Sabtu, 07 April 2012

::: MENGGAPAI HIDAYAH ALLAH ... :::



Bismillahirahmannirahim,

Sesungguhnya , bila Allah Subhana wa Ta'ala mencintai seorang hamba, maka Allah akan membukakan dan rahmat dan kefahaman dalam agamanya, sehingga petunjuk Allah senantiasa mengalir dan menyelimuti setiap langkahnya.

Lalu akan muncul pertanyaan , bagaimana agar mampu meraih hidayah Allah yang indah tersebut.


1. Bertaubat dengan kesungguhan hati

Rasullullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda, :

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bila melakukan sesuatu dosa terjadilah bintik hitam dalam hatinya. Bila dia bertaubat dan menghentikan dosanya dan mencela perbuatannya, hatinya akan bersinar kembali, dan apabila dosanya bertambah, akan bertambah pula bintik hitam itu hingga hatinya akan tertutup…”
(HR Nasa’i dan Tarmizi, hadis hasan sahih)

Demikianlah dosa yang makin banyak, akan makin membuat hati semakin berdebu, kotor dan dalam tingkat yang parah adalah keras. Hati yang keras akan semakin jauh dari cahaya dan petunjuk Allah .. Dosa-dosa itulah yang menghijab (menghalangi) dekatnya seorang hamba kepada Rabb nya. .... qalbunya juga semakin tidak mampu merasakan getaran Keagungan Allah dan merasakan firman -firman Nya .


Allah Ta'ala berfirman,

"Hai orang-orang yang beriman,
bertaubatlah kepada Allah, dengan taubat yang seikhlas-ikhlasnya,
mudah-mudahan Tuhan kamu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu , dan memasukkan kamu ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai… (Surah at-Tahrim: ayat [8)]

Dengan taubat nasuha , mengakui segala dosa-dosa , datang kepada Allah dengan merendahkan diri, dan berusaha untuk memperbaiki diri dalam ketataan, niscaya Allahpun akan menghapuskan dosa-dosanya, memberi petunjuk kepadanya.


2. Memohon diberi karunia nikmat / kelezatan Iman dan Istiqomah

Memohon dan berdoa kepada Allah agar Allah senantiasa memberi kemampuan dalam ketaatan, dan memberi kemampuan untuk istiqomah.

Sesungguhnya nikmat iman dan lezatnya ibadah adalah murni rahmat Allah. Karena itu bermohonlah , sehingga diri akan senang (betah) berlama-lama dalam kebaikan, ibadah (shalat & berdzikir) serta memperoleh nikmat manisnya bermunajat kepada Nya .


3. Berhijrah / Mendekat kepada Lingkungan yang Shalih

Sungguh, mendekat kepada teman-teman shalih adalah obat bagi hati, karena mereka adalah ruh-ruh penuh kebaikan yang selalu mengingatkan dalam keimanan dan kesabaran.

Memakmurkan masjid juga salah satu satu meraih hidayah Allah. Masjid adalah pancaran nur Ilahi. Bukan hanya sekadar menghadiri shalat, tetapi bagaimana ia mampu menangkap cahaya hidayah yang terpancar dari masjid.

“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS At-Taubah [9]: 18).


4. Berdakwah / Menegakkan Syiar Allah

Allah Ta'ala berfirman :
Barangsiapa menolong agama Allah, maka Allah akan meneguhkan kedudukannya (disisi Rabb)

Banyak hadist dan firman Nya yang menguraikan tentang Kecintaan dan pertolongan Allah Ta'ala menyertai mereka (hamba-hamba Nya) yang berjuang dengan ikhlas menegakkan syiar-syiar Rabb , baik dengan ilmu, harta dan jiwanya.


Sahabat yang dirahmati Allah,

Allah adalah sumber dan pemberi cahaya. Hidayah juga demikian. Cahaya hanya menembus benda yang transparan melalui kaca. Cahaya tidak dapat menembus tembok, demikian juga cahaya spiritual.


Allah Subhana Wa Ta'ala berfirman :

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu....” (QS An Nuur [24]: 35)


"Beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. [Surah Asy-Syam: 9-10]

"Dan siapakah yang lebih baik agamanya, daripada orang yang ikhlas dan menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan ... (Surah an-Nisa': ayat 125)


Semoga Allah membukakan rahmat Nya bagi kita bersama .. Aamiin ya Robal alamin.

::: MENELADANI AS SHAMAD: BERGANTUNG SEPENUHNYA PADA ALLAH :::



“Katakan, ALLAH itu Esa. ALLAH itu tempat bergantung. Tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan, tidak sesuatu/seorang pun yang setara/serupa dengan-NYA.” (Al-Ikhlas: 1-4)

Semoga ALLAH menguruniakan kemampuan pada kita untuk merasa cukup bergantung kepada-NYA. DIA-lah pelabuhan hati yang kasih sayang dan kehadiran-NYA akan selalu kita dambakan.

