Senin, 16 Juli 2012

:: WASIAT RASULULLAH KEPADA ABU DZAR AL GHIFARI



Bismillahirrahmannirahim,

Wasiat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam Kepada Abu Dzar Al-Ghifari

Dari Abu Dzar Radhiyallahu 'anhu , ia berkata: “Kekasihku (Rasulullah) Shallallahu 'alaihi wa sallam berwasiat kepadaku dengan tujuh hal:
(1) supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka,
(2) beliau memerintahkan aku agar aku melihat kepada orang yang berada di bawahku dan tidak melihat kepada orang yang berada di atasku,
(3) beliau memerintahkan agar aku menyambung silaturahmiku meskipun mereka berlaku kasar kepadaku,
(4) aku dianjurkan agar memperbanyak ucapan lâ haulâ walâ quwwata illâ billâh (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah),
(5) aku diperintah untuk mengatakan kebenaran meskipun pahit, (6) beliau berwasiat agar aku tidak takut celaan orang yang mencela dalam berdakwah kepada Allah, dan
(7) beliau melarang aku agar tidak meminta-minta sesuatu pun kepada manusia”.

(Ath-Thabrani - Ibnu Hibban -Abu Nu’aim & Al-Baihaqi)



(I) MENCINTAI ORANG-ORANG MISKIN DAN DEKAT DENGAN MEREKA

Dalam hadits ini, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berwasiat kepada Abu Dzar agar mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka.

Orang-orang miskin yang dimaksud, adalah mereka yang hidupnya tidak berkecukupan, tidak punya kepandaian untuk mencukupi kebutuhannya, dan mereka tidak mau meminta-minta kepada manusia.

"Orang miskin itu bukanlah mereka yang berkeliling meminta-minta kepada orang lain agar diberikan sesuap dan dua suap makanan dan satu-dua butir kurma.” Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, (kalau begitu) siapa yang dimaksud orang miskin itu?” Beliau menjawab,"Mereka ialah orang yang hidupnya tidak berkecukupan, dan dia tidak mempunyai kepandaian untuk itu, lalu dia diberi shadaqah (zakat), dan mereka tidak mau meminta-minta sesuatu pun kepada orang lain.”[Muslim , Abu Dawud dan an-Nasâ`i ]


Ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkumpul bersama orang-orang miskin, datanglah beberapa pemuka Quraisy hendak berbicara dengan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam, tetapi mereka enggan duduk bersama dengan orang-orang miskin itu, lalu mereka menyuruh beliau agar mengusir orang-orang fakir dan miskin yang berada bersama beliau. Maka masuklah dalam hati beliau keinginan untuk mengusir mereka, dan ini terjadi dengan kehendak Allah Ta’ala. Lalu turunlah ayat:

"Janganlah engkau mengusir orang yang menyeru Rabb-nya di pagi dan petang hari, mereka mengharapkan wajah-Nya". [al-An’âm/6:52]. [Muslim , dan Ibni Majah]

Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:

"Barangsiapa menghilangkan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, Allah akan menghilangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Dan barangsiapa yang memudahkan kesulitan orang yang dililit hutang, Allah akan memudahkan atasnya di dunia dan akhirat… " [Muslim, Ahmad , Abu Dawud dan at-Tirmidz].

"Orang yang membiayai kehidupan para janda dan orang-orang miskin bagaikan orang yang berjihad fii sabiilillaah.” “Dan bagaikan orang yang shalat tanpa merasa bosan serta bagaikan orang yang berpuasa terus-menerus”. [Al-Bukhari - Muslim ]


Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam selalu berkumpul bersama orang-orang miskin, sampai-sampai beliau berdo’a kepada Allah agar dihidupkan dengan tawadhu’, akan tetapi beliau mengucapkannya dengan kata "miskin".

"Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, matikanlah aku dalam keadaan miskin, dan kumpulkanlah aku bersama rombongan orang-orang miskin". (Ibnu Majah - ‘Abd bin Humaid)


Ini adalah doa dari beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam agar Allah Ta’ala memberikan sifat tawadhu` dan rendah hati, serta agar tidak termasuk orang-orang yang sombong lagi zhalim maupun orang-orang kaya yang melampaui batas. Makna hadits ini bukanlah meminta agar beliau menjadi orang miskin, sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Atsir rahimahullah, bahwa kata "miskin" dalam hadits di atas adalah tawadhu . Sebab, di dalam hadits yang lain Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berlindung dari kefakiran. (HR an-Nasâ`i , dan al-Hakim )


Beliau berdoa seperti ini, karena beliau mengetahui bahwa orang-orang miskin akan memasuki surga lebih dahulu daripada orang-orang kaya. Tenggang waktu antara masuknya orang-orang miskin ke dalam surga sebelum orang kaya dari kalangan kaum Muslimin adalah setengah hari, yaitu lima ratus tahun.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Orang-orang faqir kaum Muslimin akan memasuki surga sebelum orang-orang kaya (dari kalangan kaum Muslimin) selama setengah hari, yaitu lima ratus tahun". [at-Tirmidzi , dan Ibnu Majah]

Orang–orang miskin yang masuk surga ini, adalah mereka yang taat kepada Allah, mentauhidkan-Nya dan menjauhi perbuatan syirik, menjalankan Sunnah.

Sebab terlambatnya orang-orang kaya memasuki surga selama lima ratus tahun, adalah karena semua harta mereka akan dihitung dan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Ta’ala.

Dalam hadits yang lain Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berdo’a agar mencintai orang-orang miskin. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu agar aku dapat melakukan perbuatan-perbuatan baik, meninggalkan perbuatan munkar, mencintai orang miskin, dan agar Engkau mengampuni dan menyayangiku. Jika Engkau hendak menimpakan suatu fitnah (malapetaka) pada suatu kaum, maka wafatkanlah aku dalam keadaan tidak terkena fitnah itu. Dan aku memohon kepada-Mu rasa cinta kepada-Mu, rasa cinta kepada orang-orang yang mencintaimu, dan rasa cinta kepada segala perbuatan yang mendekatkanku untuk mencintai-Mu". [at-Tirmidzi dan al-Hakim]

Selain itu, dengan menolong orang-orang miskin dan lemah, kita akan memperoleh rezeki dan pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Kalian hanyalah mendapat pertolongan dan rezeki dengan sebab adanya orang-orang lemah dari kalangan kalian".[al-Bukhari]

Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:

"Sesungguhnya Allah menolong ummat ini dengan sebab orang-orang lemah mereka di antara mereka, yaitu dengan doa, shalat, dan keikhlasan mereka".[an-Nasâ`i ]




(2) : MELIHAT KEPADA ORANG YANG LEBIH RENDAH KEDUDUKANNYA DALAM HAL MATERI DAN PENGHIDUPAN

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan kita agar melihat orang yang berada di bawah kita dalam masalah kehidupan dunia dan mata pencaharian. Tujuan dari hal itu, agar kita tetap mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda:

"Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu, karena yang demikian lebih patut, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu" (al-Bukhari - Muslim )

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang seorang Muslim melihat kepada orang yang di atas. Maksudnya, jangan melihat kepada orang kaya, banyak harta, kedudukan, jabatan, gaji yang tinggi, kendaraan yang mewah, rumah mewah, dan lainnya. Dalam kehidupan dunia terkadang kita melihat kepada orang-orang yang berada di atas kita. Hal ini merupakan kesalahan yang fatal. Dalam masalah tempat tinggal, misalnya, terkadang seseorang hidup bersama keluarganya dengan "mengontrak rumah", maka dengan keadaannya ini hendaklah ia bersyukur karena masih ada orang-orang yang tidak memiliki tempat tinggal dan tidur beratapkan langit. Begitu pun dalam masalah penghasilan, terkadang seseorang hanya mendapat nafkah yang hanya cukup untuk makan hari yang sedang dijalaninya saja, maka dalam keadaan ini pun ia harus tetap bersyukur karena masih ada orang-orang yang tidak memiliki penghasilan dan ada orang yang hanya hidup dari menggantungkan harapannya kepada orang lain.

Sedangkan dalam masalah agama, ketaatan, pendekatan diri kepada Allah, meraih pahala dan surga, maka hendaknya kita melihat kepada orang yang berada di atas kita, yaitu para nabi, orang-orang yang jujur, para syuhada, dan orang-orang yang shalih.

Dalam masalah berlomba-lomba meraih kebaikan ini, Allah Tabarâka wa Ta’ala berfirman:
"Dan untuk yang demikian itu, hendaknya orang berlomba-lomba". [al-Muthaffifîn/83:26].

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan kita melihat kepada orang yang berada di bawah kita dalam masalah dunia, agar kita menjadi orang-orang yang bersyukur dan qana’ah. Yaitu merasa cukup dengan apa yang Allah telah karuniakan kepada kita, tidak hasad dan tidak iri kepada manusia.

