Minggu, 22 Januari 2012

JEMBATAN SHIRAT



Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh


Salah satu peristiwa dahsyat yang bakal dialami oleh setiap orang yang telah mengucapkan ikrar syahadat Tauhid ialah keharusan menyeberangi suatu jembatan yang dibentangkan di atas kedua punggung neraka jahannam. Ia tidak saja dialami oleh ummat Islam dari kalangan ummat Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam, melainkan semua orang beriman dari ummat para Nabi sebelumnya juga wajib mengalaminya.

Peristiwa ini akan dialami oleh setiap orang beriman, baik mereka yang imannya sejati maupun yang berbuat banyak maksiat termasuk kaum munafik. Menurut sebagian ahli tafsir peristiwa menyeberangi jembatan di atas neraka telah diisyaratkan Allah di dalam Al-Qur’anul Karim.
Jembatan yang menghubungkan Padang Mahsyar dengan Syurga, menurut keterangan sahabat Abu Said, "Jembatan ini lebih kecil dari rambut dan lebih tajam dari pedang

Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam pernah bersabda:

"Sesungguhnya Allah telah menciptakan Sirath yang berada diatas neraka, iaitu jambatan yang terletak ditengah-tengah neraka jahannam yang sangat licin dan dapat menggelincirkan.
Jembatan ini mempunyai 7 gardu (pos), yang setiap gardu jaraknya sama dengan perjalanan 3000 tahun, seribu tahun berupa tanjakan yang tinggi, seribu tahun berupa dataran, dan seribu tahun berupa lereng yang curam. Ia lebih kecil dan lembut dari pada rambut, lebih tajam dari pada pedang, dan lebih gelap dibandingkan malam yang pekat. Setiap gardu mempunyai 7 cabang, setiap cabang bentuknya bagai panah yang ujungnya tajam. Duduklah setiap hamba diatas setiap gardu tersebut dan ditanyakan kepadanya tentang perintah-perintah Allah
Selama perjalanan di shirath, setiap seorang hamba akan ditanyakan tentang apa saja yang telah ia kerjakan selama hidupnya. Pertanyaan disetiap pos adalah sebagai berikut:
Pos pertama iman,
Pos kedua solat,
Pos ketiga zakat,
Pos keempat puasa,
Pos kelima haji dan umrah,
Pos keenam whudu dan mandi wajib,
Pos ketujuh tentang sikap terhadap kedua orang tua, menyambung tali persaudaraan dan penganiayaan terhadap sesama makhluk hidup.

Jika seorang hamba meloloskan dari semua pertanyaan-pertanyaan ini, maka tetaplah ia pada pos dan jika tidak, maka ia akan dilemparkan ke dalam neraka.

Dalam suatu riwayat diceritakan: Sesungguhnya ketika manusia melewati jambatan, maka api neraka berada di bawah telapak kaki mereka, ada yang berada diatas kepala mereka, ada yang berada di sebelah kanan dan kiri mereka, serta ada yang berada di belakang dan di depan mereka.
Allah berfirman dalam Surah Maryam:
“ Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu, hal itu bagi Tuhanmu adalah kepastian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertaqwa dan membiarkan orang-orang yang zhalim didalam neraka dalam keadaan berlutut." (Templat:Quran-s).

Sedangkan api neraka itu selalu memakan tubuhnya, mulai dari kulit sampai dagingnya, sehingga orang yang lewat diatas jambatan itu bagaikan arang yang hitam, kecuali orang-orang yang selamat dari api neraka. Sebagian mereka ada yang melewati neraka tanpa disertai rasa takut terhadap apapun dari kesulitan dan tidak pula merasakan panasnya, hingga ia berkata pada akhir perjalanannya: "Dimanakah jembatan itu ?" Lalu dikatakan kepadanya: "Telah engkau lalui jembatan itu tanpa kesusahan berkat rahmat Allah.

Manusia yang pertama kali menginjakkan kakinya di Sirath adalah Muhammad, dia akan memimpin kumpulan-kumpulan umatnya.

Kumpulannya terbagi menjadi 10 bagian, yaitu:
Kumpulan pertama berjaya melintasi seperti kilat yang memancar.
Kumpulan kedua melintasi seperti angin yang kencang.
Kumpulan ketiga melintasi seperti kuda yang baik.
Kumpulan yang keempat seperti burung yang pantas.
Kumpulan yang kelima berlari.
Kumpulan keenam berjalan.
Kumpulan ketujuh berdiri dan duduk karena mereka dahaga dan penat. Dosa-dosa terpikul di atas belakang mereka.


Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam berhenti di atas Shirath. Setiap kali, Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam melihat seorang dari umatnya bergelayut di atas Shirath, kemudian ia akan menarik tangannya dan membangunkan dia kembali.

Kumpulan kedelapan menarik muka-muka mereka dengan rantai kerana terlalu banyak kesalahan dan dosa mereka. Bagi yang buruk, mereka akan menyeru: "Wahai Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam!" Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam kemudian berkata: "Tuhan! Selamatkan mereka! Tuhan! Selamatkan mereka"!
Kumpulan kesembilan dan kesepuluh tertinggal di atas Shirath, mereka tidak diizinkan untuk menyeberang.

Bagaimana seseorang dapat menyeberanginya dengan selamat? Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjelaskan bahwa pada saat peristiwa menegangkan itu sedang berlangsung para Nabi dan para malaikat sibuk mendoakan keselamatan bagi orang-orang beriman. Mereka berdoa: ”Rabbi sallim. Rabbi sallim. (Ya Rabbi, selamatkanlah. Ya Rabbi, selamatkanlah).” Selanjutnya Allah akan memberikan cahaya bagi setiap orang. Baik mereka yang beriman sejati, mereka yang banyak berbuat dosa, maupun yang munafik sama-sama memperolehnya.

Namun ketika sedang melintasi jembatan tersebut orang-orang yang imannya emas akan terus ditemani dan diterangi oleh cahaya tersebut hingga selamat sampai ke ujung penyeberangan. Sedangkan orang-orang munafik hanya sampai setengah perjalanan melintas jembatan tersebut tiba-tiba Allah mencabut cahaya yang tadinya menerangi mereka sehingga mereka berada dalam kegelapan lalu terjatuhlah mereka dari atas jembatan shirath ke dalam api menyala-nyala Neraka Jahannam. Na’udzubillahi min dzaalika!
“Allah akan memanggil umat manusia di akhirat nanti dengan nama-nama mereka ada tirai penghalang dari-Nya. Adapun di atas jembatan Allah memberikan cahaya kepada setiap orang beriman dan orang munafiq. Bila mereka telah berada ditengah jembatan, Allah-pun segera merampas cahaya orang-orang munafiq. Mereka menyeru kepada orang-orang beriman: ”Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kamu.” (QS Al-Hadid ayat 13) Dan berdoalah orang-orang beriman: ”Ya Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami.”(QS At-Tahrim ayat 8) Ketika itulah setiap orang tidak akan ingat orang lain.” (HR Thabrani 11079)

Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari kemunafikan, dan ‘amal perbuatan kami dari riya dan lisan kami dari dusta serta pandangan mata kami dari khianat. Sesungguhnya Engkau Maha Tahu khianat pandangan mata dan apa yang disembunyikan hati.