Salah satu nama ALLAH dalam Asma'ul Husna adalah AS SHAMAD. Kata ini sering kita dengar dalam surah Al-Ikhlas, dan memang kata AS SHAMAD hanya disebut satu kali dalam Al Qur'an. AS SHAMAD dapat diartikan sebagai ALLAH Yang Maha Dibutuhkan. Terambil dari huruf ‘shad’, ‘mim’, dan ‘dal’. Maknanya berkisah pada dua hal, yaitu "tujuan" dan "pejal atau padat". Seperti sebuah "talenan" atau "dampalan" yang tak memiliki rongga dan celah sedikit pun. Demikian padatnya, sampai-sampai permukaannya demikian halus, tidak ada yang bisa menempel di sana, bahkan debu dan air sekalipun.

Kalau kita yakin terhadap ALLAH AS SHAMAD, maka kita harus bergantung sepenuhnya pada ALLAH. Tidak ada rongga atau celah sedikit pun bagi kita untuk meminta kepada selain ALLAH. Betapa tidak, ALLAH adalah Dzat yang Maha Mengetahui semua kebutuhan kita. Tidak ada celah sedikit pun selain ALLAH yang bisa menolong kita. Tidak ada sesuatu pun yang masuk dan keluar dari Dzat ALLAH. DIA tidak beranak, tidak pula diperanakkan. Dan, tidak seorang pun yang serupa dengan-NYA. ALLAH adalah Dzat Maha Sempurna yang Menguasai segala-galanya.

Karena itu, bergantung pada selain ALLAH adalah bencana. Sudah pasti, semua yang ada selain ALLAH adalah makhluk; sesuatu yang diciptakan. Makhluk itu sangat lemah dan tidak memiliki daya serta kekuatan selian dari yang diberikan ALLAH.


||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||

Ibnu Abbas رضي الله عنه menyatakan bahwa AS SHAMAD, kalau DIA seorang tokoh, maka DIA-lah tokoh yang paling sempurna ketokohan-NYA. Yang mulia, dan mencapai puncak kemulian-NYA. Yang agung, dan paling sempurna keagungan-NYA. Yang penyantun, dan tidak ada satupun yang melebihi sifat penyantun-NYA. Yang kaya, dan tidak ada yang mampu melebihi kekayaan-NYA. Yang Mahaperkasa, dan tidak ada yang dapat melebihi keperkasaan-NYA. Yang mengetahui, dan maha sempurna pengetahuan-NYA; tidak luput sedikit pun dari pengetahuan-NYA. Yang bijaksana, dan tidak ada satu titik pun cacat dari semua tindak tanduk dan kebijaksanaan-NYA. Dan, semua itu hanya ada pada ALLAH, Dzat Yang paling tinggi. Dialah puncak yang tidak ada yang menandingi ketinggian-NYA.

Hikmah apa yang dapat kita ambil dari ALLAH sebagai AS SHAMAD? Kalau pun kita harus berharap kepada makhluk, maka harapan itu hanya sebatas lisan saja. Hati sepenuhnya berharap dan bergantung pada ALLAH semata. Mati-matian kita berharap pada makhluk, kalau ALLAH tidak mengizinkan, maka tidak akan pernah terjadi. Kita akan lelah dalam hidup kalau kita berharap dan menggantungkan diri pada makhluk. Sebab, orang yang kita gantungi sekali-kali tidak dapat menolong dirinya sendiri.

Karena itu, kita harus melatih diri untuk tidak bergantung pada makhluk, termasuk pada jabatan, harta, pasangan hidup, dan pertolongan manusia. Kita pun harus mulai melatih anak-anak kita agar tidak terlalu bergantung kepada orang tua. Kita pun jangan terlalu bergantung pada tabungan, tak ada angka pasti dari tabungan yang bisa menjamin hidup kita. Hasbunallah wa ni'mal wakil, ni'mal maulaa wa ni'mal wakiil. Cukuplah ALLAH sebagai tempat bergantung. Semua harapan dalam hidup harus berada dalam wadah pengharapan pada ALLAH.


||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||

Pengharapan total pada ALLAH adalah amalan batin. Fisik dan pikiran memiliki kewajiban lain. Kita harus proporsional dalam bertindak, jangan sampai "serba untuk dan pada ALLAH," tapi kewajiban lain tidak disempurnakan ikhtiarnya. Intinya, keyakinan hati seratus persen dan ikhtiar pun seratus persen. Insya ALLAH kita akan mendapatkan hasil maksimal dalam hidup. Walau demikian, ALLAH berjanji, "Aku adalah sesuai prasangka hamba-Ku". Karena itu, semakin kita yakin pada ALLAH, maka ALLAH pun akan semakin membukakan pertolongan-NYA. Inilah keajaiban sebuah keyakinan.

Hikmah lainnya dari AS SHAMAD ini, kita "kalau bisa" harus menjadi tumpuan dan harapan orang lain. Di keluarga, kita dapat menjadi tumpuan anak istri juga saudara-saudara. Karena ALLAH akan menolong orang yang gemar menolong dan meringankan beban orang lain. "Barang siapa memudahkan urusan orang lain, maka ALLAH pun akan memudahkan urusannya dunia akhirat," ungkap Rasulullah صلى الله عليه وسلم.

Karena itu, tidak salah apabila kita mencita-citakan diri menjadi jalan pertolongan dan bantuan bagi orang lain. Semoga bila kita berlaku demikian, pada satu sisi kita yakin kepada ALLAH dan pada sisi lainnya kita ditolong oleh ALLAH. Wallahu a'lam bish-shawab.




Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

::: ANUGERAH ALLAH YANG INDAH ... OH IBUNDA :::


Ringkih dan renta karena ditelan usia, namun tampak tegar dan bahagia. Ikhlas, memancarkan selaksa cinta penuh makna yang membias dari guratan keriput di wajah. Tiada yang berubah sejak saat dalam buaian, hingga sekarang mahkota putih tampak anggun menghiasinya. Dekapannya pun tak berubah, luruh memberikan kenyamanan dan kehangatan...


Jemari itu memang tak lagi lentik, namun selalu fasih menyulam kata pinta, membaluri sekujur tubuh dengan do'a-do'a. Kaki tampak payah, tak mampu menopang tubuhnya. Telapak tempat surga itu pun penuh bekas, simbol perjuangan menapak sulitnya kehidupan.


Ibunda...

Adakah saat ini kita terenyuh mengenangkannya? Ia adalah sebuah anugerah terindah yang dimiliki setiap manusia. Sejak dalam rahim, betapa cinta itu tak putus-putusnya mengalirkan kasih yang tak bertepi.Hingga kerelaan, keikhlasan dan kesabaran selama 9 bulan pun bagai menuai pahala seorang prajurit yang sedang berpuasa, namun tetap berperang di jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala.


Polesannya adalah warna dasar pada diri kita. Menggores sebuah kanvas putih nan suci .. goresan yang diselimuti untaian ayat suci Al Qur'an, zikir, tasbih serta tahmid, yang akan melahirkan syakhsiyah Islamiyah (kepribadian Islam) pada jiwa ... Ibunda pun berharap tercipta jundullah (tentara Allah) dari sebuah madrasah keluarga.


Polesan warna seorang ibunda, Al Khansa, melahirkan putra-putra kebanggaan Islam yang berani dan luhur akhlaqnya, hingga satu persatu syahid pada perang Qodisyiah. Di sela kesedihannya, ibunda masih berucap, "Alhamdulillah... Allah telah mengutamakan dan memberikan karunia padaku dengan kematian anak-anakku sebagai pencinta Allah... Aku berharap semoga Allah mengumpulkan aku dengan mereka dalam rahmat-Nya kelak."


Banyak... sungguh teramat banyak cinta ibunda yang melahirkan kisah-kisah teladan. Yatim seorang anak pun tidaklah menghalangi ibunda untuk merangkai sejarah dengan tinta emas, terbukti dengan mekar harumnya para mujtahid Imam Abu Hanifah, Imam Syafi'i, Imam Ahmad bin Hambal serta Imam Bukhari. Didikan ibunda mereka telah mampu mendidiknya hingga menjadi anak-anak yang gemar menuntut ilmu tanpa kenal lelah, bahkan mandiri dalam segala suasana ..


Kita mungkin dilahirkan dari rahim seorang perempuan biasa. Bahkan kita pun tidak dilahirkan untuk menjadi seorang pahlawan. Namun, ibunda kita dan mereka adalah sama, sebuah anugerah terindah dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.


Duhai jiwa, sekiranya engkau sadar bahwa tanpa do'a ibunda, niscaya semua masih angan-angan belaka.


Duhai ibunda...
Maafkan jika kami belum mampu mecurahkan kasih sayang terbaik , sepenuh kasih kasih sayang ibunda ...

Sungguh, jiwa dan jasad ini ingin terbang ke angkasa lalu luruh di pangkuan, mendekap tubuh sepuh, serta menangis di pangkuanmu. Hingga terhapuskan kerinduan dalam riak anak-anak sungai di ujung mata. Rengkuhlah ananda dengan belai kasih sayangmu bagai masa kecil dulu. Mengenangkan indahnya setiap detik dalam rahimmu dan hangatnya dekapanmu. Buailah dengan do'a-do'a hingga ananda pun lelap tertidur di sampingmu.


Duhai ibunda...
Keindahan dunia tak akan tergantikan dengan keindahan dirimu. Sorak-sorai pesona dunia pun tak dapat menggantikan gemuruh haru detak jantung saat engkau memelukku. Indah... semua begitu indah dalam alunan cintamu, menelisik lembut, membasahi lorong hati dan jiwa yang rindu kasih sayangmu.


Duhai ibunda...
Bukakanlah pintu ridhomu, hingga Allah pun meridhoi kami , putera-puterimu ..


Duhai Rabb, Kekasih hati ..
Sayangilah ayahanda dan ibunda kami di dunia & di akhirat ..
Kami titipkan mereka tercinta selalu ..
dalam keimanan terbaik.., kasih sayang dan pemeliharaan Mu ..



Abu Aufa

::: DENGARKANLAH SUARA HATI ... :::






Bismillahirahmannirahim,

Dengarkanlah suara hati ...
ADAKAH yang lebih bening dari SUARA HATI, kala ia menegur kita tanpa suara? Adakah yang lebih jujur dari nurani, saat ia menyadarkan kita tanpa kata-kata? Adakah yang lebih tajam dari MATA HATI, ketika ia menghentak kita dari beragam kesalahan dan alpa? Ya, sebenarnya saat yang paling indah dari seluruh putaran kehidupan ini adalah saat kita mampu secara jujur dan tulus mendengar SUARA HATI.