Apabila seorang muslim hanya mendapatkan makanan untuk hari yang sedang ia jalani sebagai kenikmatan yang paling besar baginya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menyinggung hal ini dalam sabdanya:

"Siapa saja di antara kalian yang merasa aman di tempat tinggalnya, diberikan kesehatan pada badannya, dan ia memiliki makanan untuk harinya itu, maka seolah-olah ia telah memiliki dunia seluruhnya".[at-Tirmidzi - Ibnu Majah ]

Abu Dzar Radhiyallahu 'anhu adalah teladan kita dalam hal ini. Beliau mencari makan untuk hari yang sedang dijalaninya, sedangkan untuk esok harinya beliau mencarinya lagi. Beliau melakukan yang demikian itu terus-menerus dalam kehidupannya. Mudah-mudahan Allah meridhai beliau.



(3) : MENYAMBUNG SILATURAHMI MESKIPUN KARIB KERABAT BERLAKU KASAR


Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sabdanya:

"Orang yang menyambung kekerabatan bukanlah orang yang membalas kebaikan, tetapi orang yang menyambungnya adalah orang yang menyambung kekerabatannya apabila diputus".[al-Bukhari , Abu Dawud dan at-Tirmidzi]

Ar-Rahim, adalah salah satu nama Allah. Rahim (kekerabatan), Allah letakkan di ‘Arsy. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Rahim (kekerabatan) itu tergantung di ‘Arsy. Dia berkata,"Siapa yang menyambungku, Allah akan menyambungnya. Dan siapa yang memutuskanku, Allah akan memutuskannya".[al-Bukhari - Muslim]

"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia menyambung silaturahmi" 

[al-Bukhari ].

Dengan bersilaturahmi, Allah akan melapangkan rezeki dan memanjangkan umur kita. Sebaliknya, orang yang memutuskan silaturahmi, Allah akan sempitkan rezekinya atau tidak diberikan keberkahan pada hartanya.

Adapun haramnya memutuskan silaturahmi telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sabdanya:

"Tidak masuk surga orang yang memutuskan silaturahmi". [al-Bukhari-Muslim]


Diriwayatkan dari Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam :

“Amal apakah yang paling utama?” Beliau menjawab,"Shalat pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan shalat di awal waktunya).” Aku bertanya,"Kemudian apa?” Beliau menjawab,"Berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya,"Kemudian apa?” Beliau menjawab,"Jihad di jalan Allah.” [al-Bukhari-Muslim]








(4) : MEMPERBANYAK UCAPAN LA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAH (TIDAK ADA DAYA DAN UPAYA KECUALI DENGAN PERTOLONGAN ALLAH)

Mengapa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan kalimat lâ haulâ wa lâ quwwata illâ billâh?

Jawabannya, agar kita melepaskan diri kita dari segala apa yang kita merasa mampu untuk melakukannya, dan kita serahkan semua urusan kepada Allah. Sesungguhnya yang dapat menolong dalam semua aktivitas kita hanyalah Allah Ta’ala, dan ini adalah makna ucapan kita setiap kali melakukan shalat, "Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan". [al-Fâtihah/1:5].


Dan kalimat ini, adalah makna dari doa yang sering kita ucapkan dalam akhir shalat kita:

اَللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.

"Ya Allah, tolonglah aku agar dapat berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu" [Abu Dawud- an-Nasâ`i dan al-Hakim].

Pada hakikatnya seorang hamba tidak memiliki daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah. Seorang penuntut ilmu tidak akan mungkin duduk di majlis ilmu, melainkan dengan pertolongan Allah. Seorang guru tidak akan mungkin dapat mengajarkan ilmu yang bermanfaat, melainkan dengan pertolongan Allah. Begitupun seorang pegawai, tidak mungkin dapat bekerja melainkan dengan pertolongan Allah.

Seorang hamba tidak boleh sombong dan merasa bahwa dirinya mampu untuk melakukan segala sesuatu. Seorang hamba seharusnya menyadari bahwa segala apa yang dilakukannya semata-mata karena pertolongan Allah. Sebab, jika Allah tidak menolong maka tidak mungkin dia melakukan segala sesuatu. Artinya, dengan mengucapkan kalimat ini, seorang hamba berarti telah menunjukkan kelemahan, ketidakmampuan dirinya, dan menunjukkan bahwa ia adalah orang yang sangat membutuhkan pertolongan Allah.



(5) : BERANI MENGATAKAN KEBENARAN MESKIPUN PAHIT

Pahitnya kebenaran, tidak boleh mencegah kita untuk mengucapkannya, baik kepada orang lain maupun kepada diri sendiri.

Sesungguhnya jihad yang paling utama ialah mengatakan kalimat yang haq (kebenaran) kepada penguasa.

"Jihad yang paling utama ialah mengatakan kalimat yang haq (kebenaran) kepada penguasa yang zhalim". [ Ahmad , Ibnu Majah , ath-Thabrani ]

Yaitu dengan mendatangi mereka dan menasihati mereka dengan cara yang baik. Jika tidak bisa, dapat dilakukan dengan menulis surat atau melalui orang yang menjadi wakil mereka, tidak dengan mengadakan orasi, provokasi, demonstrasi. Dan tidak boleh menyebarkan aib mereka melalui mimbar, mimbar Jum’at, dan yang lainnya.

Islam telah memberikan ketentuan dalam menasihati para pemimpin (ulil amri). Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Barangsiapa yang ingin menasihati penguasa, janganlah ia menampakkan dengan terang-terangan. Hendaklah ia pegang tangannya lalu menyendiri dengannya. Kalau penguasa itu mau mendengar nasihat itu, maka itu yang terbaik. Dan bila si penguasa itu enggan (tidak mau menerima), maka sungguh ia telah melaksanakan kewajiban amanah yang dibebankan kepadanya"[Ibnu Abi ‘Ashim , hadist ini shahih].

______


(6) : TIDAK TAKUT CELAAN DALAM BERDAKWAH DI JALAN ALLAH

Dalam Al-Qur`ân, Allah Ta’ala menyebutkan tentang orang-orang yang menyampaikan risalah Allah, sedangkan mereka tidak takut. Allah Ta’ala berfirman:

"(Yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan tidak merasa takut kepada siapa pun selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pembuat perhitungan". [al-Ahzaab/33:39].



(7) : TIDAK MEMINTA-MINTA SESUATU KEPADA ORANG LAIN


Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Sungguh, seseorang dari kalian mengambil talinya lalu membawa seikat kayu bakar di atas punggungnya, kemudian ia menjualnya, sehingga dengannya Allah menjaga kehormatannya. Itu lebih baik baginya daripada ia meminta-minta kepada manusia. Mereka memberinya atau tidak memberinya".[al-Bukhar]


Diriwayatkan dari Sahabat Qabishah bin Mukhariq al-Hilali Radhiyallahu 'anhu , ia berkata: Rasulullah bersabda:

"Wahai, Qabishah , Sesungguhnya meminta-minta tidak dihalalkan kecuali bagi salah seorang dari tiga macam:
(1) seseorang yang menanggung hutang orang lain, ia boleh meminta-minta sampai ia melunasinya, kemudian ia berhenti (tidak meminta-minta lagi),
(2) seseorang yang ditimpa musibah yang menghabiskan hartanya, ia boleh meminta-minta sampai ia mendapatkan sandaran hidup, dan
(3) orang yang ditimpa kesengsaraan hidup sehingga ada tiga orang yang berakal dari kaumnya mengatakan "Si Fulan telah ditimpa kesengsaraan," ia boleh meminta-minta sampai ia mendapatkan sandaran hidup. Meminta-minta selain tiga hal itu, wahai Qabishah, adalah haram, dan orang yang memakannya adalah memakan yang haram".[Muslim , Abu Dawud )


Bahkan orang yang selalu meminta-minta, kelak pada hari Kiamat tidak ada daging sedikit pun pada wajahnya, sebagaimana ia tidak malu untuk meminta-minta kepada manusia di dunia. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Seseorang senantiasa minta-minta kepada orang lain hingga ia akan datang pada hari Kiamat dengan tidak ada sekerat daging pun di wajahnya".[Al Bukhari - Muslim]


Segala Puji bagi Allah .. Rabb seluruh alam .. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, kepada kelurga dan para sahabat beliau. Dan karunia rahmat Nya menyertai kita semua .. Aamiin.




Wallahu a'lam bishawab,
Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

:: PAPA, MAMA .. ALDO TUNGGU DI PINTU SURGA ( Kisah mualaf cilik yang menyentuh )



~ Bismillahir Rahmaanir Rahiim ~

Fany (bukan nama sebenarnya) adalah sosok wanita Katolik taat. Setiap malam, ia beserta keluarganya rutin berdoa bersama.

Ketegasan prinsip Katolik yang dipegang wanita itu menggoyahkan Iman Sutiono (bukan nama sebenarnya ) yang muslim, namun jarang melakukan ibadah sebagaimana layaknya orang beragama Islam. Sutiono pun masuk Katolik, sekedar untuk bisa menikahi Fany. Dan mereka pun melaksanakan pernikahan di sebuah gereja di sebuah kota .