Allahumma Sholli Wasalim 'ala Muhammad Wa 'ala ali Muhammad


KESIMPULAN

1. Setiap muslim/muslimat memohon kepada Allah minima 17 kali dalam sehari agar mereka ditunjukkan ke Jalan Yang Lurus, “Ihdinash Shirathal Mustaqiim”. Ini menandakan bahwa Jalan Yang Lurus itu adalah sesuatu yang paling mustahak bagi umat manusia.

2. Para Mufassiriin (Pakar Tafsir) berbeda pendapat tentang makna Shirathal Mustaqiim. Ada yang menafsirkannya dengan Islam, Al-Quran, Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah. Kesemua tafsiran itu adalah benar karena saling melengkapi.

3. Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) menggambarkan dalam hadis di atas bahwa Jalan Yang Lurus itu adalah ISLAM. Dua pagar di kiri dan kanannya adalah batasan-batasan Allah. Pintu-pintu yang terbuka pada pagar adalah perkara yang diharamkan oleh Allah. Yang memanggil di permukaan jalan adalah Al-Quran, sedangkan yang memanggil dari atas jalan pula adalah suara hati muslim yang beriman kepada Allah.

4. Jadi Shirathal Mustaqiim yang ada di atas muka bumi bukanlah titian atau jembatan yang terbentang, tetapi ia adalah ISLAM yang kandungan utamanya ialah himpunan suruhan dan larangan Allah sebagaimana yang termaktub dalam Al-Quran dan Sunnah Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam).

5. Keadaan manusia ketika melalui Shirathal Mustaqiim di akhirat nanti adalah sama betul dengan keadaan mereka ketika meniti Shirathal Mustaqim di dunia ini. Semakin kuat dan kokoh pegangan mereka dengan Islam, maka akan semakin lancarlah perjalanan mereka di sana nanti. Al-Jazaa Min Jinsil ‘Amal (Balasan sesuai dengan jenis amal).




Wallahu'alam
Barakallahufikum ...
Dari berbagai sumber
Ayesha Natasha 

HARAP DAN TAKUT - AL HIKMAH



“Jika engkau ingin dibukakan pintu rasa harap, lihatlah karunia-NYA padamu. Namun jika engkau ingin dibukakan pintu rasa takut, lihatlah amal yang kau persembahkan untuk-NYA.”

          ❀ ✿❀ ✿❀ ✿❀ ✿❀ ✿❀ ✿❀ ✿❀ ✿❀ ✿❀ ✿

BILA engkau ingin bebas terbang, milikilah dua sayap yang SEIMBANG. Hingga engkau akan terus bijaksana dalam memandang. Lihatlah semua karunia-NYA kepadamu, segala kebaikan yang telah dilekatkan kepadamu, maka engkau akan terus mengepakkan sayap PENGHARAPAN-mu kepada-NYA (ar-raja’). Lihatlah semua sikap aniayamu, segala keburukan yang telah engkau haturkan kepada-NYA, maka engkau akan terus mengepakkan sayap KETAKUTAN-mu kepada-NYA (al-khauf).

Bila sikapmu demikian, hidupmu akan SEIMBANG. PENGHARAPAN-mu menghadirkan suasana lapang dan senang. KECEMASAN-mu melahirkan suasana sedih dan penderitaan. Dalam sayap yang SEIMBANG, engkau akan bijak MENIMBANG. Dan engkau terbang bebas menuju-NYA dengan pandangan yang sempurna tentang-NYA.

Manusia berada di antara HARAPAN dan rasa CEMAS. Ada perbedaan antara HARAPAN dan angan-angan. Angan-angan adalah HARAPAN tanpa usaha.

♥ ♥ ♥ ♥ Firman Allah, “(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan ahli kitab.” (An-Nisaa’ :123)


||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦

Angan-angan itu seperti mahasiswa yang gagal; tidur sepanjang tahun, tidak hadir di kelas, tidak mengulangi pelajaran, tidak mengikuti kuliah, sedangkan ia mempunyai HARAPAN lulus pada akhir tahun, bahkan dengan predikat cumlaude. Orang ini sedang mengarungi samudera angan-angan. “Barangsiapa mengarungi samudera angan-angan, ia mengambil modal dari orang yang bangkrut (bankrupt),” kata mereka. Samudera angan-angan adalah modal orang yang pailit (bankrupt), yaitu yang barang dagangannya telah habis, tapi ia tidak mendapatkan keuntungan sepeser (1/2 sen) pun.

♥ ♥ ♥ ♥ “(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan ahli kitab.” (An-Nisaa’ :123)

Iman tidak didapat dengan angan-angan. Iman adalah apa yang menancap di dalam hati dan dibenarkan oleh amal perbuatan. Sedangkan HARAPAN adalah angan-angan yang dibuktikan dengan perbuatan.

♥ ♥ ♥ ♥ Firman Allah, “(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia TAKUT terhadap (azab) akhirat dan MENGHARAPKAN rahmat Tuhannya?” (Az-zumar: 9)

HARAPAN ini adalah angan-angan yang disertai dengan aksi; shalat malam, berpuasa, bertakwa kepada Allah, menyampaikan hak kepada pemiliknya, tidak menganiaya orang lain, tidak mengambil hak orang lain, dll.


||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦

Pertanyaannya adalah, manakah yang lebih diutamakan oleh seorang muslim; sisi HARAPAN ataukah sisi rasa CEMAS? Menurut pendapat ulama, saat muda seorang mukmin sayogyanya lebih mengutamakan rasa CEMAS daripada HARAPAN; merasa amalnya sedikit, menganggap banyak maksiat, dan memperbanyak taubat. Rasa CEMAS-nya harus lebih banyak daripada HARAPAN-nya.

Ketika ia sudah mencapai usia senja dan tulangnya menjadi lemah, saat itu ia harus memperbesar HARAPAN-nya. Siapa yang berbaik sangka pada Allah, Allah akan berbaik sangka padanya. Manusia harus selalu berbaik sangka terhadap Allah dan memperbesar HARAPAN ketika ajalnya sudah dekat. Maka kata Ibnu Atha’ dalam hikmah hari ini,

★ ★ ★ ★ “Jika engkau ingin dibukakan pintu rasa HARAP, lihatlah karunia-NYA padamu.Bila engkau ingin melihat rahmat Allah, lihatlah karunia-NYA kepadamu.“

|| “Allah telah memberiku rezki dan hidayah.” Kata Imam Syafi’i, “Tuhanku, Engkau menganugerahiku Islam, padahal aku tidak memintanya. Ya Allah, anugerahilah aku syurga, dan aku memintanya kepadamu.”