Sebab, dari sanalah banyak tindakan dan perilaku kita menemukan arahnya yang benar. Dari sana amal-amal dan segala proses kehidupan kita memiliki pijakannya yang kokoh: niat dan orientasi yang lurus. Begitulah Rasulullah menggambarkan, bahwa HATI ADALAH PANGLIMA. Bila ia benar dan sehat, sehat pula seluruh aktifitas fisik pemiliknya. Sebaliknya, bila ia rusak, rusak pula segala tingkah laku fisiknya.

Di dalam HATI kita, di dasar sanubari kita yang paling dalam, ada kekuatan yang sangat perkasa, sekaligus sumber kedamaian yang tiada tara. Di sanalah bersemayam FITRAH dan JATI DIRI ketundukan kita – juga setiap manusia – kepada Allah سبحانه وتعالى. Setiap manusia sejak kali pertama ditakdirkan ada, telah diikat dengan kepatuhan kepada tauhid, mengesakan Allah yang Maha Esa. Allah سبحانه وتعالى berfirman,

♥ ♥ ♥ ♥ “Dan (ingat-lah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Al-A’raf: 172)


||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦

MINTALAH PENDAPAT KEPADA HATIMU

Fitrah kemusliman atau ketundukan itu merupakan warna asli dari keseluruhan tabiat fisik dan psikis kita. Fitrah, yang dengannya manusia dititahkan, memberi kita sensor diri dan pelita penerang jalan. Dalam batasan kemanusiaan, petunjuk itu diberikan oleh suara HATI nurani yang jujur. Dalam suatu kesempatan, Rasulullah pernah mengajarkan kepada seorang sahabat bagaimana cara sederhana menentukan sesuatu itu baik atau buruk; “istafti qalbaka”, mintalah fatwa kepada hatimu. Atau dalam kesempatan yang lain ia mengatakan, bahwa barangsiapa yang amal baiknya membuat hatinya suka, dan amal buruknya membuat ia gelisah maka dia itu muslim.

Artinya, dalam banyak hal, semestinya orang bisa bertanya kepada HATI nuraninya apakah sesuatu itu baik atau buruk. Manusia diberi kemampuan untuk mengetahui secara standar apa saja yang layak atau tidak untuk dijalani. Manusia punya ukuran kepatutan kemanusiaan-nya.

♥ ♥ ♥ ♥ "Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” (Asy-Syams: 91, 7-8)

Karenanya, manusia bila pun tidak mengerti banyak tentang ajaran wahyu Allah, semestinya ia masih bisa mendengar secara tulus apa SUARA HATI nuraninya.

Tetapi kebesaran dan sekaligus kesulitan manusia terletak pada haknya untuk memilih antara benar dan salah, berdasarkan ilham itu. Maka Allah tidak saja mencukupkan kita dengan HATI nurani. Pada saat yang sama Ia menurunkan WAHYU serta mengutus para Rasul untuk mengajari manusia bagaimana mengelola insting-insting dasarnya, sekaligus mempertajam HATI nuraninya. Di sanalah berpadu antara kelurusan tujuan, dengan dasar-dasar tabiat kemanusiaan.

Melalui Al-Qur’an, Islam membimbing manusia bagaimana menitik-beratkan pada hasrat hidup bermakna sebagai motif asasi. Dengan kata lain, kita harus menjalani hidup ini dengan makna yang jelas, dengan rasa berarti yang sebenar-benarnya.

Konsistensi, stabilitas, ketenangan, kedamaian, juga kebahagiaan manusia, berbanding lurus dengan sejauh mana ia menyelaraskan diri dengan fitrahnya serta menghadapkan wajahnya ke jalan Islam. Bila manusia menyalahinya, akan menjadikan banyak unsur dalam kehidupan ini tidak bisa berfungsi dengan baik. Akan ada banyak ketimpangan dan kejanggalan. Kehidupan tidak berjalan di atas rel yang semestinya. Allah سبحانه وتعالى berfirman,

♥ ♥ ♥ ♥ “Dan barang-siapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan." (Luqman: 22)

Fitrah yang telah ditetapkan atas diri manusia itu tidak akan berubah. Apapun peradaban dan kemajuan yang telah dicapai manusia.

♥ ♥ ♥ ♥ "Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah Allah itu. Tidak ada penambahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (Ar-Ruum; 30)


||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦

SERINGKALI SUARA HATI NYARIS TAK TERDENGAR

Seringkali suara HATI nyaris tak terdengar, lantaran tersumbat oleh daki-daki hawa nafsu. Atau terselimuti dosa-dosa dan kemaksiatan. Mungkin, di antara kita pernah menjumpai hari-hari yang terasa gersang, kering, dan tak ada setetes pun kesegaran. Hidup seperti tak berdenyut dan nyaris tanpa gairah. Begitulah HATI menjadi air muka kita, pahit atau manisnya. Ia juga menjadi ruh kehidupan kita, redup atau terangnya. Dalam makna ini, barangkali, kita menghayati penjelasan Rasulullah, bahwa Allah tidak melihat kepada tampilan lahiriah manusia, tetapi melihat kepada isi HATI mereka.