Usai menikah, lalu menyelesaikan kuliahnya , Fany beserta sang suami berangkat dan menetap di sebuah kota , meninggalkan asal daerah mereka. Kebahagiaan terasa lengkap menghiasi kehidupan keluarga ini dengan kehadiran tiga makhluk kecil buah hati mereka, yakni: Roni , Maria dan Aldo.


Di lingkungan barunya, Fany terlibat aktif sebagai jemaat Gereja. Demikan pula sang suami. Selain juga aktif di Gereja, Sutiono saat itu menduduki jabatan penting pada perusahaan tempat ia bekerja. .


Karena Ketaatan mereka memegang iman Katolik, pasangan ini bersama beberapa sahabat se-iman, sengaja mengumpulkan dana dari tetangga sekitar yang beragama Katolik. Mereka pun berhasil membeli sebuah rumah yang kemudian digunakan menjadi tempat ibadah (Gereja).


Meski sudah menjadi pemeluk ajaran Katolik, sang suami tak melupakan kedua orangtuanya yang beragama Islam. Sebagai manifestasi bakti dan cinta pasangan ini, mereka memberangkatkan ayahanda dan ibundanya ke Mekkah, untuk menunaikan rukun Islam yang kelima.


Hidup harmonis dan berkecukupan mewarnai sekian waktu hari-hari keluarga ini. Sampai satu ketika, kegelisahan menggoncang keduanya. Syahdan, saat itu, Aldo , putra bungsu yang sangat mereka sayangi jatuh sakit. Panas suhu badan yang tak kunjung reda, membuat mereka segera melarikan nya ke rumah sakit.

Di rumah sakit, usai dilakukan diagnosa, dokter yang menangani saat itu mengatakan bahwa putranya mengalami kelelahan. Akan tetapi sang mama masih saja gelisah dan takut dengan kondisi anak kesayangannya yang tak kunjung membaik.


Saat dipindahkan ke ruangan ICU, Aldo yang masih terkulai lemah, meminta sang ayah, untuk memanggil ibundanya yang tengah berada di luar ruangan. Sang papa pun keluar ruangan untuk memberitahu sang mama ihwal permintaan putra bungsunya itu.


Namun, Fany tak mau masuk ke dalam. Ia hanya mengatakan pada sang papa ”Saya sudah tahu.” Itu saja.

Sang papa merasa heran. Ia pun kembali masuk ke ruangan dengan rasa penasaran yang masih menggelayut dalam benak. Di dalam, Aldo berucap, “Tapi udahlah, tidak apa-apa.. Pah, hidup ini hanya 1 centi. Di sana nggak ada batasnya.”


Sontak, rasa takjub menyergap sang ayah . Ucapan bocah mungil buah hatinya yang tengah terbaring lemah itu sungguh mengejutkan. Nasehat kebaikan keluar dari mulutnya seperti orang dewasa yang mengerti agama.


Hingga sore menjelang, sang anak kembali berujar, “Pah, Aldo mau pulang!”


“Ya, kalau sudah sembuh nanti, kamu boleh pulang sama Papa dan Mama,” jawab sang ayah. “Ngga, saya mau pulang sekarang. Papah, Mamah, Aldo tunggu di pintu surga!” begitu, ucap Aldo setengah memaksa.


Belum hilang keterkejutan sang ayah, tiba-tiba ia mendengar bisikan yang meminta dia untuk membimbing membacakan syahadat kepada anaknya. Ia kaget dan bingung. Tapi perlahan Aldo dituntun sang ayah, membaca syahadat, hingga kedua mata anak bungsunya itu berlinang. Sang ayah memang hafal syahadat, karena sebelumnya adalah seorang Muslim.


Tak lama setelah itu bisikan kedua terdengar, setelah Adzan maghrib sang anak dipanggil sang Pencipta. Sang ayah pasrah ketika putranya menghembuskan nafas terakhirnya.


Tiba jenazah di rumah duka, peristiwa aneh lagi-lagi terjadi. Sang mama yang masih sedih waktu itu seakan melihat alm putranya menghampirinya dan berkata, “Mah saya tidak mau pakai baju jas mau minta dibalut kain putih aja.” Saran dari seorang pelayat Muslim, bahwa itu adalah pertanda Aldo ingin dishalatkan sebagaimana seorang Muslim yang baru meninggal.



Sepeninggal Aldo


Sepeninggal anaknya, sang mama sering berdiam diri. Satu hari, ia mendengar bisikan ghaib tentang rumah dan mobil. Bisikan itu berucap, “Rumah adalah rumah Tuhan dan mobil adalah kendaraan menuju Tuhan.” Pada saat itu juga sang mama langsung teringat ucapan mendiang Aldo semasa TK dulu, ”Mah, Mbok Atik nanti mau saya belikan rumah dan mobil!” Mbok Atik adalah seorang pembantu muslimah yang bertugas merawat Aldo di rumah. Saat itu sang mama menimpali celoteh si bungsu sambil tersenyum, “Kok Mamah ga dikasih?” “Mamah kan nanti punya sendiri” jawab Aldo singkat.


Entah mengapa, setelah mendengar bisikan itu, sang mama meminta suaminya untuk mengecek ongkos haji (pada waktu itu). Setelah dicek, dana yang dibutuhkan Rp. 17.850.000. Dan yang lebih mengherankan, ketika uang duka dibuka, ternyata jumlah totalnya persis senilai Rp 17.850.000, tidak lebih atau kurang sesenpun. Hal ini diartikan sang mama sebagai amanat dari Aldo untuk menghajikan Mbok Atik, wanita yang sehari-hari merawat nya di rumah.


Singkat cerita, di tanah suci, Mekkah, Mbok Atik menghubungi Fany via telepon. Sambil menangis ia menceritakan bahwa di Mekkah ia bertemu Aldo. Si bungsu yang baru saja meninggalkan alam dunia itu berpesan, “Tolong sampaikan kepada mama dan papa ya mbok, kepergian Aldo tak usah terlalu dipikirkan. Aldo sangat bahagia disini. Kalo Mama kangen, berdoa saja.”


Namun, pesan itu tak lantas membuat sang Ibunda tenang. Bahkan sang mama mengalami depresi cukup berat, hingga harus mendapatkan bimbingan dari seorang Psikolog selama 6 bulan.


Satu malam saat tertidur, sang mama dibangunkan oleh suara pria yang berkata, “Buka Alquran surat Yunus!”. Namun, setelah mencari tahu tentang surat Yunus, tak ada seorang pun temannya yang beragama Islam mengerti kandungan makna di dalamnya. Bahkan setelah mendapatkan Alquran dari sepupunya, dan membacanya berulang-ulang pun, Fany tetap tak mendapat jawaban.


“Mau Tuhan apa sih?!” protesnya setengah berteriak, sembari menangis tersungkur ke lantai. Dinginnya lantai membuat hatinya berangsur tenang, dan spontan berucap “Astaghfirullah.” Tak lama kemudian, akhirnya Fany menemukan jawabannya sendiri di surat Yunus ayat 49: “Katakan tiap-tiap umat mempunyai ajal. Jika datang ajal, maka mereka tidak dapat mengundurkannya dan tidak (pula) mendahulukannya”.


Beberapa kejadian aneh yang dialami sepeninggal Aldo membuat sang mama berusaha mempelajari Islam lewat beberapa buku. Hingga akhirnya wanita penganut Katolik taat ini berkata, “Ya Allah terimalah saya sebagai orang Islam, saya tidak mau di-Islamkan oleh orang lain!”.


Setelah memeluk Islam, Fany secara sembunyi-sembunyi melakukan shalat. Sementara itu, suaminya, masih rajin pergi ke gereja. Setiap kali diajak ke gereja , sang mama selalu menolak dengan berbagai alasan.


Sampai suatu malam, Sang ayah terbangun karena mendengar isak tangis seorang perempuan. Ketika berusaha mencari sumber suara, betapa kagetnya Sutiono saat melihat istri tercintanya, tengah bersujud dengan menggunakan jaket, celana panjang dan syal yang menutupi aurat tubuhnya.


“Lho kok Mamah shalat,” tanya nya . “Maafkan saya, Pah. Saya duluan, Papah saya tinggalkan,” jawab sang mama lirih. Ia pasrah akan segala resiko yang harus ditanggung, bahkan perceraian sekalipun.


Akhirnya sang ayah Kembali ke Islam

Sejak keputusan sang istri memeluk Islam, sang suami seperti berada di persimpangan dan akhirnya kembali kepada Islam. Mereka bersama kedua putranya melalui babak baru sebagai seorang muslim.

Selesai shalat, sang ayah langsung meraih sang istri dan mendekapnya erat. Sambil berderai air mata, ia berucap lirih, “Mah, sekarang Papah sudah masuk Islam.”


Perjalanan panjang yang sungguh mengharu biru. Keluarga ini pun akhirnya memulai babak baru sebagai penganut Muslim yang taat. Hingga kini, esok, dan sampai akhir zaman. Insya Allah.

___________

Semoga kita semua dapat mengambil hikmah dan manfaat atas Kebesaran dan Keagungan sebuah hidayah dari Allah .. bagi sesiapapun hamba-hamba Nya, yang Dia kehendaki ..