Hamba tidak pernah meminta Islam. Ia keluar dari perut ibunya – berkat keutamaan Allah – dalam keadaan muslim, tumbuh dalam keluarga muslim, hidup di antara orang-orang Islam, mendengar suara Azan lima kali sehari, mendapati moment-moment yang bagus, seperti bulan Ramadhan, haji, dll., dan seluruh masyarakat pun dengan semangat menyambut moment-moment tersebut. Semuanya merupakan nikmat Allah yang terus mengalir kepada hamba.


||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦

Jika engkau ingin dibukakan pintu HARAPAN, lihatlah karunia Allah kepada-mu. “Allah memberi-ku rezki, mewujudkan-ku di dalam kehidupan ini, membekali-ku dengan segala keperluannya, kemudian memberi-ku nikmat yang paling agung, yaitu nikmat Islam, nikmat dicintai manusia, nikmat ditutupi-nya dosa-dosa dari manusia.”

Manusia memuliakan kita karena mereka tidak melihat dosa-dosa kita. Mereka tidak mengetahui apa yang diketahui oleh malaikat. Mereka tidak mengetahui apa yang diketahui oleh Tuhan. Ketidaktahuan kita ini merupakan nikmat dari Allah سبحانه وتعالى Sebaliknya, “jika engkau ingin dibukakan pintu rasa TAKUT, lihatlah amal yang kau persembahkan untuk-NYA.”

Engkau perlu khawatir, ketika melihat dosa-dosamu naik kepada Tuhan setiap saat, saat engkau teledor (lalai; lengah, malas-malas) melaksanakan perintah-perintah Allah, saat engkau tidak ingat kepada Allah, saat anggota tubuh-mu tidak menyibukkan diri dengan apa yang diperintahkan kepada-mu, saat hati-mu tidak dipenuhi oleh ketawakalan yang benar, keimanan, rasa TAKUT terhadap Allah, rasa cinta kepada Allah, dan cinta kepada makhluk Allah.

PINTU-PINTU SURGA




Ibnu Abbas ra. berkata: 

Surga mempunyai 8 pintu yang terbuat dari emas, yang dihiasi dengan jauhar (sejenis mutiara) dan pada 

1. Pintu yang pertama tertulis kalimat LAA ILAAHA ILLALLAAH MUHAMMADUR RASUULULLAH, yaitu pintu bagi para Nabi dan Rasul, syuhada’ dan juga pintunya orang-orang yang dermawan. 

2. Pintu yang kedua yaitu pintu bagi orang-orang yang mendirikan shalat, orang yang menyempurnakan wudhunya dan orang yang menyempurnakan rukun-rukun shalatnya. 

3. Pintu yang ketiga yaitu pintu bagi orang-orang yang memberikan zakatnya dengan senang hati dan ikhlas. 
4. Pintu yang keempat yaitu pintu bagi orang-orang yang memerintahkan kepada kebajikan dan mencegah terhadap perbuatan munkar. 

5. Pintu yang kelima yaitu pintu bagi orang-orang yang dapat memelihara syahwatnya dan mencegah dari nafsu yang buruk. 

6. Pintu yang keenam yaitu pintu bagi orang-orang yang melaksanakan haji dan umrah. 

7. Pintu yang ketujuh yaitu pintu bagi orang-orang yang berjihad (dijalan Allah).

8. Dan pintu yang kedelapan yaitu pintu bagi orang-orang yang bertaqwa, yaitu orang yang memejamkan matanya dari perbuatan dan sesuatu yang haram, orang-orang yang melakukan kebaikan, diantaranya: berbuat baik kepada orang tua, mempererat tali persaudaraan (silaturrahim) dan lain sebagainya.



Surga ada 8 (delapan)macam:

Darul Jalal yaitu surga yang terbuat dari mutiara putih.
Darus Salam yaitu surga yang terbuat dari yaqut merah.
Jannatul Ma’wa yaitu surga yang terbuat dari zabarjud hijau.
Jannatul Khuldi yaitu surga yang terbuat dari marjan yang berwarna merah dan kuning.
Jannatun Na’im yaitu surga yang terbuat dari perak putih.
Jannatul Firdaus yaitu surga yang terbuat dari emas merah.
Jannatul ‘Adn yaitu surga yang terbuat dari intan putih.
Darul Qarar yaitu surga yang terbuat dari emas merah.



Darul Qarar adalah surga yang paling utama dibandingkan dengan surga yang lain. Surga ini mempunyai dua pintu dan dua daun pintu, satu daun pintu terbuat dari emas, dan yang satunya terbuat dari perak. Jarak setiap pintu adalah sebagaimana jarak antara bumi dan langit. Adapun bangunan yang ada didalamnya terbuat dari bata emas dan bata perak, tanahnya dari misik, debunya dari anbar, rumputnya dari za’faran, istana-istananya terbuat dari mutiara, punggungnya dari yaqut dan pintunya dari jauhar.

Didalam surga ini terdapat sungai yang namanya sungai Rahmat yaitu sungai yang mengalir keseluruh surga, kerikil-kerikilnya dari mutiara yang sangat putih, lebih putih dari embun dan lebih manis dari madu.

Didalam surga terdapat sungai yang bernama Sungai Kautsar yaitu sungai Nabi kita Muhammad Saw. pohon-poinnya terbuat dari intan dan yaqut. Didalam surga juga terdapat sungai Kafur, sungai Tasnim, sungai Salsabil, sungai Rahiqul Makhtum dan dibelakang sungai-sungai ini terdapat sungai-sungai lain yang tidak terhitung jumlahnya.
Diriwayat Nabi Saw. beliau bersabda
“Pada malam aku dijalankan (isra’) ke langit, telah diperlihatkan kepadaku seluruh surga, maka aku melihat empat sungai, yang pertama sungai dari air yang tidak berubah warnanya, kedua sungai dari susu yang tidak pernah berubah rasanya, dan ketiga sungai dari arak dan yang keempat sungai dari madu yang sangat bening.” Sebagaimana firman Allah Swt.:
“Yang didalamnya terdapat sungai-sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamer yang lezat rasanya bagi orang yang meminumnya dan sungai-sungai dari madu yang bersih dan jernih.” (Qs. muhammad: 15).

Maka aku tanyakan keada Malaikat Jibril as.: 

“Darimanakah datangnya sungai-sungai ini dan kemana mengalirnya? ” Maka Malaikat Jibril as. menjawab: “Sungai itu mengalir ke telaga kautsar dan aku tidak tau dari mana asalnya, maka tanyakanlah kepada Allah agar Dia memberi tau dan memperlihatkan kepadamu.” Maka berdoalah Nabi Muhammad kepada Allah Swt. Kemudian datanglah seorang malaikat kepada beliau dan memberi salam, seraya berkata:”Wahai Muhammad, pejamkanlah kedua matamu” Maka aku pejamkan mataku, lalu ia berkata:”Bukalah kedua matamu” maka aku buka kedua mataku, tiba-tiba aku berada dibawah pohon dan aku melihat kubah dari intan putih yang memiliki pintu-pintu dari yaqut hijau dan kunci-kuncinya dari emas merah.