Maka, mengotori HATI dengan dosa, sama artinya dengan memadamkan cahayanya, mengacaukan jernih suaranya, dan memandulkan ketajamannya. Seperti ditegaskan Rasulullah صلى الله عليه وسلم,

♥ ♥ ♥ ♥ “Sesungguhnya, dosa-dosa itu bila terus menerus menimpa HATI, maka ia akan menutupinya. Dan bila HATI telah tertutup, akan datang kunci dan cap dari Allah سبحانه وتعالى. Bila sudah demikian, tak ada lagi baginya jalan, tidak ada jalan keimanan untuk masuk ke dalamnya, tidak juga jalan kekafiran untuk keluar darinya."



Ketahuilah, kebenaran itu, bersumber dari Allah, sedangkan pembenaran itu bersumber dari manusia. Perhatikan firman Allah Swt berikut ini : ”Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu” (QS. Al Baqarah [2] : 147).

Sebenarnya kalau kita mau jujur dengan hati kita sendiri, maka kita akan menemukan bahwa kebenaran itu membawa pada ketenangan tapi sebaliknya pembenaran yang kita lakukan, akan membawa kita pada kegelisahan. Perhatikan hadits shahih berikut ini : ”Seorang sahabat Nabi Saw yang bernama Wabishah ra datang dengan menyimpan pertanyaan di dalam hatinya tentang bagaimanakah cara membedakan antara kebajikan dan dosa. Sebelum Wabishah bertanya, cermin hati Nabi Saw telah menangkap isi hatinya. ” Wahai Wabishah, mau aku jawab langsung atau engkau utarakan pertanyaanmu terlebih dahulu?” Wabishah menjawab,” Jawab langsung saja, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda,” Engkau datang untuk bertanya bagaimana membedakan antara kebajikan dan dosa.” Wabishah berkata, “Benar.” Beliau Saw merapatkan jari-jarinya dan menempelkannya pada dada Wabishah, seraya bersabda “Mintalah pendapat pada hatimu dan mintalah pendapat pada jiwamu, wahai Wabishah. Sesuatu itu adalah kebaikan bila ia membuat hati tenteram, membuat jiwa tenteram, sedangkan dosa membuat kegelisah dalam hati dan kegoncangan dalam dada.(Mintalah pendapat pada hatimu dan mintalah pendapat pada jiwamu), meskipun orang-orang telah memberikan pendapat mereka kepadamu tentang hal itu.” ( HR.al-Darimi dari Wabishah ra dan HR. Ahmad).


Tidak semua orang bisa mendengar SUARA HATI-nya. Banyak orang silau dengan kehidupan yang kian berwarna. Padahal, kebersihan HATI tidak saja pelita di dunia, tapi juga bekal menghadap Allah سبحانه وتعالى. Kelak, ketika manusia diadili di hadapan Allah سبحانه وتعالى, pada hari ketika anak dan harta tidak berguna, hanya HATI yang bersihlah yang bisa mengantarkan manusia menghadap Allah,

♥ ♥ ♥ ♥ “Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan HATI yang bersih." (Asy-Syu’ara: 89)


 


Saatnya kita sesering mungkin mendengarkan suara HATI, dengan tulus, jujur dan penuh kelapangan. Suara HATI kita, nurani kita, kata HATI kita, adalah jati diri keaslian kita. Akankah kita mengkhianatinya? 



Wallahu a'lam bishawab,

AMZ

::: SUJUD YANG MELEKAT .... :::


Bismillahirahmannirahim,

Dikisahkan oleh Rabiah bin Ka’ab al-Aslami, bahwa pada suatu malam ia pernah menyediakan seember air wudhu dan keperluan-keperluan lain yang dibutuhkan Rasulullah SAW. Melihat kebaikan yang dilakukan oleh Rabiah, Rasulullah berkata kepadanya, “Mintalah sesuatu dariku, wahai Rabiah.”

Rabiah pun menyebutkan permintaannya. “Wahai Rasulullah, aku minta agar Allah menjadikanku sebagai pendampingmu di surga kelak.” Rasulullah bertanya lagi, “Apakah tak ada permintaan selain itu?”

“Tidak ada, wahai Baginda Nabi. Hanya itu yang ingin aku minta darimu,” jawab Rabiah. “Jika demikian, maka jagalah dirimu untuk memperbanyak sujud.” (HR Muslim).


Sujud pada hakikatnya bukanlah sekadar gerakan dan ritual yang ada dalam shalat. Lebih dari itu, sujud adalah salah satu bentuk "kepasrahan secara total dengan merendahkan diri serendah-rendahnya di hadapan keagungan Allah yang Mahakuasa."

Sujud merupakan bentuk pengharapan, ridha dan cinta dari Dzat Yang Maha Melihat, serta bentuk syukur atas beragam nikmat Allah, (Ridha dan Harap)


Sujud ialah bukti keimanan seorang Mukmin. “Sesungguhnya orang yang benar-benar beriman kepada ayat-ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu, mereka segera bersujud seraya bertasbih memuji Rabbnya dan mereka tidak menyombongkan diri.” (QS al-Sajdah [32]: 15).


Sujud merupakan bukti nikmat dan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.

“Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dari keturunan Ibrahim dan Israil (Ya’qub), dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS Maryam [19]: 58).


Sujud juga merupakan momen " Paling Intim" antara seorang hamba dengan Rabb nya. Sujud yang begitu melekat , seakan-akan tak ingin berpisah dengan kerinduan yang memuncak dan kecintaan penuh seorang hamba kepada Rabb nya.

“Sesungguhnya saat yang paling dekat antara seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika ia sedang bersujud.” (HR Muslim).


