuninya tidak membaca al-Quran umpama sebuah kubur!
Padahal semasa kita mula membinanya dahulu kita katakan membina masjid. Jika suami atau isteri payah hendak diajak membaca al-Quran, kenapa kita tidak memulakannya dahulu? Ironinya, kita kekadang lebih banyak menatap surat-surat lama pasangan kita semasa hangat bercinta dahulu, konon untuk memperbaharui rasa cinta. Malangnya, ramai yang mengalir air mata, sedih, sayu, pilu apabila mengenangkan kata-kata mesra dan rindu dahulu kini sudah tiada.
Mengapa menanti sesuatu yang tidak tiba? Mengapa merajuk pada yang tidak kasih? Tinggalkan dahulu surat cinta yang lama, carilah semula 114 surat cinta daripada Allah (al-Quran). Siapakah yang dapat menandingi kemesraan, kasih sayang dan cinta Allah buat hamba-Nya yang terpapar dalam 114 surah al-Quran? Bacalah ayat Manzil, al-Ma’thurat, Yasin, al-Mulk atau apa-apa sahaja. Sama ada yang diambil secara bersanad daripada guru-guru yang thiqah ilmunya ataupun sekadar diambil daripada kitab-kitab atau buku-buku yang dipercayai kesahihannya.
Jika tidak mampu baca banyak, bacalah sekadar satu muka surat atau paling lekeh sekadar lima ayat. Tetapi istiqamahkan amalan ini. Barulah syaitan akan kecut untuk menggoda hati ahli keluarga kita supaya terlibat maksiat. Atau mengacah-acah kita dengan prasangka sehingga sering berbalah walaupun dalam soal-soal yang kecil. Bayangkan hanya kerana hendak masak apa hari ini, berebut saluran televisyen atau hanya tersilap istilah atau cakap, sudah bergaduh sampai tinggi-tinggi suara atau pukul-memukul. Ini angkara siapa? Tentu syaitan.
BENTUK CINTA KELAS PERTAMA
Mengapa syaitan begitu berkeliaran dalam rumah kita? Kerana rumah kita jadi kuburan, bukan jadi masjid. Banyak perkara-perkara mungkar dalam rumah kita yang menyebabkan syaitan suka bertandang. Tapi ingat, syaitan bukan dihalau dengan membaca al-Quran sekali-sekala seperti yang kita lihat “Pak Ustaz” halau hantu dalam drama mistik dan tahyul. Tetapi syaitan dihalau dengan bacaan al-Quran berserta niat zikrullah, hendak diamalkan kehendaknya dan ditinggalkan larangannya.
Jika sekali-sekala terjadi pertembungan antara kehendak Allah dan kehendak isteri atau suami serta anak-anak, yang mana satu didahulukan? Jika didahulukan kehendak mereka, sah itu petanda cinta telah tersasar. Hakikatnya, inilah yang banyak berlaku dalam alam berumah tangga kini. Dan inilah punca mengapa ramai suami isteri berpisah sekalipun mereka saling mencintai. Berpisah bukan kerana mereka tidak cinta, tetapi cinta terpisah kerana mereka memisahkan cinta Allah.
Cinta yang meminggirkan cinta Allah adalah rendah mutunya dan tidak tahan uji. Cinta kelas kedua itu ialah cinta kelas bawahan. Apabila wajah kendur, cinta luntur. Apabila kemudaan hilang, sayang terus melayang. Sebaliknya cinta Allah mampu mengekalkan, malah boleh meningkat lagi rasa cinta walaupun perubahan fizikal berlaku kerana tapak cinta itu di hati, bukan di mata. Cinta di mata boleh dipisahkan oleh jarak dan usia tetapi cinta di hati tidak ada sesiapa yang mampu menjarakkannya, apatah lagi memisahkannya!
Cinta yang dibina atas dasar cinta Allah akan menjadikan perkahwinan sebagai taman atau kebun percintaan. Mungkin sekali-sekala bergolak juga, tetapi atas dasar ibadah dan tanggungjawab, cinta dapat dibina semula terbentur tetapi tidak patah. Genting tetapi tidak putus. Justeru bajailah cinta itu selalu dengan solat, zikir, membaca al-Quran dan sedekah.
Marilah kita saling berpesan demi kebenaran dan kesabaran- jangan membina cinta di dalam kuburan!