Andaikata semua makhluk yang ada didunia baik jin atau manusia berhenti diatas kubah itu, sungguh mereka hanya seperti burung yang hinggap diatas gunung. Maka aku melihat empat sungai itu mengalir dari kubah itu. Ketika aku ingin kembali malaikat tadi berkata kepadaku: “Kenapa engkau tidak masuk kedalam kubah itu?” aku menjawab:”Bagaimana aku bisa memasukinya, sedangkan pintu-pintunya tertutup.” Dia berkata:”Bukalah dia” Aku bertanya:”Bagaimana aku harus membukanya?” Lalu dia berkata:”Kuncinya berada ditanganmu” Aku berkata:”Apa kuncinya?” Dia menjawab:”Yaitu lafazh BISMILLAAHIR RAHMAANIR RAHIM” maka terbukalah pintu itu lalu aku masuk kedalamnya.

Maka aku melihat sungai-sungai itu mengalir dari empat tiang kubah. Ketika aku hendak keluar, maka malaikat itu berkata kepadaku:”Apakah engkau telah melihat dan mengetahuinya? ” Aku menjawab:”Ya” Malaikat itu berkata kepadaku: “Lihatlah sekali lagi.” Ketika aku melihatnya, maka tertulis diatas empat kubah tersebut lafazh BISMILLAAHIR RAHMAANIR RAHIM Aku melihat sungai air itu keluar dari huruf Mim-nya lafazh BISMI, sungai susu keluar dari huruf Ha’-nya lafazh Allah, sungai arak (khamer) keluar dari Mim-nya lafazh RAHMAN, dan sungai madu keluar dari Mim-nya lafazh RAHIM. Maka aku baru mengerti bahwa asalnya sungai-sungai tersebut adalah dari lafazh Basmalah.
Kemudian Allah Swt. berfirman: “Wahai Muhammad, barang siapa yang mengingat-Ku dengan nama ini dari golongan umatmu dengan hati tulus (ikhlas) lafazh BISMILLAAHIR RAHMAANIR RAHIIM maka aku beri dia minum dari empat sungai ini.”

Kemudian Allah memberi minum kepada ahli-ahli surga itu dengan air surga pada hari sabtu, memberi minum dengan madu surga pada hari ahad, memberi minum dengan susu surga pada hari senin, dan memberi minum dengan arak pada hari selasa. Disaat mereka minum, mabuklah mereka lalu terbanglah ahli surga itu selama seribu tahun hingga mereka berhenti pada suatu gunung yang besar yang terbuat dari kasturi yang harum semerbak baunya dan sungai Salsabil mengalir dibawahnya. Maka minumlah mereka pada sungai itu tepat pada hari rabu.

Kemudian terbanglah mereka selama seribu tahun hingga berhenti pada suatu istana yang indah, didalamnya terdapat ranjang-ranjang yang tinggi, dan beberapa gelas yang sudah disediakan sebagaimana yang sudah diterangkan dalam Al-Quran. Maka duduklah setiap orang dari mereka diatas ranjang, lalu datanglah pada mereka minuman Zanzabil kemudian mereka meminumnya tepat pada hari kamis.

Setelah itu mereka dihujani oleh awan yang putih selama seribu tahun, sehingga mereka sampai ketempat duduknya orang yang benar, pada hari itu tepat pada hari jumat, mereka duduk diatas hidangan yang kekal abadi dan turunlah pada mereka minuman Rahiqul Makhtum, yang ditutupi dengan misik. Kemudian mereka membuka tutup tersebut dan mereka meminumnya.

Nabi Saw. bersabda: “Mereka itulah orang-orang yang melakukan kebaikan dan menjauhi perbuatan maksiat”



FASAL: Pepohonan Di Surga
Ka’ab ra.: Aku bertanya kepada Rasulullah Saw. tentang pohon-pohonan di surga. Maka beliau menjawab:
“Tidak pernah kering dahan-dahannya dan daun-daunnya tidak pernah berguguran dan tidak rusak buahnya. Sesungguhnya pohon yang paling besar di surga adalah pohon Thuba, yang akarnya terbuat dari intan, batangnya dari yaqut, dahannya dari zabarjud dan daun-daunnya dari sutra yang halus. Pohon ini memiliki 70.000 cabang, setiap cabang itu menyentuh Arasy dan lebih rendah-rendahnya cabang itu berada di langit dunia.”

Tidak ada didalam surga sebuah kamar, tidak ada sebuah kubah dan tidak ada bilik kecuali didalamnya terdapat cabang pohon itu, yang bisa mengayomi diatas surga. Pada pohon itu mengeluarkan buah-buahan menurut apa yang dikehendaki oleh hati. Bandingan dari pohon itu di dunia adalah matahari, asalnya matahari berada di langit tetapi sinarnya sampai kesegala tempat.
Ali ra. berkata:
 “Aku menyatakan dari beberapa hadits, sesungguhnya pohon-pohon di surga itu berasal dari perak, sedangkan daun-daunnya sebagian dari perak dan sebagian (yang lain) dari emas. Kalau sekiranya batang pohon itu dari perak, maka akar-akarnya dari emas. Pohon-pohon didunia akarnya di bumi dan cabang-cabangnya berada di udara, karena sesungguhnya dunia itu tempat yang fana (rusak). Akan tetapi pohon-pohonan yang terdapat di surga tidaklah demikian halnya, akarnya di udara dan cabang-cabangnya di bumi. Sebagaimana firman Allah Swt.:

“Buah-buahnya dekat. Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.” (Qs. Al-Haqqah: 23-24).

Dan debu-debu di surga itu dari misik, anbar dan kafur, dan sungai-sungainya terdiri dari susu, madu, arak dan air yang sangat jernih. Apabila angin bertiup menerpa dedaunan, maka bersentuhlah antara daun yang satu dengan daun yang lainnya hingga menimbulkan suara yang sangat indah (merdu), dan suara seindah itu belum pernah didengar.

Dengan sanad dari Ali ra. Sesungguhnya ia berkata: 

Sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya didalam surga terdapat suatu pohon , yang dibagian atasnya keluar perhiasan dan pada bagian bawahnya keluar kuda yang memiliki sayap yang diberi pelana, yang dikendalikan, yang ditaburi dengan intan dan yaqut. Kuda tersebut tidak pernah mengeluarkan kotoran dan tidak pernah buang air kecil. Adapun yang menaiki kuda itu adalah para wali Allah Swt. dan kuda ini akan membawa terbang para wali Allah tersebut ke surga. Lalu berkatalah orang-orang yang berada dibawah mereka:”Wahai Tuhanku, lantaran apa hamba-hamba- Mu itu mencapai kemulian semcam itu?” Maka Allah Swt. berfirman kepada mereka: “Mereka itulah orang-orang yang mengerjakan shalat ketika kalian semua masih tidur, mereka melakukan puasa sedangkan kalian tidak, mereka berjihad membela agama Allah sedangkan kalian semua duduk disisi istri kalian, dan mereka bersedekah dengan harta mereka dijalan Allah, sedangkan kalian semua bakhil (kikir).”
Dari Abu Hurairah ra. beliau berkata: Sesungguhnya didalam surga itu terdapat sebuah pohon, orang yang menaiki bisa berjalan dibawah naungannya selama 100 tahun dan naungan itu tidak akan putus. Sebagaimana firman Allah Swt.:

“Dan naungan yang terbentang luas, dan air yang tercurah, dan buah-buahan yang banyak. Yang buah-buahnya tidak berhenti dan tidak terlarang mengambilnya.” (Qs. Al-Waqi’ah: 30-33).
Diibaratkan waktu didunia adalah waktu sebelum matahari terbit dan sudah terbenamnya matahari, sampai hilangnya mega dan gelap malam yang menutupi di dunia. Maka sesungguhnya waktu itu adalah naungan yang terbentang luas. Sebagaimana firman Allah Swt.:

“Apakah kamu tidak memperhatikan (penciptaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan bayang-bayang. “ (Qs. Al-Furqan: 45).