Kamis, 05 Juli 2012

:: SYARAT TERKABULNYA DO'A ..



Bismillahirrahmannirahim,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah itu Maha Malu dan Maha Pemurah. Allah malu jika ada seseorang yang menengadahkan kedua tangan kepada-Nya tapi kemudian menolaknya dengan tangan hampa.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Hadits tersebut menggambarkan bahwa Allah senantiasa mengabulkan do’a hamba-Nya yang memohon kepada-Nya. Ada beberapa bentuk pengabulan do’a, yaitu dikabulkan di dunia, ditangguhkan sampai hari kiamat, dan sebagai penangkal kejelekan yang mungkin akan menimpa seorang hamba [1]. Akan tetapi, do’a akan dikabulkan hanya jika syaratnya terpenuhi. Syarat-syarat tersebut adalah:

✔ PERTAMA, IKHLAS

Ibnu Katsir mengatakan bahwa setiap orang yang beribadah dan berdo’a hendaknya dengan ikhlas serta menyelisihi orang-orang musyrik dalam cara dan madzhab mereka. [2]


✔ KEDUA, ITTIBA’ KEPADA RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM, TERMASUK DALAM SEGALA BENTUK IBADAH

Allah berfirman (yang artinya),

♥ ♥ ♥ ♥ “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (Al Ahzaab: 21)


✔ KETIGA, YAKIN BAHWA DO’ANYA AKAN DIKABULKAN

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

♥ ♥ ♥ ♥ “Berdo’alah kalian kepada Allah dalam keadaan yakin akan terkabulnya do’a itu.” (HR. Tirmidzi)

Jika seorang hamba berdo’a kepada Allah sementara ia tidak yakin Allah akan mengabulkan do’anya, maka itu adalah sebuah kesia-siaan.

Umar Ibnul Khattab pernah mengatakan,

|| “Aku tidak membebani diriku dengan keinginan untuk terkabulnya do’a. Aku hanya ingin berharap agar tetap bisa berdo’a.” [3]

Allah berfirman (yang artinya),

♥ ♥ ♥ ♥ “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (Ghafir: 60)


 

✔ KEEMPAT, KEKHUSYUKAN DI HADAPAN ALLAH

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

♥ ♥ ♥ ♥ “Ketahuilah bahwa Allah tidak akan mengabulkan do’a dari seseorang yang lalai dan tidak serius.” (HR. Tirmidzi)

Seringkali seseorang berdo’a setelah sholat namun tidak merasakan apa yang diucapkannya.

Seorang tabi’in pernah mengatakan,

|| “Sungguh, aku tahu kapan do’aku akan dikabulkan”. Mereka bertanya, “Bagaimana itu bisa?” Ia menjawab, ”Jika hatiku telah khusyuk, kemudian badanku juga ikut khusyuk, dan aku pun mengalirkan air mata. Ketika itulah aku mengatakan do’aku ini akan dikabulkan.” [4]

Imam Ahmad bin Hanbal berkata,

|| “Tahukah kalian bagaimana seharusnya seorang muslim berdo’a?” Mereka bertanya, “Bagaimanakah itu wahai Imam?” Beliau menjawab, “Tahukah kalian bagaimana seseorang yang berada di tengah gelombang lautan, sementara ia hanya memiliki sebatang kayu, dan ia pun akan tenggelam? Kemudian orang ini berdo’a dengan mengatakan, ‘Ya Rabbi, selamatkanlah aku! Ya Rabbi, selamatkanlah aku!’ Maka demikianlah seharusnya seorang muslim berdo’a (kepada Allah).” [5]

Hal ini memperlihatkan bahwa sudah selayaknya seorang hamba yakin bahwa tidak ada lagi yang mampu menyelamatkannya selain Rabbnya sehingga ia akan kembali kepada-Nya dalam keadaan apapun dan berdo’a kepada-Nya karena rasa membutuhkan yang lahir dari kelemahan diri. Allah berfirman (yang artinya),

♥ ♥ ♥ ♥ “Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan jika ia berdo’a kepada-Nya.” (An Naml: 62)



✔ KELIMA, TIDAK ISTI’JAL (TERGESA-GESA MINTA CEPAT TERKABULNYA DO’A)

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

♥ ♥ ♥ ♥ “Akan dikabulkan do’a seseorang di antara kalian sepanjang ia tidak tergesa-gesa. Ia berkata, ‘Aku telah berdo’a dan berdo’a, namun aku tidak melihat terkabulnya do’aku’, sehingga ia pun tidak lagi berdo’a.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah)

Orang yang tergesa-gesa dalam berdo’a kemudian meninggalkannya karena merasa tak juga dikabulkan do’anya bagaikan orang yang menanami ladangnya dengan menabur benih. Namun ketika benih itu mulai tumbuh, ia mengatakan, “Agaknya benih-benih ini tidak akan tumbuh”, dan kemudian ia meninggalkannya begitu saja.

Dalam sebuah atsar disebutkan bahwa Allah bertanya kepada Jibril,

♥ ♥ ♥ ♥ “Wahai Jibril, apakah hamba-Ku berdo’a kepada-Ku?” Jibril menjawab, “Ya”. Allah bertanya lagi, “Apakah ia menghiba kepada-Ku dalam meminta?” Jibril menjawab, “Ya”. Maka Allah berfirman, “Wahai Jibril, tangguhkanlah (pengabulan) permintaan hamba-Ku, sebab Aku suka mendengar suaranya” [6]



✔ KEENAM, HANYA MAKAN YANG HALAL, TERMASUK DI DALAMNYA ADALAH MENGHASILKAN HARTA DARI SESUATU YANG HALAL

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

♥ ♥ ♥ ♥ “Sesungguhnya Allah itu baik, dan tidak akan menerima selain yang baik. Allah memerintah orang-orang mukmin seperti apa yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul.” (HR. Muslim, Tirmidzi)

Dalam firman-Nya, Allah memerintahkan (yang artinya), “Hai Rasul-rasul, makanlah dari makanan yng baik-baik, dan kerjakanlah amal sholih.” (Al Mu’minuun: 51)



✔ KETUJUH, TIDAK BERDO’A UNTUK SESUATU YANG BERDOSA

Dari Abu Said, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

♥ ♥ ♥ ♥ “Apabila seorang muslim berdo’a dan tidak memohon sesuatu yang berdosa atau pemutusan kerabat kecuali akan dikabulkan oleh Allah salah satu dari tiga: Akan dikabulkan do’anya, atau ditunda untuk simpanan di akhirat, atau menghilangkan daripadanya keburukan yang semisalnya.” (HR. Ahmad 3/18. Imam Al-Mundziri mengatakannya Jayyid (bagus) Targhib 2/478) [7]



✔ KEDELAPAN, HUSNUDZON (BERBAIK SANGKA) KEPADA ALLAH BAHWA DIA AKAN MENGABULKAN DO’A KITA

Kalaupun tak dikabulkan, itu karena hikmah yang Allah lebih mengetahuinya. Dalam hadis Qudsi, Allah berfirman (yang artinya),

♥ ♥ ♥ ♥ "Aku bergantung prasangka hamba-Ku kepada-Ku." (HR Bukhari)





 

Wallahu a'lam bishawab
Penulis: Rakhma Kusuma Wardhani
Editor: M.A.Tuasikal

 __________________________________

Footnote:

[1] Amru Khalid. Ibadah Sepenuh Hati, cet ke IX. Solo: PT Aqwam Media Profetika. Hal 172
 

 [2] Ismail bin Marsyud bin Ibrahim Ar-Rumaih. Kesalahan Dalam Berdo'a. Diterjemahkan oleh Zaenal Abidin, Lc. Darul Haq.

[3] Amru Khalid. Ibadah Sepenuh Hati, cet ke IX. Solo: PT Aqwam Media Profetika. Hal. 174

[4] Ibid. Hal 175

[5] Ibid. Hal 176

[6] Ibid. Hal 177

[7] Ismail bin Marsyud bin Ibrahim Ar-Rumaih. Kesalahan Dalam Berdo'a. Diterjemahkan oleh Zaenal Abidin, Lc. Darul Haq.

:: DALAM KETIDAKBERDAYAANKU ...



BismillaahirRohmaanirRohiim...

Segala puji bagi MU wahai Tuhan penentu segala takdir.
Sholawat serta salam teruntuk Rosul junjungan
petunjuk sepanjang zaman, Nabi Muhammad Sholallohu'alaihi Wassalam dan ahli keluarga serta para sahabat yang Engkau Cintai ..


Ya Rabbi ..
Ampunilah kami , keluarga dan saudara-saudara kami seiman
dan masukkanlah kami kedalam rahmatMu ..
yang Engkau adalah Tuhan yang Maha penyayang..