Pahrol Mohd Juoi
genta-rasa.com
________________
http://www.one-ummah.net/renungan/kisah-kehidupan/597-dia-bukan-cinta-nombor-1.html
Shared By ⓑⓘⓒⓐⓡⓐ ღ ⓗⓘⓓⓐⓨⓐⓗ
HIKMAH: ALLAH TELAH MENJADIKAN KUNCI BAGI SEGALA SESUATU
AL-IMAM Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:
“Sesungguhnya Allah telah menjadikan bagi segala sesuatu kunci untuk membukanya, Allah menjadikan kunci pembuka shalat adalah bersuci sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
ツ‘Kunci shalat adalah bersuci’,
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan:
ツ kunci PEMBUKA HAJI adalah ihram,
ツ kunci KEBAJIKAN adalah kejujuran,
ツ kunci SURGA adalah tauhid,
ツ kunci ILMU adalah bagusnya bertanya dan mendengarkan,
ツ kunci KEMENANGAN adalah kesabaran,
ツ kunci DITAMBAHNYA NIKMAT adalah syukur,
ツ kunci KEWALIAN adalah mahabbah dan dzikir,
ツ kunci KEBERUNTUNGAN adalah takwa,
ツ kunci TAUFIK adalah harap dan cemas kepada Allah ‘Azza wa Jalla,
ツ kunci DIKABULKAN adalah doa,
ツ kunci KEINGINAN TERHADAP AKHIRAT adalah zuhud di dunia,
ツ kunci KEIMANAN adalah tafakkur pada hal yang diperintahkan Allah, keselamatan bagi-Nya, serta keikhlasan terhadap-Nya di dalam kecintaan, kebencian, melakukan, dan meninggalkan,
ツ kunci HIDUPNYA HATI adalah tadabbur al-Qur’an, beribadah di waktu sahur, dan meninggalkan dosa-dosa,
ツ kunci DIDAPATKANNYA RAHMAT adalah ihsan di dalam peribadatan terhadap Khaliq dan berupaya memberi manfaat kepada para hamba-Nya,
ツ kunci REZEKI adalah usaha bersama istighfar dan takwa,
ツ kunci KEMULIAAN adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya,
ツ kunci PERSIAPAN untuk akhirat adalah pendeknya angan-angan,
ツ kunci SEMUA KEBAIKAN adalah keinginan terhadap Allah dan kampung akhirat,
ツ kunci SEMUA KEJELEKAN adalah cinta dunia dan panjangnya angan-angan.
❁ ❀ ✿ ❁ ❀ ✿ ❁ ❀ ✿ ❁ ❀ ✿ ❁ ❀ ✿ ❁ ❀ ✿ ❁ ❀ ✿ ❁ ❀ ✿ ❁ ❀ ✿
“Ini adalah bab yang agung dari bab-bab ilmu yang paling bermanfaat, yaitu mengetahui pintu-pintu kebaikan dan kejelekan, tidaklah diberi taufik untuk mengetahuinya dan memperhatikannya kecuali seorang yang memiliki bagian dan taufik yang agung, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan kunci bagi setiap kebaikan dan kejelekan,
∞ kunci dan pintu untuk masuk kepadanya sebagaimana Allah jadikan kesyirikan, kesombongan, berpaling dari apa yang disampaikan Allah kepada Rasul-Nya,
∞ dan lalai dari dzikir terhadap-Nya dan melaksanakan hak-Nya sebagai kunci ke neraka,
∞ sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan khamr sebagai kunci SEGALA DOSA.
∞ Dia jadikan nyanyian sebagai kunci PERZINAAN,
∞ Dia jadikan melepaskan pandangan pada gambar-gambar sebagai kunci KEGELISAHAN DAN KEGANDRUNGAN,
∞ Dia jadikan kemalasan dan kesantaian sebagai kunci KERUGIAN DAN LUPUTNYA SEGALA SESUATU,
∞ Dia jadikan kemaksiatan-kemaksiatan sebagai kunci KEKUFURAN,
∞ Dia jadikan dusta sebagai kunci KENIFAKAN (kemunafikan -ed),
∞ Dia jadikan kekikiran dan ketamakan sebagai kunci KEBAKHILAN, MEMUTUS SILATURAHIM, SERTA MENGAMBIL HARTA DENGAN CARA YANG TIDAK HALAL, dan
∞ Dia jadikan berpaling dari apa yang dibawa Rasul sebagai kunci SEGALA KEBID’AHAN DAN KESESATAN.