Maksudnya adalah waktu sebelum terbitnya matahari dan sesudah terbenamnya, sampai masuk pada kegelapan malam.

Diriwayatkan dari Nabi Saw. sesungguhnya beliau bersabda: 

“Apakah aku tidak pernah menceritakan kepadamu tentang waktu(saat), yaitu waktu yang serupa dengan waktu yang ada di surga. Dia adalah waktu dimana sebelum matahari terbit, bayang-bayangnya itu memanjang, rahmatnya saat itu merata dan berkahnya saat itu banyak.”



Wallahu'alam,
Barakalalhufikum ...
Dari berbagai sumber,

KEUTAMAAN MEMBACA DAN MENGHAFAL AL QUR'AN


.


بسم الله والحمد لله وصلى الله على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن اهتدى بهداه، أما بعد

Al-Qur`an adalah kalamullah, firman Allah yang diturunkan kepada nabi-NYA selama 23 tahun. Sumber petunjuk dan pembimbing dalam menjalani kehidupan di dunia dan akhirat.

وَاتْلُ مَآأُوْحِيَ إِلَيْكَ مِنْ كِتَابِ رَبِّكَ
Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Rabb-mu (al-Qur'an). (QS. al-Kahfi:27).

اتْلُ مَآأُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (al-Qur'an). (QS. al-'Ankabut:45)

إِنَّمَآ أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ رَبَّ هَذِهِ الْبَلْدَةِ الَّذِي حَرَّمَهَا وَلَهُ كُلُّ شَىْءٍ وَأُمِرٍتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ . وَأَنْ أَتْلُوَا الْقُرْءَانَ
Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Rabb negeri ini (Mekah) yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri". * Dan supaya aku membacakan al-Qur'an (kepada manusia). (QS. an-Naml:91-92)


1. Memperoleh kesempurnaan pahala


Allah عز و جل berfirman :
إِنَّ الَّذِينَ يَـتْـلُونَ كِتَابَ اللهِ وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَأَنـــْفَقُوا مِمَّـا رَزَقْـنَاهُمْ سِرًّا وَعَلاَ نِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ لِيُـوَفّـِـيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيـَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ فاطر : 29-30

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karuniaNya. Sesung-guhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. (QS. Fathir : 29-30)



2. Syafa’at bagi pembaca Al Qur’an

Dari Abu Umamah, ia berkata : “Saya mendengar Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda :

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يـَأْتِي يَوْمَ الْقِـيَامَةِ شَفِيعًا ِلأَصْحَابِهِ رواه مسلم
“Bacalah Al Qur’an karena sesungguhnya Al qur’an itu akan datang di hari kiamat untuk mmeberi syafa’at bagi yang membacanya” (HR. Muslim)

Dan dari Abdullah bin Amru bin Ash رضي الله عنهما bahwa Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda :

الصّـِيَامُ وَالْقُرْآنُ يـَشْفَعَانِ لِلْـعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصّـِيَامُ أَيْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّــهَوَاتِ بِالـنَّــهَارِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ وَيـــَــقُولُ الْقُرْآنُ مَــنَــعْتُهُ الـنَّــوْمَ بِاللَّـيْلِ فَشَــفِّعْنِي فِيهِ قَالَ: فَيُشَفَّعَانِ رواه أحمد

“Puasa dan Al Qur’an akan memberi syafa’at kepada hamba kelak di hari kiamat, puasa berkata : “Ya Rabbku saya telah mencegahnya dari memakan makanan dan me-nyalurkan syahwatnya di siang hari, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya. Dan berkata Al Qur’an :”Saya telah men-cegahnya dari tidur di waktu malam, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya, Nabu bersabda :”Maka keduanya memberikan syafa’at” (HR. Ahmad)



3. Pahala yang berlipat ganda bagi orang yang membaca Al Qur’an

Dari Ibnu Mas’ud رضي الله عنه, Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda :

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ رواه الترمذي

“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah (Al Qur’an) maka baginya satu kebaikan dan satu kebaikan itu dilipa-tgandakan dengan sepuluh (pahala). Aku tidak mengatakan “ الم “Alif Laam Mim adalah satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf” (HHR. Tirmidzi)



4. Mengangkat derajat di Syurga

Dari Abdullah bin Amru bin Ash رضي الله عنهما dari Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda :

يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَـنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَأُ بِهَا رواه الترمذى و أبو داود

“Dikatakan kepada Ahli Al Qur’an : “Bacalah dan keraskanlah dan bacalah (dengan tartil) sebagaimana engkau membaca-nya di dunia, sesungguhnya kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang kau baca” (HR. Tirmidzi)



5. Belajar dan mengajarkan Al Qur’an adalah amalan yang terbaik

Dari Utsman bin Affan رضي الله عنه dari Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda :

خَـيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ رواه البخاري

“Sebaik-baik orang diantara kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajar-kannya” (HR. Bukhari)

 

Al Hafizh Ibnu Hajar berkata : “Tidak diragukan lagi bahwa orang yang meng-gabungkan dalam dirinya dua perkara yaitu mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya, dia menyempurnakan dirinya dan orang lain, berati dia telah mengumpulkan dua manfa’at yaitu man-fa’at yang pendek (kecil) dan manfa’at yang banyak, oleh karena inilah dia lebih utama” (Lihat Fathul Bari 4:76)



6. Empat Keutamaan bagi kaum yang bekumpul untuk membaca Al Qur’an

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه ia berkata Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda :

مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَـيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ يَـتْـلُونَ كِتَابَ اللهِ وَيـَـتَدَارَسُونَهُ بَـيْـنَـهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَـيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَـتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ روا مسلم

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di suatu rumah dari rumah Allah (masjid) mereka membaca kitabullah dan saling belajar dian-tara mereka, kecuali Allah menurunkan kete-nangan kepada mereka, mereka diliputi rahmat, dinaungi malaikat dan Allah menye but–nyebut mereka pada (malaikat) yang didekat-Nya” (HR. Muslim)