Wahai Dzat Yang Maha Tinggi lagi Maha Penyayang …
Jangan Engkau tinggalkan untuk kami suatu dosa melainkan telah Engkau ampunkan. Dan tiada suatu aibnya, melainkan telah Engkau tutupinya. Tiada suatu duka melainkan telah Engkau hilangkan daripadanya. Tiada suatu hutangnya melainkan telah Engkau bayarkannya. Tiada suatu kesakitan melainkan telah
Engkau sembuhkannya. Tiada suatu hajatnya dari keperluan dunia dan akhiratnya yang telah Engkau ridhoi dan tepat untuknya
melainkan telah Engkau tunaikan segalanya baginya ,
Wahai Allah , Pemilik dan segala sandaran bagi setiap jiwa


Ya Ilahi ,
Lindunglah kami dari hilangnya nikmatMu dan berubahnya kesejahteraanMu dan mendadaknya siksaMu dan berbagai macam murkaMu...
Karuniakan kami kemudahan dalam segala urusan dan kekuatan dalam menerima petunjukMu..
Kurniakanlah kami jiwa ketaqwaan dan sucikanlah ,
Wahai Dzat yang Maha Suci,
Engkaulah sebaik-baik yang mensucikannya ...


Ya Allah ..
Sungguhnya kami bermohon kepadaMu dengan sabaik-baik permintaan dan sebaik-baik permohonan ..
Tetapkanlah untuk kami berat dalam timbangan kebaikan. Mantapnya keimanan ,
mudahkanlah kami dalam hisab ..
Tinggikanlah dan angkatlah derajat kami di akhirat ..
Ampunilah dosa-dosa kami dan terimalah amal ibadah kami ..


Ya Allah , Wahai Dzat Yang Maha Tinggi ..
Kami bermohon kepadaMu derajat yang tinggi di syurga
Berilah kami Kecintaan yang melekat untuk MU ..
serta amalan-amalan yang mendekatkan kami kepada MU
Anugerahkan kecukupan bagi dunia kami .. hingga kami tak membutuhkan pada selain MU ..


Ya Allah..
Perkenankanlah permohonan kami ..
Sungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami rahasiakan dan apa yang kami perlihatkan, maka ampunkanlah kealpaan dan
kelalaian kami ..


Ya Allah…
Jadikanlah cinta kami kepadaMu membulat dengan hati yang penuh, … dan jadikanlah amal perbuatan kami untuk mencari Keridhaan dan Cinta Mu..


Ya Allah…
Cukuplah Engkau bagi kami .. tiada Ilah selain Mu ..
Hanya kepadaMu lah kami bertawakal dan berserah diri ..
Wahai Allah , Pemilik arasy yang agung..


Aamiin Yaa Robbal'aalamiin...
Aamiin yaa Mujiibassa'iliin...




- Hatiku MilikMu Ya Robb

:: CINTA YANG MEMBUAT KASIH SAYANG ALLAH SELALU MENYERTAI KITA ..



Bismillahirrahmannirahim,

ABU Idris al Khaulani bercerita, suatu ketika diriku tengah berziarah ke salah satu masjid di kota Damaskus. Kemudian aku mendapati seorang pemuda baik rupa; wajahnya cerah, seakan menyemburatkan cahaya. Banyak jamaah yang mengelilinginya. Apabila mereka berbeda pendapat dalam permasalahan agama, mereka bertanya kepada pemuda itu. Aku pun berusaha mencari tahu tentang siapa dia sebenarnya? Seorang jamaah kemudian memberitahuku, bahwa ia bernama Mu’adz bin Jabal.

Keesokan harinya, aku melakukan sebuah perjalanan. Pemuda yang kemarin kulihat di masjid, ternyata juga tengah melakukan perjalanan yang sama denganku. Ia berada tak jauh di depan jalan yang akan kulalui. Begitu mendekat, kudapati ia sedang mendirikan shalat, aku pun bersabar untuk menungguinya.


Setelah pemuda itu menyelesaikan shalat, aku segera datang menghampiri. Aku duduk tepat di depannya, kuucapkan salam, kemudian kuungkapkan isi hatiku padanya,

“Demi Allah, tidak lah aku mencintai mu melainkan karena Allah.”

Ia kemudian berkata: “demi Allah”, ku menjawabnya: “demi Allah,” Ia kemudian berkata lagi: “demi Allah”, ku kembali menjawabnya:” demi Allah”, kemudian ia menarik sorbanku sehingga posisiku menjadi lebih dekat dengannya.

Pemuda itu kemudian berkata, “Aku memiliki sebuah kabar gembira. Ku mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,


♥ ♥ ♥ “Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman: ‘Kulimpahkan kecintaan-Ku kepada mereka yang saling mencintai karena-Ku, dan juga kepada mereka yang saling silaturahim satu sama lain karena-Ku, dan kepada mereka yang saling berkorban karena-Ku.’” (diriwayatkan oleh Imam Malik dalam kitabnya Al Muwatho’)


=======================

Cinta yang dibahasakan Abu Idris dalam kisah di atas, bukanlah cinta tanda kutip yang berangkat dari kacamata biologis, namun cinta di sini memiliki arti yang lebih dalam, yaitu ungkapan rasa cinta yang lahir karena ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Mereka saling cinta bukan karena harta atau pun jabatan. Bukan pula dengan iming-iming keduniawian lainnya. Mereka saling cinta karena kuatnya keimanan yang mereka miliki, yang menautkan (paut) hati mereka di dunia, hingga akan berlanjut ke akhirat kelak.

Hanya mereka yang saling cinta di jalan Allah saja lah, yang dapat merasakan manisnya iman. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

♥ ♥ ♥ “Tiga hal yang apabila terdapat dalam diri seorang muslim, maka ia akan merasakan lezatnya iman, yaitu, menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, dan tidaklah ia mencintai seseorang kecuali karena Allah subhnahu wa ta’ala, dan ia membenci kembali kepada kekafiran sebagaimana bencinya ia dicampakkan ke dalam neraka. “(HR. Abu Daud)


========================


RAIHLAH CINTA ALLAH

Pada hakikatnya, setiap muslim memiliki potensi untuk menumbuhkan dan mendapatkan rasa cinta dari saudaranya seiman. Syaratnya, jadilah sosok pribadi muslim yang shalih, taat menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Karena hati orang-orang shalih itu sudah digariskan akan selalu terpaut satu sama lain, dan itu semua akan terjadi dengan sendirinya.

Hal tersebut dijelaskan oleh Allah subhnahu wa ta’ala dalam firman-Nya, Al Quran surat Maryam ayat 96, yang artinya,

♥ ♥ ♥ “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.”


>> Ibnu Katsir, dalam kitab tafsir, Al Quran Al ‘Adzim menjelaskan, bahwa rasa mawaddah atau kasih sayang akan ditanamkan Allah dalam diri seorang muslim terhadap saudaranya yang lain, selama mereka konsisten beramal dalam hal yang Allah ridhai, taat kepada perintah serta menjauhi larangan-Nya, menghidupkan dan menegakkan syariat agama dalam kesehariannya.

Anugerah mawaddah sendiri baru ada, setelah didahului oleh kecintaan Allah kepada hamba-nya itu. Rasa kasih sayang ini baru akan sampai ke bumi dan menyemai di antara para pecinta Allah, setelah rasa cinta itu lebih dulu menjadi pembicaraan utama para penduduk langit.


Dalam sabdanya, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengatakan,

♥ ♥ ♥ “Sesungguhnya apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan memanggil Jibril dan berkata: ‘Sesungguhnya Aku mencintai fulan maka cintailah dia! Jibril pun mencintainya. Kemudian dia menyeru para penghuni langit: Sesungguhnya Allah mencintai fulan, maka cintailah dia! Para penghuni langitpun mencintainya. Setelah itu, barulah pesan cinta ini diturunkan di antara hati para pecinta-Nya di bumi.’” (HR. Bukhari & Muslim)


Keutamaan lainnya bagi para pecinta di jalan Allah juga dijelaskan dalam beberapa hadits. Dari Abu Hurairah radhiAllahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

♥ ♥ ♥ “Di manakah orang-orang yang saling mencintai karena-Ku? Hari ini Aku akan menaunginya dalam naungan-Ku, pada hari yang tiada naungan selain naungan-Ku.” (HR. Bukhari)

Di hadits lain kemudian disebutkan, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


♥ ♥ ♥ “Tujuh golongan yang akan dinaungi Allah pada hari kiamat kelak, di antaranya adalah; dua orang manusia yang saling mencintai karena Allah, mereka bertemu dan berpisah karena-Nya. (HR. Muslim)

Maka, jangan sia-sia kan waktu kita untuk berupaya menjadi hamba pilihan yang dicintai Allah. Jangan segan untuk menyatakan rasa cinta anda karena Allah kepada saudara seiman yang lain. Tak harus berupa kata-kata dengan mengucapkan “Inni uhibbukum fillah” saja, tapi juga bisa dilakukan dengan perbuatan. Menasihatinya dalam hal agama, mengingatkannya akan akhirat, itu semua juga merupakan bukti kecintaan kita karena Allah subhanahu wa ta’ala. Dengan jalan kecintaan seperti inilah, maka kasih sayang Allah akan terus menyertai kehidupan kita.