“Perkara-perkara ini tidaklah membenarkannya kecuali setiap orang yang memiliki ilmu yang shahih dan akal yang bisa mengetahui dengannya apa yang ada dalam dirinya dan apa yang berwujud dari kebaikan dan kejelekan. Maka sepantasnya seorang hamba memperhatikan dengan sebaik-baiknya ilmu terhadap kunci-kunci ini dan kunci-kunci yang dijadikan untuknya.” (Hadil Arwah 1/48-49)
Dikutip dari artikel Kunci Kebaikan dan Kunci Kejelekan Majalah Al-Furqon No. 77 1429/2008 oleh Ummul Hasan
Artikel www.muslimah.or.id
Shared By ⓑⓘⓒⓐⓡⓐ ღ ⓗⓘⓓⓐⓨⓐⓗ
“Sesungguhnya Allah telah menjadikan bagi segala sesuatu kunci untuk membukanya, Allah menjadikan kunci pembuka shalat adalah bersuci sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
ツ‘Kunci shalat adalah bersuci’,
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan:
ツ kunci PEMBUKA HAJI adalah ihram,
ツ kunci KEBAJIKAN adalah kejujuran,
ツ kunci SURGA adalah tauhid,
ツ kunci ILMU adalah bagusnya bertanya dan mendengarkan,
ツ kunci KEMENANGAN adalah kesabaran,
ツ kunci DITAMBAHNYA NIKMAT adalah syukur,
ツ kunci KEWALIAN adalah mahabbah dan dzikir,
ツ kunci KEBERUNTUNGAN adalah takwa,
ツ kunci TAUFIK adalah harap dan cemas kepada Allah ‘Azza wa Jalla,
ツ kunci DIKABULKAN adalah doa,
ツ kunci KEINGINAN TERHADAP AKHIRAT adalah zuhud di dunia,
ツ kunci KEIMANAN adalah tafakkur pada hal yang diperintahkan Allah, keselamatan bagi-Nya, serta keikhlasan terhadap-Nya di dalam kecintaan, kebencian, melakukan, dan meninggalkan,
ツ kunci HIDUPNYA HATI adalah tadabbur al-Qur’an, beribadah di waktu sahur, dan meninggalkan dosa-dosa,
ツ kunci DIDAPATKANNYA RAHMAT adalah ihsan di dalam peribadatan terhadap Khaliq dan berupaya memberi manfaat kepada para hamba-Nya,
ツ kunci REZEKI adalah usaha bersama istighfar dan takwa,
ツ kunci KEMULIAAN adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya,
ツ kunci PERSIAPAN untuk akhirat adalah pendeknya angan-angan,
ツ kunci SEMUA KEBAIKAN adalah keinginan terhadap Allah dan kampung akhirat,
ツ kunci SEMUA KEJELEKAN adalah cinta dunia dan panjangnya angan-angan.
❁ ❀ ✿ ❁ ❀ ✿ ❁ ❀ ✿ ❁ ❀ ✿ ❁ ❀ ✿ ❁ ❀ ✿ ❁ ❀ ✿ ❁ ❀ ✿ ❁ ❀ ✿
“Ini adalah bab yang agung dari bab-bab ilmu yang paling bermanfaat, yaitu mengetahui pintu-pintu kebaikan dan kejelekan, tidaklah diberi taufik untuk mengetahuinya dan memperhatikannya kecuali seorang yang memiliki bagian dan taufik yang agung, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan kunci bagi setiap kebaikan dan kejelekan,
∞ kunci dan pintu untuk masuk kepadanya sebagaimana Allah jadikan kesyirikan, kesombongan, berpaling dari apa yang disampaikan Allah kepada Rasul-Nya,
∞ dan lalai dari dzikir terhadap-Nya dan melaksanakan hak-Nya sebagai kunci ke neraka,
∞ sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan khamr sebagai kunci SEGALA DOSA.
∞ Dia jadikan nyanyian sebagai kunci PERZINAAN,
∞ Dia jadikan melepaskan pandangan pada gambar-gambar sebagai kunci KEGELISAHAN DAN KEGANDRUNGAN,
∞ Dia jadikan kemalasan dan kesantaian sebagai kunci KERUGIAN DAN LUPUTNYA SEGALA SESUATU,
∞ Dia jadikan kemaksiatan-kemaksiatan sebagai kunci KEKUFURAN,
∞ Dia jadikan dusta sebagai kunci KENIFAKAN (kemunafikan -ed),
∞ Dia jadikan kekikiran dan ketamakan sebagai kunci KEBAKHILAN, MEMUTUS SILATURAHIM, SERTA MENGAMBIL HARTA DENGAN CARA YANG TIDAK HALAL, dan
∞ Dia jadikan berpaling dari apa yang dibawa Rasul sebagai kunci SEGALA KEBID’AHAN DAN KESESATAN.
“Perkara-perkara ini tidaklah membenarkannya kecuali setiap orang yang memiliki ilmu yang shahih dan akal yang bisa mengetahui dengannya apa yang ada dalam dirinya dan apa yang berwujud dari kebaikan dan kejelekan. Maka sepantasnya seorang hamba memperhatikan dengan sebaik-baiknya ilmu terhadap kunci-kunci ini dan kunci-kunci yang dijadikan untuknya.” (Hadil Arwah 1/48-49)
Dikutip dari artikel Kunci Kebaikan dan Kunci Kejelekan Majalah Al-Furqon No. 77 1429/2008 oleh Ummul Hasan
Artikel www.muslimah.or.id
Shared By ⓑⓘⓒⓐⓡⓐ ღ ⓗⓘⓓⓐⓨⓐⓗ
Langganan:
Postingan (Atom)