7. Membaca Al Qur’an adalah per-hiasan Ahlul Iman

Dari Abu Musa Al Asy’ari رضي الله عنه berkata, Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda :

مَـثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ اْلأُتْرُجَّةِ رِيحُـهَا طَـيِّبٌ وَطَعْمُـهَا طَـيِّبٌ وَمَـثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَـثَلِ التَّمْرَةِ لاَ رِيحَ لَهَا وَطَعْمُـهَا حُلْوٌ وَمـَـثَلُ الْمُـنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَـثَلُ الرَّيْحَانَةِ رِيحُـهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُـهَا مُرٌّ وَمـَـثَلُ الْمُـنَافِقِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَـثَلِ الْحَـنْظَلَةِ لَـيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُـهَا مُرٌّ رواه البخاري و مسلم

“Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al Qur’an itu bagaikan jeruk limau; harum baunya dan enak rasanya dan perumpamaan orang mu’min yang tidak membaca Al Qur’an itu bagaikan buah kurma; tidak ada baunya namun enak rasanya. Dan perumpamaan orang munafik yang membaca Al Qur’an itu bagaikan buah raihanah; harum baunya tapi pahit rasanya dan orang munafik yang tidak membaca Al Qur’an itu bagaikan buah hanzhalah; tidak ada baunya dan pahit rasanya” (HR. Bukhari dan Muslim)



8. Membaca Al Qur’an tidak sebanding dengan Harta benda dunia.

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه berkata, Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda :

أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ إِذَا رَجَعَ إِلَى أَهْلِهِ أَنْ يَجِدَ فِيهِ ثَلاَثَ خَلِفَاتٍ عِظَامٍ سِمَانٍ قُلْـنَا : (( نَعَمْ )) قَالَ : فَثَلاَثُ آيَاتٍ يَقْرَأُ بِهِنَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلاَتِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلاَثِ خَلِفَاتٍ عِظَامٍ سِمَانٍ رواه مسلم

“Apakah salah seorang diantara kalian senang bila pulang kepada keluarganya dengan mendapatkan tiga ekor unta khalifat yang gemuk-gemuk ?” Kamipun berkata : “Ya” Beliau bersabda : “Maka tiga ayat yang dibaca oleh seseorang diantara kalian dalam shalatnya itu lebih baik dari tiga ekor unta khalifat yang gemuk-gemuk” (HR. Muslim)



9. Keutamaan orang yang mahir membaca Al Qur’an

Dari Aisyah رضي الله عنها ia berkata, Rasululah صلى الله عليه و سلم bersabda :

الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيـَـتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَـيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ رواه مسلم

“Orang yang mahir Al Qur’an bersama para malaikat yang mulia dan baik-baik dan orang yang membaca Al Qur’an dan terbata-bata membacanya dengan mengalami kesulitan me-lakukan hal itu maka baginya dua pahala” (HR. Muslim)





 



Wallahu'alam 
Barakallahufikum ..
 (Disarikan dari berbagai sumber)

SEBESAR APA BUMI - BEGITU MANUSIA HANYA SETITIK DEBU


Bismillahirrahmaanirrahiim,,,

Rasanya Bumi yang kelilingnya 40.000 km ini sangat besar bagi kita.
Untuk pergi ke Amerika atau Afrika saja jauh sekali. Apalagi jika sampai harus ke Antartika.

Tapi coba kita lihat besar Bumi kita dengan ciptaan Allah lainnya.
Ternyata tidak ada apa-apanya.
Bahkan bintang yang terbesar pun hanya satu titik dibanding Galaksi, Cluster, Super Cluster, Jagad Raya.

Tapi di atas semua itu kita harus yakin bahwa Alloh pencipta Semesta Alam itu.
Alloh Maha Besar.. ALLAHU AKBAR.!


Mari kita sejenak renungkan ................

(1) Ukuran Bumi dibanding Planet Jupiter

 
BUMI vs JUPITER


(2) Ukuran Bumi dibanding Matahari
Ukuran Bumi dibanding Matahari.
Diameter (lebar) matahari 1.391.980 km.
Jika bumi “dimasukkan” ke matahari, ada 1,3 juta bumi yang bisa masuk. Subhanallah.!

  
BUMI vs MATAHARI


(3) Ukuran Matahari dibanding Bintang Arcturus

 
MATAHARI vs ARCTURUS


(4) Ukuran Matahari dibanding Bintang Antares
Saat ini bumi sudah tidak bisa dilihat lagi. Diameter Antares 804.672.000 km. Subhanallah

 
MATAHARI vs ANTARES


(5) Ukuran Bintang-bintang dibanding Galaksi Bimasakti
Kalau anda menganggap Antares sudah sangat besar, ternyata bintang itu masih belum apa-apa dibanding dengan galaksi seperti Galaksi Bimasakti yang terdiri dari ratusan milyar bintang dengan lebar hingga 100 ribu tahun cahaya (1 detik cahaya=300.000 km). Subhanallah..

 
 BINTANG vs GALAKSI BIMASAKTI


(6) Ukuran Galaksi Bimasakti dibandingkan Cluster
Galaksi itu pun tidak seberapa jika dibanding dengan Cluster (Kumpulan) Galaksi yang terdiri dari ribuan Galaksi. Subhanallah ..

 
 GALAKSI vs CLUSTER


(7) Ukuran Cluster di antara ribuan Cluster, kemudian ribuan Super Cluster, dst.... Allahu'alam, membentuk JAGAD RAYA.
Tapi di atas Cluster masih ada Super Cluster yang terdiri dari ribuan Cluster. Ribuan Super Cluster akhirnya membentuk jagad raya.

 
SUPER CLUSTER vs JAGAD RAYA


Saat ini diperkirakan Jagad Raya (Universe) lebarnya 30 milyar tahun cahaya.
Tapi ini cuma angka sementara mengingat teleskop tercanggih saat ini “cuma” bisa mencapai jarak 15 milyar tahun cahaya!

Jika dunia ini begitu luas, maka Allah menegaskan bahwa akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.
Jauh lebih luas lagi dari dunia.!

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” [Al Baqarah 255]

Maha Besar Allah ‘azza wa jalla,, ROBB Pencipta Alam semesta.
SUBHANALLAH , ALLAHU'AKBAR


Masih kita hendak menyombongkan diri dihadapan Pencipta....


ASTAGHFIRULLAH AL ADZIM

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Aku ciptakan seluruh jin dan seluruh manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu“.
(QS : Adz Dzariyat [51] :56).

.

::: INDAHNYA MEMAAFKAN :::




Sahabat fillah , rasanya sulit ya memaafkan orang - orang yang pernah menyakiti kita. Walaupun kelak pada saat hari perhitungan akan ada transfer pahala dari yang mendzalimi kepada yang terdzalimi ,


Tapi ....


Ketahuilah .. bahwa ketika ada satu keikhlasan yang tumbuh dari hati kita untuk memaafkan orang-orang di sekitar kita, bahkan orang-orang yang pernah menyakiti kita, sesungguhnya kita telah menyimpan satu kebaikan untuk akhirat kita.