Rasa cinta seperti ini tak hanya berhenti di dunia, namun akan berlanjut hingga hari kiamat kelak. Kecintaan karena Allah ini merupakan indikasi dari orang-orang yang bertaqwa, yang akan diselamatkan Allah dari permusuhan antar sesama manusia di hari akhir nanti. Allah subhnahu wa ta’ala telah berfirman yang artinya,

♥ ♥ ♥ “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (Az Zukhruf: 67)





Wallahua’lam bishowab
Muhammad Syarief / AMZ 

:: YUK, KITA BERBENAH DIRI MENYAMBUT BULAN RAMADHAN



Bismillahirrahmannirahim,

Allah Ta’ala telah mengutamakan sebagian waktu (zaman) di atas sebagian lainnya, sebagaimana Dia mengutamakan sebagian manusia di atas sebagian lainnya dan sebagian tempat di atas tempat lainnya.

Allah Ta’ala berfirman,

“Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya, sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka” (QS al-Qashash:68).

“(Ayat ini menjelaskan) menyeluruhnya ciptaan Allah bagi seluruh makhluk-Nya, berlakunya kehendak-Nya bagi semua ciptaan-Nya, dan kemahaesaan-Nya dalam memilih dan mengistimewakan apa (yang dikehendaki-Nya), baik itu manusia, waktu (jaman) maupun tempat”

Termasuk dalam hal ini adalah bulan Ramadhan yang Allah Ta’ala utamakan dan istimewakan dibanding bulan-bulan lainnya, sehingga dipilih-Nya sebagai waktu dilaksanakannya kewajiban berpuasa yang merupakan salah satu rukun Islam.

Sungguh Allah Ta’ala memuliakan bulan yang penuh berkah ini dan menjadikannya sebagai salah satu musim besar untuk menggapai kemuliaan di akhirat kelak, yang merupakan kesempatan bagi hamba-hamba Allah Ta’ala yang bertakwa untuk berlomba-lomba dalam melaksanakan ketaatan dan mendekatkan diri kepada-Nya


Bagaimana Seorang Muslim Menyambut Bulan Ramadhan?

Bulan Ramadhan yang penuh kemuliaan dan keberkahan, padanya dilipatgandakan amal-amal kebaikan, disyariatkan amal-amal ibadah yang agung, di buka pintu-pintu surga dan di tutup pintu-pintu neraka (Bukhari - Muslim).

Oleh karena itu, bulan ini merupakan kesempatan berharga yang ditunggu-tunggu oleh orang-orang yang beriman kepada Allah Ta’ala dan ingin meraih ridha-Nya.

Dan karena agungnya keutamaan bulan suci ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menyampaikan kabar gembira kepada para sahabat radhiyallahu ‘anhum akan kedatangan bulan yang penuh berkah ini.

Sahabat yang mulia, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, menyampaikan kabar gembira kepada para sahabatnya, “Telah datang bulan Ramadhan yang penuh keberkahan, Allah mewajibkan kalian berpuasa padanya, pintu-pintu surga di buka pada bulan itu, pintu-pintu neraka di tutup, dan para setan dibelenggu. Pada bulan itu terdapat malam (kemuliaan/lailatul qadr) yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang terhalangi (untuk mendapatkan) kebaikan malam itu maka sungguh dia telah dihalangi (dari keutamaan yang agung)” [HR Ahmad - an-Nasa’i].


Imam Ibnu Rajab, ketika mengomentari hadits ini, beliau berkata, “Bagaimana mungkin orang yang beriman tidak gembira dengan dibukanya pintu-pintu surga? Bagaimana mungkin orang yang pernah berbuat dosa (dan ingin bertobat serta kembali kepada Allah Ta’ala) tidak gembira dengan ditutupnya pintu-pintu neraka? Dan bagaimana mungkin orang yang berakal tidak gembira ketika para setan dibelenggu?”


Dulunya, para ulama jauh-jauh hari sebelum datangnya bulan Ramadhan berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah Ta’ala agar mereka mencapai bulan yang mulia ini, karena mencapai bulan ini merupakan nikmat yang besar bagi orang-orang yang dianugerahi taufik oleh Alah Ta’ala. , mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan.


Maka hendaknya seorang muslim menyambut datangnya bulan Ramadhan, dengan bersungguh-sungguh berdoa dan mempersiapkan diri untuk mendulang pahala kebaikan, pengampunan serta keridhaan dari Allah Ta’ala, agar di akhirat kelak mereka akan merasakan kebahagiaan dan kegembiraan besar ketika bertemu Allah Ta’ala dan mendapatkan ganjaran yang sempurna dari amal kebaikan mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang berpuasa akan merasakan dua kegembiraan (besar): kegembiraan ketika berbuka puasa dan kegembiraan ketika dia bertemu Allah”[ HR Bukhari - Muslim].


Tentu saja persiapan diri yang dimaksud di sini bukanlah dengan memborong berbagai macam makanan dan minuman lezat di pasar untuk persiapan makan sahur dan balas dendam ketika berbuka puasa. Juga bukan dengan mengikuti berbagai program acara Televisi yang lebih banyak merusak dan melalaikan manusia dari mengingat Allah Ta’ala dari pada manfaat yang diharapkan, itupun kalau ada manfaatnya.


>> “Sungguh seorang hamba benar-benar melaksanakan shalat, tapi tidak dituliskan baginya dari (pahala kebaikan) shalat tersebut kecuali sepersepuluhnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya, atau seperduanya”[HR Ahmad - Abu Dawud dan Ibnu Hibban].


Juga dalam hadits lain tentang puasa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Terkadang orang yang berpuasa tidak mendapatkan bagian dari puasanya kecuali lapar dan dahaga saja” (HR Ibnu Majah - Ahmad ].


Sebagian ulama yang lain mengatakan,

“Waktu setahun itu laksana sebuah pohon. Bulan Rajab adalah waktu menumbuhkan daun, Syaban adalah waktu untuk menumbuhkan dahan, dan Ramadhan adalah bulan memanen, pemanennya adalah kaum mukminin. (Oleh karena itu), mereka yang “menghitamkan” catatan amal mereka hendaklah bergegas “memutihkannya” dengan taubat di bulan-bulan ini, sedang mereka yang telah menyia-nyiakan umurnya dalam kelalaian, hendaklah memanfaatkan sisa umur sebaik-baiknya (dengan mengerjakan ketaatan) di waktu tesebut.”


Jangan Lupa, Perbarui Taubat ..

Taubat menunjukkan tanda totalitas seorang dalam menghadapi Ramadhan. Dia ingin memasuki Ramadhan tanpa adanya sekat-sekat penghalang yang akan memperkeruh perjalanan selama mengarungi Ramadhan.

“Bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (An Nuur: 31).

Taubat yang dibutuhkan bukanlah seperti taubat yang sering kita kerjakan. Kita bertaubat, lidah kita mengucapkan, “Saya memohon ampun kepada Allah”, akan tetapi hati kita lalai, akan tetapi setelah ucapan tersebut, dosa itu kembali terulang. Namun, yang dibutuhkan adalah totalitas dan kejujuran taubat



Meraih Takwa dan Kesucian Jiwa dengan Puasa Ramadhan

Unsur-unsur takwa yang terkandung dalam ibadah puasa, sebagai berikut:

- Orang yang berpuasa (berarti) meninggalkan semua yang diharamkan Allah (ketika berpuasa), berupa makan, minum, berhubungan suami-istri dan sebagainya, yang semua itu diinginkan oleh nafsu manusia, untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mengharapkan balasan pahala dari-Nya dengan meninggalkan semua itu, ini adalah termasuk takwa (kepada-Nya).

- Orang yang berpuasa (berarti) melatih dirinya untuk (merasakan) muraqabatullah (selalu merasakan pengawasan Allah Ta’ala), maka dia meninggalkan apa yang diinginkan hawa nafsunya padahal dia mampu (melakukannya), karena dia mengetahui Allah maha mengawasi (perbuatan)nya.

- Sesungguhnya puasa akan mempersempit jalur-jalur (yang dilalui) setan (dalam diri manusia), karena sesungguhnya setan beredar dalam tubuh manusia di tempat mengalirnya darah, maka dengan berpuasa akan lemah kekuatannya dan berkurang perbuatan maksiat dari orang tersebut.

- Orang yang berpuasa umumnya banyak melakukan ketaatan (kepada Allah Ta’ala), dan amal-amal ketaatan merupakan bagian dari takwa.

- Orang yang kaya jika merasakan beratnya (rasa) lapar (dengan berpuasa) maka akan menimbulkan dalam dirinya (perasaan) iba dan selalu menolong orang-orang miskin dan tidak mampu, ini termasuk bagian dari takwa.


Imam Ibnul Qayyim menggambarkan hal ini dalam ucapan beliau, “Sesungguhnya (kedudukan sifat) sabar dalam keimanan (seorang hamba) adalah seperti kedudukan kepala (manusia) pada tubuhnya, kalau kepala manusia hilang maka tidak ada kehidupan bagi tubuhnya”


Sifat yang agung ini, sangat erat kaitannya dengan puasa, bahkan puasa itu sendiri adalah termasuk kesabaran. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang shahih menamakan bulan puasa dengan syahrush shabr (bulan kesabaran).