Dengan memperbanyak sujud , seorang hamba akan memperoleh nikmat " Ibadurrahman ", yaitu hamba-hamba Allah yang Maha Penyayang, yang kelak Allah menjamin dirinya masuk surga.

“Dan Ibadurrahman (hamba-hamba Allah yang Maha Penyayang) ialah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang jahil menyapa, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. Dan, mereka adalah orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.” (QS al-Furqan [25]: 63-64).


Dengan sujud pula Allah berkenan " Mengangkat derajat " para sahabat Rasul dan menjadikan mereka sebagai " Golongan paling mulia" dalam sejarah umat manusia.

"Dan, orang-orang yang bersamanya bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang dengan sesama mereka. Kamu melihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.” (QS al-Fath [48]: 39).


Ya Allah yang Maha Sempurna,
Kami datang kepada MU ,
dengan segala kehinaan diri ..



Wallahu a’lam bishawab

::: SHALAT KHUSYUK ITU MUDAH DAN SANGAT NIKMAT ... :::


Bismillahirahmannirahim,

Satu prinsip utamanya adalah jangan ‘mencari’ khusyu’, cukup siapkan diri untuk ‘menerima’ khusyu’ itu, karena khusyu’ bukan kita ciptakan tapi ‘diberi langsung’ oleh Allah sebagai hadiah nikmat kita menemuiNya.


RILEKS

Maka saya bersikap rileks. Kepala hingga pinggang dikendorkan, jatuh laksana kain basah yang dipegang ujungnya dari atas. Berat badan mengumpul di kaki yang kemudian serasa keluar akarnya, mengakar ke bumi. Berdiri santai, senyaman kita berdiri. Abu Sangkan (1) menggambarkan laksana pohon cemara, meluruh atasnya, kukuh akarnya sehingga luwes tertiup angin namun tak roboh. Bersikap rileks menyiapkan diri kita untuk siap ‘menerima’ kurnia khusyu’, karena khusyu’ itu diberi bukan kita ciptakan.

Lalu saya mulai bertakbir, Allahu Akbar. Dan selanjutnya saya baca dengan pelan-pelan. Karena bacaan subuh harus diucapkan agak keras, maka saya rendahkan suara saya. Pelan (Perlahan) sesuai tips buku itu, rendah suara karena -jujur- saya agak malu kalau suara saya terdengar isteri saya yang sedang tiduran. Rasanya seperti baru belajar solat lagi. Saya berdiri lama, banyak berhenti kalau memang sedang tidak ingin baca. Saya meresapi kesendirian dan berusaha menangkap kehadiran Tuhan yang sesungguhnya amat dekat dengan kita, namun kita tumpul untuk merasakannya. Saya sedang menemuiNya sekarang. Saya, roh saya tepatnya. Badan fisik ini hanyalah alat yang mengantar roh ini berjumpa kembali dengan yang dicintainya, ialah Allah yang meniupkan roh ini dahulu ke dalam badan fisik.


Ketika kita solat, selain badan fisik kita ini solat pula roh kita. Roh inilah yang benar-benar ingin solat - kembali menemui Tuhannya- sementara badan fisik ini sarana kita mengantarnya dengan gerakan dan bacaan. Roh kita ini sesungguhnya ingin solat dengan tenang, santai, tuma’ninah. Sayangnya badan kita ‘ngebut’ (suka berebut, lekas, cepat, terburu-buru) jadilah roh kita itu jengkel. sejengkel-jengkelnya kerana selalu ketinggalan gerakan badan. Maka tips sederhana dari buku itu adalah jika ruku’, tunggu, tunggu hingga roh ikut mantap dalam ruku’ itu. Saat I’tidal, tunggu, tunggu hingga roh mu ikut mantap I’tidal. Demikian pula saat sujud, duduk antara dua sujud, juga duduk tasyahud. Tunggu, tunggu hingga roh mu ikut sujud, ikut duduk, ikut tasyahud.


BERIKAN KESEMPATAN PADA ROH KITA

Berikan kesempatan roh kita - sebut saja “aku” yang sejati - untuk mengambil sikap solatnya. Dia agak lamban, namun sholat ini utamanya untuk ‘aku” kita itu, bukan untuk badan fisik kita.

Maka saya solat dengan sangat perlahan. Santai. kalau sedang malas baca, saya diam saja. menikmati kepasrahan saya hadir menemui Tuhan. Saya baca bacaan solat dengan pelan .. Saya mencoba berdialog, dan itulah memang esensi sholat.


ESENSI SOLAT ADALAH DO'A, BERDIALAOG DENGAN ALLAH SECARA LANGSUNG

Kita sebenarnya diberi kesempatan untuk mengadu. Kita adukan semua persoalan kita kepada Allah. Kita adukan semua kebingungan kita, pekerjaan, rezki, kesehatan, cinta, dan semua apapun. Kita mengadu, dan kita pasrah menunggu dijawab. Dan pasti Allah menjawabnya langsung. Roh bisa merasakannya, namun kalau dia dipaksa tertinggal-tinggal oleh gerakan badan, maka dia tidak sempat menikmati pertemuan dengan Allah itu.