Dalam sebuah hadist Rasulullah pernah bersabda :

"Barangsiapa didzalimi , lalu kemudian ia memaafkan , maka Allah akan menyediakan baginya kelak sebuah surga" (al hadist)


Rasulullah juga berkata:

"Barangsiapa memaafkan kesalahan orang lain, niscaya Allah memaafkan kesalahan-kesalahannya".
(al hadist)



Bagi segolongan orang-orang ingin meraih kedekatan kepada Allah Ta'ala , ia akan menyadari bahwa banyak sekali dosa dan kesalahan yang mereka lakukan.

Mereka akan merasakan bahwa dari hari ke hari kehidupannya yang mereka lakukan adalah menumpuk dosa dan jauh dari pahala. Ya, karena semakin halus hati mereka, semakin dapat mereka melihat hal-hal yang halus yang sebelumnya tidak terlihat. Semakin jernih hati mereka, semakin dapat mereka membedakan kebenaran dan kesalahan, dan semakin terbuka hati mereka maka semakin terbuka perkara-perkara agama, bukan hanya kulitnya saja.


Dalam Al Quran pun Allah berfirman :

"wa intubdu ma fi anfusikum aw tukhfu huyuhasibkum bihillah"

yang artinya dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam dirimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan atasnya'.


Mereka juga demikian sadar akan kata-kata Rasulullah:

"jika ada dua orang manusia menghunus pedang, yang membunuh dan yang terbunuh masuk neraka". Ketika ditanya kenapa yang terbunuh masuk neraka, Rasulullah menjawab: "karena ia juga berniat membunuh".



Maka akan sadarlah kita bahwa hari-hari kita hanya diisi dengan menumpuk dosa demi dosa.

Bahkan ibadah-ibadah yang kita lakukan seringkali mengimbangi dosa-dosa kita, seperti shalat, puasa, dzikir, sedekah kita, tidak jarang malah semakin mengundang murka Allah, karena kita lakukan dengan selipan niat mendapat pujian atau seminimalnya dukungan dari manusia.


Di sisi lain hidup kita, selalu kita penuhi dengan keluhan. Keluhan ini dan itu telah menjadi pakaian kita. Padahal keluhan-keluhan tersebut adalah merupakan bentuk ketidaksukaan kita atas pemberian Allah. Dan sebuah pemberian Allah sesunnguhnya hadir sudah dengan latar belakang Dia yang Maha Ilmu, Dia yang Maha Adil, Dia yang Maha Pengasih. Betapa sering keluhan-keluhan kita itu telah mengundang kemurkaan Dia?



Duhai betapa kita sungguh-sungguh telah terkubur dalam dosa dan entah bagaimana cara keluar darinya kalau tidak ditolong Allah?




Duhai Tuhanku, kalau bukan karena rahmatMu , niscaya tidak akan pernah diri kami bersih selama-lamanya. Jika bukan karena rahmat dan pertolonganMu niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi. Irhamna Ya Rabb ...


Allah memberikan cara mudah agar kita dapat keluar dari dosa dan kesalahan kita. Ia memberikan jalan sederhana untuk mengundang hadir rahmat-Nya.

Maafkanlah kesalahan orang lain kepadamu, (Insya Allah) bila Allah berkehendak, akan memaafkan kesalahanmu padaNya.


Gembiralah ketika ada orang lain menyakitimu. Bersyukurlah ketika ada keluarga, tetangga, teman kantor, atau bahkan saudara seperjalananmu mendzalimimu. Karena sesungguhnya itu adalah jalan yang diberikan Allah, untuk mengampuni seluruh dosa-dosamu.


--------------------------


Mari sahabat , kita buka hati kita seluas-luasnya ,,
Kita maafkan seluruh teman-teman / keluarga / saudara kita semua .. karena kita pun sadar tak luput dari kesalahan , dan sangat membutuhkan rahmat ampunan Nya ..

Semoga Allah membukakan hati kita dan memberikan karunia kita qalbu salim / hati yang sejahtera , bening, ikhlas dan penuh taubat .



Aamiin Allahu yaa Karim ,,



Wallahu'alam
Barakallahufikum ..



SUDAHKAH KITA MERASAKAN MANFAAT SHALAT



Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh..


Saudaraku Filllah....

Shalat merupakan salah satu kewajiban bagi setiap muslim. Sebuah ibadah mulia yang mempunyai peran penting bagi keislaman seseorang. Sehingga Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam mengibaratkan shalat seperti pondasi dalam sebuah bangunan.
Beliau Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda:

Islam dibangun di atas lima hal:
bersaksi bahwa tidak ada sesembahan
yang berhak disembah dengan benar kecuali Allâh
dan Nabi Muhammad adalah utusan Allâh,
menegakkan shalat….

(HR Bukhâri dan Muslim)


Oleh karena itu, ketika muadzin mengumandangkan adzan, kaum muslimin berbondong-bondong mendatangi rumah-rumah Allâh Ta'ala, mengambil air wudhu, kemudian berbaris rapi di belakang imam shalat mereka. Mulailah kaum muslimin tenggelam dalam dialog dengan Allâh Ta'ala dan begitu khusyu’ menikmati shalat sampai imam mengucapkan salam. Dan setelah usai, masing-masing kembali pada aktifitasnya.


Timbul pertanyaan, apakah masing-masing kaum muslimin sama dalam menikmati shalat ini? Apakah juga mendapatkan hasil yang sama? Perlu kita ketahui bahwa setiap amal shalih membawa pengaruh baik kepada pelaku-pelakunya. Pengaruh ini akan semakin besar sesuai dengan keikhlasan dan kebenaran amalan tersebut. Dan pernahkah kita bertanya, “Apakah manfaat dari shalatku?” atau “Sudahkah aku merasakan manfaat shalat?”

Imam Hasan al-Bashri rahimahullâh pernah mengatakan:


“Wahai, anak manusia. Shalat adalah perkara yang dapat menghalangimu dari maksiat dan kemungkaran.
Jika shalat tidak menghalangimu dari kemaksiatan dan kemungkaran, maka hakikatnya engkau belum shalat”.[1]


Dari nasihat beliau ini, kita bisa memahami bahwa shalat yang dilakukan secara benar akan membawa pengaruh positif kepada pelakunya. Dan pada kesempatan ini, marilah kita mempelajari manfaat-manfaat shalat. Kemudian kita tanyakan kepada diri sendiri, sudahkah aku merasakan manfaat shalat?


1. Shalat adalah simbol ketenangan.

Shalat menunjukkan ketenangan jiwa dan kesucian hati para pelakunya. Ketika menegakkan shalat dengan sebenarnya, maka diraihlah puncak kebahagiaan hati dan sumber segala ketenangan jiwa.