Bahkan Allah menjadikan ganjaran pahala puasa berlipat-lipat ganda tanpa batas, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Semua amal (shaleh yang dikerjakan) manusia dilipatgandakan (pahalanya), satu kebaikan (diberi ganjaran) sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman: “Kecuali puasa (ganjarannya tidak terbatas), karena sesungguhnya puasa itu (khusus) untuk-Ku dan Akulah yang akan memberikan ganjaran (kebaikan) baginya”
[ Bukhari - Muslim].


Demikian pula sifat sabar, ganjaran pahalanya tidak terbatas, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

“Sesungguhnya orang-orang yang bersabar akan disempurnakan (ganjaran) pahala mereka tanpa batas” (QS az-Zumar:10).

Imam Ibnu Rajab al-Hambali menjelaskan eratnya hubungan puasa dengan sifat sabar dalam ucapan beliau

“Sabar itu ada tiga macam:
1. sabar dalam (melaksanakan) ketaatan kepada Allah,
2. sabar dalam (meninggalkan) hal-hal yang diharamkan-Nya, dan 3. sabar (dalam menghadapi) ketentuan-ketentuan-Nya yang tidak sesuai dengan keinginan (manusia).

Ketiga macam sabar ini (seluruhnya) terkumpul dalam (ibadah) puasa, karena (dengan) berpuasa (kita harus) bersabar dalam (menjalankan) ketaatan kepada Allah, dan bersabar dari semua keinginan syahwat yang diharamkan-Nya bagi orang yang berpuasa, serta bersabar dalam (menghadapi) beratnya (rasa) lapar, haus, dan lemahnya badan yang dialami orang yang berpuasa”.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pada setiap malam (di bulan Ramadhan) ada penyeru (malaikat) yang menyerukan: Wahai orang yang menghendaki kebaikan hadapkanlah (dirimu), dan wahai orang yang menghendaki keburukan kurangilah (keburukanmu)!” [HR at-Tirmidzi - Ibnu Majah ].

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين




Wallahu a'lam bishawab.
Ustad Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA

:: FATWA-FATWA SEPUTAR RAMADHAN BAGI WANITA ::

Bismillahirrahmannirahim,
 
1. Pertanyaan: Apakah hukumnya menunda qadha puasa hingga setelah Ramadhan tahun depan?

Jawaban: Barangsiapa yang berbuka di bulan Ramadhan karena safar atau sakit atau semisalnya, maka ia harus mengqadha sebelum Ramadhan tahun depan, waktu di antara dua Ramadhan adalah kesempatan luas dari Rabb. Maka jika ia menundanya hingga setelah Ramadhan tahun depan, maka ia harus mengqadha ditambah memberi orang miskin setiap hari, sebagaimana fatwa jamaah dari sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Memberi makan ini adalah sebanyak setengah sha' dari makanan negeri itu, yaitu sekitar satu setengah kg. (1,5 kg). Berupa kurma atau beras atau yang lainnya. Jika ia mengqadha sebelum Ramadhan tahun berikutnya maka ia tidak wajib memberi makan. (Syaikh bin Baz rahimahullah).


2. Pertanyaan: Sejak sekitar sepuluh tahun, balighnya saya lewat tanda-tanda baligh yang dikenal, namun di tahun pertama dari balighnya saya, saya menemui bulan Ramadhan dan tidak puasa. Apakah saya wajib mengqadha? Apakah ada kewajiban lain selain qadha?

Jawaban : Kamu harus mengqadha satu bulan yang kamu tidak puasa disertai taubat dan istighfar, dan kamu juga harus memberi makan orang miskin setiap hari sebanyak setengah sha' dari makanan negeri berupa kurma atau beras atau selainnya, apabila engkau mampu. Adapun bila engkau fakir yang tidak mampu, maka tidak ada kewajiban atasnya selain puasa. (Syaikh bin Baz rahimahullah).


3. Pertanyaan: Apabila wanita nifas sudah suci setelah empat puluh hari, apakah ia wajib puasa dan shalat atau tidak? Dan apabila datang haidh setelah itu apakah ia harus berbuka? Dan apabila ia suci yang kedua kali, apakah ia harus puasa dan shalat atau tidak?

Jawaban : Apabila wanita nifas sudah suci setelah empat puluh hari, ia harus mandi, shalat, puasa Ramadhan, dan halal untuk suaminya. Jika darah datang kembali sebelum empat puluh hari, ia harus meninggalkan shalat, puasa, dan haram atas suami menurut pendapat para ulama yang paling shahih, dan jadilah ia sama seperti hukum nifas sampai ia suci atau sempurna empat puluh hari. Apabila ia suci sebelum empat puluh hari atau pas empat puluh hari, ia harus mandi, shalat, puasa, dan halal bagi suaminya. Dan jika darah terus keluar setelah empat puluh hari, maka darah itu adalah darah rusak, ia tidak boleh meninggalkan shalat dan puasa, bahkan ia harus shalat, puasa Ramadhan, dan halal bagi suaminya seperti wanita yang istihadhah. Ia wajib beristinja dan membungkus darah dengan kapas dan semisalnya dan berwudhu setiap kali shalat, karena Nabi menyuruh wanita yang istihadhah seperti itu, kecuali bila tiba waktu haidhnya maka ia harus meninggalkan shalat. (Syaikh bin Baz rahimahullah).


4. Pertanyaan: Apakah boleh menunda mandi janabah hingga terbit fajar? Dan apakah wanita boleh menunda mandi haidh atau nifas hingga terbit fajar?

Jawaban: Apabila wanita sudah suci sebelum fajar, maka ia harus puasa dan tidak mengapa menunda mandi hingga terbit fajar, akan tetapi ia tidak boleh menundanya hingga terbit matahari, dan laki-laki harus segera melakukan hal itu sehingga ia bisa shalat jamaah bersama jamaah. (Syaikh Bin Baz rahimahullah).


5. Pertanyaan: Apakah kewajiban wanita hamil atau menyusui apabila berbuka di bulan Ramadhan? Apakah yang cukup untuk memberi makan dari beras?

Jawaban: Wanita hamil dan menyusui tidak boleh berbuka di siang hari bulan Ramadhan kecuali karena uzur. Jika berbuka karena uzur ia harus mengqadha puasa berdasarkan firman Allah Subhanallahu wa ta’ala :
فمن كان منكم مريضاً أو على سفر فعدة من أيام أخر ( البقرة :184)
Maka jika di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. (QS. al-Baqarah:184)

Keduanya sama seperti orang sakit, jika alasannya karena khawatir terhadap anak, maka keduanya harus mengqadha dan memberi makan orang miskin setiap hari berupa beras, korma dan yang lainnya dari makanan manusia. Sebagian ulama berkata: keduanya hanya wajib mengqadha dalam konsidi bagaimanapun, karena tidak ada dalil mewajibkan dari al-Qur`an dan sunnah, dan pada asalnya adalah tidak ada tanggungan sehingga adanya dalil atas hal itu, ini adalah pendapat mazhab Abu Hanifah, ia adalah pendapat yang kuat. (Syaikh Utsaimin rahimahullah).


6. Pertanyaan: seorang wanita melahirkan di bulan Ramadhan dan tidak mengqadha setelah Ramadhan karena khawatir terhadap anaknya, kemudian dan melahirkan di bulan Ramadhan berikutnya, bolehkah ia mengganti dengan uang sebagai pengganti puasa?

Jawaban: wanita ini wajib puasa sebagai pengganti hari-hari yang ia telah berbuka, sekalipun setelah Ramadhan berikutnya, karena ia meninggalkan qadha di antara pertama dan kedua karena uzur. Saya tidak tahu, apakah ia merasa berat melaksanakan di musim dingin sedikit demi sedikit. Sekalipun ia menyusui, sesungguhnya Allah Subhanallahu wa ta’ala memberinya kekuatan untuk mengqadha Ramadhan kedua. Jika ia tidak bisa, ia boleh menundanya hingga ramadhan kedua. (Syaikh Utsaimin rahimahullah).


7. Pertanyaan: ada sebagian wanita yang menkonsumsi obat penghalang haid dan tujuannya adalah agar tidak perlu mengqadha di kemudian hari. Apakah hukumnya boleh? Apakah ada catatan khusus agar para wanita tidak memakainya?