Saat ruku’ saya ruku’ lama, sambil menarik regang kaki dan punggung saya. Nikmati saja seperti menikmati peregangan bila senam. Saat sujud, saya tumpukan kepala sebagai tumpuan utama. Nikmat rasanya ‘terpijat’ dahi ini oleh gerak sujud. Saat roh telah ikut sujud, saya baca dengan penghayatan, “Subhana robbiyal a’laa wa bi hamdih” (Maha Suci Engkau yang Maha Tinggi dan Maha Terpuji). Rasanya nikmat sekali sujud lama.

Lalu, lalu saya duduk setelah sujud. Saya baca sepotong-sepotong bacaannya, sesuai tips buku itu. Robbighfirlii (Ya Tuhan ampunilah aku). Lalu saya diam. Tiba-tiba keluar sendiri air mata, saya menangis karena menyadari betapa dalam makna kalimat pengaduan ini. Kita minta secara langsung untuk dimaafkan. Roh kita meminta secara langsung, dan Allah menjawabnya.

Saya menangis. Roh saya, kita yang sejati, menangis.

# War hamnii (dan sayangilah aku), air mata itupun tumpah.

# Wajburnii. Diam.

# War fa’nii. Diam. Saya tak terlalu yakin arti yang saya baca. Tapi saya makin menangis.

# Warzuqnii (beri rizki padaku -Ya Allah), air mata saya tumpah, betul-betul saya tiba-tiba sadar bahwa selama ini saya mengejar-ngejar rezeki tapi tidak serius mengakui itu dariNya, lalu saat ini saya sedang memintanya langsung!

# Wahdinii (tunjukilah aku -karena aku sedang bingung dan tak tahu). Diam, saya menangis.

# Wa’aafinii (dan sihatkan aku -aku yang sedang sakit pelik).

# Wa’fuannii (dan maafkan aku- yang banyak dosa ini). Saya duduk lama sekali. Sambil mengusap air mata yang bercucuran.



SAYA MENGANGKAT TANGAN SEPERTI SEORANG PENGEMIS ...

Solat Subuh dua rakaat ini panjang. Ditutup dengan tasyahud yang menggetarkan. Apalagi ketika membaca “Assalaamu’alainaa wa ‘alaa ibaadillahisshoolihiin” (keselamatan mohon dikaruniakan kepada kami - para roh yang sedang menemuiMu - dan atas roh-roh ahli-ahli ibadah yang soleh). Saya menangis terus-menerus, sehingga berulang kali mengusap hingus yang keluar dari hidung.

Setelah solat, sesuai dengan tips buku itu, saya mulai berdoa dengan meratap. Saya ucapkan hanya, “Ya Allah… Ya Allah… Ya Allah…”, sambil mengangkat tangan setinggi wajah seperti seorang pengemis yang meminta-minta. Berkali-kali, hingga hati saya siap berdoa.

Saya ingat buku Al Ghazali dulu saya baca, sekitar 15 tahun lalu, yang berjudul Rahasia Solat. Salah satu point yang saya ingat adalah, kalau kita ingin dekat Allah maka kita harus sungguh-sungguh memanggilnya laksana seorang anak kecil yang ketakutan karena ada ular atau bahya, lalu memanggil-manggil ayahnya, “Ayah… Ayah… Ayah…”, maka ayahnya pasti datang dengan seruan itu dan melindungi anak tersebut. Demikianlah kalau kita ingin bebas dari maksiat, kata Al Ghazali, maka kita harus panggil dengan betul-betul ketakutan akan maksiat tersebut, kita panggil pelindung kita dengan sungguh-sungguh seakan anak kecil memanggil-manggil ayahnya, maka akan dilindungi kita dari maksiat tersebut.

Lalu saya berdoa, dengan masih terus menangis. Saya merasa mengadu dan masih mengadu di depan Tuhan secara langsung. Saya mengikhlaskan apapun jawaban dari doa saya tersebut.

Saya bahagia bisa merasakan solat seperti itu. Tidak akan tergantikan dengan wang dan kemewahan dunia lainnya.


SUNGGUH PENGALAMAN YANG MENAKJUBKAN

Sungguh pengalaman yang menakjubkan. Cerita berhalaman-halaman tidak akan mampu melukiskan hal itu. Silakan coba sendiri, rasakan sendiri, menangislah bermohon kepada Allah.


Khusyu’ dalam solat adalah cermin kekhusyu’an seseorang di luar solat.
--------------------------------------------------------------------------

Khusyu’ dalam solat adalah sebuah ketundukan hati dalam zikir dan kosentrasi hati untuk taat, maka ia menentukan nata’ij (hasil-hasil) di luar solat. Oleh kerana itulah Allah memberi jaminan kebahagiaan bagi mu’min yang khusyu’ dalam solatnya.

“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman. Yaitu orang-orang yang dalam solatnya selalu khusyu’” (Al-Mu’minun:1-3).


Begitu juga iqamatush-shalah yang sebenarnya akan menjadi kendali diri sehingga jauh dari tindakan keji dan munkar. Allah berfirman,

“Dan tegakkanlah solat, sesungguhnya solat itu mencegah tindakan keji dan munkar” (Al-Ankabut:45).