Dahulu, orang-orang shalih mendapatkan ketenangan dan pelepas segala permasalahan ketika mereka tenggelam dalam kekhusyu’kan shalat. Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud rahimahullâh dalam Sunan-nya:

Suatu hari ‘Abdullah bin Muhammad al- Hanafiyah rahimahullâh pergi bersama bapaknya menjenguk saudara mereka dari kalangan Anshar. Kemudian datanglah waktu shalat. Dia pun memanggil pelayannya, ”Wahai pelayan, ambillah air wudhu! Semoga dengan shalat aku bisa beristirahat,” Kami pun mengingkari perkataannya. Dia berkata: “Aku mendengar Nabi Muhammad bersabda, ’Berdirilah ya Bilal, istirahatkanlah kami dengan shalat!’.”[2]

Marilah kita mengintrospeksi diri, sudahkah ketenangan seperti ini kita dapatkan dalam shalat-shalat kita? Sudah sangat banyak shalat yang kita tunaikan, tetapi pernahkah kita berfikir manfaat shalat ini? Atau rutinitas shalat yang kita tegakkan sehari-hari?


2. Shalat adalah cahaya.
Ambillah cahaya dari shalat-shalat kita. Ingatlah, cahaya shalat bukanlah cahaya biasa. Dia cahaya yang diberikan oleh Penguasa alam semesta ini. Diberikan untuk menunjuki manusia ke jalan yang lurus, yaitu jalan ketaatan kepada Allâh Rabul ‘alamin.


Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullâh, dari sahabat Abu Mâlik al-’Asy’ari radhiyallâhu'anhu, Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda: (dan shalat itu adalah cahaya).


Oleh karena itu, marilah menengok diri kita, sudahkah cahaya ini menerangi kehidupan kita? Dan sungguh sangat mudah jika kita ingin mengetahui apakah shalat telah mendatangkan cahaya bagi kita? Yakni dapat lihat, apakah shalat membawa ketaatan kepada Allâh dan menjauhkan kita dari bermaksiat kepada-Nya? Jika sudah, berarti shalat itu telah menjadi sumber cahaya bagi kehidupan kita. Inilah cahaya awal yang dirasakan manusia di dunia. Dan kelak di akhirat, ia akan menjadi cahaya yang sangat dibutuhkan, yang menyelamatkannya dari berbagai kegelapan sampai mengantarkannya kepada surga Allâh Ta'ala .


3. Shalat sebagai obat dari kelalaian.

Lalai adalah penyakit berbahaya yang menimpa banyak manusia. Lalai mengantarkan manusia kepada berbagai kesesatan, bahkan menjadikan manusia tenggelam di dalamnya. Mereka akan menanggung akibat dari kelalaian yang mereka alami di dunia maupun di akhirat kelak. Sehingga lalai menjadi penutup yang menutupi hati manusia. Hati yang tertutup kelalaian, menyebabkan kebaikan akan sulit sampai padanya. Tetapi menegakkan shalat sesuai dengan syarat dan rukunnya, dengan menjaga sunnah dan khusyu di dalamnya, insya Allâh akan menjadi obat paling mujarab dari kelalaian ini, membersihkan hati dari kotoran-kotorannya. Allâh Ta'ala berfirman:

Dan sebutlah (nama) Rabbmu dalam hatimu
dengan merendahkan diri dan rasa takut,
dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang,
dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.

(Qs. al-A’ra/7:205)


Berkata Imam Mujahid rahimahullâh

“Waktu pagi adalah shalat Subuh dan waktu petang adalah shalat ‘Ashar”.

Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda:

Barang siapa yang menjaga shalat-shalat wajib,
maka ia tidak akan ditulis sebagai orang-orang yang lalai.[4]


4. Shalat sebagai solusi problematika hidup.

Sudah menjadi sifat dasar manusia ketika dia tertimpa musibah dan cobaan, dia akan mencari solusi untuk menyelesaikan permasalahannya. Maka tidak ada cara yang lebih manjur dan lebih hebat dari shalat. Shalat adalah sebaik-baik solusi dalam menghadapi berbagai macam cobaan dan kesulitan hidup. Karena tidak ada cara yang lebih baik dalam mendekatkan diri seseorang dengan Rabb-nya kecuali dengan shalat. 


Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam dalam sabdanya mengucapkan:
Posisi paling dekat seorang hamba dengan Rabbnya yaitu ketika dia sujud,
maka perbanyaklah doa.

(HR Muslim)[5]

Inilah di antara manfaat shalat yang sangat agung, mendekatkan hamba dengan Dzat yang paling ia butuhkan dalam menyelesaikan problem hidupnya. Maka, kita jangan menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Jangan sampai kita lalai dalam detik-detik shalat kita. Jangan pula terburu-buru dalam shalat kita, seakan tidak ada manfaat padanya. Shalat bisa menjadi sarana menakjubkan untuk mendatangkan pertolongan dan dukungan Allâh Ta'ala.


5. Shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.

Sebagaimana telah kita fahami, bahwasanya shalat akan membawa cahaya yang menunjukkan pelakunya kepada ketaatan. Bersamaan dengan itu, maka shalat akan mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar. Sebagaimana hal ini difirmankan Allâh Ta'ala :

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (Al-Qur‘an)
dan dirikanlah shalat.
Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.
Dan sesungguhnya mengingat Allâh (shalat)
adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain).
Dan Allâh mengetahui apa yang kamu kerjakan.

(Qs. al-Ankabût/29:45)


6. Shalat menghapuskan dosa.

Selain mendatangkan pahala bagi pelakunya, shalat juga menjadi penghapus dosa, membersihkan manusia dari dosa-dosa yang pernah dilakukannya.
Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda:

“Apa pendapat kalian,
jika di depan pintu salah seorang dari kalian ada sungai (mengalir);
dia mandi darinya lima kali dalam sehari, apakah tersisa kotoran darinya?”
Para sahabat menjawab: “Tidak akan tertinggal kotoran sedikitpun”.
Beliau Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda:

“Demikianlah shalat lima waktu,
Allâh Ta'ala menghapuskan dengannya kesalahan-kesalahan”.

(HR Bukhâri dan Muslim)
 
Rasulullah SAW bersabda :

Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang bertugas mengumandangkan seruan setiap kali shalat, " Wahai anak cucu Adam, bangkitlah menuju ke api yang kalian nyalakan untuk diri sendiri, maka padamkanlah "

(HR. Ath Thabrani)

Inilah sebagian manfaat shalat yang tak terhingga banyaknya, dari yang kita ketahui maupun yang tersimpan di sisi Allâh Ta'ala. Oleh karena itu, marilah kita memperhatikan diri kita masing-masing, sudahkah di antara manfaat-manfaat tersebut yang kita rasakan? Ataukah kita masih menjadikan shalat sebagai salah satu rutinitas hidup kita? Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang dicela Allâh dalam firman-Nya:
Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,
(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya

(Qs. al-Mâ’ûn/107:4-5)


Semoga Allâh Ta'ala memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hambanya yang menegakkan shalat, dan memetik buahnya dari shalat yang kita kerjakan. Amin ya Rabbal alamin..