Jawaban : Menurut pendapat saya, sebaiknya wanita tidak melakukan hal itu dan tetap mengikuti ketentuan Allah Subhanallahu wa ta’ala dan ketetapan Allah Subhanallahu wa ta’ala kepada para wanita, sesungguhnya haid ini mengandung hikmah bagi Allah dalam menciptakannya. Hikmah sesuai tabiat wanita, apabila tabiat ini terhalang niscaya terjadi reaksi berbahaya terhadap tubuh wanita, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: 'Tidak boleh membahayakan (diri sendiri) dan tidak pula membahayakan (orang lain).' Hal ini dengan mengesampingkan bahaya obat ini terhadap rahim, seperti yang disebutkan para dokter. Maka menurut pendapat saya dalam masalah ini bahwa wanita tidak memakai obat ini. Dan segala puji bagi-Nya atas ketentuan dan hikmah-Nya, apabila datang haid atasnya, ia menahan diri dari puasa dan shalat, dan apabila ia telah suci ia memulai kembali puasa dan shalat. Dan apabila berakhir Ramadhan, ia mengqadha puasanya yang ketinggalan. (Syaikh Ibn Utsaimin rahimahullah).


8. Pertanyaan: Saya seorang wanita berusia 25 tahun, akan tetapi sejak kecil hingga usia 21 tahun saya tidak puasa dan tidak shalat karena malas. Kedua orang tua sudah menasehati saya, akan tetapi saya tidak perduli. Maka apakah yang wajib saya lakukan? Perlu diketahui bahwa Allah Subhanallahu wa ta’ala telah memberi petunjuk kepada saya dan sekarang saya puasa dan menyesali perbuatan di masa lalu.

Jawaban: Taubat meruntuhkan dosa-dosa di masa lalu. Maka engkau harus menyesal, berniat dan bersungguh-sungguh dalam ibadah, memperbanyak ibadah sunnah berupa shalat di malam dan siang hari, puasa sunnah, zikir, membaca al-Qur`an, dan berdoa. Dan Allah Subhanallahu wa ta’ala menerima taubat hamba dan mengampuni kesalahan. (Syaikh Bin Baz rahimahullah).


9. Pertanyaan: Kebiasaan haid saya adalah berkisar di antara tujuh dan delapan hari, terkadang di hari ketujuh saya tidak melihat darah dan tidak merasa suci, maka apakah hukumnya yang terkait puasa, shalat, dan jima'?

Jawaban : Janganlah terburu-buru sehingga engkau melihat warna putih yang dikenal para wanita, dan ia adalah tanda suci. Maka terhenti darah bukanlah tanda suci, namun hal itu dengan melihat tanda suci dan berakhirnya masa kebiasaan.


10. Pertanyaan: Apakah hukumnya keluar warna kuning saat nifas sepanjang empat puluh hari, apakah saya shalat dan puasa?

Jawaban: Sesuatu yang keluar dari wanita setelah melahirkan hukumnya adalah sama seperti nifas, sama saja ia merupakan darah biasa atau kuning atau keruh, karena ia pada saat kebiasaan sampai sempurna 40 hari. Maka yang sesudahnya, jika ia darah biasa dan tidak disela-sela terputusnya darah nifas, dan jika tidak maka ia adalah istihadhah dan semisalnya. (Syaikh Bin Baz rahimahullah).


11. Pertanyaan: Bolehkah saya membaca buku-buku agama seperti buku-buku tafsir dan yang lainnya, sedang saya dalam keadaan junub atas di saat haid?

Jawaban: Orang yang junub dan haid boleh membaca buku-buku tafsir, fikih, sastra, hadits, tauhid, dan semisalnya. Yang dilarang hanyalah membaca al-Qur`an menurut cara membaca, bukan berdoa atau mengambil dalil dan semisalnya. (Syaikh Bin Baz rahimahullah).


12. Pertanyaan: Apakah hukumnya darah yang keluar selain di waktu haid. Kebiasaan haid saya setiap bulan adalah tujuh hari, akan tetapi pada sebagian bulan, ia datang di luar kebiasaan namun dalam kadar yang jauh lebih sedikit. Dan hal itu berlangsung selama satu atau dua hari, apakah saya wajib shalat dan puasa saat itu ataukah mengqada?

Jawaban: Darah yang lebih dari kebiasaan ini adalah darah urat, tidak termasuk darah kebiasaan. Maka wanita yang mengetahui masa kebiasaannya tidak boleh shalat dan puasa, tidak boleh menyentuh mushhaf dan suaminya tidak boleh mendatangi di kemaluan. Apabila ia telah suci dan berhenti hari-hari kebiasaannya serta telah mandi, maka ia dalam hukum suci. Jika ia melihat darah atau kuning atau warna keruh maka itu adalah darah istihadhah yang tidak menghalanginya dari shalat dan semisalnya. (Syaikh Bin Baz rahimahullah.)


13. Pertanyaan: saat saya masih kecil di usia 13 tahun, saya berpuasa Ramadhan dan berbuka empat hari karena haidh dan saya tidak memberi tahu orang lain karena malu. Sekarang hal itu telah berlalu 8 tahun, maka apakah yang saya lakukan?

Jawaban: Anda telah melakukan kesalahan karena tidak mengqadha selama masa ini. Maka sesungguhnya ini adalah sesuatu yang sudah ditentukan Allah Subhanallahu wa ta’ala kepada para wanita dan tidak perlu malu dalam masalah agama. Maka anda harus segera mengqadha 4 hari tersebut, kemudian kamu harus membayar kafarat, yaitu memberi makan orang miskin setiap hari, yaitu sekitar dua sha' dari makanan negeri untuk satu orang miskin atau lebih. Syaikh Bin Baz rahimahullah.


14. Pertanyaan: seorang wanita kedatangan darah di saat hamil sebelum nifasnya 5 hari di bulan Ramadhan, apakah ia termasuk darah haid atau nifas, apakah yang wajib atasnya?

Jawaban: Apabila persoalannya seperti yang disebutkan bahwa ia melihat darah di saat hamil 5 hari sebelum melahirkan. Maka jika ia tidak melihat tanda sudah dekatnya kelahiran seperti pecah tutuban, maka ia bukan darah haid dan bukan pula nifas. Bahkan ia adalah darah penyakit menurut pendapat yang shahih. Dan atas dasar itu, ia tidak boleh meninggalkan ibadah, bahkan ia harus puasa dan shalat. Dan jika darah merupakan salah satu tanda kelahiran maka ia adalah darah nifas, ia harus meninggalkan shalat dan puasa, kemudian apabila ia telah suci darinya setelah melahirkan, ia harus mengqadha puasa, bukan shalat. (Lajnah daimah lil ifta').


15. Pertanyaan: Seorang wanita yang sudah berusia 12 atau 13 tahun, telah berlalu bulan Ramadhan dan ia tidak berpuasa. Apakah yang wajib atasnya atau atas keluarganya, apakah ia telah wajib berpuasa, dan apabila ia puasa apakah ada kewajiban yang lain?

Jawaban: Wanita menjadi mukallaf dengan beberapa syarat yaitu: islam, berakal, dan baligh. Baligh ditandai dengan haid atau bermimpi atau tumbuhnya bulu yang kasar di sekitar kemaluan atau mencapai usia 15 tahun. Maka apabila syarat-syarat kedewassan ini sudah ada pada wanita, maka ia telah wajib berpuasa, ia wajib mengqadha puasa yang ditinggalkannya di saat mukallafnya. Dan apabila kurang salah satu syaratnya maka ia belum mukallaf dan tidak ada kewajiban apapun atasnya. (Lajnah daimah lil ifta).


16. Pertanyaan: Apakah wanita haid harus berbuka di bulan Ramadhan dan berpuasa sejumlah hari yang dia tinggalkan?

Jawaban: Tidak sah puasa wanita haid dan tidak baginya melakukannya. Maka apabila ia haid ia harus berbuka dan mengqadha sejumlah hari yang ditinggalkannya. (lajnah daimah lil ifta').


17. Pertanyaan: Apabila wanita telah suci langsung setelah fajar, apakah ia harus menahan diri dan berpuasa pada hari itu dan dianggap satu hari untuknya atau ia harus mengqadha hari tersebut?

Jawaban: Apabila darah terputus darinya saat terbit fajar atau sebelumnya, niscaya puasanya sah dan cukup dalam menunaikan kefardhuan, sekalipun ia belum mandi kecuali setelah subuh. Adapun bila tidak terputus kecuali setelah subuh, maka ia harus menahan diri pada hari itu dan tidak cukup baginya, bahkan ia harus mengqadhanya setelah Ramadhan. (Syaik Bin Baz rahimahullah).


18. Pertanyaan: Seorang laki-laki menggauli istrinya setelah azan subuh -dibulan ramadhan- setelah ia berniat berpuasa dan ini terjadi hingga dua kali. Perlu diketahui bahwa istrinya ridha dengan hal itu. Dan kejadian ini telah berlalu lebih dari 5 tahun, apa hukumnya?

Jawaban: suaminya harus mengqadha dua hari tersebut, dan ia harus membayar kafarat jima di bulan Ramadhan seperti kafarah zhihar, yaitu memerdekakan budak, Jika ia tidak mendapatkan, maka ia puasa selama dua bulan berturut-turut, dan jika ia tidak mampu maka ia harus memberi makan enam puluh orang muskin, dan istrinya juga punya kewajiban yang sama, karena ia setuju dengan perbuatan itu yang telah ketahui keharamannya. (Syaikh Bin Baz rahimahullah).



Wallahu'alam bissawab

(Bapak Sugianto Parjan )