Sebaliknya, orang yang melaksanakan solat sekadar untuk menanggalkan kewajipan dari dirinya dan tidak megambil berat kualiti solatnya, apatah lagi waktunya, maka Allah dan Rasul-Nya mengecam pelaksanaan solat yang semacam itu. Allah berfirman,

“Maka celakalah orang-orang solat, iaitu orang-orang yang lalai dari solatnya” (Al-Maun: 4-5)


Solat yang tidak khusyu’ merupakan ciri solat orang-orang munafik. Seperti yang Allah firmankan,

“Sessungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, padahal Allah (balas) menipu mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk solat mereka berdiri malas-malasan, mereka memamerkan ibadahnya kepada banyak orang dan tidak mengingat Allah kecuali sangat sedikit” (An-Nisa’:142).


Rasulullah saw. bersabda,

“Itulah solat orang munafiq, ia duduk-duduk menunggu matahari sampai ketika berada di antara dua tanduk syetan, ia berdiri kemudian mematok empat kali, ia tidak mengingat Allah kecuali sedikit.” (Diriwayatkan Al-Jama’ah kecuali Imam Bukhari).


Semoga Allah memberi karunia dan rahmat , khusyu ni'mat dalam solat bagi kita bersama.. aamiin



Wallahua'lam bishawab,
Semoga bermanfaat ...

::: MENELADANI DZAT YANG MAHA PEMBERI (AL WAHHAB) :::



Bismillahirahmannirahim,

Saudaraku yang dirahmati Allah ,

Barangsiapa yang beribadah kepada Allah demi mendapat keuntungan surga, sesungguhnya ia telah menjadikan Allah sebagai 'sarana' untuk mendapatkan surga, dan bukan menjadikan-NYA sebagai TUJUAN .

Semoga Allah Yang Mahakaya lagi Mahasempurna pemberian-Nya mengaruniakan kepada kita kemampuan untuk ikhlas dalam beramal; kemampuan untuk tidak bergantung selain kepada-Nya.


Saudaraku, Allah 'Azza wa Jalla Maha Mengetahui kebutuhan setiap makhluk-Nya. Dengan rahmat dan karunia-Nya, Ia memberikan segala apa yang dibutuhkan manusia tanpa diminta. Ia tidak berharap imbalan, balasan, ataupun pujian dari makhluk-Nya. Maha Suci Allah dari ketergantungan terhadap apapun.


ALLAH adalah Dzat yang memiliki sifat Al-Wahhab; sifat Maha Memberi. Makna Al-Wahhaab menekankan bahwa hanya Allah-lah yang sanggup memberi siapa pun yang membutuhkan, tanpa mengharap imbalan. Tiada seorang pun yang berhak menyandang predikat Al-Wahhaab karena makhluk memiliki sifat yang tidak sempurna, serba kekurangan, sehingga mustahil ia bisa memberi secara berkesinambungan. Sementara Allah adalah Al-Wahhaab, Maha Memberi dengan terus berkesinambungan karena Dia Mahakaya dan Mahatahu Kebutuhan makhluk-Nya.


Al Wahhaab adalah sifat 'kedermawanan' Allah kepada seluruh makhluk... Tiada yang sanggup berbuat dermawan seperti sifat Allah ini.

Betapa tidak, setiap pemberian yang dilakukan manusia selalu berujung pada kepentingan tertentu, yakni mendapat imbalan. Imbalan dalam konteks makna ini, bukan sekadar sesuatu yang material. Bisa saja sekadar pujian, persahabatan, menghindari celaan, demi ketenangan hati, atau berharap selamat hingga masuk surga. Apa yang dilakukan manusia lebih tepat jika disebut suatu "transaksi".

Satu-satunya sifat yang bisa mendekati sifat Al-Wahhaab adalah jika saja manusia bisa mengorbankan jiwa dan miliknya " DEMI ALLAH SEMATA " bukan demi tercapainya kenikmatan surga atau terhindar dan kepedihan neraka. Sifat inipun lebih tepat disebut murah hati.
Satu tingkat di bawahnya adalah mereka yang memberikan dengan sukarela demi tercapainya kenikmatan surga. Sedangkan tingkat lebih rendah lagi adalah orang yang memberi untuk mendapatkan pujian, bahkan imbalan kebaikan bagi dunianya.


Amal Ibadah yang murni untuk Allah Ta'ala . sebagaimana difirmankan-Nya:

"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah (beramal ibadah) dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus..." (al-Bayyinah: 5)


Karunia Allah yang akan didapatkan oleh seorang hamba yang murah hati adalah "Keridhaan dan Pertemuannya dengan Allah Azza wa Jalla". Inilah kebahagiaan hakiki.


Siapa yang beribadah kepada Allah demi mendapat keuntungan surga, sesungguhnya ia telah menjadikan Allah sebagai 'sarana' untuk mendapatkan surga, dan bukan menjadikan-Nya sebagai tujuan.

Barangkali, jika saja surga dapat dicapai dengan cara lain tanpa beribadah kepada Allah, bisa jadi dia tidak akan beribadah kepada Allah karena ia tak akan memperoleh surga dengan cara itu. Ia akan melakukan apapun untuk mencapai tujuannya. Dan, Allah bukanlah menjadi tujuannya.


Semoga kita mampu meneladani sifat kedermawanan dalam diri , dan menyempurnakan niat , ikhlas beramal ibadah demi Kecintaan kepada Allah semata , Aamiin.



Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

Wallahu'alam bish-shawab.